MANAGED BY:
MINGGU
14 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 01 Agustus 2022 12:21
Ampas Gaharu Dihargai Rp35 Ribu Perkilogram

MALINAU - Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti gaharu menjadi sebuah mata pencaharian unggulan masyarakat wilayah perbatasan dan pedalaman Malinau yakni Kecamatan Sungai Tubu. Selain isi dari kayu gaharu tersebut, dari limbah dan ampasnya diolah oleh masyarakat sehingga dapat meraup jutaan rupiah.  

Diketahui, sebelumnya masyarakat dalam bertransaksi komoditas gaharu, hanya menjual isi gaharu saja. Sedangkan ampas yang dilepas dari isi gaharu hanya dibuang begitu saja. 

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Desa Long Pada, Kecamatan Sungai Tubu, Roni Kirut mengatakan bahwa ampas dan serpihan yang dipisahkan dari isi gaharu yang dapat diolah dari perangkat pengelolaan yang diberdayakan untuk mengolah gaharu melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Desa Long Pada. 

"Pemerintah Desa Long Pada mendorong masyarakat memanfaatkan gaharu untuk menambah penghasilan. Menjadikan gaharu menjadi salah satu komoditas untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui KUPS tadi," kata Roni Kirut. 

Roni menambahkan ampas dan limbah yang dilepas dari isi gaharu dinamai totok. Totok inilah yang dapat diolah menjadi minyak gaharu sehingga menjadi nilai yang lumayan tinggi. Jika totok dijual ke KUPS Desa Long Pada, totok yang berkualitas baik dapat dijual dengan harga Rp 35 ribu perkilogram. Untuk totok yang tua dapat dijual dengan harga Rp 20 ribu perkilogram. 

"Untuk membedakan totok muda dan tua, dapat dilihat dari ampas kayunya. Yang muda, agak basah dan yang tua agak kering. Dari warna juga kita bisa bedakan," tambahnya.  

Sementara harga minyak gaharu yang sudah disuling dihargai dengan Rp 150 ribu pergram. Untuk 100 kilogram totok, dapat menghasilan 30 hingga 40 gram minyak gaharu yang telah disuling. Sehingga dalam 100 kilogram totok, dapat menghasilkan 4 hingga 6 jutaan. 

Sementara fasilitator Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Muhammad Alfindo menerangkan, pemanfaatan totok tersebut memang bukan hal yang baru namun diyakini dapat menjadi alternatif pemberdayaan ekonomi masyarakat. 

"Pemanfaatan totok dapat menjadi alternatif perekonomian masyarakat. Jadi masyarakat tidak hanya bergantung pada isi gaharu, melainkan semua bagian dari gaharu," kata Alfindo. 

Alfindo mengaku baru-baru ini digelar pelatihan penyulingan gaharu bersama KUPS dan KKI Warsi di Kecamatan Malinau Selatan pada 24 Juli 2022 lalu. 

"Selain mengolah gaharu menjadi minyak, masyarakat juga dilatih memberdayakan semua bagian dari gaharu seperti ampas, air bekas sulingan hingga totok untuk menghasilkan," tutupnya. (*/hai/ana)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 16:00

Pukuli Anak, KW Terancam Penjara Lima Tahun

<p>&nbsp;TARAKAN &ndash; Polres Tarakan menetapkan KW warga Jalan Cendana, Kelurahan Karang…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers