MANAGED BY:
RABU
27 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Jumat, 24 September 2021 11:33
Anak Belum Divaksin Tak Boleh Keluar Daerah

Nunukan Kejar Target Vaksinasi Pelajar

VAKSIN PELAJAR: Setelah SMPN 1 Nunukan melaksanakan vaksinasi khusus pelajar pada Senin (20/9) vaksinasi pelajar kembali dilakukan sebanyak empat sekolah jenjang SMP di Nunukan. FOTO: RIKO ADITYA/RADAR TARAKAN

PEMBERLAKUAN pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4 di Tarakan membawa khekhawatiran akan terus berlanjut hingga akhir 2021.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan, Didik Kurniawan menerangkan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi membuat Tarakan termasuk ke dalam wilayah aglomerasi. Diketahui jika aglomerasi merupakan istilah umum yang merujuk kepada upaya pengumpulan beberapa elemen ke dalam suatu tempat.
“Mobilitas kita yang masih tinggi, jadi Tarakan ini masuk dalam zona wilayah aglomerasi. Tapi sebenarnya untuk zonasi, kami sudah masuk ke zona kuning. Harapan semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama kita bisa ditetapkan sebagai zona hijau. Mengingat untuk pasien positif hari ini tinggal 9 pasien. Dan semoga semua bisa cepat sembuh,” ujarnya, Kamis (23/9).

“Geografis Tarakan juga menjadi 5 kabupaten/kota yang ada di Kaltara. Juga menjadi keluar masuknya masyarakat luar karena geografisnya berada langsung di perbatasan,” sambungnya.

Selain itu, ia mengakui jika di masa PPKM saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui beberapa aturan dalam perjalanan. Salah satunya ialah larangan terhadap perjalanan anak di bawah usia 12 tahun yang belum divaksinasi. Sehingga beberapa kejadian pihaknya harus menolak beberapa perjalanan masyarakat yang mengikutsertakan anak di bawah usia 12 tahun.

“Mungkin ada beberapa kejadian, mereka membawa anak di bawah umur 12 tahun dan belum divaksin. Itu tidak boleh dibawa. Akhirnya kami sarankan kalau bisa ditunda, sampai nanti level PPKM bisa diturunkan,” terangnya.

Ia mengakui jika hal ini terkesan menyulitkan. Hanya pihaknya harus tegas dalam menjalankan aturan yang berlaku. Terlebih hal tersebut merupakan kebijakan pemerintah pusat.

“Secara kemanusiaan mungkin masyarakat merasa berlebihan. Tapi karena ini aturan dan ini langsung dari pusat dan diteruskan melalui Surat Edaran Nomor 3 bagian I tentang Ketentuan Orang Dalam Negeri pada Masa Pandemi Covid-19, kami hanya menegakkan aturan ini,” terangnya.

Bukannya tanpa alasan. Diterangkan, jika pihaknya memberi toleransi bagi beberapa kasus, maka hal tersebut dapat dimanfaatkan oknum masyarakat lainnya untuk mengiindahkan aturan. Sehingga pihaknya tetap memberlakukan hal tersebut dalam situasi apa pun.

“Karena kalau satu kami tolerir, akhirnya ini bisa mengerucut. Nanti bisa menjadi alasan masyarakat untuk tidak menaati aturan. Di tiap daerah berbeda-beda mungkin di daerah lain lebih ketat daripada di sini,” ungkapnya.

“Kami berharap masyarakat tetap menjalankan prokes, artinya tetap menggunakan masker. Oleh karena itu yang ditetapkan. Contohnya seperti pernikahan tetap diimbau agar pernikahannya agar di KUA. Boleh resepsi tapi harus di siang hari dan menggunakan EO untuk mengatur prokesnya,” tambahnya.

 

VAKSINASI DI NUNUKAN

Percepatan vaksinasi kembali dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Nunukan. Setelah Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Nunukan melaksanakan vaksinasi massal kepada pelajar, kini vaksinasi khusus kembali diikuti empat sekolah di Nunukan.

Kepala Disdikbud Nunukan, H. Junaidi menyampaikan, vaksinasi pertama khusus pelajar yang dilaksankan di SMPN 1 Nunukan diikuti sebanyak 572 pelajar. Selanjutnya diikuti ratusan pelajar dari empat sekolah jenjang SMP. “Pelaksanaan kedua vaksin tingkat pelajar bertempat di SMPN 2 Nunukan, SMPN 3 Nunukan, SMP PGRI dan SMP Muhammadiyah,” ucap H. Junaidi, Kamis (23/9).

Dijelaskan, jumlah pelajar yang menerima vaksin kedua sebanyak 866 orang. Dengan rincian, 528 pelajar dari SMPN 2 Nunukan, 200 pelajar dari SMPN 3 Nunukan, 80 pelajar dari SMP Muhammadiyah dan 58 pelajar dari SMP PGRI Nunukan. “Kegiatan ini membanggakan kita, dengan sinergitas Dinkes Nunukan, Disdikbud Nunukan dan sekolah pelaksanaan vaksinasi khusus pelajar berjalan lancar,” bebernya.

Lanjutnya, dengan vaksinasi ini pelajar dapat mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah. Sementara, untuk pelajar yang belum mendapatkan vaksinasi dapat mengikuti proses pembelajaran secara darling atau sistem online. “Karena sesuai aturan pelaksanaan PTM dilaksanakan untuk pelajar yang sudah divaksin,” tambahnya.

Ia menegaskan, pelaksanaan vaksinasi ini untuk pelajar dilakukan berdasarkan persetujuan orang tua. Sehingga, orang tua yang tidak ingin anaknya divaksin tidak ada paksaan dari pihak mana pun. “Jadi tidak ada paksaan. Ini (vaksin) dilakukan atas persetujuan orang tua melalui formulir yang diberikan,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan, PTM dilakukan untuk wilayah PPKM level 1 hingga 3. Itu berdasarkan surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang panduan penyelenggaraan PTM dimasa pandemi Covid-19.

Ketentuan pelaksanaan memperhatikan jarak minimal 1,5 meter, jumlah peserta didik dalam satu ruangan maksimal 18 perlajar atau 50 persen. “Pengawasan di lapangan saat pelaksanaan PTM mejadi perhatian. Tentunya melaksanakan prokes (protokol kesehatan) dengan menjaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker,” tutupnya. (*/zac/akz/lim)


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers