MANAGED BY:
SABTU
22 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 29 November 2021 09:51
Panen Bawang hingga 9,6 Ton per Hektare

 TARAKAN - Upaya Bank Indonesia membudidayakan bawang merah akhirnya membawa hasil yang memuaskan setelah dua kali panen yakni 17 dan 24 November 2021. Pada 17 November lalu, BI memanen 9,6 ton per hektare, sementara tanggal 24 mencapai 6,7 ton per hektare.

“Kalau dirata-rata asumsi normal itu di 8,15 ton per hektare. Angka ini di atas produksi bawang merah di Kaltara,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Utara, Tedy Arif Budiman, Minggu (28/11).

Kendati demikian, angka panen tersebut dikatakan Tedy masih berada di bawah rata-rata nasional. Namun ini juga dipengaruhi periode tanam, yakni saat musim penghujan dan petani baru pertama kali melakukan penanaman bawang merah sehingga penanamannya belum cukup memadai. “Kalau petaninya sudah terbiasa, kemudian periode tanamnya sangat mendukung, mungkin tidak menutup kemungkinan hasilnya jauh di atas rata-rata nasional,” ujar Tedy.

Dengan panen bawang merah ini, diharapkan Tedy dapat membuat para petani menghasilkan bawang merah yang tidak kalah dengan pertanian di Pulau Jawa. Ini menjadi alternatif bagi petani dengan hasil yang diharapkan.

Dari sisi lain, BI dan pemerintah mengharapkan agar bawang merah tidak lagi dipasok dari luar Kaltara. Sebab selama ini bawang merah disuplai dari Sulawesi dan Jawa. Saat PPKM lalu, pengiriman bawang merah menjadi terganggu sehingga membuat harga bawang melonjak.

“Kalau kita berupaya menanam sendiri, secara bertahap akan mengurangi impor dari provinsi lain. Kalau memungkinkan kita swasembada, dan bahkan kita kirim ke daerah lain. Ujungnya ini akan dibuatkan standar operasional prosedur (SOP) bagaimana menanam bawang yang ideal di Tarakan,” kata Tedy.

Dikatakan Tedy, BI berkewajiban untuk meningkatkan kemampuan petani, sehingga pemda dan petani yang dapat mengaplikasi ke daerah-daerah tertentu. Hasil panen ini dapat dijadikan bibit untuk perputaran masa tanam berikutnya.

Petani bawang merah di Tarakan, Darmawan mengatakan bahwa proses penanaman bawang merah ini merupakan kali ketiga. Hanya proses panen tertinggi didapat pada Minggu kemarin. “Kami tanamnya tanggal 1 bulan lalu (Oktober). Ini lebih cepat mungkin karena iklim juga karena di Jawa itu biasa masa panen 50-60 hari, tapi kita 47 hari sudah panen,” ungkap Darmawan.

Penanaman bawang merah ini dilakukan pada 1 hektare lahan di tiga titik terpisah di Juata Permai. Ketiganya dilakukan analisa dan perlakuan yang berbeda. Berdasarkan data BPS, hitungan dalam satu hektare mencapai 9,4 ton. Sedang dua lokasi lainnya mencapai 6,7 ton per hektare. “Bibit yang kami datangkan kemarin sekitar 1,2 ton dari Brebes dengan jenis bibit bima brebes,” ungkapnya.

Dikatakan Darmawan, setiap tanaman memiliki tantangan masing-masing. Namun tantangan terberat dalam bercocok tanam bawang merah ialah menyesuaikan iklim dan curah hujan. Sebab dalam kondisi hujan, yang dapat merusak tanaman ialah jamur.

Kendati demikian, menurut Darmawan jika petani Tarakan banyak yang memiliki keinginan untuk menanam bawang merah, maka akan menjadi peluang baik. Sebab, bawang merah dapat ditanam di Tarakan dengan kondisi di akhir tahun dengan curah hujan yang tinggi. “Sangat bisa dibudidayakan. Curah hujan tinggi saja masih bisa, apalagi kalau ditanam di waktu yang aman, mungkin risikonya lebih sedikit. Kalau kelompok kami insyaallah lanjut (tanam bawang merah), tapi dengan SOP yang berbeda. Yang jelas kami perhatikan analisa usaha. Kalau hitungan sekarang insyaallah dapat,” jelasnya. (shy/lim)

 

 


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers