MANAGED BY:
RABU
27 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 24 September 2016 10:06
Hanya Sempat Dua Kali Terbang

Ekspor ke Singapura Terhenti, Pengusaha Masih Memilih Lewat Tawau

DIGENJOT LAGI : Gubernur Irianto Lambrie memimpin pertemuan dengan beberapa stakeholder dan pelaku usaha perikanan terkait kelanjutan ekspor hasil perikanan di ruang pertemuan bandara Juwata sore kemarin. HENDI SURYADI/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Ekspor hasil perikanan dari Tarakan, yang langsung diterbangkan ke Singapura tidak berjalan mulus.

Sejak diterbangkan ekspor hasil perikanan pertama kali pada Selasa, 23 Agustus lalu, ternyata hanya bertahan dua kali penerbangan. Setelah itu, ekspor terhenti hingga hari ini dengan alasan masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi.

Untuk menyikapi kondisi ini, Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie pun menggelar rapat khusus dengan para pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan di ruang pertemuan Kepala Bandara Juwata Tarakan, Jumat (23/9) sore. Pertemuan ini juga dihadiri sejumlah pihak terkait lain seperti Pelindo, Syahbandar, serta Bea dan Cukai.

Dikatakan Irianto, setelah dilakukan kajian secara sistematis terdapat beberapa faktor yang perlu dibenahi, baik dari segi penyediaan komoditas perikanan maupun dari segi administrasi serta hal-hal yang bersifat teknis.

Di antaranya masih ada sejumlah pelaku usaha yang belum beranjak dari kebiasaan lama, yakni melakukan ekspor hasil laut berupa kepiting dan ikan melalui jalur laut dengan tujuan Tawau.

Alasannya cukup sederhana dan bervariatif, di antaranya jalinan ikatan emosional terhadap pelanggan ataupun pembeli yang berada di negara tetangga masih kuat sehingga masih memilih jalur laut.

“Masih perlu diberikan pemahaman,” ujarnya di hadapan sejumlah media saat melakukan jumpa pers di ruang rapat Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan kemarin (23/9).

Enggannya sejumlah pelaku usaha beranjak dari kebiasaan lama, membuat para suplier mengumpulkan kepiting-kepiting dari nelayan-nelayan yang ada di Tarakan. Dikatakan Irianto, sejauh ini kepiting-kepiting yang diekspor oleh pelaku usaha merupakan kepiting yang tidak lahir dari hasil budidaya ataupun pengembangan kepiting, melainkan murni dari hasil tangkapan di laut ataupun kepiting-kepiting tambak yang berkembang secara alami tanpa budidaya.

Dengan demikian, perlu ada sentuhan langsung dari pemerintah yang bersifat jangka panjang untuk meningkatkan komoditas dari sektor perikanan khsususnya kepiting.

Padahal seharusnya para suplier dibebankan untuk mengumpulkan kepiting berkisaran delapan ton. Mengingat kapasitas pengangkut pesawat mampu menerbangkan kepiting sebanyak 15 ton.

“Jika menggunakan jalur udara untuk ekspor hasil laut, tentu lebih efisien jika dibandingkan dengan menggunakan jalur laut. Selain itu, tingkat keamanan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan sebuah usaha ataupun kegiatan. Sudah bukan rahasia lagi jika menggunakan jalur laut banyak hal-hal yang dapat mengancam keselamatan, di antaranya pembajak maupun faktor alam yang tidak menentu,” ungkapnya.

---------- SPLIT TEXT ----------

Dari segi kualitas, lanjut Irianto, tidak perlu diragukan lagi. Kepiting dan udang yang diekspor secara langsung melalui udara masih terjamin kesegarannya. Mengingat jarak tempuh Tarakan dengan Singapura hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

“Pasti ada banyak keuntungan menggunakan jalur udara,” tambahnya.

Selain itu, dari segi harga, para pelaku yang telah terlibat ekspor jalur udara sebelumnya dapat merasakan perbedaan yang cukup jauh dari ekspor sebelumnya, yakni dapat meraih keuntungan dengan selisih harga perkilogramnya hingga Rp 200.000. “Semua upaya yang dilakukan ini murni untuk kepentingan nelayan di Kaltara. Dengan perbedaan nilai jual yang cukup jauh, para nelayan dapat memperbaiki perekonomian dalam rumah tangga,” jelasnya.

Dari hasil rapat bersama dengan sejumlah pelaku usaha dan instansi yang terkait kemarin, gubernur mengatakan pengiriman kepiting akan berjalan kembali pada Selasa (27/9).

Hingga saat ini terdapat 114 pengusaha kepiting dan 50-an eksportir yang terlibat mengirimkan secara langsung dari Tarakan tujuan Singapura, serta Johor, Kuala Lumpur, dan Serawak di Malaysia.

Salah satu pengusaha yang juga merupakan suplier kepiting, Supriyadi mengatakan, meski sempat terhenti, ia tetap optimistis dengan keterlibatan 114 rekan kerjanya ini. “Kami akan gandeng teman-teman yang lainnya,” tuturnya. (*/pck/ash/ddq)


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers