MANAGED BY:
RABU
27 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 26 September 2016 11:31
Operasi Pasukan Darurat di Aceh, Rasakan Momen Menegangkan 26 Desember 2004

Mengenal Sosok Dandim Letkol Infantri Pujud Sudarmanto (2- Habis)

SEMPAT TRAUMA : Letkol Inf. Pujud Sudarmanto saat sebelum meninggalkan Aceh, Desember 2004. DOKUMEN PRIBADI

 

Letkol Inf. Pujud Sudarmanto yang resmi menggantikan kepemimpinan Komandan Kodim 0907/Tarakan yang sebelumnya dijabat Letkol Inf. Singgih Pambudi ternyata menyimpan begitu banyak gudang kisah semasa tugasnya. Di antaranya saat menjadi saksi bisu gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3  skala richter yang mengguncang Tanah Aceh dengan tsunami terbesar yang terjadi 26 Desember 2004 silam.

RURY JAMIANTO

BANYAKNYA pengalaman hidup, membuat Letkol Infantri Pujud Sudarmanto tak pernah lupa saat-saat mengenyam berbagai tugas di daerah dan wilayah terpencil. Meski kini ia sudah menyandang jabatan yang cukup tinggi, ia tak pernah lupa semasa tugas saat masih berada di tingkat bawahan.

Letkol Inf. Pujud Sudarmanto atau yang biasa disapa dengan nama panggilan Pujud ini, terlahir bukanlah dari keluarga militer. Anak kedua dari empat bersaudara ini lahir dari keluarga sederhana yang ayahnya berprofesi sebagai guru di kampung halamannya di Bondowoso, Jawa Timur. Namun hal tersebut membuatnya selalu optimistis dan mampu menjadi pemimpin yang tegas bagi para anggotanya.

Perjalanan kareirnya pun dimulai sejak 1998, saat ia lulus dari pendidikan militer di Magelang, kemudian Sarcap dan selesai pada 1999. Pada Desember 1999, Pujud akhirnya merapat ke Udayana, sebagai Pama Kodam IX/Udayana, Denpasar, Bali.

Tugas pertamanya pun dilakukan sebagai Danton II di  Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti atau Yonif 744/SYB merupakan pasukan tempur Infanteri yang berada di bawah kendali Kodam IX/Udayana, yang berdiri pada 24 Januari 1978. Yang saat itu, semasa Timor Timur masih menjadi bagian dari NKRI, batalyon ini bermarkas di Lospalos, Timor Timur yang sekarang menjadi Timor-Leste.

Saat terjadi perpindahan Timor-Timor–Indonesia tersebut, akhirnya pada 1999 semua tentara mengungsi dan berpindah dan bergabung dengan Batalyon Infanteri 743/Pradnya Samapta Yudha atau Yonif 743/Pradnya Samapta Yudha, Batalyon Infanteri yang berada di bawah Komando Korem 161/Wira Sakti, Kodam IX/Udayana. Yonif ini berdiri pada 19 Maret 1965 yang bemarkas di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saat itu, yang lainnya pada kontrak atau ngekos, kami yang perwira muda tidurnya di barak-barak rumah. Garasi-garasi yang tidak kepakai itu yang kami jadikan tempat tidur kami,” ungkap Letkol Inf. Pujud Sudarmanto saat mengingat masa-masa tugasnya dulu.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2001, anggota yang bergabung ini pun dibuatkan asrama segi permanen di wilayah Kupang. Dan pada 2002, tepatnya Februari, Pujud Sudarmanto beserta satu kompi batalyon ini diberangkatkan tugas dan bergabung dengan Batalyon Infanteri Mekanis 741/Satya Bhakti Wirottama atau Yonif Mekanis 741/Satya Bhakti Wirottama, Singaraja, Bali, dalam misi operasi pengamanan di daerah rawan pasca rusuh di Ambon. “Kerusuhan ini kan sejak 1999 sampai 2001, dan 2002 sudah mulai agak kondusif meski masih ada beberapa konflik. Pada September 2003 kami pun kembali, tapi berangkat lagi ke Aceh untuk operasi pasukan darurat militer,” jelasnya.

Diceritakannya, selama 16 bulan di Aceh, dirinya dan anggota lainnya bertugas di daerah Aceh Barat, yaitu Nagan Raya, Meulaboh, Aceh Jaya, dan Aceh Besar. Tepat pada 22 Desember 2004, satu kompi ini akan ditarik ke Malahayati, untuk persiapan pelepasan ke Kupang.         “Saat itu kami menunggu kapal dan ternyata belum datang, dan pada 26 Desember 2004 itu rencananya pasukan melaksanakan pelepasan pulang kembali ke Kupang, namun kapal tetap saja belum datang, sementara upacara pelepasan akan dilaksanakan,” katanya.

Saat upacara berlangsung dan menunggu penjemputan kapal datang,  musibah besar pun datang. Burung-burung terlihat bertebrangan entah ke mana. Dimana detik-detik Inilah saat-saat yang menegangkan. Bukan hanya Indonesia saja yang tahu, bahkan di seluruh dunia juga tahu, bahwa apa yang terjadi di Aceh, pada 26 Desember itu, adalah musibah dahsyat terbesar yang pernah ada. “Saat kami sedang menggelar pasukan untuk upacara, tiba-tiba ada gempa, kurang lebih 5-10 menit, sampai kami melihat tiang listrik begoyang sangat hebat,” jelasnya.

Saat gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala richter itu terjadi, Pujud yang saat itu sedang bersiap-siap upacara, sontak terduduk akibat gempa yang begitu hebat.

Beberapa menit kemudian, ia kembali terbangun akibat pusing yang dialaminya. “Saat itu saya tidak terlalu tahu apa yang terjadi, namun saya melihat orang-orang berhamburan berlarian dan berteriak air naik…air naik…,” kata Pujud.

Pujud pun tak menyangka laut yang tadinya tak bisa ia lihat karena dibatasi oleh tembok dan gedung tinggi, dengan jelas terlihat. Ada pula kapal yang melayang-layang, bahkan kapal tongkang pun terlihat di daratan yang membuatnya belum dapat berpikir tentang apa yang sedang terjadi.

Saat itu Pujud bersama rekan-rekannya seketika mengambil ransel dan senjata miliknya dan berlari menuju bukit yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. “Kami satu kompi langsung lari, terlihat air sudah merapat ke kami,” jelasnya.

Dari kejadian tersebut, Pujud harus menyaksikan lima personel TNI meninggal saat menemuka jazad temannya tersebut. “Sempat ada yang kami tolong dalam kondisi hidup namun karena alat medis tidak ada akibat tersapu tsunami, akhirnya empat orang yang kami coba selamatkan dengan hanya mengandalkan kompa-kompa ini, sudah tidak bisa tertolongkan lagi. Sementara satu anggota lagi yang kami temukan di reruntuhan bangunan dan terjepit, akhirnya meninggal juga,” kata Pujud.

Dua hari berselang dari kejadian tersebut, Pujud bersama rekan-rekannya pun kembali menunggu kedatangan kapal. Sembari menunggu tibanya kapal, ia dan anggota lainnya pun turut ikut membantu masyarakat untuk mengangkat jenazah dan ikut memakamkan sambil mencari peralatan mereka. “Saat kejadian itu masyarakat sudah terlihat apatis. Masing-masing mengurus dirinya sendiri. Mungkin karena pusing, melihat keluarganya meninggal dan ada yang belum ditemukan. Rumah sudah rata dengan tanah,” bebernya.

Karena kondisi saat itu sangat mengkawatirkan dan serba terbatas, saat itu pula, apa yang dimakan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat. “Apa yang kami makan ya makan bersama dengan masyarakat,” ucapnya.

Penantian yang ditunggu-tunggu akhirnya pun datang, kapal perang patroli sudah terlihat dan anggota yang selamat membawa jenazah kerbatnya untuk dimasukkan ke kapal beserta 12 anggota lainnya yang mengalami luka-luka. “Saat kejadian itu dan kembali ke kampung halaman, trauma masih terbenak di dalam diri saya. Setiap melihat laut yang dipikiran saya hanyalah apakah ini akan terjadi tsunami. Tapi itu semua akhirnya bisa saya lalui dan melawan rasa trauma itu, hingga 10 tahun saya di NTT dan menemukan pujaan hati saya, Enda Susilowati yang menjadi istri saya,” jelasnya. (ash)

 


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers