MANAGED BY:
RABU
27 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 25 November 2020 10:23
Tahun Depan Potensi Pemulihan Ekonomi
BERPOTENSI: Kegiatan ekspor palm kernel atau dikneal biji inti sawit bagian dari crude palm oil (CPO) turut menyumbang pemulihan ekonomi jika pandemi sudah berakhir di 2021./HUMAS KARANTINA UNTUK RADAR TARAKAN

PROKAL.CO,

TARAKAN – Mohammad Faisal, Ph.D, Executive Director, Center, of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengemukakan perkembangan ekonomi Indonesia terkini. Dikatakan Mohammad Faisal, berbicara perkembangan ekonomi terkini, fokus pertama yang akan disoal yakni kondisi resesi yang dihadapi dan cara keluar dari kondisi tersebut.

Ia melanjutkan, resesi yang dihadapi saat ini lebih banyak disebabkan karena dari sisi permintaan dalam negeri mengalami kontraksi terutama dari sisi konsumsi karena pandemi Covid-19. Asal dari resesi lanjutnya, pandemi yang mengena pada sektor rill karena diberlakukan restriksi terhadap mobilitas dan juga transaksi ekonomi pada umumnya.

“Sehingga kalau melihat ke depan, apa yang menjadi kunci pemulihan ekonomi ke depan ketika sektor rill bisa berjalan kembali, khususnya didorong permintaan dari masyarakat. Tapi persisnya dari masyarakat, permintaan dari kalangan mana dulu?” urainya.

Ia melanjutkan, selama ini di masa pandemi diketahui terjadi penurunan daya beli. Namun lanjutnya, itu berlaku bagi kalangan 40 persen yang masuk kategori miskin berdasarkan pendapatannya. Yang menurun pendapatannya yang kategori miskin. Untuk itu perlu program dalam pemulihan ekonomi nasional, seperti bansos. “Ini jika tidak dibantu, maka angka kemiskinan meningkat. Dan antara kaya dan miskin semakin lebar,” ujarnya.

Berbicara konsumsi yang paling berpengaruh bukan dari kalangan miskin. Tapi yang berada di kategori 40 persen menengah  dan 20 persen terkaya. Kontribusinya terhadap Indonesia 83 persen berdasarkan data BPS. “Kita lihat sekali bagaimana jomplang sumbangannya. Pandemi ini mengena karena kontraksi pada menengah dan ke atas,” ulasnya.

Ia melanjutkan, pendapatan kalangan miskin dan UMKM bergantung pada belanja atau spending dari kalangan menengah ke atas. Sehingga pemulihan ekonomi ke depan bergantung kepada kepercayaan masyarakat menengah ke atas untuk kembali berbelanja. Kondisi saat ini dengan daya beli kategori miskin menurun, sebenarnya kalangan menengah ke atas daya belinya justru kuat dan meningkat. Bisa dilihat dari tabungan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan selama pandemi indikasi delayed purchase behavior kalangan menengah-atas. “Istilahnya ini simpanan orang-orang atas yang ada di perbankan. Di 2020 mulai Juni sampai Agustus naik,” ungkap Muhammad.

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers