MANAGED BY:
SENIN
27 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Kamis, 19 Maret 2020 15:13
APD RS Masih Terbatas

Hand Sanitizer RSUD Raib

INT

LANGKAH antisipasi penyebaran Covid-19, Rabu (18). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan membentuk tim gugus tugas  penanganan Covid-19.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulungan Fatokah sekaligus ketua gugus tugas  penanganan Covid-19 menyampaikan, sesuai dengan arahan bahwa gugus tugas harus bisa membagi siapa berbuat apa, dimana dan kegiatannya apa.

“Jadi BPBD dalam hal ini selaku ketua atau komando akan mengkoordinasikan kegiatan yang ada hubungannya dengan upaya pencegahan Covid-19,” ungkap Ali kepada Radar Tarakansaat ditemui di Kantor Bupati Bulungan, Rabu (18/3).

Selain mengkoordinasikan, gugus tugas juga akan mengnyinergikan kegiatan sesuai apa yang dilakukan oleh pihak teknis. Contohnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan, Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Pertanian Bulungan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan, termasuk juga Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Bulungan.

“Jadi sesuai tugas kami akan menghubungi pihak terkait termasuk pihak kepolisian seperti apa pengawasannya,” bebernya.

Adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam waktu dekat akan melakukan penyemprotan disinfektan. Rencananya, , penyemprotan akan dilakukan besok.

“Kami merencanakan dimulai jam 9 ke atas, karena akan langsung kena sinar matahari. Jangan pagi,” jelasnya.

Adapun sasaran penyemprotan yakni pelabuhan, bandara, pasar induk dan tempat pelayanan publik yang banyak bersentuhan dengan masyarakat salah satunya Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).

“Di Disdukcapil itu sepertinya sangat luar bisa dan perlu adanya pengawasan,” bebernya.

Bukan hanya Disdukcapil, organisasi perangkat daerah (OPD) dan perbankan yang banyak dikunjungi orang banyak juga akan dilakukan penyemprotan.

“Sekarang ini kami siaga darurat bencana, tetapi tidak ditentukan status siaga darurat bencana. Kalau status tanggap darurat perlakuannya berbeda lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Bulungan H. Imam Sujono menyampaikan, sebenarnya pembentukan gugus ini merupakan tindak lanjut rapat yang sebelumnya dipimpin langung Gubernur Dr. H. Irianto Lambrie.

“Nah, untuk disinfektan sendiri tidak dilakukan di semua titik, hanya dititip prioritas jalan masuknya penyakit seperti pelabuhan, bandara dan rumah ibadah,” sebutnya.

Namun, kata dia, saat ini disinfektan yang dimiliki jumlahnya masih terbatas. Tetapi jumlah itu masih cukup untuk melakukan penyemprotan di Pasar Induk.

“Penyemprotan ini harusnya dilakukan setiap hari, tatapi bahan yang kami miliki terbatas,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya mengaku akan terus berupaya mencari bahan tersebut. Apakah saat Bulungan masih dalam katagori aman, Imam menyampaikan, jangan bilang aman, karena Covid-19 ini silent (diam).

“Jadi seperti senjata peredam. Apalagi sekarang ini belum dilakukan lockdown. Artinya, masih bebas,” sebutnya.

Masalah lainnya yakni alat pelindung diri (APD). Karena jumlah APD yang dimiliki RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor masih sangat terbatas.

“Ada, tapi jumlahnya yang terbatas, dan itu pun hanya diperuntukan untuk petugas medis,” tutupnya.

 

PENANGANAN SERIUS

Merebaknya virus corona kian membuat masyarakat panik. Bahkan saking paniknya, hand sanitizer yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan pun raib dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Direktur Utama Rumah Sakit Umum (RSUD) Tarakan, dr. Muhammad Hasbi Hasyim mengatakan bahwa standar rumah sakit selalu menempatkan hand sanitizerdi setiap ruangan. Sebelum dan sesudah menyentuh pasien, dokter harus membersihkan tangan.

“Sampai botolnya diambil (raib). Serba salah, karena ini mengambil milik negara. Tapi karena handsanitizer, jadi enggak tega. Masalahnya begitu. Tapi kami akan mengusulkan pengadaan. Ini sudah kami minta dari pihak ketiga,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa sejak awal pihaknya telah melakukan antisipasi terhadap penyebaran virus corona. Pada hari Senin (16/3), pihaknya menemukan satu orang yang berasal dari Tolitoli dan diantar langsung oleh KKP berjenis kelamin laki-laki dan berusia 25 tahun dengan gejala flu dan demam sehingga pihaknya memasukkan pasien ini dengan kategori pasien dengan pengawasan (PDP).

Selanjutnya pada Selasa (17/3) lalu, pihaknya menerima satu orang lagi yang berasal dari Jakarta. Awalnya, pasien datang berdua dengan rekannya, namun satu orang lagi telah menempuh perjalanan ke Sebatik sehingga tak dapat dilayani langsung RSUD.

“Ini masalah, karena berdua datang. Tapi satu saja yang masuk di RSUD karena satunya ke Sebatik. Tapi ini sudah saya komunikasikan ke kepala dinas agar dikomunikasikan dengan Nunukan,” terangnya.

Sebelumnya, pasien asal Jakarta ini tengah melakukan perjalanan dari Jakarta ke Medan kemudian kembali ke Jakarta. Sampai di Jakarta, pasien mengalami demam tinggi sehingga dicurigai.

Nah, pada Rabu (18/3) pihaknya menerima satu orang pasien lagi yang berasal dari Tana Tidung. Sehingga ketiga pasien tersebut dirujuk di ruang isolasi RSUD.

RSUD memiliki dokter spesialis penyakit dalam sebanyak 5 orang dan spesialis paru 2 orang. Sehingga dalam hal ini RSUD siap untuk menangani pasien suspect corona. “Ruang isolasinya sudah disiapkan. Ada di lantai 5 juga dua ruang. Tempat tidurnya ada 6,” ucapnya.

Berdasarkan hasil komunikasi dengan Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie, pihaknya menginginkan agar Gubernur dapat menetapkan rumah sakit khusus penanganan Covid-19. Apalagi Nunukan berbatasan langsung dengan Tawau, sehingga hal ini menjadi perhatian khusus pihaknya.

 

GEJALA RINGAN DI PUSKESMAS

Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Tarakan atas imbauan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, langsung memisahkan orang yang datang berobat dengan gejala demam, batuk, pilek dan memiliki riwayat kontak dengan negara dan daerah terjangkit Covid-19.

Sebelumnya juga beredar pesan singkat melalui WhatsApp, agar kerabat yang berdatangan dari DKI Jakarta, Yogyakarta, Manado, Pontianak, Tawau, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten, dapat melaporkan diri ke Kepala Puskesmas Gunung Lingkas dengan nomor handphone yang tertera.

Kepala Puskesmas Gunung Lingkas, dr. Erna mengaku sebelumnya tidak mengetahui pesan berantai yang mengatasnamakan dirinya di WhatsApp. Meski demikian, isi pesan tersebut sesuai dengan materi yang ia sampaikan dalam pertemuan bersama Dinkes Tarakan.

“Yang saya sebutkan hotline Dinas Kesehatan. Tapi mungkin karena itu materi saya, akhirnya terbawa juga nama saya dalam pesan itu,” terangnya kepada Radar Tarakan, Rabu (18/3).

Dia mengatakan, prosedur pemeriksaan pasien di Puskesmas Gunung Lingkas sesuai dengan instruksi Dinkes Tarakan. Yakni screening (pemeriksaan) pasiendan melaporkan ke Dinkes Tarakan. Namun sejauh ini, pasien yang berobat seperti biasanya. Tidak ada penampakan yang signifikan terkait gejala.

Lebih rinci perihal penanganan Covid-19 ini, dia mengaku menjadi wewenangan Dinkes Tarakan untuk menyampaikannya. Termasuk jika ada orang dalam pemantauan (ODP), langsung dilaporkan ke Dinkes Tarakan.

“Sebenarnya pembicaraan tentang Covid-19 itu langsung ke dr. Devi, kebetulan beliau ditunjuk sebagai pembicara penanganan Covid ini. Termasuk terkait orang dalam pemantauan, itu Dinkes yang berkomentar. Karena kami juga mengikuti instruksi Dinkes,” katanya.

Saat dikonfirmasi Juru Bicara Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M. Kes, pasien puskesmas diminta per hari melaporkan orang yang menunjukkan gejala Covid-19, seperti demam di atas 38 derajat Celcius, batuk dan pilek.

Tapi tidak serta merta orang tersebut langsung dicurigai. Namun dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti riwayat berkunjung ke negara atau daerah terjangkit. Maka dilakukan pemantauan atau disebut ODP.

“Kalau ada pasien yang batuk dan pilek, petugas di puskesmas langsung kasih masker agar tidak menularkan penyakitnya. Kemudian ditanya lagi, kalau ada riwayat ke negara atau daerah terjangkit, langsung dipisahkan dan proses pelayanannya dipercepat agar tidak terlalu lama duduk sama pasien lainnya. Jadi itu sudah diantisipasi,” bebernya.

Dia mengatakan sejauh ini ada 17 orang yang tersebar di beberapa puskesmas di Tarakan yang sempat menunjukkan gejala seperti demam, batuk dan pilek. Namun setelah mengisolasikan diri sendiri di rumah dan dalam pemantauan petugas, 7 orang dinyatakan selesai masa isolasi rumah dan tidak menunjukkan kecurigaan ke arah Covid-19.

“Misalnya dia demam maka dipantau di rumah, ini seperti mengisolasikan diri sendiri dulu. Tapi dia tetap pakai masker. Yang menunjukkan gejala seperti itu kita tidak bisa rincikan di daerah mana yang terbanyak, nanti meresahkan masyarakat,” bebernya.

Banyaknya pesan berantai yang beredar di media sosial (medsos), dia mengimbau agar masyarakat bijak dalam menanggapi dan tetap waspada dengan menerapkan pola hidup sehat.

“Kalau ada keluarga atau kerabat yang datang dari daerah terjangkit maka laporkan ke 112 untuk diperiksa lebih lanjut. Terkait yang beredar di pesan WA itu benar juga, tapi bukan rilis resmi dari kepala puskesmasnya,” imbaunya. (*/jai/shy/*/one/agg/l


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers