MANAGED BY:
SABTU
14 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 13 Juni 2016 11:02
Dua Pelajar Tarakan Ciptakan Alat D’Box CC

Akan Mewakili Indonesia dalam Kompetisi NYIA di Tiongkok

BANGGA: Feriawan dan Aan Aria, menunjukkan alat yang menjadi solusi untuk menjaga kualitas udara yang dihirup. (CHAIRUDDIN NOER/RADAR TARAKAN)

PROKAL.CO, TARAKAN-Dua pelajar Tarakan dipastikan akan berangkat ke Tiongkok mewakili Indonesia mengikuti kompetisi National Young Inventors Award (NYIA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dua pelajar tersebut adalah Feriawan Tan dan Aan Aria Nanda. Keduanya berasal dari SMAN 1 Tarakan. Pelajar ini terpilih karena berhasil menyingkirkan 697 pasang peserta lainnya dari seluruh Indonesia. Untuk diketahui, Feriawan dan Aan merancang sebuah alat yang bentuknya kecil, mudah dibawa dan keberadaannya masih sangat langka. Bahkan dapat dikatakan belum dipergunakan di khalayak umum. Bukan hanya di Indonesia, namun di negara lainnya.

Alat yang mampu mengantarkan dua pelajar Tarakan ini mewakili Indonesia di Tiongkok pada Juli nanti diberi nama D’Box CC (detector box for CO and CO2). Alat yang mereka buat sangat sederhana itu berukuran 15x9 centimeter dengan berat tidak mencapai 1 kilogram, namun membuat sumber utama kehidupan manusia yaitu udara dapat mendeteksi, mengindikasi dan memberi peringatan terhadap udara yang ada di sekitar kita. Apakah udara tersebut layak atau tidak untuk dihirup.

Kepada Radar Tarakan, Feriawan dan Aan mengatakan, alat tersebut dibuat terinspirasi dari permasalahan kabut asap yang hampir melanda seluruh Indonesia, tak terkecuali Tarakan tahun lalu. “Kami baca-baca di internet dan literatur, bahwa bencana asap atau pencemaran udara hampir dialami oleh semua negara. Kesadaran masyarakat pun akan kualitas udara yang dihirup masih sangat rendah, karena tidak tahu kondisi udara sekitar. Oleh sebab itu kami membuat D’box CC,” ujar Feriawan.

Alat untuk mendeteksi CO dan CO2 itu termasuk langka, sebab di Tarakan belum ada instansi yang memiliki alat pengukur tersebut. Bahkan saat mereka mencari informasi dari BMKG Tarakan data tentang kualitas udara, masih harus meminta dari BMKG luar Tarakan. “Makanya kami ingin membuat alat yang murah dan efisien,” lanjut Aan. Saat ini, dua siswa ini masih duduk di kelas XI dan masih berumur 17 tahun. Kemudahan bagi mereka menjadi 1 tim dalam membuat program D’box CC karena berada dalam satu kelas sehingga komunikasi mudah dijalin. Selain itu, pemikiran juga dirumuskan oleh keduanya, sehingga dalam membuat alat sangat sinkron antar keduanya.

Muncul dibenak mereka untuk membuat alat yang mampu mendeteksi CO dan CO2 sejak akhir tahun 2015. Namun, mereka masih bingung seperti apa agar alat yang mereka buat dapat diaplikasikan. Berhubung Feriawan dan Aan sebagai anggota ekstrakulikuler Kreatifitas Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya, mereka pun berkonsultasi dengan guru pembinanya, yaitu Ade Kuswara.

“Kami konsultasi, lalu mulai mendapat pencerahan. Kami komitmen untuk menjadikan apa yang kami inginkan, lalu mengikuti lomba tingkat sekolah, dan sampai ke nasional,” ujar Aan. Dalam proses membuat alat untuk diikutkan dalam lomba tingkat nasional, mereka harus terus dan terus mencoba. Mereka harus bereksperimen, hingga puluhan kali guna menyempurnakan alat mungil tersebut. Aan mengatakan, ketika hendak melakukan lomba dan harus terus merakit, ia dan Feriawan harus lembur hingga larut malam.

“Pernah sampai jam 2 pagi, karena kami mau kejar tayang, alatnya mau diuji coba guna penyempurnaan di salah satu perusahaan di Samarinda sebelum mengikuti lomba,” tutur Aan, laki-laki dengan rambut jabrik dan bertubuh gemuk ini. D’box CC terbuat dari 16 komponen, yang mana komponen-kompenennya harus dibeli secara terpisah dan kemudian mereka rakit.

Untuk mendapatkan masing-masing komponen, Feriawan dan Aan sempat bingung dimana mendapatkannya. Setelah mencari dan bertanya kepada ahli elektronik di Tarakan, akhirnya mereka mendapat info bahwa komponen yang dibutuhkan hanya diproduksi di luar Indonesia. Namun, mereka tidak putus asa, sebab di Tarakan sudah ada distributor barang yang mereka cari. Sehingga komponen untuk merakit D’box CC dapat terkumpul. Untuk membuat satu buah D’box CC, dibutuhkan waktu hingga 4 hari.

Dalam percobaan alat sebelum dilombakan, Feriawan dan Aan mengatur kadar CO dan CO2 yang normal sesuai aturan Kementerian Lingkungan Hidup dan hasil browsing standar udara di negara lain melalui internet. Yaitu, 12,3 ppm untuk standar CO dan 500 ppm untuk co2. Jika hasil pendeteksian alat melebihi batas tersebut, maka udara yang ada di sekitar alat dinyatakan positif berbahaya dan masyarakat harus meninggalkan ruangan atau tempat tersebut.

Namun, warga Tarakan tidak perlu khawatir, karena dari percobaan yang mereka lakukan beberapa kali terhadap CO dan CO2 di Tarakan, hasilnya adalah normal. Dengan nilai co2 320 ppm dan CO nya 0,0. “Itu masih normal, berbeda ketika alatnya kami nyalakan di Jakarta, hasilnya CO2 nya sampai 2 ppm, sedangkan CO 400 ppm, ini di atas Tarakan,” jelas Aan. Dari segi pembiayaan, Feriawan mengakui semuanya murni dari sekolah. Untuk satu unit D’box CC menghabiskan dana sebesar Rp 574 ribu. Awalnya mereka sempat minder dengan alat tersebut. Sebab peserta NYIA memiliki produk yang besar dan terlihat canggih. Berbeda dengan alat yang mereka bawa dari Tarakan, kecil dan sederhana bentuknya.

“Jadi saat pameran, dari daerah lain alatnya besar-besar, ada yang sampai 2 meter,” ujar Feriawan. Namun di mata 6 juri, yaitu 3 juri bergelar profesor dan 3 lagi doktor, alat D’box CC merupakan hal yang istimewa dan patut diperlihatkan di tingkat internasional, sehingga mereka terpilih bersama 2 pasang finalis lainnya untuk berangkat ke Harbin, Tiongkok pada Juli nanti.

Mereka telah diajarkan harus memiliki komitmen ‘tiada hasil yang menghianati usaha, orang bisa karena terbiasa.” Kata-kata itulah yang ditanamkan dalam diri mereka sehingga mereka harus membiasakan diri menjadi orang yang luar biasa karena setiap hasil berbanding lurus dengan usaha. Mereka berharap, dalam perlombaan di Tiongkok nanti dapat mengharumkan nama Indonesia, terlebih kota Tarakan dengan meraih hasil terbaik. “Kami maunya nggak muluk-muluk, kalau nggak dapat perunggu, yah perak, kalau nggak perak yah emas,” ujar keduanya dengan optimis.(udn/ddq)


BACA JUGA

Jumat, 13 Desember 2019 14:14

Sertifikat HGB Bisa Diubah SHM

TARAKAN – Minimnya pengetahuan soal mekanisme sertifikasi laha di Bumi…

Jumat, 13 Desember 2019 14:12

Pendapatan Samsat Terealisasi 98 Persen

TARAKAN – Pertengahan Desember ini, Kantor Pelayanan Samsat Induk Tarakan…

Jumat, 13 Desember 2019 14:08

Perpanjangan Dermaga 200 Meter

TARAKAN – Dermaga Pelabuhan Malundung Tarakan rencananya akan diperpanjang ke…

Jumat, 13 Desember 2019 13:58

Apresiasi KPU Terhadap Dukungan Radar Tarakan

TARAKAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tarakan mengapresiasi partisipasi SKH…

Kamis, 12 Desember 2019 11:36

Rekomendasi PAN ke Ibrahim, DPW Kaget

TARAKAN – Ibrahim Ali, A.Md, menjawab isu yang berkembang mengenai…

Kamis, 12 Desember 2019 11:33

Tegas Meminta Antrean Panjang Dihilangkan

TARAKAN – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara…

Rabu, 11 Desember 2019 13:21

Dukungan Independen Bisa Ditolak

TARAKAN - Untuk maju melalui jalur independen atau perseorangan pada…

Rabu, 11 Desember 2019 13:14

Siaga Nataru, PLN Tak Menjamin 100 Persen

TARAKAN – Status siaga PT PLN (Persero) Tarakan menjelang Natal…

Selasa, 10 Desember 2019 12:38

Warga Amal Tenggelam, Ditemukan Meninggal

TARAKAN - Warga RT 11 Kelurahan Pantai Amal dihebohkan dengan…

Selasa, 10 Desember 2019 10:52

Bidik Ekspor di Luar Open Season

TARAKAN – Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.