MANAGED BY:
SABTU
25 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 01 Juli 2021 00:51
Manfaatkan Jas Hujan hingga Kacamata Renang

Ketika Tokoh Masyarakat Perbatasan Menangani Pandemi Covid-19 (Bagian-1)

DUKUNGAN MORIL DAN MATERIEL: H. Nuwardi Pakki (tengah depan), salah satu tokoh masyarakat Sebatik, Nunukan, Kaltara dalam sebuah kegiatan penanganan pandemi di perbatasan beberapa waktu lalu. FOTO: SATGAS COVID-19 SEBATIK

Covid-19 membawa dampak luas bagi perekonomian. Tak terkecuali bagi masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara). Tokoh masyarakat di perbatasan juga terpanggil untuk menangani dampak langsung dari pandemi yang muncul sejak awal 2020 itu.

---

KEPALA Puskesmas Sebatik, drg. Andi Syahriful Asri, salah satu yang menjadi saksi bagaimana tokoh masyarakat perbatasan turut dalam penanganan pandemi sejak awal munculnya di Kaltara.

Para tokoh masyarakat itu pun tidak hanya membantu dalam hal materi, namun juga meluangkan tenaga, waktu dan pikirannya agar bisa menangani pandemi dengan baik.

“Jadi berawal dari kesepakatan bersama di antara seluruh unsur-unsur terkait karena melihat ada situasi yang mengkhawatirkan di awal tahun 2020 di Cina. Kami berpikir kenapa tidak kita memulai menyiapkan diri jadi awalnya itu sebenarnya hanya kesepakatan antara tokoh masyarakat dan mereka paham akan ada situasi kesehatan yang rawan, kita juga masuk di lokasi pintu masuk virus (perbatasan),” kisahnya, Rabu (30/6).

“Maka perlu ada wadah untuk berkoordinasi, kami bersepakat membentuk suatu posko yang menjadi pusat informasi dan media center penanganan Covid-19,” tambah pria yang juga dokter gigi ini.

H. Nuwardi Pakki, salah satu yang memotori gerakan itu. Tokoh masyarakat asal Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kaltara itu merasa memiliki tanggung jawab sosial bagi masyarakat Kaltara. Meski bukan hal baru baginya, ia menyalurkan sejumlah bantuan, dari mulai alat kesehatan hingga sembilan bahan pokok (sembako). “Keberadaan kita menjadi penting bagi sesama. Covid-19 ini tidak hanya berdampak pada satu atau dua sektor saja. Semua sektor terdampak. Kemudian saya berinisiatif, bahwa penanganannya butuh dukungan kita bersama. Tidak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat luas. Mudah-mudahan bisa membantu, kita kuat jika kita saling menguatkan di tengah kondisi sulit ini,” kata H. Nuwardi yang juga dikenal dengan nama H. Momo.

drg. Andi melanjutkan, saat itu hal pertama yang dilakukan yakni menggalang dana, mengkaji strategi-strategi penanganan. Salah satu strategi awalnya yakni menyiapkan kesiapan ‘tempur’ seperti alat pelindung diri (APD). “Pada saat itu APD untuk mendapatkannya pun itu sulit, tidak sesuai standar lah. Artinya kita cuma mampu mengadakan apa yang ada. Jadi tapi itu awal-awal kami hanya menggunakan APD jenisnya jas hujan dengan penutup kepala dari plastik mika, sepatu booth dan kacamata renang. Selanjutnya sambil kami menggunakan yang standar, bantuan dari tokoh masyarakat sudah mulai muncul dengan konsep buatan sendiri, kami kasih desain, jenis bahan yang sesuai atau agak standar, dijahit di Sebatik,” tambahnya.

April 2020, hal yang dikhawatirkan benar terjadi. Kasus Covid-19 masuk ke Indonesia dan menyasar Kaltara, salah satunya Sebatik. “Ada kasus masuk di Kabupaten Nunukan dan di Sebatik ada sekitar 9 kasus dengan Klaster Jemaah Tabligh atau Klaster Gowa. Akhirnya apa yang disiapkan dan diantisipasi itu kita mulai bergerak tanpa ada kekhawatiran. Penanganan yang sesuai dengan lingkungan kami, situasi Sebatik enggak sama di kota lain. Kami mengupayakan bagaimana agar keluarga yang ada keluarganya terkena Covid-19 bisa difasilitasi. Dari kebutuhan sehari-sehari, dibantu oleh tokoh-tokoh masyarakat,” imbuhnya.

Andi menceritakan, rata-rata yang dikarantina di Sebatik saat itu adalah kontak erat dari pasien yang terkonfirmasi. Sementara pasien terkonfirmasi dibawa ke ibu kota kabupaten, Nunukan. “Mereka rata-rata kepala keluarga,” ujarnya.

Penanganan yang dilakukan di Sebatik, karena pasien yang terkonfirmasi diketahui pernah beraktivitas di Sebatik kurang lebih 3 sampai 5 hari. “Mau tidak mau keluarga dan orang yang pernah ditemui menjadi kontak dan itulah yang kami karantina,” jelas Andi.

Tak hanya keluarga pasien, tenaga kesehatan menjadi fokus perhatian para tokoh masyarakat. Nuwardi lagi-lagi mendatangkan berbagai macam alat yang diyakini bermanfaat bagi penanggulangan Covid-19. “Secara teknis kami sih sebenarnya lebih banyak merencanakan dan dukungan dari yang lain, contoh misalnya kami saat itu disiapkan Pak Haji (H. Nuwardi) penangkal model kalung. Kami turun lapangan dengan pasien, APD kami belum standar saat itu. Semua yang dibicarakan dan diyakini bisa menjadi alat kesehatan, diupayakan. Sampai Pak Haji menjaga kami dengan vaksin. Sebenarnya vaksin itu bisa dibilang vaksin untuk gejala, sempat malah sekira 9 petugas divaksinasi flu atau pneumonia. Berdasarkan medis tujuannya mengurangi gejala flu ketika kemungkinan terpapar (Covid-19),” tukasnya.

Jauh sebelum pemerintah mengadakan rapid test antibody sebagai alat skrining, alat itu sudah lebih dulu tiba di Sebatik. Para tokoh masyarakat mencari cara agar alat itu ada dan dapat digunakan di Sebatik.

“Selanjutnya juga kami difasilitasi dengan pemeriksaan antibodi (rapid test merek China). Jadi karena ketika sedang melakukan tugas dan mungkin lumayan lah lama kontaknya kami tenaga kesehatan yang ada di posko itu kami dicek untuk antibodi, apakah kami terpapar atau tidak. Lumayan harganya saat itu, karena mencakup tenaga kesehatan di posko kepala desa, TNI dari koramil dan bhabinkamtibmas. Belum ada dari pemerintah, tapi Pak Haji sudah datangkan, untuk dipakai menskrining. Sulit didapat saat itu,” kisahnya lebih jauh.

Alat skrining itu pun difokuskan untuk pelayanan publik. Berjalannya waktu, pemerintah mengeluarkan pedoman mengenai langkah mengantisipasi penularan, yakni 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. “Kami mulai masuk pencegahan seperti sosialisasi masker, pengadaan fasilitas cuci tangan, hand sanitizer dan sebagainya. Posko kecil juga sudah mulai banyak, posko pemeriksaan, posko pengawasan,” kata Andi.

Di akhir Desember 2020, memasuki Januari 2021, kasus di Kabupaten Nunukan meningkat. Pedoman pun berubah, para tokoh masyarakat lebih banyak terlibat. Alat skrining yang sebelumnya sudah digunakan nakes di Sebatik yakni rapid test antibody disalurkan pemerintah. “Selama ada Covid-19 di Sebatik, kasus mencapai 100-an. Kasus dari luar Sebatik, kemudian ada juga transmisi lokal, di mana masyarakat lengah. Tapi selalu kami ingatkan. Kami dari puskesmas, kecamatan, desa tetap bekerja,” tambahnya. (*/bersambung/lim)


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers