MANAGED BY:
RABU
27 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 08 Juni 2021 14:07
Dekat dengan Kota, Binusan Dalam Justru Tertinggal
TERISOLIR: Desa Binusan Dalam, bagian dari pada Desa Binusan disebut-sebut sebagai desa yang masih terisolir, padahal keberadaannya satu daratan dengan Kota Nunukan. FOTO: HENDI UNTUK RADAR TARAKAN

NUNUKAN - Meski berada di Kecamatan Nunukan, atau satu daratan dengan Ibu Kota Kabupaten Nunukan, Desa Binusan Dalam masih terisolir. Jangankan air bersih, listrik saja belum menjangkau kawasan ini.

Desa Binusan Dalam mekar dari Desa Binusan pada 2020 lalu. Desa ini berjarak sejauh 13 kilometer dari ibu kota Nunukan.

Ketua RT 11 Binusan Dalam, Sappe khawatir dengan desanya. Kebutuhan utama seperti listrik, air, kesehatan bahkan pendidikan, diakuinya masih susah dijangkau. Listrik misalnya, masih nihil di desanya. Tak hanya itu, untuk air bersih, mereka harus menampung air hujan, atau harus memikul jeriken dari sumber air yang jaraknya beberapa kilometer dari desa.

“Masyarakat itu untuk memenuhi kebutuhan pokok saja, itu sangat sulit, apalagi untuk mengakses pendidikan atau kesehatan. Bahkan ibu-ibu kalau mau ke posyandu, keselamatan mereka jadi taruhan,” ungkap Sappe, Senin (7/6).

Bahkan karena terisolir, banyak anak putus sekolah karena orang tua lebih memilih anaknya membantu di kebun, apalagi jarak sekolah dasar (SD) 4 kilometer lebih. “Anak-anak kalau mau sekolah, jalan kaki ke sekolah sekian kilometer, harusnya di zaman yang sudah maju ini, mereka sudah menggunakan kendaraan yang ada, tapi percuma ada kendaraan juga, aksesnya transportasi terbatas,” tambah Sappe.

Warga Desa Binusan Dalam notabene bekerja sebagai petani. Hasil pertanian untuk dijual, harus membutuhkan biaya besar, karena akses transportasi yang buruk. Jika dapat untung, hal itu sudah sangat luar biasa. Keadaan desa, padahal sudah sering disampaikan ke pemerintah, namun sampai saat ini, terbukti keadaan desa terbilang masih terisolir.

“Saya lahir dan besar di sini dan sudah 35 tahun di desa ini, sampai sekarang masih belum bisa menikmati listrik, belum pernah beli token listrik,” beber Sappe, seraya mengharapkan perhatian pemerintah.

Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Binusan Dalam, Asriansyah, yang dikonfirmasi keadaan Desa Binusan Dalam, tak menampik keadaan itu. Dirinya bahkan mempersilakan warga yang ingin membuktikannya untuk datang ke Desa Binusan Dalam.

“Silakan datang saja ke Desa Binusan Dalam. Bisa dilihat sendiri listrik, air bersih, akses jalan sampai pendidikan dan kesehatan masih jauh di bawah kata layak,” ungkap Asriansyah.

Asriansyah menjelaskan, pada tahun 2020, Desa Binusan memang dimekarkan menjadi 3 desa, masing-masing Desa Ujang Fatimah, Desa Binusan dan Desa Binusan Dalam. Desa Binusan Dalam, memang menjadi desa paling minim dari segala aspek, bahkan jauh dari kata layak.

“Padahal masyarakat sudah sering teriakan kondisi desa di musrenbang, bahkan juga ke Pemerintah Provinsi, tapi mungkin plan pembangunan masih dirancang atau ada alasan lain seperti apa, sehingga kami terlupakan, kami belum sampai ke sana (tidak tahu),” beber Asriansyah.

Sementara itu, Camat Nunukan, Haini mengaku belum tahu persis Desa Binusan Dalam yang jauh dari segala aspek utama kehidupan. Menjabat sebagai camat sejak Januari 2021 lalu, salah satu alasannya.

“Saya jadi camat mulai Januari (2021) lalu. Kondisi itu kan sudah terjadi sebelum saya menjabat, jadi mohon maaf saya tidak bisa menjawab lebih jauh,” singkat Haini. (raw/lim)

 

 

 


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers