MANAGED BY:
MINGGU
31 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 04 Maret 2020 11:57
Penularan Hanya Bisa Jarak Dekat

Masker Mulai Kosong di Apotek --SUB

DIBURU PEMBELI: Seorang warga menunjukkan masker N-95 yang turut diburu pembeli di salah satu apotek di Tarakan. Foto kanan, salah satu apotek di Jalan Yos Sudarso memasang pemberitahuan jika stok masker mereka kosong, kemarin (3/3).

PROKAL.CO, PEMERINTAH memastikan bahwa penularan Covid-19 hanya bisa dilakukan melalui interaksi jarak dekat. Meskipun demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga. Instansi-instansi pemerintah kini mulai meningkatkan kewaspadaan. Di sisi lain, ancaman pidana bagi penimbun masker kemarin juga mulai disuarakan.

Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, mengatakan bahwa sejak mulai merebaknya virus corona, pihaknya telah melakukan antisipasi di jalur masuk Kota Tarakan seperti bandara maupun pelabuhan. Sehingga jika ditemukan adanya gejala virus corona pada penumpang, akan segera ditangani unit tertentu untuk dilanjutkan penanganannya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan sebagai sentral perawatan di Kaltara.

“Tapi alhamdulillah, sampai sekarang belum ada kasus corona. Mudah-mudahan kita bisa proteksi khususnya Tarakan, dan Indonesia secara keseluruhan,” bebernya, kemarin (3/3).

Khairul turut menanggapi kelangkaan masker. Akan digelar razia bersama Polres Tarakan. Sebab menimbun sesuatu yang sedang dibutuhkan masyarakat merupakan sebuah pelanggaran dan dianggap sebagai spekulan.

“Sebenarnya Dinkes punya stok masker. Tapi ini tidak cukup kalau mau dibagikan ke semua orang. Sebenarnya masing-masing harus menyiapkan masker juga. Paling penting itu adalah menjaga kesehatan, makan yang bergizi dan istirahat yang cukup. Masker itu hanya dibutuhkan saat sedang berada di kerumunan orang banyak. Kalau tidak ngapain juga? Kurangi keluar rumah, kalau tidak perlu,” ujarnya.

 

SATU ALAT DIALIHKAN KE BERAU

Kepala Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah pada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tarakan dr. Rina Apridayati, M.P.H, mengatakan pengawasan penumpang terus dilakukan kendati tidak ada wabah seperti corona. Pengawasan sudah menjadi prosedur tetap bagi pihaknya.

Saat ini setiap penumpang harus melakukan screening atau pemeriksaan melalui thermal snanner (pendeteksi suhu tubuh). Sehingga jika ditemukan penumpang yang terindikasi demam di atas 38 derajat Celsius, selanjutnya diobservasi.

“Kalau dicurigai, akan kami rujuk sesuai dengan pedoman,” jelasnya.

Hingga kini, ketersediaan alat pendeteksi suhu tubuh bergantung pada pemerintah pusat. Satu unitnya cukup mahal, Rp 1 miliar dan pengadaannya tidak dilakukan di daerah. Kota Tarakan saat ini hanya memiliki satu alat yang dipasang di Bandara Juwata Tarakan. Sementara alat yang biasanya dipasang di Pelabuhan Malundung telah dipindahkan ke Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Mengigat padatnya wisatawan yang berkunjung ke Berau. Sebagai pengganti, Pelabuhan Malundung menggunakan thermo infrared(alat pengukur suhu).

“Berau itu domestik dan belum punya thermo scanner. Jadi kami pindahkan ke sana (Berau). Walaupun domestik, tapi banyak orang luar,” katanya.

KKP melibatkan 3 orang petugas di pelabuhan, dan 3 orang di Bandara Juwata.

Rina menginginkan agar masyarakat bersikap aktif dan waspada akan penyebaran gejala virus corona serta menjaga imunitas dan segera berobat jika sakit.

 

STOK MASKER KOSONG

Meski penyebaran virus corona belum sampai di Bumi Paguntaka, namun sejumlah apotek kini mengaku telah kehabisan stok masker sejak awal Februari 2020 lalu. Akibat kelangkaan ini, harga masker meningkat dari biasanya. Sementara permintaan masyarakat masih tinggi.

Salah satu pengelola apotek di Tarakan Tengah mengaku masker telah kosong sejak beberapa minggu terakhir. Itu karena pasokan yang tersendat. Diduga disebabkan permintaan yang tinggi, khususnya di Jawa. “Sudah lama enggak ada dikirim lagi,” ungkapnya sembari meminta pewarta tak menuliskan namanya.

Beberapa apotek lain juga mengungkap jika ketersediaan masker menipis. Harganya pun lebih mahal dibanding hari-hari sebelumnya. Para pengelola apotek pun menyiasati dengan menjual satu kemasan isi dua lembar. Mereka enggan menjual dalam kotakan.

Salah satu apotek di Jalan Yos Sudarso misalnya, menjelaskan masker yang dijualnya merupakan sisa stok dari pasokan pada awal 2020 lalu.

“Masker yang ada saat ini adalah sisa masker yang belum habis dan memang harganya agak tinggi dibanding yang kemarin, bahkan pasokan masker dari luar Pulau Jawa untuk saat ini sudah tidak ada lagi semenjak adanya virus corona,” ujarnya lantas tak ingin namanya disebutkan.

 

KIRIM MASKER KE TANGERANG

Siti Fatimah, warga yang berbelanja di apotek tersebut juga mengakui sangat sulit mendapatkan masker. Ia berkeliling ke sejumlah apotek. Semua menyampaikan stoknya kosong.

Ia mengaku memberi masker sebagai upaya antisipasi agar tak terjangkit virus corona.

“Suami saya juga bekerja di kapal, jadi saya butuh masker sebagai salah satu persiapan, walaupun harganya agak sedikit lebih tinggi dibanding biasanya. Tetap perlu dipersiapkan semampu kita. Lebih baik dihindari,” jelasnya.

Rani, salah seorang warga Tarakan Utara rela berkeliling di tengah gerimis yang mengguyur Tarakan, kemarin demi mencari masker. Beruntung ia menemukan 12 kemasan, isinya 24 lembar.  “Selain maskernya untuk saya, masker ini sebagian saya mau kirim ke keluarga saya yang ada di Tangerang, karena stok masker di daerah sana sudah habis. Selain masker, ada beberapa cairan yang rencanya akan dikirim demi menghindari wabah virus corona,” ujarnya.

 

MASKER UNTUK ORANG SAKIT

dr. Agil Murthala sebagai General Practitioner Rumah Sakit Pertamina Tarakan menjelaskan bahwa secara keilmuan, seharusnya yang wajib menggunakan  masker adalah orang yang menderita sakit, jadi bukan orang yang sehat.

“Yang jadi masalah sekarang ini adalah banyak masyarakat yang sakit tidak menggunakan masker, justru yang sehat yang menggunakan masker. Jadi yang penting adalah siapa pun yang sakit, batuk pilek harus segera diisolasi dan dipisahkan secara baik-baik. Dan dilihat dulu dari perjalanannya, apakah pernah keluar negeri atau kontak langsung dengan orang yang terjangkit virus. Maka dari itu yang sehat harus selalu rutin menjaga kesehatan, seperti olahraga, menjaga pola tidur yang cukup dan makan makanan yang bergizi,” ujarnya.

Selain itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mengimbau masyarakat yang sehat agar tetap menjaga kesehatan dan yang sakit harus menggunakan masker.

 

PENULARAN LEWAT PERCIKAN

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara mengeluarkan surat edaran ke pemerintah kabupaten/kota, pasca pemerintah mengumumkan adanya dua orang positif mengidap penyakit Covid-19.

Kepala Dinkes Kaltara Usman mengatakan, dalam surat edaran tersebut meminta masyarakat untuk tidak panik dan tidak melakukan hal-hal yang berlebihan seperti menimbun masker hingga persediaan makanan.

“Seperti yang ada saat ini banyak orang yang tidak paham, bahwa penularan Covid-19 tidak melalui udara. Tapi melalui droplet yakni percikan dari bersin atau batuk seseorang yang positif terjangkit Covid-19,” bebernya, Selasa (3/3).

Sehingga dengan adanya surat edaran tersebut diharapkan masyarakat teredukasi dan tidak panik. Mengingat penularannya hanya bisa terjadi melalui droplet.

“Boleh waspada, tapi jangan sampai panik. Kita mengimbau masyarakat melakukan perilaku hidup bersih dan sehar (PHBS) serta berolahraga untuk bisa menjaga kondisi tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit,” ucapnya.

Dinkes Kaltara masih melakukan pemantauan terhadap adanya warga yang dicurigai, baik dari orang yang datang dari daerah terjangkit maupun orang dengan ciri-ciri terkena Covid-19.

“Memang di Balikpapan sudah ditemukan suspect Covid-19, namun di Kaltara hingga saat ini kami belum menemukan adanya orang yang terindikasi,” ungkapnya.

Bila memang di Kaltara ditemukan, pihaknya akan melakukan penindakan sesuai dengan prosedur tetap (protap). Langkah awal yang diambil adalah mengisolasi orang yang diduga terkena Covid-19.

“Bila merasa mengalami sakit seperti ciri-ciri Covid-19, saya mengimbau untuk segera memeriksakan diri pada pusat pelayanan kesehatan terdekat, seperti puskesmas maupun rumah sakit,” tuturnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara dr. Franky Sientoro, Sp.A, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik pasca pemerintah mengumumkan adanya dua orang di Indonesia yang telah positif menderita penyakit Covid-19.

“Jangan melakukan tindakan yang berlebihan seperti memborong masker hingga persediaan makanan, perlu diketahui bahwa Covid-19 tidak menular melalui udara. Tapi penularan bisa terjadi melalui droplet,” ucapnya.

“Masyarakat masih kurang mendapatkan edukasi terkait hal ini, sehingga melakukan tindakan yang berlebihan seperti memborong masker hingga persediaan makanan, padahal untuk orang sehat bisa terhindar dari penyakit asal tetap melakukan PHBS dan rutin berolahraga,” ujarnya.

“Hingga saat ini tidak ada (indikasi), kemarin yang suspect (diduga) saja yakni mahasiswa dari Tiongkok dan warga negara asing (WNA) Malaysia, unta WNA Malaysia tersebut sempat dirawat selamat 2 hari di RSUD Tarakan, karena diketahui sebelumnya sempat ke Tiongkok, tapi untuk saat ini masih aman untuk Kaltara,” pungkasnya.

 

PINTU MASUK DIPERKETAT

Sekretaris Umum PWPM Muhammadiyah Kaltara Riskiyanto mengatakan, Tarakan termasuk daerah yang harus ditangani dengan baik, karena wisatawan yang banyak melalui Tarakan. “Akses Tarakan yang dijadikan entry point (titik masuk) pergi ke tempat wisata seperti Derawan, itu harus dilakukan pengawasan,” katanya.

Ditambahkan Riskiyanto, seharusnya di tempat-tempat umum juga harus bisa dilakukan sterilisasi terhadap potensi penyebaran virus corona. “Jadi memang harus sterilisasi juga yang sesuai SOP Dinkes agar fasilitas umum juga tidak menjadi tempat penyebaran virus corona. Misalnya di rumah sakit, sekolah, ruang tunggu atau halte bus taman bermain, rumah makan, restoran, kafe dan lainnya,” paparnya.    

 

SEMUA DAERAH BERPOTENSI

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, menerangkan jika semua wilayah di Indonesia tentunya memiliki potensi yang sama terhadap ancaman penyebaran virus tersebut. Meski demikian, masyarakat diimbau tidak perlu cemas berlebihan dan tetap menjaga kesehatan diri.

“Kalau melihat potensi Kaltara khususnya Kota Tarakan, tentunya semua daerah berpotensi masuknya corona. Apalagi Tarakan merupakan wilayah transit di perbatasan negara yang setiap harinya ada ratusan aktivitas pendatang luar dan dalam negeri datang dalam berbagai urusan. Tapi bagaimana kita bisa mencegah menyebarnya virus itu kepada kita yaitu dengan menjaga kesehatan dan kondisi tubuh sesuai anjuran Kementwrian Kesehatan,” ujarnya, kemarin.

 

TEMUAN VAKSIN

Akdemisi Kesehatan Sulidah, S.Kep, Ns, M.Kep, menuturkan, terkait adanya kabar penemuan vaksin oleh perguruan tinggi di Surabaya, ia menerangkan jika hal tersebut masih dalam status proses percobaan. Sehingga menurutnya, hingga saat ini pemerintah belum menemukan adanya vaksin yang dapat mencegah atau mengobati virus tersebut.

“Di Surabaya memang sudah ada perguruan tinggi yang menemukan semacam vaksin yang bisa melakukan perlawanan pada virus corona. Namun setahu saya, vaksin itu masih dalam tahap proses percobaan. Kabarnya baru 2 atau 3 bulan yang akan datang proses uji coba baru akan dilakukan. Jadi kalau bahasanya sudah ada yang menemukan, itu sebenarnya belum, tapi masih dalam tahap uji coba. WHO pun masih belum menemukannya,” ungkapnya.

Lanjutnya, terkait adanya dugaan yang meragukan Indonesia mendeteksi virus tersebut tidaklah benar. Itu dibuktikan dengan ditemukannya 2 warga yang terinfeksi. Menurutnya sejauh ini pemerintah terus berupaya meningkatkan pendeteksian virus tersebut. Meski demikian ia berharap vaksin dapat segera ditemukan.

“Beberapa kali juga dilakukan bantahan oleh Dinas Kesehatan karena kita meyakini kita mampu. Karena kita tahu virus corona ini mirip dengan MERS dan SARS. Jadi, dengan kemiripan itu, pemerintah meyakini bahwa sesungguhnya Indonesia pun bisa mendeteksinya. Cuma memang waktu itu memang benar-benar belum ditemukan,” tuturnya.

Ia mengimbau agar masyarakat selalu menjaga kebersihan serta rutin mencuci tangan setelah memegang benda dari fasilitas umum.

50 JUTA MASKER

Mengenai ketersediaan masker, presiden Joko Widodo angkat bicara. Dalam konferensi pers di Istana Merdeka kemarin, Presiden menyatakan bahwa stok masker masih banyak. “Dari informasi yang saya terima, stok yang ada di dalam negeri ada kurang lebih 50 juta masker,” terangnya. Hanya, memang ada masker-masker jenis tertentu yang barangnya langka.

Karena itu, Presiden juga memperingatkan semua pihak untuk tidak coba-coba mengambil keuntungan dalam situasi sekarang, khususnya dalam persoalan masker. “Saya sudah memerintahkan Kapolri untuk menindak tegas pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan momentum seperti ini,” ucapnya. Terutama dengan menimbun masker dan menjualnya kembali dengan harga yang sangat tinggi.

Di luar itu, Presiden kembali meminta masyarakat untuk tidak panik atas adanya kasus positif Covid-19. Masyarakat tetap waspada, namun tetap beraktivitas seperti biasa. Mencegah penularan virus Corona bisa dilakukan dengan cara sederhana, yakni dengan sering mencuci tangan. Jangan menyentuh wajah sebelum mencuci tangan. Intinya, cara terbaik adalah menjaga kebersihan dan menjaga kebugaran sehingga imunitas tubuh menjadi lebih baik. 

Presiden menuturkan, gejala virus Covid-19 ini pada dasarnya mirip seperti flu. “Faktanya, sebagian besar dari pasien yang ada baik di Wuhan, kemudian di Jepang, Iran, maupun di Italia itu juga hampir semuanya pasien dapat sembuh kembali,” lanjut Presiden.

Yang jelas, 2 kasus positif Covid-19 akan ditangani sebaik-baiknya oleh pemerintah. Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah siap menjaga dan melindungi masyarakat dari Covid-19. “Kita akan bekerja sekeras-kerasnya, dan di sinilah solidaritas sosial kita diuji,” tambahnya. Karena itu, masyarakat diminta tetap tenang.

Sejak kemarin pula, pemerintah menunjuk juru bicara untuk Covid-19. Dia adalah Sesditjen P2P Kemenkes Achmad Yurianto. Meskipun, dalam beberapa hal, awak media juga sempat mengonfirmasi kepada beberapa Menteri yang mengikuti ratas internal.

Yuri menjelaskan, penggunaan masker hanya diperuntukkan bagi mereka yang sedang sakit. Karena itu, orang yang sehat tidak perlu pakai masker. Apalagi bila berlebihan sampai menggunakan masker gas. “Kita di sini nggak pakai masker juga nggak apa-apa,” terangnya.

Menurut dia, masyarakat perlu memahami apa sebenarnya Covid-19 itu. Covid-19 berasal dari virus, dan virus membutuhkan inang untuk hidup. Inang virus adalah sel yang hidup. Sebagaimana benalu yang hidup di pohon, virus hanya bisa hidup bila inangnya juga hidup. Kalau inangnya mati, virus juga akan mati.

Sel hidup yang menjadi inang virus terdapat di saluranpernafasan orang yang sakit. Pada saat si orang sakit berbicara, batuk, atau bersin, sebagian selnya terlepas dan terlempar keluar. Itu disebut droplet. Logikanya, sehebat apapun orang sakit, tidak mungkin droplet atau percikan ludahnya terlempar jauh dari mulutnya. “Pasti sekitar satu meter,” tuturnya. Karena itulah, syarat penularan Covid-19 adalah interaksi jarak dekat (cloce contact).

Hal lain yang perlu dipahami, sel manusia tidak bisa hidup di luar tubuh. Apalagi dengan kondisi iklim Indonesia saat ini. Rata-rata akan bertahan selama 10-15 menit. Setelah itu akan mati. Baik di dalam atau di luar ruangan. “Begitu sel itu mati, maka virus yang numpang di dalamnya pasti ikut mati,” jelas Yuri. Maka, menjadi tidak logis bila ada anggapan penularan Covid-19 bisa terjadi dalam jarak jauh.

Maka, cara pencegahannya adalah mereka yang sedang sakit saluran pernafasan kareha sebab apapun sebaiknya menggunakan masker. Agar percikan liur itu tidak ke mana-mana. Hanya berkutat di diri sendiri. Kita berhak menegur mereka yang sakit tanpa menggunakan masker. Namun, tentu dengan cara yang baik.

Atau, kita bisa berbuat lebih baik kepada orang sakit tersebut. “Kalau kita nggak sakit punya masker, lalu ada orang sakit tdiak punya masker, kasihkan saja punya kita,” imbaunya. Daripada si orang sakit itu merugikan orang banyak.

Karena yang berbahaya adalah liurnya. Ketika dia tidak memakai masker, lalu liurnya terpercik ke gagang pintu atau menutup batuk menggubnakan tangan lalu memegang gantungan di bus, itu berpotensi ada transfer ke tangabn pengguna setelahnya bila jarak waktunya dekat. Bila pengguna berikutnya itu langsung makan tanpa mencuci tangan, maka virus bisa pindah ke dirinya. Karena itu, menjadi penting untuk selalu mencuci tangan setiap selesai beraktivitas.

Di sisi lain, pemerintah akan merenovasi bangunan di pulau Galang, kepulauan Riau, untuk dijadikan RS khusus. Presiden Jokowi menjelaskan, pemerintah memiliki fasilitas di pulau Galang yang sudah lama tidak digunakan. “Ini akan direnovasi dalam waktu yang sangat cepat,” ucap Presiden.

Tujuannya, agar Indoensia memiliki pilihan tempat bila ada wabah dunia. Tidak hanya di Pulau Natuna atau Sebaru. Pada prinsipnya, pemerintah ingin ada fasilitas yang betul-betul siap setiap saat. Meskipun demikian, untuk saat ini pemerintah juga sudah siap dnegan 132 RS rujukan dengan fasilitas isolasi yang diperlukan.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjelaskan, ada alas an tersendiri mengapa pulau Galang dipilih. “Karena transport itu lebih mudah. Kalau di sebaru, kalau malam atau ombak besar itu susah,” terangnya. Akses transportasi utama ke Pulau Galang adalah bandara Hang Nadim di Batam.

Tinggal lanjut lewat darat via jembatan pulau Galang, fasilitas itu berjarak satu jam perjalanan dari bandara. Ke depan, bila ada kasus lagi yang seperti evakuasi WNI dari Wuhan dan kapal pesiar, akan diarahkan ke fasilitas itu. Jubir Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan, fasilitas itu akan digunakan sebagai RS perbatasan.

Terpisah, Penderita Covid-19 dipastikan tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Itu sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ MENKES/104/2020 tentang penetapan infeksi corona. Covid-19 ditetapkan sebagai penyakit dapat menimbulkan wabah dan penanggulangannya yang diteken Menteri Kesehatan.

Kepmenkes itu menyebut bahwa Segala bentuk pembiayaan dalam rangka upaya penanggulangan Covid-19 dibebankan pada pemerintah. Dalam hal ini anggaran Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan/atau sumber dana lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (*/zac/zar/jnr/agg/shy/b


BACA JUGA

Sabtu, 30 Mei 2020 11:54

Dunia Usaha Bergairah sambut New Normal di Tarakan

Di Tarakan, sejumlah sektor usaha seperti perhotelan dan kafe sudah…

Sabtu, 30 Mei 2020 11:53

Kawal New Normal di Tarakan Tanpa Sanksi

TARAKAN - Untuk melihat kesiapan Kota Tarakan dalam menjalani tatanan…

Sabtu, 30 Mei 2020 11:47

Di Tarakan, Pasien Sembuh Terus Bertambah

JUMLAH pasien positif Covid-19 yang dirawat terus berkurang. Gugus Tugas…

Jumat, 29 Mei 2020 11:53

Pola Ibadah di Masjid pada New Normal Bertahap

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) mengakui jika sebagian masjid di Kaltara…

Jumat, 29 Mei 2020 11:24

Kapolda: PSBB Tarakan Berhasil

TARAKAN - Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Tarakan…

Jumat, 29 Mei 2020 10:54

Buronan Perampok Berhasil Dibekuk di Rumah Mertua, Lihat Tuh Kakinya Bolong..!!

TARAKAN- Pelarian pelaku perampokan di area tambak Sungai Liu, Kabupaten…

Jumat, 29 Mei 2020 10:44

Dua Reaktif Rapid Test di Jalan Kusuma Bangsa Sudah Diisolasi

TARAKAN - Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan,…

Jumat, 29 Mei 2020 10:24

Soal Rapid Test ke Karyawan, STB: Kerja Sama dengan Dinkes

TARAKAN - Beredar foto-foto sejumlah tenaga medis di salah satu…

Jumat, 29 Mei 2020 09:53

Bekantan 3 Tahun Dievakuasi dari Rumah Warga

EVAKUASI seekor bekantan (nasalis larvatus) berusia tiga tahun dari rumah…

Jumat, 29 Mei 2020 09:50

Urus Kambing, Rumah Jadi Arang

TARAKAN – Si jago merah kembali mengamuk dan menghanguskan sebuah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers