MANAGED BY:
SENIN
18 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Kamis, 30 April 2020 11:33
Transformasi Digital Berikan Pilihan ‘Hidup’ atau ‘Mati’

Pengembangan Ekonomi Digital Rambah UMKM

KEKUATAN DIGITAL: Jenk Anna Sasmoko, pelaku UMKM sedang melakukan promosi online melalui siaran langsung di akun media sosialnya, Minggu (26/4).

Ekonomi digital salah satu sektor yang berperan dalam penguatan perekonomian. Ini juga dirasakan salah seorang pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara). Adalah Jenk Anna Sasmoko, yang tergabung di UMKM Tarakan sejak 2016 lalu.

 

LISAWAN YOSEPH LOBO

 

DARI rumah yang berwarna krem, terdengar suara seorang ibu-ibu yang seraya berbicara sendiri, tanpa ada jawaban. “Ini bahannya katun rayon ya bunda. Ukuran lingkar dada (LD) muat untuk berat badan besar. Yang minat bisa inbox atau japri di nomor WhatsApp ya bunda. Harga murah, tapi kualitas tidak murahan,” kata Jenk Anna si pemilik rumah yang tengah siaran langsung di akun Facebook melalui ponselnya, saat dikunjungi Radar Tarakan, Minggu (26/4) sore.

Di ruangan kecil, ukurannya sekitar 4 x 3 meter persegi, tempat wanita yang akrab disapa Bunda Anna ini menjalankan usahanya. Ya, menjual pakaian dengan beragam warna, merk, ukuran dan bentuk. Kebanyakan pakaian wanita, khususnya daster dan baju gamis atau jubah. Untuk anak-anak, hinga orang dewasa.

Bisa dibilang, dia cukup sukses dengan penjualan pakaian, yang baru ditekuninya 2 tahun belakangan ini, di sela usaha kulinernya saat itu. Namun di awal tahun ini, barulah dia benar-benar fokus pada satu usaha. Penjual pakaian online.

“Sebenarnya dari 2002 saya sudah usaha kecil-kecilan, kuliner dan jualan pakaian. Tapi berjalan begitu saja. Dua tahun belakangan ini baru saya tekuni dan paham ilmu usaha. Saya lebih fokus lagi baru awal tahun ini untuk jual pakaian, sementara kuliner dilanjutkan anak,” jelas wanita kelahiran Lamongan, Jawa Timur, tepat 47 tahun silam.

Di tengah pandemi Covid-19 sekalipun, yang dirasakannya berbeda 180 derajat dengan pelaku usaha lainnya, yang kebanyakan mengeluhkan penurunan omzet. Tapi sangat merasakan dampak positif meski pemerintah mengeluarkan imbauan di rumah saja.

“Keadaan sekarang mungkin banyak yang mengeluh omzetnya turun. Tapi alhamdulillah saya malah naik omzetnya di tengah pandemi ini. Sekarang orang banyak beraktivitas di rumah, pasti sering pegang handphone (HP), jadi saya promosi online, manfaatkan digital,” lanjut ibu dari empat orang anak ini.

Dalam seminggu, dia berhasil menjual pakaian wanita ukuran dewasa sebanyak 300 lembar hingga 500 lembar. Belum lagi pakaian anak-anak, terjual 200 lembar. Yang mengharuskan dia order pakaian dari Pulau Jawa, tepatnya di Solo dan Pekalongan sebanyak dua kali per minggu.

Padahal saat offline dan awal membangun usaha, yang terjual hanya 30 lembar hingga 50 lembar pakaian dalam seminggu. Namun nyatanya, penghasilannya pun tidak main-main setelah promosi dengan kekuatan digital. Ya, penghasilannya bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 3 juta per hari.

Juga membangun reseller di daerah Kaltara. Seperti di Sebuku, Kabupaten Tana Tidung (KTT), Sebatik, Malinau dan Bunyu, juga ikut memanfaatkan digital.

“Tiga bulan terakhir ini omzet ada peningkatan terus, dan tergantung permintaan. Terkadang pendapatan bisa sampai Rp 3 juta itu sudah bersih. Seminggu bisa dua kali order. Misalnya order pertama 500 lembar datang, saya langsung pesan lagi. Jadi stok ada terus, apalagi sekarang ada pembatasan penerbangan,” jelas wanita berhijab ini.

Berbisnis dengan memanfaatkan kekuatan digital benar-benar diterapkannya. Sehari dia promosi online sebanyak empat kali di media sosialnya secara live. Paham betul dengan urusan berdagang di dunia maya, dia tahu waktu yang tepat untuk promosi dagangannya untuk mendapatkan respons penonton di akun Facebook-nya.

Yang pasti prinsipnya seperti diibaratkan jika ingin terbebas dari belenggu ‘penjajahan’ maka dia hidup dan merdeka. Tapi jika menyerah pada keadaan, pilihannya adalah mati. Ya, baginya perjuangan bisnis hanya ada dua pilihan, merdeka atau mati.

“Pebisnis itu tidak boleh malu, selera tinggi. Dahulu, sebelum online saya offline dan bawa jualan ke mana-mana, dari rumah ke rumah. Kalau ada pasar, saya angkut pakaian sama patung peraga dalam mobil,” kenangnya.

“Sekarang saya jualan manfaatkan digital itu 95 persen. Dengan digital, meskipun kita di rumah saja tetap bisa berjualan. Karena pasar yang terbanyak itu adalah digital online,” sambungnya.

Sebulan ini, dia sudah memiliki produksi sendiri, yang dijalankannya dari Solo dan Pekalongan. Desain model pakaian, hingga pemilihan bahan bakunya dia yang menentukan. “Jadi yang menjahit di sana (Solo dan Pekalongan). Jadi brand House JNT Barokah ini usaha yang saya rintis bersama suami. J dan T dari nama saya dan suami,” bebernya.

Meski berjualan di ruangan yang tidak begitu besar, tapi harapan yang ingin diwujudkannya memiliki reseller di seluruh penjuru. Baginya tempat adalah nomor dua, tapi reseller yang ikut membangun bisnis dengan digital adalah utama.

“Tempat enggak harus besar, yang penting itu omzet tetap berjalan. Jadi harapannya bisa punya banyak reseller lagi,” ucapnya mengenai harapan yang ingin diwujudkannya. (*/lim)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers