MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 09 Maret 2017 10:55
Hanya Butuh Tujuh Menit Amankan Penyusup
TETAP SIAGA: Petugas TNI bersiaga saat menurunkan awak pesawat jenis Boeing, usai mendarat darurat di bandara Juwata pagi kemarin (8/3). Foto: HENDI SURYADI/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Satu pesawat jenis Boeing diturunkan paksa pihak TNI melalui pesawat tempur Sukhoi, setelah diduga menerbangi wilayah teritorial Indonesia, tepatnya di wilayah udara kawasan Tarakan kemarin (8/3).

Panglima Kosekhanudnas II Makassar, Marsekal Pertama TNI A Joko Takarianto yang mengetahui kejadian ini lantas meneruskannya ke pimpinan TNI. “Kami konfirmasikan kepada pihak komando atas, tentang kejadian ini. Kami sampaikan pesawat itu tidak berizin,” ungkapnya.

Dari komunikasi tersebut, diperintahkan pihak Kosekhanudnas II Makassar mengerahkan pesawat tempur berupa Sukhoi, untuk mengidentifikasi pesawat tersebut. “Saat indentifikasi itu, ditanyakan pesawat ini membawa barang apa, tujuannya ke mana, dan beberapa pertanyaan lainnya. Dan kami simpulkan pesawat ini sebagai penyusup,” tutur Joko.

Pesawat ini tidak dilengkapi dokumen perizinan untuk memasuki wilayah teritorial Indonesia. Berdasarkan komando dari pimpinan TNI, kata Joko, pesawat asing tersebut harus dilakukan force down atau penurunan paksa. “Semula kami arahkan untuk pergi. Namun karena mereka tidak mau, maka kami paksa untuk mendarat di Tarakan dan akan memprosesnya lebih lanjut,” ujarnya.

Walhasil, dua Sukhoi langsung diterbangkan dan mengejar pesawat tersebut hingga akhirnya diturunkan paksa di Bandara Internasional Juwata Tarakan dan dilakukan pemeriksaan di Lanud Tarakan.

Demikianlah skenario latihan TNI Angkatan Udara di Tarakan kemarin, yang dinamakan Latihan Kilat Cakra B-17 Kosekhanudnas II. Pada latihan kali ini, pangkalan udara (Lanud) Tarakan tampak ramai dari para pengunjung, mulai dari anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) dan beberapa kelompok masyarakat lainnya.

Marsekal Joko menuturkan, situasi latihan ini sama persis dengan kondisi nyata. Karena penerbang tempur strategis dan unsur dukungan di pangkalan dilibatkan untuk Ground Control Intercept (GCI) controller. “Kami melakukan SOP (standard operation procedure) yang sudah ada dan juga sama persis kondisinya untuk situasi sebenarnya,” jelas Joko.

Mengenai prosedur bagi pesawat yang tidak mau menaati peraturan, seperti misalnya pesawat yang dipaksa untuk turun namun tidak juga turun, maka akan dilakukan penindakan. “Jika pada masa damai, tentu perizinan untuk melakukan penindakan menjadi hak dari komando atas dan presiden. Jika pada masa perang akan dilaksanakan penghancuran, namun harus melalui izin dari panglima TNI sebagai komandonya. Dan itu berlaku bagi semua pesawat, tidak terkecuali untuk pesawat komersil,” tegasnya.

---------- SPLIT TEXT ----------

Komandan Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb Dedy Ilham menambahkan, mengenai estimasi waktu yang diperlukan, hanya butuh durasi waktu tujuh menit untuk take off bagi pesawat tempur strategis, yakni satria penjaga langit di Kosekhanudnas II.

“Pesawat kita akan mengambil posisi di sebelah kiri pesawat yang di-intercept tersebut, hal itu disebabkan karena kaptennya berada di sebelah kiri, sehingga dapat memudahkan pilotnya untuk menyadari bahwa mereka sedang diikuti oleh pesawat kita sebagai interceptor,” jelasnya.

Kemudian, pesawat yang di-intercept juga berada pada jarak tembak ideal bagi pesawat tempur. Sehingga jika pesawat asing melakukan pergerakan yang tidak sesuai dengan perintah interceptor, maka akan ditembak. “Jadi ada dua pesawat. Satu di sebelah kiri, kemudian satu lagi di belakang untuk posisi jarak tembak,” katanya.

Mengenai prosedur pemeriksaan, akan diberitahukan kepada pilot di pesawat intercept bahwa mereka telah masuk ke wilayah teritori Indonesia. “Kemudian ditanyakan apakah mereka mempunyai dokumen untuk bisa melewati wilayah Indonesia. Karena, orang yang lewat di wilayah Indonesia harus mengikuti flight clearance, security clearance, dan flight approval. Sehingga ketika dokumen itu tidak ada, maka pesawat tersebut pesawat sudah dinyatakan melanggar. Ketika didekati dan pesawat yang di-intercept tersebut tidak mengikuti instruksi dari kami untuk segera turun, maka kami akan segera melakukan penindakan,” jelasnya. (*/asf/ash)

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 27 Januari 2020 14:36

Mahasiswa Kaltara Terjebak di Wuhan

VIRUS corona terus menyebar ke sejumlah negara lain. Virus yang…

Senin, 27 Januari 2020 14:28

Selain Anggaran, Perlu Gerakan Kultural

  Sejumlah kawasan di Tarakan masih terus dilanda banjir ketika…

Senin, 27 Januari 2020 14:23

Sisa 30 KK di Posko Tanggap Darurat

TARAKAN - Hujan deras mengguyur Bumi Paguntaka, Minggu (26/1) membuat…

Minggu, 26 Januari 2020 11:44

Jusuf SK Serius Jadi Wakil Irianto?

TARAKAN – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H. Irianto Lambrie…

Kamis, 23 Januari 2020 15:36

Korban Kebakaran Paling Butuh Perlengkapan Sekolah

Bantuan dari semua pihak masih dibutuhkan bagi korban kebakaran Pasar…

Kamis, 23 Januari 2020 13:59

Lantamal XIII Harus Tingkatkan Kesiapsiagaan

ASISTEN Operasi (Asops) Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Muda…

Kamis, 23 Januari 2020 13:58

Paling Butuh Perlengkapan Sekolah

BANTUAN dari semua pihak masih dibutuhkan bagi korban kebakaran Pasar…

Kamis, 23 Januari 2020 13:54

Tabung dan Kompor Gas Dibawa Puslabfor

TIBA di Tarakan kemarin (22/1), dua personel Pusat Laboratorium Forensik…

Rabu, 22 Januari 2020 13:55

Kisah Lansia yang Rumahnya Selamat dari Kebakaran

Kebakaran yang melanda kawasan Pasar Batu menyisakan luka dan duka…

Selasa, 21 Januari 2020 11:43

HOROR..!! Speed ini Bocor Setelah Tabrak Kayu, Bagaimana Nasib Puluhan Penumpangnya...??

TARAKAN - Speedboat Malinau Express IX yang membawa 35 penumpang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers