MANAGED BY:
KAMIS
29 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 20 September 2022 12:00
MULAI GAWAT..!! Harga Kebutuhan Pokok di Tarakan Naik
TERDAMPAK: Harga sejumlah kebutuhan pokok mulai naik sejak pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM bersubsidi. FOTO: IFRANSYAH/RADAR TARAKAN

Per September ini, harga sejumlah bahan pokok terus naik. Dari beras hingga tepung terigu terpantau mengalami kenaikan harga di sejumlah pasar di Tarakan.

Salah satu pedagang sembako Pasar Gusher Tarakan, Herman mengatakan bahwa harga satu karung beras dengan berat 20 kilogram mencapai Rp 220.000 hingga Rp 225.000. Sedang beras premium dijual dengan harga Rp 14.000 per kilogram.

“Ini naik harganya. Kalau kemarin yang 20 kilogram masih bisa kami jual Rp 215.000. Tapi sekarang sudah tidak bisa,” kata Herman, Minggu (18/9). 

Harga gula masih bertahan Rp 15.000 per kilogram. Harga tepung terigu naik setiap pekannya, pada minggu sebelumnya harga tepung terigu mencapai Rp 217.000 per 25 kilogram, namun kini Rp 263.000 per 25 kilogram. 

“Terigu saja yang naik. Kalau tepung kanji masih Rp 14.000. Kalau tepung terigu per kilogramnya Rp 12.000 sampai 13.000 per kilogram,” jelas Herman.

Sejak kenaikan harga tepung, dikatakan Herman jumlah permintaan dari konsumen berkurang. Namun pihaknya tetap menyetok.

Pedagang sembako lainnya, Padli mengatakan bahwa harga tepung terigu saat ini mencapai Rp 14.000 dengan harga Rp 160.000 per 12 kilogram. “Pengambilan baru-baru ini tepung terigu naik terus sampai Rp 10.000 per dus,” kata Padli. 

Sedang khusus harga beras diakui Padli juga mengalami peningkatan harga. Hanya ia tak meirinci harga dari daerah asal. “Kalau sekarang saya jual masih Rp 12.000 per kilo kalau sekarung Rp 220.000,” katanya.

Namun berbeda dengan harga minyak goreng dikatakan Padli mengalami penurunan harga dari Rp 105.000 menjadi Rp 90.000 per 1 jeriken. Khusus gula mencapai Rp 15.000 per kilogram dan tidak mengalami perubahan harga.

INFLASI POTENSI NAIK

Sebelumnya, pengamat sekaligus akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E, M.Si, menilai kenaikan harga BBM berimbas pada berbagai kebutuhan. Adapun bantuan sosial pemerintah belum menutupi besarnya tanggungan yang masyarakat alami.

“Kenapa? Karena kalau masyarakat semakin miskin, daya beli akan menurun. Kemudian BLT yang diberikan itu kan hanya sekitar Rp 150 ribu per bulan,” ujarnya, Selasa (13/9).

Dijelaskan, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) masyarakat sedikitnya mengeluarkan uang dalam satu bulan sebesar Rp 475-500 ribu. Dengan kenaikan kebutuhan membuat warga tergolong miskin tetap mengalami peningkatan beban sebesar 7-8 persen meski telah menerima bantuan sosial. “Sementara dari data BPS, belanja masyarakat itu kira-kira seminimalnya Rp 475-500 ribu secara nasional, artinya kalau dalam 1 rumah tangga itu ada 5 orang. Maka orang tergolong miskin adalah termasuk yang pendapatannya Rp 2,5 juta. Rp 2,5 juta itu kalau misalnya mendapatkan bantuan lebih Rp 150 ribu, artinya dia hanya mendapatkan tambahan pendapatan kurang 10 persen atau sekitar 7-8 persen,” urainya.

“Sementara dalam sisi yang lain, dalam konteks makro inflasi kita sudah 4,94 atau kita bulan 5 persen per Juli. Dengan adanya kenaikan BBM ini, menurut para pakar, diprediksikan akan ada kenaikan inflasi di atas 3 persen. Artinya potensi inflasi pasca naiknya BBM bisa menyentuh 9 persen,” terangnya.

Kata dia, saat ini Kaltara mengalami inflasi sebesar 5,75 persen per Juli. Dengan adanya kenaikan kebutuhan maka hal itu dapat menambah angka inflasi di Kaltara. “Belum lagi kalau kita konversi ke daerah-daerah, jadi memang ada daerah yang tingkat kemiskinannya cukup parah. Jadi dengan bantuan BLT sebesar Rp 150 ribu secara nasional, maka masyarakat akan tetap mengalami penurunan kesejahteraan kurang lebih sekitar 2 persen,” terangnya.

“Itu pun kalau bantuan semua tepat sasaran, kalau tidak tepat sasaran, maka ini mungkin bisa lebih parah dari prediksi para ekonom. Sehingga kebijakan yang dimaksudkan untuk mengurangi beban APBN, malah berpotensi menambah jumlah persentase kemiskinan,” pungkasnya. (shy/lim)

 

 
 

loading...

BACA JUGA

Kamis, 29 September 2022 11:11

SALAH SASARAN..!! Kejar Penjahat, Peluru Oknum Polisi Malah Kena Warga

Salah seorang warga Perumahan PNS, RT 21, Kelurahan Juata Permai, Tarakan…

Kamis, 29 September 2022 11:07

Soal Komisi Udang, Petambak-Pengepul Ngaku Merugi

Meski harga udang telah disepakati naik, namun hingga saat ini…

Kamis, 29 September 2022 11:05

Menyoal Komisi Harga Udang di Kaltara, Petambak, Suplier dan Pabrik Berbeda Versi

Meski harga udang telah disepakati naik, namun hingga saat ini…

Kamis, 29 September 2022 10:59

Laura Ditanya Netizen Soal Pencalonan Gubernur Kaltara, “Doakan Saja”

Bupati Nunukan, Hj. Asmin Laura Hafid hadir dalam program Podstar…

Kamis, 29 September 2022 10:57

Nekat Melaut di Cuaca Buruk, Satu Nelayan di Tarakan Hilang

Satu orang nelayan yang bernama Adhie (30) dikabarkan menghilang saat…

Kamis, 29 September 2022 10:56

Sengketa Lahan di Pantai Amal, Warga Beda Versi dengan TNI AL

Sebagai upaya mempertahankan lahan yang diklaim, masyarakat Pantai Amal pada…

Rabu, 28 September 2022 10:05

Hujan Deras, Satu Keluarga Nyaris Tertimbun Longsor

Satu unit rumah yang berada di Jalan Anggrek, Gang Bintang…

Rabu, 28 September 2022 10:02

Begini Kondisi Pencari Kerja di Tarakan

Jumlah pencari kerja di Tarakan terbilang menurun dari tahun sebelumnya.…

Selasa, 27 September 2022 12:36

Sengketa Lahan Warga-TNI AL, Warga Pilih Berkemah

TARAKAN - Sengketa lahan antara TNI AL dan warga Pantai…

Selasa, 27 September 2022 12:35

Beberapa Hari Kedepan, Waspada Cuaca Buruk Melanda Kaltara

TARAKAN - Hujan dengan intensitas tinggi diprediksi akan menguyur beberapa…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers