MANAGED BY:
JUMAT
03 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 21 Maret 2020 11:32
WASPADALAH..!! Kaltara Dikepung Covid-19

Dinkes Pesan Rapid Test 2.000 Unit

PENCEGAHAN: Wakil Gubernur Kaltara Udin Hianggio pun diperiksa.

PROKAL.CO, KALIMANTAN Utara (Kaltara) ‘dikepung’ daerah terjangkit Covid-19. Di utara Kaltara misalnya, Tawau, kota ketiga terbesar di Negara Bagian Sabah, Malaysia diketahui penderita aktif sebanyak 23 orang, 1 di antaranya merupakan warga negara Indonesia.

Di Selatan Kaltara, Kalimantan Timur (Kaltim), pemerintah baru saja mengumumkan 10 penderita aktif. Yang terbagi di tiga kota, Balikpapan, Samarinda dan Tenggarong. Menanggapi itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kaltara Agust Suwandy mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan terkini se-nasional.

Kaltara memang mewaspadai dua daerah terhubung, yakni Kaltim dan Sabah, Malaysia. Berkaitan dengan ditemukannya kasus baru di Kaltim yang berkaitan dengan sebuah seminar di Bogor, Jawa Barat, pihaknya masih berusaha melakukan pelacakan. Diduga peserta seminar tersebut juga ada dari Kaltara.

Agust mengungkap Gugus Tugas berperan memutus mata rantai penularan. Misalnya pada TKI yang dipulangkan dari Malaysia, terus dipantau. “Kami baru saja rapat lagi, kami ingin menggerakkan gugus tugas itu. Misalnya perhubungan membantu kita dalam hal pengawasan, transportasi mobilisasi, disnaker dalam hal TKI, dinas sosial, BPBD kewaspadaannya. Kita juga membuat posko siaga. Semua kami harapkan berperan sesuai dengan tupoksinya. Kami juga berusaha melacak contact dengan penderita yang sudah positif di Kaltim. PDP ini rerata datang dari daerah terjangkit. Local transmission (penyebaran lokal),” sebutnya (20/3).

Sejauh ini 6 orang telah ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) di Kaltara. Pasien tersebut melalui pemeriksaan radiologi berupa rontgen. “Sampel 2 sudah dikirim. Dua itu pasien duluan. Sekarang ini kami belum bisa pastikan kapan akan keluar hasilnya. Sistemnya mereka yang yang laporkan ke penanganan nasionalnya,” jelasnya.

Mengenai kekurangan viral transport media (VTM) yang digunakan sebagai media penyimpan sampel swab, memang terus menipis.

Swab itu disimpan dalam gel, dalam suhu di bawah 4 derajat Celsius. Itu harus sampai ke sana dengan terjaga suhu itu. Dinkes Kaltara sudah berangkat ke Jakarta, kemarin sudah mengambil langsung VTM ini di Jakarta, sudah dikasih beberapa pcs. Mudah-mudahan ini bisa diatasi, untuk beberapa kasus sudah bisa dipakai,” tambahnya.

VTM yang telah diambil itu akan tiba hari ini. Sementara rapid test (alat tes cepat) dalam proses pemesanan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) (persero). Dinkes Kaltara mengupayakan pengadaan sekira 2.000 unit.

“Alat tes itu bisa sensitif kalau penularannya sudah berlangsung seminggu. Kalau penderita baru, belum bisa membaca. Dia membaca virus yang ada pada darah. Sementara yang diuji di laboratorium, yang swab itu bisa diketahui langsung,” imbuhnya.

Menurut Agust, pemeriksaan dengan metode VTM belum memungkinkan untuk pemeriksaan massal. VTM juga masih sangat terbatas, diperuntukkan bagi PDP.

Rapid test itu bisa menyasar ODP. Tadi saya sudah tandatangani surat pemesanan. Kalau barangnya terpenuhi, bisa digunakan cepat. Per pcs-nya itu sekira Rp 200-an ribu. Belum termasuk pengiriman. Anggaplah sekitar Rp 300-an ribu,” jelasnya lagi.

 

PUSKESMAS RAWAT ODP

Perubahan status orang dalam pemantauan (ODP) ke PDP berdasarkan perkembangan klinis yang bersangkutan. Khusus wilayah kerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, sebanyak 29 ODP yang dipantau di rumah oleh petugas puskesmas.

Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, mengatakan, perkembangan kasus Covid-19 di Tarakan per Jumat (20/3), jumlah PDP di Kota Tarakan sebanyak 4 orang.

Sementara jumlah ODP di Kota Tarakan sebanyak 29 orang, yang sebelumnya berjumlah 23 orang, yang dipantau di rumah. Pemantauan ini tetap dilakukan oleh petugas puskesmas sesuai wilayah tempat tinggal ODP tersebut.

Kemudian orang yang melaporkan diri ke Dinkes Tarakan setelah melakukan perjalanan ke daerah atau negara terjangkit, tanpa gejala sebanyak 98 orang, yang sebelumnya berjumlah 52 dan terus dalam pemantauan petugas kesehatan.

“Tadi malam bertambah 1 PDP yang masuk dalam wilayah kerja Dinkes Tarakan. Jadi jumlah PDP di Tarakan sebanyak 4 orang,” terangnya saat press release di Dinkes Tarakan, Jumat (20/3).

Dikatakannya pengiriman 4 sampel sudah dilakukan Jumat (20/3) kemarin, melalui maskapai atau penerbangan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Jakarta. Dia berharap secepatnya bisa mendapatkan hasil uji laboratorium itu.

“Dikirim ke Balitbangkes di Jakarta, dibawa oleh teman-teman KKP Tarakan. Jadi pengiriman ini bisa berlangsung 1 hari, melalui port to port. Kita tunggu saja hasilnya, karena kan banyak yang diperiksa, seperti mengantre. Kita berharap hasilnya negatif,” katanya.

Terkait rujukan dari Rumah Sakit Pertamina Tarakan, kakek berusia 70 tahun asal Bunyu, tidak masuk dalam wilayah kerja Dinkes Tarakan. Namun dirujuk ke RSUD Tarakan yang merupakan rumah sakit rujukan Kaltara. Namun sampelnya belum diterima oleh Dinkes Tarakan.

“(Berbeda dengan data RSUD Tarakan) Yang saya maksud PDP itu, kemarin kan sampel yang diambil hanya 3. Jadi sebenarnya sampel untuk Tarakan hanya 3, tapi ada orang Sesayap (Tana Tidung) sebenarnya tidak masuk di wilayah kerja Tarakan. Tapi karena sampelnya sudah masuk ke Tarakan, maka tetap kami kirim sampelnya dengan notifikasi ke Dinkes Kaltara, dan nanti Dinkes Kaltara yang akan sampaikan ke Dinkes Tana Tidung. Maka total sampel yang mau dikirim ada 4,” bebernya.

Terkait antisipasi lonjakan orang yang diambil sampel dengan stok viral transport media (VTM) atau tabung kecil untuk menyimpan sampel, mulai warning. Namun pihaknya tetap berupaya mengantisipasi sembari menunggu pengadaan.

“Kami berharap sampel ini bisa diperiksa dengan baik. VTM itu sangat terbatas, dan harganya juga mahal. Tapi kami tetap berusaha beli itu, dan kami masih menunggu pengadaan lagi,” katanya.

Di samping itu, press release yang juga dihadiri Direktur RSUD Tarakan, dr. Muhammad Hasbi Hasyim menjelaskan, perubahan status ODP ke PDP maupun sebaliknya sangat cepat, yang berdasar pada kondisi pasien. Yang sangat diawasi adalah orang yang masuk ke Tarakan dan berasal dari daerah atau negara terjangkit, dengan status ODP.

Namun apabila perkembangan kondisi yang bersangkutan menunjukkan demam, batuk dan sesak napas, maka pihak rumah sakit melakukan pemeriksaan lanjutan seperti screening, rontgen, radiologi dan swab. Dari hasil yang didapatkan, maka statusnya dapat berubah menjadi PDP.

“Seperti yang dirujuk KKP itu awalnya PDP. Tapi setelah kami melihat perkembangannya, hasil pemeriksaan radiologinya tidak ada tanda terinfeksi. Malah hasil laboratoriumnya menunjukkan dia riwayat tipes. Akhirnya kami turunkan statusnya menjadi ODP,” jelas dr. Hasbi.

Dia mengatakan sebenarnya ODP ini tidak perlu dirawat di rumah sakit. Namun jika disertai penyakit atau keluhan lainnya, yang mengharuskan orang tersebut perlu mendapatkan perawatan maka dirawat di rumah sakit. Standar pelayanannya pun sama, dengan petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap untuk mengantisipasi, hingga hasil laboratorium keluar. Yang bersangkutan pun dirawat di ruang isolasi.

“Karena ada penyakit lainnya maka dirawat. Paling tidak kami tingkatkan kewaspadaan, dan menunggu hasil laboratorium. Kita berasumsi mulai dari yang terburuk, daripada kita kecolongan. Tetap dirawat di ruang isolasi, dan petugas menggunakan APD untuk berjaga-jaga saat melakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel,” katanya.

Mengikuti tren perkembangan penyebaran Covid-19 ini, tidak menunjukkan gejala yang khas justru menjadi bumerang dan diantisipasi. Sehingga saat ada rujukan masuk di RSUD Tarakan, pihaknya terlebih dahulu melakukan pemeriksaan klinis sebelum dilaporkan ke Gugus Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 Tarakan.

“Kalau Gugus Tugas memang melihat berdasarkan jumlah sampel yang dikirim, karena itu salah satu patokannya. Tapi kalau kami melihat klinisnya, sehingga belum mengirimkan sampelnya maka belum terkonfirmasi ke beliau (dr. Devi),” katanya.

Baik positif maupun negatif, tetap dilakukan pemeriksaan standar dengan pembiayaan dari pemerintah pusat, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Lalu siapa yang menanggung? Kalau dia positif, maka pembiayaannya dari pusat melalui BNPB. Tapi kalau negatif, seperti yang kasus kemarin sebenarnya dia sakit tipes, maka kami ganti diagnosisnya menjadi penyakit tipes, dan dengan diagnosis tipes itulah yang kami klaim ke BPJS Kesehatan,” tutupnya.

 

PDP DIISOLASI

Warga Bulungan dengan status pasien dalam pengawasan (PDP)  virus corona atau Covid-19 bertambah menjadi dua. Setelah satu warga Bunyu diisolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, kemarin (20/3) satu warga Tanjung Selor dengan status yang sama kembali diisolasi. Namun diisolasi di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor. 

Hal itu dibenarkan Juru Bicara (Jubir) Penanganan Covid-19 Bulungan dr. Heriyadi Suranto kepada Radar Tarakan, tadi malam.

Heri menjelaskan, PDP dilarikan ke rumah sakit sekira pukul 10.00 WITA kemarin dan langsung diisolasi. Itu dilakukan karena pasien memiliki gejala mirip terpapar Covid-19 seperti demam tinggi, batuk dan sesak napas.

“Orang (PDP) ini juga punya riwayat perjalanan dari Jakarta, yang diketahui merupakan daerah terjangkit Covid-19,”  kata Heri melalui sambungan teleponnya.

Hanya dirinya tidak mengetahui secara pasti awal gejala batuk, demam tinggi, dan sesak napas muncul.

“Kalau tidak salah (PDP) pulang dari Jakarta ke Tanjung Selor tanggal 7 Maret lalu,” ujar Heri.

Meski PDP, tegas Heri, belum dapat dipastikan positif Covid-19. Sebab untuk mengetahui positif atau negatif virus asal Wuhan, Tiongkok itu harus melalui uji laboratorarium.

“Tapi kalau mau tahu lebih jelas terkait kondisi PDP langsung saja ke pihak rumah sakit, karena mereka yang menangani,” pungkasnya.

Hal itu juga dibenarkan Humas RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor, dr. Widya. Menurutnya, setelah masuk dalam ruang isolasi pasien langsung mendapatkan penanganan medis. “Dirawat dengan baik,” ungkapnya.

Sementara untuk spesimen PDP, kata Widya, akan segera dikirim ke Balitbangkes Jakarta. Hanya ia belum bisa memastikan waktu pengiriman.  “Intinya, (spesimen) tetap dikirim,” sambungnya.

Mantan kepala Puskesmas Tanjung Selor ini menambahkan, dengan dirawatnya satu PDP di rumah sakit yang berada di Ibu Kota Provinsi Kaltara, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik.

“Karena kami belum tahu hasilnya positif atau negatif. Kalau ada perkembangan nanti akan kami sampaikan kepada media,” ucapnya.

Hingga pukul 18.00 WITA kemarin, berdasarkan data pemantauan Covid-19 Bulungan ada tiga orang dalam pemantauan (ODP) yang tersebar di Kecamatan Sekatak satu orang dan dua Tanjung Selor.

 

PETUGAS PAKAI JAS HUJAN

Genap 5 pasien yang ditempatkan di ruang isolasi RSUD Tarakan. Hasbi menambahkan bahwa pihaknya mendapatkan satu orang pasien pada Kamis (19/3) pukul 09.00 malam yang berasal dari Jakarta dan merupakan saudara pasien di RSUD berstatus PDP.

“Terakhir pasien laki-laki. Kondisi pasien demam, tapi karena saudaranya masuk ke sini (RSUD). Jadi langsung kami rawat diisolasi,” ungkapnya.

Disinggung soal petugas kesehatan yang akhirnya harus menggunakan jas hujan agar terhindar dari penyebaran virus corona, dikatakan Hasbi sebagai permasalahan nasional.

“Jas hujan itu hampir sama dengan APD. Yang dikhawatirkan itu kena percikan lendir dari pasien, sehingga jas hujan menjadi opsi kedua,” katanya. Untuk diketahui, dalam penanganan pasien ini, RSUD telah mengadakan 200 jas hujan yang dibeli secara lokal. Jas hujan yang dipakai merupakan setelan baju dan celana panjang dan hanya digunakan oleh para petugas.

“Sudah beberapa hari kami rawat pasien, dan sudah menggunakan 100 lebih jas hujan. Karena sekali shift jaga, bisa sampai 5 sampai 6 orang yang jaga,” jelasnya.

Hasbi menjelaskan keputusan terbaru, disebutkan adanya 12 laboratorium yang dijadikan sebagai tempat menguji sampel, seperti Jakarta, Surabaya dan Makassar.

“Kalau Kaltara, Kaltim, dan Kalsel itu ke Surabaya. Jadi kami kirimnya hanya ke Surabaya,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Kaltara H. Udin Hianggio mengatakan bahwa setelah melakukan kunjungan di RSUD, pihaknya mendapatkan informasi tentang kendala yang dihadapi RSUD. “Ini bukan hanya masalah Kaltara, tapi nasional yang harus dipikirkan bersama. Kalau masalah teknis, itu menjadi tugas dinas terkait. Walaupun sudah dalam pengawasan, tapi ini belum positif, namun kita harus waspada,” singkatnya.

 

SOCIAL DISTANCING

Sebanyak 2 spesimen PDP Covid-19 Kaltara telah diterima Balitbangkes. Hal itu disampaikan Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dr. Achmad Yurianto.

Yuri mengatakan, hasil pemeriksaan spesimen itu paling lambat dua hari sudah dapat diketahui hasilnya. Tetapi sampai saat ini berdasarkan laporan spesimen positif tidak ada dari Kaltara.

“Yang kami umumkan itu hanya spesimen yang positif saja. Nah, untuk Kaltara sampai saat ini belum ada,” kata Yurianto kepada Radar Tarakan melalui sambungan telepon, Jumat (20/3).

Meski belum ada yang positif, Kaltara harus selalu waspada karena provinsi terdekat. Kaltim, sudah ada yang positif.

“Semua jalur harus selalu diawasi, baik darat, laut maupun udara,” ujarnya.

Hingga saat ini kasus positif di Kaltim bertambah menjadi 10 orang. Penambahan itu terjadi karena adanya ditemukan kasus baru sebanyak 7 orang. “Sekali lagi saya tekankan kepada daerah agar selalu waspada,” sebutnya.

Dalam menghambat penyebaran Covid-19 yang semakin menyebar di beberapa provinsi di Indonesia, saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan baru untuk menerapkan social distancing (pembatasan sosial).

“Ya, sekarang ini lebih baik social distancing dahulu, kalau kebijakan lockdown (penguncian wilayah) pemerintah belum berpikir sampai ke arah sana,” katanya.

Selain menerapkan kebijakan social distancing pemerintah pusat melalui Kementerian Luar Negeri Republik (Kemenlu) RI juga telah membatasi pendatang dari delapan negara. Kedelapan negara itu yakni Iran, Italia, Vatikan, Spanyol, Prancis, Jerman, Swiss dan Inggris.

“Kalaupun mau masuk ke Indonesia wajib mengisi dan menyerahkan kartu health alert card (kartu kewaspadaan kesehatan) kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan,” bebernya.

Pembatasan itu juga menjadi salah satu upaya agar penyebaran Covid-19 di Indonesia tidak semakin meluas. “Tidak berkurang, sekarang ini jumlahnya terus bertambah, dan sampai saat ini sudah ada 369 orang yang positif Covid-19,” tutupnya.   (*/one/shy/*/jai/ana/lim)

 


BACA JUGA

Jumat, 03 April 2020 13:30

236 Narapidana Lapas Dibebaskan

TARAKAN – Upaya preventif penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) di dalam…

Jumat, 03 April 2020 13:28

Kembali Dapat Tambahan 114 Batang Sabun Lagi

TARAKAN – Pembagian sabun cair olahan yang dilakukan oleh Komando…

Jumat, 03 April 2020 13:23

8 Hotel Memilih Tutup Sementara

TARAKAN - Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) bukan hanya menghambat jalannya…

Jumat, 03 April 2020 12:26

Berawal dari Obat Empiris, Jadi Penangkal Hama dan Covid-19

Merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh Indonesia, membuat masyarakat meramu sendiri…

Jumat, 03 April 2020 11:59

Iwan Pimpin PDAM Andalkan Ilmu Bisnis

Akhirnya Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, melantikan 5 direktur…

Jumat, 03 April 2020 11:57

2.992 Liter Sabun Cair Terdistribusi

TARAKAN - Setelah menerima sabun batang dari ditributor, Kodim 0907…

Jumat, 03 April 2020 11:55

Empat Eks Ijtima Gowa Positif

PASIEN positif Covid-19 di Kaltara bertambah 4 orang menjadi 6…

Rabu, 01 April 2020 14:09

KJRI: Perbatasan Sebatik Bocor

TARAKAN – Di tengah upaya menekan penyebaran virus Covid-19, di…

Rabu, 01 April 2020 13:59

Petambak Ditemukan Mengapung

TARAKAN - Sempat dilaporkan menghilang pada Senin (30/3) sekitar pukul…

Rabu, 01 April 2020 13:57

Puluhan Ribu Disinfektan Disemprotkan

Seluruh jajaran Polri di seluruh Indonesia melakukan penyemprotan disinfektan. Hal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers