MANAGED BY:
KAMIS
26 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 27 Oktober 2020 10:50
Vaksin Fase Ketiga, Harga Swab Penyesuaian
int

PROKAL.CO,

TARAKAN – Dunia berlomba-lomba menyelesaikan penelitian vaksin untuk Covid-19. Termasuk Indonesia, uji klinis vaksin Sinovac yang dilakukan di Bandung, Jawa Barat ini sudah memasuki fase ketiga. Namun baru-baru ini juga beredar kabar meninggalnya seorang relawan di luar negeri dalam uji coba vaksin AstraZeneca, yang menimbulkan kekhawatiran dalam pengembangan vaksin.

Menanggapi itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Utara (Kaltara), dr. Franky Sientoro, Sp.A, mengatakan seorang relawan yang meninggal dalam uji coba vaksin Covid-19 AstraZeneca, yang dilakukan di Brasil, merupakan dokter muda yang berusia 28 tahun.

Namun penyebab pasti kematiannya masih diselidiki. Lantaran dari buku status, dokter tersebut menerima plasebo, bukan vaksin Covid-19. “Kalau uji klinis itu setengah menerima vaksin, setengah menerima plasebo. Plasebo itu suntikan tapi tidak mengandung vaksin. Dia juga seorang dokter yang merawat pasien Covid-19, jadi ada kemungkinan tertular. Kalaupun satu meninggal dari sekian banyak sampel, itu masih belum memengaruhi,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (26/10).

Lanjutnya, Indonesia juga tengah mengejar penelitian itu. Tahap uji coba vaksin Sinovac telah memasuki fase ketiga, yang langsung diuji kepada masyarakat di Bandung. Ditargetkan pada usia 18 tahun hingga 59 tahun. “Uji vaksin kita sejauh ini masih aman, kita sudah masuk fase ketiga. Targetnya di-launching akhir November atau awal Desember, karena pengujian vaksin bisa berlanjut sampai postmarketing surveillance  beredar 3 hingga 7 tahun,” bebernya.

Namun tetap membandingkan dengan vaksin buatan luar negeri, agar bisa menjadi pedoman untuk memulai vaksin di pertengahan Desember atau awal Januari 2021 mendatang. “Apakah usia di bawah 18 tahun atau lebih 59 tahun bisa vaksin, kita akan belajar dari hasil penelitian negara lain. Karena di luar ada menggunakan sampel bayi usia 4 bulan dan sampel usia 90 tahun. Kalau aman, kita sudah bisa menggunakan sebagai pedoman untuk vaksinasi,” katanya.

Dia mengatakan, penggunaan vaksin ini nantinya dengan jumlah yang terbatas. Setahunya ada sekitar 70 persen dari penduduk Indonesia yang divaksin.

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Kamis, 26 November 2020 10:00

Satpol PP Siapkan Denda untuk Pemilik Usaha

  TARAKAN – Dengan semakin bertambahnya pasien Covid-19 di Kota…

Kamis, 26 November 2020 09:52

KSOP Lakukan Uji Petik Speedboat Reguler

TARAKAN - Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), petugas Kantor Kesyahbandaran…

Kamis, 26 November 2020 09:50

Distribusi LPG Terhalang Cuaca Ekstrem

TARAKAN - Kelangkaan liquified petroleum gas (LPG) 3 kilogram kembali…

Kamis, 26 November 2020 09:49

KPU Mulai Lakukan Pelipatan Surat Suara

TARAKAN - Surat suara yang akan nantinya akan digunakan masyarakat…

Kamis, 26 November 2020 09:44

Mantan Buruh Cuci Bagikan 5 Ton Beras di Tengah Pandemi

Tidak harus memiliki jabatan atau pejabat untuk bersedekah. Itulah yang…

Kamis, 26 November 2020 09:43

KRI Bima Suci Lanjutkan Pelayaran Etape ke-8

TARAKAN – Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Bumi Paguntaka, Kapal…

Rabu, 25 November 2020 10:26

Pilihan di Tangan Orang Tua

TARAKAN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Utara (Kaltara) rencananya…

Rabu, 25 November 2020 10:23

Tahun Depan Potensi Pemulihan Ekonomi

TARAKAN – Mohammad Faisal, Ph.D, Executive Director, Center, of Reform…

Rabu, 25 November 2020 10:22

Ajak Anak Kaltara Berkontribusi Jaga Laut Indonesia

TARAKAN – Taruna-taruni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan 67 yang…

Rabu, 25 November 2020 10:21

Bantuan APD 132 Koli untuk Kaltara

TARAKAN – Upaya mendukung penanganan Covid-19 di Kaltara, Mabes TNI…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers