MANAGED BY:
JUMAT
06 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 09 Maret 2017 10:55
Hanya Butuh Tujuh Menit Amankan Penyusup
TETAP SIAGA: Petugas TNI bersiaga saat menurunkan awak pesawat jenis Boeing, usai mendarat darurat di bandara Juwata pagi kemarin (8/3). Foto: HENDI SURYADI/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Satu pesawat jenis Boeing diturunkan paksa pihak TNI melalui pesawat tempur Sukhoi, setelah diduga menerbangi wilayah teritorial Indonesia, tepatnya di wilayah udara kawasan Tarakan kemarin (8/3).

Panglima Kosekhanudnas II Makassar, Marsekal Pertama TNI A Joko Takarianto yang mengetahui kejadian ini lantas meneruskannya ke pimpinan TNI. “Kami konfirmasikan kepada pihak komando atas, tentang kejadian ini. Kami sampaikan pesawat itu tidak berizin,” ungkapnya.

Dari komunikasi tersebut, diperintahkan pihak Kosekhanudnas II Makassar mengerahkan pesawat tempur berupa Sukhoi, untuk mengidentifikasi pesawat tersebut. “Saat indentifikasi itu, ditanyakan pesawat ini membawa barang apa, tujuannya ke mana, dan beberapa pertanyaan lainnya. Dan kami simpulkan pesawat ini sebagai penyusup,” tutur Joko.

Pesawat ini tidak dilengkapi dokumen perizinan untuk memasuki wilayah teritorial Indonesia. Berdasarkan komando dari pimpinan TNI, kata Joko, pesawat asing tersebut harus dilakukan force down atau penurunan paksa. “Semula kami arahkan untuk pergi. Namun karena mereka tidak mau, maka kami paksa untuk mendarat di Tarakan dan akan memprosesnya lebih lanjut,” ujarnya.

Walhasil, dua Sukhoi langsung diterbangkan dan mengejar pesawat tersebut hingga akhirnya diturunkan paksa di Bandara Internasional Juwata Tarakan dan dilakukan pemeriksaan di Lanud Tarakan.

Demikianlah skenario latihan TNI Angkatan Udara di Tarakan kemarin, yang dinamakan Latihan Kilat Cakra B-17 Kosekhanudnas II. Pada latihan kali ini, pangkalan udara (Lanud) Tarakan tampak ramai dari para pengunjung, mulai dari anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) dan beberapa kelompok masyarakat lainnya.

Marsekal Joko menuturkan, situasi latihan ini sama persis dengan kondisi nyata. Karena penerbang tempur strategis dan unsur dukungan di pangkalan dilibatkan untuk Ground Control Intercept (GCI) controller. “Kami melakukan SOP (standard operation procedure) yang sudah ada dan juga sama persis kondisinya untuk situasi sebenarnya,” jelas Joko.

Mengenai prosedur bagi pesawat yang tidak mau menaati peraturan, seperti misalnya pesawat yang dipaksa untuk turun namun tidak juga turun, maka akan dilakukan penindakan. “Jika pada masa damai, tentu perizinan untuk melakukan penindakan menjadi hak dari komando atas dan presiden. Jika pada masa perang akan dilaksanakan penghancuran, namun harus melalui izin dari panglima TNI sebagai komandonya. Dan itu berlaku bagi semua pesawat, tidak terkecuali untuk pesawat komersil,” tegasnya.

---------- SPLIT TEXT ----------

Komandan Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb Dedy Ilham menambahkan, mengenai estimasi waktu yang diperlukan, hanya butuh durasi waktu tujuh menit untuk take off bagi pesawat tempur strategis, yakni satria penjaga langit di Kosekhanudnas II.

“Pesawat kita akan mengambil posisi di sebelah kiri pesawat yang di-intercept tersebut, hal itu disebabkan karena kaptennya berada di sebelah kiri, sehingga dapat memudahkan pilotnya untuk menyadari bahwa mereka sedang diikuti oleh pesawat kita sebagai interceptor,” jelasnya.

Kemudian, pesawat yang di-intercept juga berada pada jarak tembak ideal bagi pesawat tempur. Sehingga jika pesawat asing melakukan pergerakan yang tidak sesuai dengan perintah interceptor, maka akan ditembak. “Jadi ada dua pesawat. Satu di sebelah kiri, kemudian satu lagi di belakang untuk posisi jarak tembak,” katanya.

Mengenai prosedur pemeriksaan, akan diberitahukan kepada pilot di pesawat intercept bahwa mereka telah masuk ke wilayah teritori Indonesia. “Kemudian ditanyakan apakah mereka mempunyai dokumen untuk bisa melewati wilayah Indonesia. Karena, orang yang lewat di wilayah Indonesia harus mengikuti flight clearance, security clearance, dan flight approval. Sehingga ketika dokumen itu tidak ada, maka pesawat tersebut pesawat sudah dinyatakan melanggar. Ketika didekati dan pesawat yang di-intercept tersebut tidak mengikuti instruksi dari kami untuk segera turun, maka kami akan segera melakukan penindakan,” jelasnya. (*/asf/ash)

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 05 Desember 2019 13:04

Pembelian Premium Akan Ditakar

TARAKAN - Meluapnya antrean di SPBU Mulawarman dan SPBU Kusuma…

Kamis, 05 Desember 2019 12:52

Evaluasi Kinerja saat Pemilu 2019

TARAKAN - Pelaksanaan pemilu 2019 di Kaltara telah berhasil di…

Rabu, 04 Desember 2019 12:13

Kapolda: Mungkin Milik Anggota Tertinggal

JAKARTA – Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono…

Rabu, 04 Desember 2019 12:09

Abai, Rumah Makan Bisa Disita BPPRD

TARAKAN - Penarikan pajak sebesar 10 persen, ternyata masih saja…

Rabu, 04 Desember 2019 12:07

7 Kali Sidang Isbat, 2.416 Pasangan

KONSULAT RI Tawau untuk ketujuh kalinya bekerja sama dengan Pengadilan…

Selasa, 03 Desember 2019 10:20

Keamanan Kendaraan Parkir Dipertanyakan

TARAKAN - Januari 2020 mendatang, e-Parking rencananya akan diterapkan di…

Selasa, 03 Desember 2019 10:16

IDI Usulkan Kenaikan Gaji bagi Spesialis

TARAKAN – Minimnya peminat pada formasi dokter spesialis calon pegawai…

Senin, 02 Desember 2019 14:44

Pemkot Buka Peluang Investasi Pembibitan

TARAKAN - Permintaan ekspor akan udang dan kepiting yang tinggi…

Sabtu, 30 November 2019 10:28

DPRD Beri Catatan, BPJS: Butuh Sosialisasi Lebih

TARAKAN - Terkait banyaknya keluhan masyarakat terhadap penggunaan layanan jaminan…

Jumat, 29 November 2019 14:45

Bentol Tak Di-tera karena Tak Diakui

TARAKAN - Guna mencegah kecurangan pada pelayanan stasiun pengisian bahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.