MANAGED BY:
SENIN
06 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 26 September 2016 12:52
Harga Murah, Tidak Terbebani Pembayaran Bulanan

Cerita Warga yang Menggunakan Gas Elpiji

GAS ELPIJI 3 KG : Salah satu warga Tarakan yang menggunakan tabung gas Elpigi 3 kg. RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

SELAIN menggunakan gas alam, tak sedikit pula warga yang masih betah bertahan menggunakan elpiji 3 kilogram (kg). Minggu (25/9) siang, Radar Tarakan mencoba menyusuri beberapa rumah warga yang berlokasi di Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur.

Wilayah yang terdiri 14 RT ini terbilang luas dan memiliki jarak-jarak yang sangat jauh. Selain warganya yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan, warga Pantai Amal jarang berada di rumah.

Hampir seluruh warga Pantai Amal menggunakan gas elpiji 3 kg dan 12 kg.

Salah seorang pengguna tabung elpiji, Hambali yang juga Ketua RT 7 Kelurahan Pantai Amal misalnya. Sehari-harinya Hambali dan keluarga memasak menggunakan tabung gas elpiji 3 kg.

Dalam satu rumah, ada sebelas anak yang harus ditanggung kebutuhan hidupnya sehari-hari. Di antaranya: istri, tiga anak kandung dan empat anak angkat, satu keponakan serta dua anggota keluarga lain yang tinggal dalam satu rumah.

“Yah biasanya kalau mau memasak menggunakan tabung gas yang sudah dibeli, dan alhamdulillah tidak ada kendala sama sekali hingga saat ini,” ungkap Hambali kepada Radar Tarakan.

Untuk mendapatkan tabung gas ini, dirinya terkadang  harus pergi mengantre di rumah agen elpiji dengan harga yang dibandrol Rp 16.000. Namun bila kehabisan, terkadang dirinya membeli ke orang lain yang dikenal sebagai pengecer dengan harga Rp 25.000 per tabung.

“Satu tabung ini bisa habis dalam waktu 2 minggu, dan penggunaannya juga tidak terkontrol, terkadang ada yang memasak membuat inilah, itulah, jadi habisnya bisa tak sampai dua minggu,” bebernya.

Menurut Hambali, penggunaan gas elpiji sangat praktis baginya, selain sangat mudah dibawa ke mana-mana harganya juga sangat murah, yang artinya tidak membebani biaya bulanan yang sewaktu-waktu bisa naik.

“Harganya Rp 16.000 sampai Rp 25.000 per tabung, habisnya dua minggu. Dikalikan sebulan yah paling keluar kisaran Rp 30.000 hingga Rp 50.000-an, dan itu sudah jelas,” ucapnya.

Jumiati, salah seorang ibu rumah tangga (IRT) yang tinggal di RT 5 Kelurahan Pantai Amal menyatakan lebih memilih menggunakan tabung gas elpiji dibandingkan gas bumi.

Sebab dirinya yang tinggal bersama suami dan anaknya tidak begitu banyak menghabiskan gas setiap bulan. “Kami jarang juga menggunakan gas, dan masak pun tidak terlalu berlebihan,” jelasnya.

Menurutnya bila menggunakan elpiji 3 kg, ia sudah tahu berapa pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk sebulannya. Bahkan terkadang untuk 1 tabung gas elpiji 3 kg pernah tidak habis dalam waktu satu bulan.

“Mungkin karena kami irit menggunakan gas, jadi tidak terlalu banyak pemakaian juga, dan palingan digunakan saat memasak nasi dan kebutuhan lauk-pauk,” katanya.

Meskipun banyak yang mengakui tabung elpiji 3 kg lebih murah, tak sedikit pula warga yang mengeluhkan keberadaan tabung elpiji bersubsidi ini.

Berdasarkan pengalaman Nurhani (46) yang biasa dipanggil Ani, warga Kelurahan Karang Harapan, dirinya terpaksa menghemat penggunaan gas elpiji untuk mengurangi banyaknya biaya.

Tak ayal Ani hanya memasak pada waktu tertentu, siang dan malam hari. Ini dikarenakan kondisi elpiji 3 kg yang dibelinya, isinya semakin sedikit. Bukan sekali dua kali, namun seringkali Ani mendapatkan elpiji 3 kg dalam kondisi tidak penuh gasnya.

Ia juga memastikan berat tabung dengan menggunakan timbangan.

---------- SPLIT TEXT ----------

Untuk lebih menghemat, Ani bertahan menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah untuk masak. “Kalau itu buat jaga-jaga saja, kalau gas elpiji susah dibeli,” ungkap Ani yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga.

Diakuinya, kadang pengecer (yang bukan dari pangkalan resmi) menjual kembali ke warga yang tidak berhak menggunakan elpiji bersubsidi alias warga mampu.

Sehingga direntan waktu 10 hingga 15 hari, dirinya baru bisa mendapatkan gas elpiji kembali. Itupun kadang didapatkan melalui perantara tetangganya. Beruntung Ani memiliki dua tabung gas yang dipakai secara berkala.

“Kalau daerah sini dipasang jargas, mungkin sedikit banyak bisa membantu untuk bahan bakar memasak kami, daripada kami harus antri beli gas elpiji lagi. Kadang ada juga mobil pick up yang keliling, tapi tidak tahu mereka jual ke mana gas elpijinya,” ujar Ani.

Lanjut Ani, biasanya elpiji 3kg yang Ia beli berkisar di angka Rp 20.000. Padahal, harga sewajarnya sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah hanya Rp 16.000 per tabung. Namun karena membeli lewat perantara temannya dia terpaksa merelakan Rp 25.000 dengan alih-alih ongkos jalan sebesar Rp 5.000 kepada temannya.

“Saya kasihan juga sama ibu itu yang beli gas, saya kasihlah  dia 5 ribu rupiah buat uang jalannya. Kami di rumah memang jarang masak tapi tidak sampai seminggu kami pakai, habis sudah gas elpiji nih,” ungkap Ani saat sedang memasak di dapur. (*/sep/*/eru/zia/ddq)


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers