MANAGED BY:
SENIN
06 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 26 September 2016 12:57
Pakai Tak Pakai, Bayar Rp 76.000

Lebih Hemat Mana, Gas Bumi atau Elpiji?

HENDI SURYADI/RADAR TARAKAN

TARAKAN-Tidak lama lagi, sebagian besar rumah warga yang berdomisili di Tarakan akan dialiri gas bumi untuk keperluan memasak sehari-hari. Warga yang masih menggunakan gas elpiji, perlahan mulai beralih menggunakan gas bumi.

Gas sebagai kebutuhan masyarakat, baik elpiji maupun gas bumi telah diwacanakan sejak jauh hari oleh pemerintah melalui Kementerian ESDM. Keduanya ditawarkan ke masyarakat sebagai solusi pengepul dapur, juga sejak konversi minyak tanah ke gas diberlakukan pemerintah.

Mulai November, jaringan gas (jargas) rumah tangga menjadi yang paling dominan digunakan masyarakat. Selain itu pula, persoalan distribusi gas elpiji tidak pernah selesai. Warga masih mengantre terlalu lama. Kondisi ini memantapkan masyarakat untuk segera beralih.

Hingga hari ini, proyek pemasangan jaringan gas (jargas) yang dikerjakan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) telah berlangsung selama sembilan bulan sejak dimulai pada 14 Maret 2016 dan rencananya akan selesai pada 8 November 2016.

Namun kegelisahan mulai datang dari sejumlah warga Tarakan. Sebab yang mereka dapati, harga gas bumi mendadak naik. Belum lagi biayaminimum pemakaian gas bumi dipatok cukup mahal.

“Harganya cukup mahal. Menurut petugas PGN, bulan kemarin ada kenaikan 50 persen. Dan bulan depan ada kenaikan lagi 100 persen,” kata Suriansyah, warga Kelurahan Sebengkok.

Menanggapi keluhan warga ini, Sales Area Head Tarakan, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) (Persero) Tbk, Muhammad Arif menjelaskan tidak ada abodemen pemakaian jargas. Namun perhitungannya, terdapat dikenakan biaya minimum untuk setiap rumah tangga, yaitu 10 meter kubik (m3).

“Cara perhitungannya, harga gas dikali dengan jumlah minimum pemakaian. Yaitu Rp 7.600 dikali 10 meter kubik dan hasilnya adalah Rp 76.000. Artinya pemakaian yang berada di bawah 10 meter kubik akan tetap membayar beban sebesar Rp 76.000 tersebut,” ungkapnya.

Naiknya harga beban pemakaian tersebut menurut Arif telah dimulai per 1 Agustus 2016 lalu. Kenaikan harga gas ini ditegaskannya bukan keputusan sepihak PGN, namun menjadi keputusan dari BPH Migas di pusat.

“Kami dari PT PGN hanya melaksanakan keputusan penyesuaian tarif dasar gas yang dikeluarkan oleh BPH Migas,” tuturnya.

Menurut Arif, ada penghematan biaya penggunaan gas yang disalurkan melalui pipa (gas bumi) dibandingkan menggunakan elpiji kemasan tabung.

“Penghematannya bisa mencapai 40-50 persen,” ungkapnya.

Sebagai perbandingan, untuk harga elpiji 12 kg di Tarakan seharga Rp 260.000. Jika dibandingkan dengan gas bumi, untuk ukuran tabung 12 kg adalah setara dengan jumlah gas bumi sebanyak 15 meter kubik.

“Jadi, pembayaran gas sebanyak 15 meter kubik dapat dihitung dengan cara 15 meter kubik dikali Rp 7.600, sehingga totalnya adalah Rp 114.000,” jelasnya.

Dari segi kontinuitas, gas pipa jauh lebih handal dibandingkan elpiji karena konsumen tidak perlu lagi repot-repot mengantre untuk pembeliannya. “Warga juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk membeli tabung elpiji,” ujarnya.

Sementara itu dari segi risiko juga diklaim lebih aman. Sebab penyaluran gas langsung ke rumah tangga. Penyaluran gas alam pun dengan sistem keran layaknya air. “Jika terjadi kebocoran elpiji biasanya orang takut mendekat. Sedangkan jika menggunakan gas ini, kita hanya cukup menutup keran yang posisinya berada di luar rumah,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan berat jenis udara, untuk jenis gas alam lebih ringan dibandingkan dengan gas di dalam tabung. Berat jenis gas natural adalah 0,7 kgf/m3, sedangkan berat jenis gas di dalam tabung elpiji adalah 1,2 kgf/m3. Untuk berat jenis udara sendiri sebesar 1 kgf/m3.

“Jika terjadi kebocoran, gas alam akan lebih mudah terurai. Sementara kalau yang di dalam tabung akan membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai sehingga ketika ada api akan lebih mudah terbakar,” jelasnya.

Sesuai keinginan Pemerintah Kota Tarakan, semua rumah di kota ini akan dipasang jargas. Namun target dari PGN untuk membantu pemerintah dalam proyek Ditjen Migas, pemasangan jargas akan dilakukan untuk 21.000 rumah tangga di Kota Tarakan.

“PGN akan membantu pemerintah untuk menyelesaikan targetnya,” kata Arif.

Dikatakan Arif, PGN hadir di Kota Tarakan untuk membantu memberikan energi berupa gas bumi yang dibutuhkan oleh masyarakat Kota Tarakan. Dengan adanya gas bumi, diharapkan nantinya dapat membantu masyarakat untuk memperoleh energi yang aman dan murah.

“Kami senang ketika mendapatkan respon yang baik dari masyarakat Kota Tarakan saat pemasangan jargas untuk 21.000 rumah tangga. Banyak yang antusias, walaupun masih ada yang belum dapat terpasang jargas karena terhalang beberapa hal,” ungkapnya.

Sementara itu, Communication and Relations Kalimantan, Pertamina MOR VI, Bagja Mahendra mengatakan, dilihat dari pemakaian sehari-hari, memang lebih hemat menggunakan gas alam.

“Jika dibandingkan antara keduanya, untuk pemakaian elpiji 12 kg (non subsidi) normalnya untuk pemakaian selama tiga bulan. Sedangkan untuk pemakaian gas alam, setahu saya untuk 1 meter kubik bisa untuk 5-6 hari pemakaian normal,” ujarnya.

Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah gas bumi tersebut bisa menjamin dapat memenuhi kebutuhan seluruh rumah tangga di Tarakan?

---------- SPLIT TEXT ----------

Sebab dikhawatirkan kasusnya akan sama dengan listrik Tarakan. Saat semua mesin diesel dimodifikasi berbahan bakar gas, dan mesin PLN lebih banyak bergantung pada gas, ketersediaan gas bumi justru berkurang.

“Meski saat ini (gas) melimpah, dalam mengekploitasinya harus ditopang dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai,” jawab Nasvar Nazar, Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Khusus gas bumi yang berada di bawah pulau Tarakan, Nasvar belum memastikan berapa jumlah kandungan gas bumi yang tersembunyi.

Namun ia beralibi, potensi gas Tarakan cukup besar. Hanya saja untuk mengeksploitasinya terkendala persoalan teknis infrastruktur.

“Sebenarnya jika Tarakan mengalami kekurangan gas, bisa membeli gas dari Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan yang telah siap memproduski gas sekitar 30 MMSCFD. Namun kendalanya adalah jaraknya yang cukup jauh dari Tarakan,” tuturnya.

Menurutnya, gas di Sei Menggaris memiliki jumlah gas dengan jangka ketahanan yang cukup lama. Namun ketahanan ketersediaan gas juga harus bergantung pada kondisi sumur. “Tiap-tiap sumur memiliki kriteria dan karakter yang berbeda,” tuturya.

---------- SPLIT TEXT ----------

JARGAS DAN ELPIJI DIJAMIN TIDAK BERBENTURAN

Di sisi lain, program pemasangan jargas di 21.000 rumah tangga di Kota Tarakan dikhawatirkan akan berbenturan dengan program pendistribusian tabung gas elpiji 3 kg menggunakan e-Money, yang project percontohannya di Kecamatan Tarakan Timur.

Sebab bukan tidak mungkin dalam satu rumah, akan terpasang jargas oleh PGN, dan di rumah yang sama juga menerima kartu e-Money dari Bank BNI.

Kepala Disperindagkop dan UMKM Tarakan, Tajuddin Tuwo justru tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Menurutnya pendistribusian elpiji dengan sistem tertutup menggunakan kartu e-Money bertujuan untuk mengontrol penyaluran tabung gas yang ada.

“Jadi jika jargas di rumah tersebut sudah jalan, maka kartunya (e-Money elpiji 3 kg) akan kami tarik,” tuturnya.

Menurutnya, jargas ini akan dipasang ke semua rumah tangga yang ada di Tarakan. Jika project tersebut lancar, maka distribusi gas elpiji akan dikurangi. “Jadi tidak akan berbenturan di dalam satu rumah mendapatkan kartu e-Money elpiji 3 kg dan jargas,” singkatnya.(jnr/*/asf/ddq)

 


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers