MANAGED BY:
RABU
27 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 19 September 2016 15:07
Asuransi Diperbolehkan, Asal Sesuai Syariat
ILUSTRASI/INT

TARAKAN- Berbagai jenis dan produk asuransi yang ditawarkan ke masyarakat, telah banyak beredar. Terkadang, keuntungan yang ditawarkan dari asuransi tersebut berlipat ganda, sehingga hal tersebut menimbulkan tanya, bagaimana hukum dan pendapat agama tentang keuntungan yang ditawarkan oleh asuransi tersebut. Apakah cara-cara yang digunakan dalam asuransi tersebut diperbolehkan dalam agama.

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ayub Handrihadi mengatakan, MUI melalui Dewan Syariah Nasional pernah memutuskan tentang hukum mengikuti asuransi.

Tahun 2001 terdapat Fatwa Dewan Syari’ah Nasional nomor 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah, yang mengharuskan asuransi dilakukan secara syariat Islam. Tentang asuransi dan berbagai jenisnya, para ulama berbeda pendapat. Ada pendapat yang memperbolehkan asuransi, tetapi dengan catatan tertentu.

“Tetapi ada yang sampai mengharamkan asuransi. Jadi harus sesuai dengan syariat Islam tentang bagaimana Islam mengatur tentang bermuamalah,” kata Ayub.

Di dalam syariat Islam, asuransi memang tidak disebutkan secara spesifik, kecuali harus diambil dengan dalil-dalil yang mendukung. Karena di dalam Islam, pengambilan keputusan harus disertai dengan dalil-dalil yang mendukungnya.

“Dalam urusan beribadah, sesuatu tidak boleh dilakukan kecuali terdapat dalil yang memperbolehkannya. Begitupun dalam urusan bermuamalah,” tuturnya.

Berjual beli ataupun asuransi, semuanya boleh dilakukan kecuali terdapat dalil yang melarangnya. Misalnya di dalam jual beli, dilarang mengikutinya jika terdapat unsur judi ataupun penipuan.

Begitupun dengan asuransi. Jika dilihat dari tujuannya, sebagian ulama berpendapat bahwa asuransi tersebut penting. Karena dapat bertindak sebagai jaminan atau tolong menolong untuk sesama. Dalam istilah bahasa arab disebut ta’awun.

---------- SPLIT TEXT ----------

“Prinsip yang juga dapat diambil yaitu, bahwa muslim adalah ibarat satu tubuh, jadi harus saling membantu dan tolong menolong. Sehingga para ulama ada yang mengatakan asuransi juga menjadi penting, tetapi tetap harus sesuai dengan syariah,” ungkapnya.

Jadi, secara umum, terdapat dua pendapat di kalangan para ulama, ada yang secara mutlak mengharamkan dan ada yang tidak.

“Salah satu dalil pengharamannya, yaitu  di dalam seakan-akan kita tidak ada jaminan dari Allah SWT. Padahal terdapat dalam Al-Quran surat Ath-Thalaq (65):3 yang intinya rezeki kita sudah dijamin oleh Allah, jadi jangan takut,” ujarnya.

Selain itu , asuransi juga banyak mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh Allah seperti adanya Gharar, atau semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan, pertaruhan, atau perjudian.

“Itu sebagian pendapat yang mengharamkannya. Tetapi pendapat lainnya, yaitu Dewan Syariah Nasional yang menetapkan, asuransi diperbolehkan, tetapi harus sesuai dengan ketentuan syariah,” pungkasnya.(*/asf/ddq)


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers