MANAGED BY:
RABU
27 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 19 September 2016 15:10
Ingin Untung Malah Buntung

Ajukan Klaim, Malah Dipersulit Asuransi

ILUSTRASI/INT

TARAKAN –  Umumnya, masyarakat menggunakan jasa asuransi untuk tujuan perlindungan finansial baik dari sisi kesehatan, jiwa, properti dan lainnya. Ini dilakukan sebagai antisipasi untuk pembiayaan-pembiayaan yang pasti akan dibutuhkan di kemudian hari. Beberapa di antaranya asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, kecelakaan, perlindungan hari tua, properti dan investasi.  

Sistem kerja jasa asuransi pun beragam, namun cara pembayarannya bisa dengan cara kes maupun kredit. Cara pembayaran seperti ini hampir persis seperti  membeli mobil dan motor. Karena yang ditawarkan adalah produk sistem.

Sistem kerja asuransi sendiri, setiap nasabah harus menyetorkan sejumlah uang, bisa dalam bentuk kas maupun dalam bentuk kredit kepada pemilik asuransi ataupun agen yang disiapkan pihak asuransi.

Baik tunai maupun kredit, pemilik asuransi menetapkan jangka waktu sesuai yang tertera dalam perjanjian yang disepakati atau dikenal buku polis asuransi. Di dalam buku tersebut memuat semua persyaratan dan ketentuan serta risiko nasabah jika tidak memenuhi perjanjian tersebut.

Namun, belakangan mencuat banyaknya nasabah yang merasa menjadi korban dari jasa perusahaan asuransi yang digunakan. Yang paling sering dikeluhkan di antaranya saat akan melakukan klaim ke pihak perusahaan.

Seperti dialami Hartini (44). Ia mengungkap, dirinya pernah menjadi salah satu nasabah di perusahaan asuransi BI (inisial) yang berlokasi di Jalan Jenderal Yos Sudarso.

Awalnya, alasan dia mulai menginvestasikan uangnya di asuransi tersebut karena ditawarkan oleh salah seorang kawannya yang merupakan marketing sebuah asuransi.

"Awalnya itu saya ikut karena teman saya tawari, karena tidak enak sama teman ya sudah saya ikut aja," ceritanya kepada Radar Tarakan, Minggu (11/9) lalu.

Adapun dana yang telah diinvestasikan ibu beranak satu ini sebesar Rp 150.000 setiap bulan. Dan dirinya telah ikut asuransi tersebut selama lima tahun. Sebenarnya macam-macam jenis paket yang ditawarkan. Namun dirinya tidak berani mengambil risiko terlalu besar sehingga memutuskan menggunakan paket yang kecil dengan premi Rp 150.000.

"Saya ikut yang kecil saja. Cuma Rp 150.000 per bulan dan saya ikut sudah sekitar lima tahun," sebutnya.

Dalam prosesnya, ada perjanjian yang disepakati bersama sebelum menginvestasikan dana miliknya. Yakni, dalam kurun waktu lima tahun dana yang diivestasikan baru bisa diambil. Namun ketika ibu berkulit putih ini ingin mencairkan dananya, mulailah timbul masalah.  Pihak asuransi mengatakan dana belum bisa dicairkan dengan alasan perlu mengurus beberapa administrasi.

Oleh Hartini pun segera menyelesaikan berbagai administrasi yang disyaratkan, pihak asuransi ternyata  masih mengulur-ulur waktu pencairan dana hingga akhirnya diketahui bahwa kantor administrasi itu telah tutup.

“Perjanjianannya sih kalau sudah lima tahun bisa dicairkan, tapi pas saya mau cairkan panjang prosesnya, harus megurus administrasi lagi, terus sudah saya urus pun tetap diulur-ulur waktunya. Sekalinya saya telusuri rupanya kantornya sudah tutup," keluhnya.

Alhasil, meski nominalnya tak begitu besar, ia tetap merasa dirugikan.  Ada sekitar Rp 5 juta uang yang harus ia ikhlaskan begitu saja setelah merasa tertipu dengan perusahaan asuransi yang diikutinya.  Dirinya enggan pula melaporkan ke pihak kepolisian.

“Karena teman sendiri. Tapi yang jelas kalau keinginan berinvestasi ke asuransi saya sudah nggak mau. Soalnya trauma ditipu, lagian lebih aman menabung biasa saja, jadi kapan saja mau diambil kan  tidak masalah," ungkap perempuan yang murah senyum ini kepada pewarta.

Tak hanya Hartini, beberapa korban lain juga mengeluhkan hal serupa. BA (nama inisial,red) mengakui dirinya merasa begitu dirugikan dengan pihak asuransi swasta yang diikutinya. Khususnya dalam hal pelayanan pengajuan klaim. BA sendiri sebelumnya menyimpan dananya atau membayarkan preminya sebesar Rp 500.000 per bulan. Dengan harapan,  dalam lima tahun ke depan bisa diambil dananya sesuai dengan perjanjian kontrak. Namun sialnya, saat dirinya hendak mengambil dananya, oleh petugas menjelaskan dana yang diinvestasikannya masih harus menunggu 10 tahun dan bukan 5 tahun.

Padahal sesuai perjanjian kontrak yang disepakati kedua belah pihak, dalam jangka waktu lima tahun dana yang disetorkan sudah bisa dicairkan.

“Petugas juga bilang, dananya bisa diambil tetapi akan banyak potongan, dan saya hanya dapat beberapa persen saja,” keluh BA kepada Radar Tarakan.

Dalam perhitungan BA, sesuai hasil akumulasinya, dari total per bulan Rp 500.000 yang disetornya, jika dikalikan dalam jangka waktu 6 tahun, dia pikir langsung mendapat lebih dari Rp 30 juta.

 “Kalau memang tidak bisa ditarik semua uangnya, setidakya beberapa dana saja, kalau bisa lagi jangan membungakan dana tabungan kami. Bahkan mereka juga memotong dana administrasi serta dana-dana yang lain,” keluhnya lagi.

BA mengungkapkan, saat akan ditarik ia sempat ditanya petugas mengapa akan menarik dana asuransi tersebut. Saat itu, BA menjelaskan butuh dana untuk membayar kuliah anaknya. Ia berpikir lagi akan mencairkan dananya karena jangka waktu yang disepakati sudah genap dan sesuai dengan perjanjian awal.

“Saya sempat menawar, saya akan lanjut, tapi saya ingin mengambil dana awal saya yang Rp 10 juta. Oleh petugas selalu mengatakan, jika terjadi apa-apa di keluarga ibu misalnya ada kecelakaan atau sakit parah. Jadi saya langsung takut,” ujarnya.

Lanjutnya lagi, banyak penawaran premi yang sangat murah dalam promosi produk yang dilakukan pihak asuransi yang diikutinya. Jika nilai premi yang diberikan sesuai dengan fasilitasnya, itu bisa dikatakan sesuai dengan perjanjian asuransi.

Lalu, selang seminggu perkiraannya, petugas asuransi sempat menghubunginya via telepon. Namun karena posisinya berada di jalan dan kebetulan berada di luar kota, ia tak menjawab. Lalu saat BA sudah berada di Tarakan, BA kembali lagi untuk melakukan pengajuan klaim.

Disitulah BA kembali menyesali pelayanan petugas asuransi. Saat diakumulasikan secara keseluruhan ternyata tak ada biaya yang bisa diambil. Oleh petugas menjelaskan tidak bisa dicairkan karena sebelumnya pernah dihubungi petugas namun tak ada respon dari pihak BA. “Saya kan di luar kota dan sibuk kondisinya, dan saya tidak di SMS juga,” urainya.

Kemudian, ia kembali lagi mendatangi kantor perusahaan asuransi tersebut. Dan ia dijanjikan 14 hari lagi baru bisa diklaim. Ia berpikir, padahal ini uang miliknya sendiri.

“Saya mau ambil uang saya, bukan mengajukan peminjaman,” sambungnya.

BA merasa dirugikan pihak asuransi atas kasus tersebut.

“Jika dihitung-hitung saya merasa dirugikan puluhan juta. Kalau saya pikir-pikir, mending menabung biasa saja. Saya juga berencana mau menarik uangnya kembali, tapi saya pikir masih ada kerugian yang banyak, jadi serba salah juga,” tuturnya kesal.

Kenyataannya, tidak hanya BA yang mengalami kondisi ini. Banyak kawan-kawan di tempat ia bekerja yang menggunakan perusahaan asuransi yang sama diperlakukan seperti yang dialaminya.

Diceritakan BA, salah seorang rekan kerjanya, IS (inisial,red) baru bergabung dua tahun di perusahaan asuransi yang sama dengan BA. Dan setelah dua tahun, IS meminta uangnya kembali. Namun dari pihak perusahaan  hanya diberikan beberapa persen saja dari total yang disetorkan IS.

Ia pun berpesan kepada warga Tarakan, sebelum memutuskan menggunakan jasa asuransi, wajib memperhatikan profil asuransi tersebut. Dan harus pandai memilah mana yang benar-benar professional dan tidak menipu dan merugikan nasabahnya.

“Ingat, perhatikan pelayanan klaim yang memberikan informasi apakah sudah sesuai dengan yang sudah terjadi di lapangan serta menanyakan kepada rekan sesama nasabah tentang informasi yang sudah mereka terima dari pihak asuransi tersebut,” tegasnya.

Memang seharusnya asuransi investasi kesehatan yang ditawarkan kepada masyarakat, memberikan jaminan kepada kliennya sebagai pengguna jasa asuransi. Namun harapan itu jauh dari angan-angan.

Anton (34), juga mengalami hal yang sama. Salah seorang nasabah asuransi yang dikelola sebuah bank milik BUMN ini mengungkapkan kekecewaannya.

Awalnya Anton terdaftar sebagai nasabah di bank yang dikelola BUMN. Namun kemudian ia ditawari untuk mengikuti program asuransi yang dikelola bank tersebut.

Sebagai seorang nasabah, Anton sangat percaya dengan tawaran yang dijanjikan, yaitu perlindungan kesehatan bagi seluruh keluarga terutama anak.

Bahkan dengan asuransi kesehatan tersebut, nasabahnya dijanjikan bisa memperoleh uang pertanggungan kematian berupa 100 persen pengembalian total premi yang telah dibayarkan pada tahun ke 1-4.

Ia pun akhirnya mengikuti asuransi tersebut mulai tanggal 11 Agustus 2010. Artinya Anton sudah tercatat sebagai nasabah asuransi tersebut sejak enam tahun lalu.

Untuk premi, Anton harus membayar ke bank yang sama sebesar Rp 530.000 perbulan dengan sistem debet. Artinya, jika sesuai dengan janji yang ditawarkan oleh petugas asuransi saat itu, Anton sudah memiliki dana sebesar Rp 38.160.000 (72 bulan x Rp 530.000 premi).

Namun betapa terkejutnya dia ketika mengajukan penutupan polis asuransi dengan harapan mendapatkan uang itu.

“Padahal saya butuh uang. Tapi apa yang saya harapkan malah begini kejadiannya. Saya kecewa sekali, karena informasi awal yang saya terima di tahun kelima saya bisa menarik dan menerima dana itu penuh,” jelas Anton kepada Radar Tarakan, kemarin.

Petugas di bank menyatakan uang yang bisa diterima hanya sekitar Rp 16 jutaan, bisa lebih bisa kurang. Petugas pun tidak bisa menjelaskan banyak lantaran sistemnya sudah terprogram dari pusat.

Tanpa pikir panjang, Anton langsung mengajukan penutupan polis. Beberapa hari kemudian, melalui telemarketing, Anton kembali ditawari program baru dari asuransi yang sama.

Karena terlanjur kesal, ia justru mempertanyakan uang premi yang selama ini didebet oleh bank namun tidak bisa kembali utuh.

“Itu kan cabang, kalau cabang beda pak. Di cabang dibagi dua, jatuhnya investasi untuk cabang dan pusat. Ini AM (nama asuransi diinisialkan) Jakarta,” kata Nola, petugas telemarketing dari AM Jakarta.

---------- SPLIT TEXT ----------

Melalui penawaran telepon tersebut, Nola mengatakan bahwa uang nasabah tersebut tidak hilang, namun premi regular yang dibayarkan Rp 530.000 perbulan itu diivestasikan.

Menurut dia, dana investasi tersebut bisa naik bisa turun.

Sebab untuk dana investasi, untung ruginya tidak bisa diprediksi karena jatuhnya mengikuti harga saham.

“Apapun itu harusnya dana nasabah aman dikelola di bank. Tidak seperti ini, namanya nasabah yang dirugikan,” kata Anton.

Salah satu perusahaan asuransi swasta yang dikonfirmasi media ini mengakui, di Tarakan khususnya asuransi ada beberapa yang sudah sesuai dengan pelayanan yang profesional sesuai dengan standar pelayanan asuransi.

Salah satu agen asuransi ternama, PR (nama asuransi diinisialkan) mengatakan, jika memang benar adanya kesalahpahaman tentang pelayanan perusahaan asuransi, maka langsung bersumber dari perusahaan tersebut.  Oleh RI (nama inisial), salah seorang agen asuransi, menegaskan jika demikian harus melihat sistem keagenan yang ada di asuransi tersebut.

“Kami tidak berani berkomentar tentang penyalahgunaan pelayanan di dalam perusahaan asuransi lain karena dari kami ada kode etiknya juga dan itu sudah ada di dalam AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia). Bisa-bisa kami langsung di blacklist jika memberikan keterangan terhadap perusahaan asuransi lain, kecuali kasusnya dari perusahaan kami,” ujar RI kepada Radar Tarakan.(*/sep/dee/zia/ddq)


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers