MANAGED BY:
SABTU
22 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 11 Januari 2022 17:27
Minim Ketegasan, Ekploitasi Anak Terus Berjalan
BERJUALAN: Salah seorang anak tampak berjualan di lampu merah di Simpang GTM Tarakan, Senin (10/1). FOTO: IFRANSYAH/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Adanya fenomena penggunaan anak di bawah umur di beberapa tempat sebagai tenaga yang menjajakan makanan dan minuman, sebagian masyarakat menilai hal tersebut merupakan salah satu bentuk eksploitasi terhadap anak. Sehingga hal tersebut tidak jarang menuai empati dari sebagian masyarakat.

Saat dikonfirmasi, psikolog sekaligus Ketua Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Kota Tarakan, Fanny Sumajouw, S.Psi, PSI, mengungkapkan, sejauh ini pihaknya telah melakukan pemantauan pada aktivitas perdagangan di Kota Tarakan. Ia menerangkan, pemanfaatan anak di bawah umur dalam aktivitas jual beli sudah termasuk di dalam praktik eksploitasi pada anak. Hal itu dikarenakan, menurutnya seorang anak tidaklah layak untuk menanggung beban orang tua dalam mencari nafkah.

"Itu sudah pernah kami lakukan peneguran untuk mengobrol dengan orang tuanya. Karena dalam Undang-Undang Perlindungan Anak menyebutkan jika tugas anak memang hanya untuk bermain dan belajar. Semua pekerjaan yang melibatkan anak menghasilkan uang, itu sudah disebut eksploitasi anak. Seharusnya usia kanak-kanak memerlukan pengayaan intelektual, kecerdasan emosi, pergaulan. Memang sambil berjualan mereka bergaul juga, tapi dalam bergaul harus dilihat lagi di lingkungan seperti apa," ujarnya, Selasa (11/1).

Ia menjelaskan, beberapa tahun lalu pihaknya yang bekerja sama dengan dinas terkait, pernah melakukan razia pekerja anak di bawah umur. Lanjutnya, saat itu pihaknya berhasil menjaring 90 anak yang bekerja dalam berbagai bidang.

"Kami sempat melakukan sapu bersih pekerja anak di bawah umur di tahun 2015, mulai dari loper koran, penyemir sepatu, ojek payung di Pasar Beringin, dengan kuli panggul. Karena waktu itu kami bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak dan disnaker akhirnya sekitar 90 anak kami jaring. Dan kami bina di pesantren waktu itu menjelang bulan puasa juga," pungkasnya.  (*/zac/lim)

 

Baca berita selengkapnya di Radar Tarakan edisi Rabu 12 Januari 2021


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers