MANAGED BY:
SENIN
27 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Jumat, 21 Februari 2020 09:50
Setiap Bangun Pagi Letakkan Tangan di Dahi

Kilas Balik Cerita Mahasiswa Eks Observasi Natuna (Bagian-1)

KARANTINA RASA LIBURAN: Penuh kekeluargaan selama masa observasi di Natuna.

Riska Indah Andira (20), satu dari 238 orang mahasiswa yang menjalani observasi di Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Berhasil tiba di Tarakan bersama 18 rombongan mahasiswa Kalimantan Utara (Kaltara) di ruang VVIP Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan, Minggu (16/2) siang.

 

LISAWAN YOSEPH LOBO

 

MASIH seperti mimpi bagi Riska Indah Andira dapat berkumpul di tengah-tengah keluarga tercinta, setelah melewati perjalanan panjang yang penuh dramatis akibat Covid-19 alias virus corona.

Seperti yang diketahui, virus terbaru ini pertama kali muncul sekitar Desember 2019 lalu di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, Tiongkok. Kota Wuhan, tidak jauh dari Huangshi, tempat Riska Indah Andira berkuliah. Tepatnya di Hubei Polytechnic University. Tempat tinggalnya pun di asrama kampus.

Konon, naik fast train atau kereta cepat, hanya membutuhkan waktu 30 menit dari Huangshi ke Wuhan, asal virus itu. Terbilang dekat dengan jarak tempuh itu, di tengah kota yang lumayan padat. Dengan slow train, sejam pun sudah sampai.

Tidak heran rasa kekhawatiran itu ada di tengah hebohnya virus mematikan ini. Apalagi bertepatan dengan liburan musim dingin, teman-temannya banyak berpergian ke Wuhan, dan Beijing.

“Kebetulan lagi winter vacation (libur musim dingin), tapi saya tetap tinggal di asrama, tiba-tiba dapat kabar tentang virus itu. Pasti cemas, karena teman-teman banyak di sana (Wuhan),” kata wanita yang akrab disapa Riska.

Sangat mematikan, dari pihak kampus juga memberikan penyuluhan dan membatasi aktivitas di luar asrama. Rutin dilakukan pemeriksaan kesehatan di asrama, dia ikut panik hingga bertanya-tanya seberapa bahayanya virus ini. Hingga kendaraan tidak beroperasi, penerbangan dihentikan. Semua jalur ditutup. Hingga teman-temannya yang terjebak di Wuhan pun tidak bisa pulang.

“Panik. Jadi cari-cari informasi bagaimana virus corona, bagaimana gejalanya, bagaimana bisa ada. Apalagi teman-teman di Wuhan enggak bisa pulang, karena kan semua kendaraan dihentikan. Wah, berarti ngeri banget kalau sudah begitu,” katanya bertanya-tanya saat itu.

Tidak butuh waktu yang lama. Seketika virus corona mendunia. Menjadi pembahasan secara global. Lantas saja keluarganya di Indonesia, khususnya di Tarakan, ikut panik tidak karuan.

“Keluarga dan teman-teman di Indonesia pada bertanya-tanya,” lanjut anak pertama dari dua bersaudara ini.

Diimbau tidak berpergian dan keluar asrama, buat dia bertanya-tanya sampai kapan berdiam diri di dalam kamar. Apalagi fasilitas, dan semua kebutuhan makanan sudah disediakan pihak kampus. Masih di daerah asrama pun disediakan koperasi, dan kantin. Itu pun jam-jam bukanya sudah ditentukan. Tidak ada alasan lagi berpergian dari asrama atau sekadar cari bahan makanan.

Pihak kampus pun rutin observasi kesehatan penghuni asrama. Cek suhu di siang dan malam hari. Hampir selama dua minggu, hingga menjelang meninggalkan asrama, ke Natuna, Indonesia.

“Stok makanan sudah disediakan kampus. Koperasi dan kantin ada yang buka, tapi jamnya ditentukan. Suasananya memang beda banget. Kita enggak bisa keluar, jadi hanya di area kampus saja,” lanjut mahasiswi kelahiran Tanjung Palas, 15 Maret 1999.

Seperti terkurung, demi tidak terpapar virus mematikan itu. Rasa takut berlebihan pasti ada. Setiap bangun pagi, dia meletakkan tangannya di dahi. Khawatir, kalau-kalau dia demam, atau suhu badannya meningkat. Dari kampus pun membekali dengan termometer.

Sampai kapan dihantui rasa khawatir suhu tubuh berubah? Atau sampai kapan terkurung di Huangshi? Tidak ada yang tahu titik akhirnya wabah virus corona ini.

Saking penasarannya, dia mencari tahu melalui gadgetnya. Konon wabah besar serupa pernah terjadi sekitar 2003 silam. Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) alias infeksi saluran pernapasan berat, yang butuh berbulan-bulan untuk hilang dari permukaan Tiongkok.

“Saya ada baca dari pengalaman SARS yang lalu, itu kan selama 8 bulan baru selesai. Jadi saya mikir kalau corona patokannya seperti SARS, maka saya akan terkurung di asrama selama 8 bulan. Jadi saya mikir, seberapa bosannya dan stres di asrama selama itu,” kenangnya.

Pikirannya mulai kacau. Mendadak takut tidak bisa keluar dari Huangshi. Belum lagi orang tuanya yang ikut khawatir. Setiap hari menelepon. Sehari hingga 4 kali dihubungi hanya untuk menanyakan kabar dan kapan bisa pulang.

“Sempat takut juga kalau enggak bisa keluar dari Huangshi. Apalagi orang tua setiap hari telepon, hanya nanya bisa pulang enggak?,” katanya menirukan obrolannya bersama orang tua.

Hingga akhirnya beredar kabar warga Negara Indonesia (WNI) akan dievakuasi oleh pemerintah Indonesia. Sempat tidak percaya, karena belum mendengar informasi resmi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT).

“Tapi kami masih tunggu dari PPIT karena informasi resmi pasti dari situ. Jadi enggak terlalu percaya, takutnya kami uda senang dan kasih tahu orang tua tapi enggak jadi. Karena keluar dari situ kan enggak mudah. Tapi akhirnya 2 hari sebelum jadwal ke Natuna, informasi itu benar,” lanjutnya.

Tepat 2 Februari bertolak dari Wuhan, ke Natuna, garis depan perbatasan Indonesia. Senang, meski harus diobservasi selama 14 hari di Natuna. Pikirnya masa observasi pasti sulit. Di ruangan tertutup, kegiatan yang dibatasi. Tapi faktanya, dia senang selama berada di Natuna. Seperti liburan tipis-tipis bersama ratusan warga Indonesia, sebelum dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing.

Seluruh kegiatan, dilalui bersama. Mulai dari sarapan, senam, salat, makan siang, dan kegiatan lainnya bersama tim psikolog. Meski 14 hari, rasanya pengalaman ini paling berkesan di awal 2020 ini. Suasana kekeluargaan sangat dirasakannya. Bagaimana pemerintah Indonesia ikut menjaga, merawat hingga dipulangkan ke provinsi masing-masing.

“Kita enjoy banget di Natuna. Seperti kegiatan sehari-hari, selebihnya kegiatan observasi sama dokter-dokter. Kita juga main game,” katanya.

Hingga akhirnya, Minggu (16/1) dia beserta mahasiswa Kaltara lainnya diberangkatkan dari Natuna dan tiba di Tarakan sekitar pukul 11.00 Wita.

Beraktivitas seperti biasanya. Anggap saja liburan di kampung halaman. Tapi mulai Senin (17/2) kemarin, kuliah secara online sudah berjalan. Setibanya di rumah pun, dia sudah mengunduhaplikasi yang digunakan untuk kuliah sementara.

“Saya sudah mencoba aplikasinya semalam (Minggu), proses masuknya agak ribet. Hari ini (Senin) kuliah online sudah mulai. Tapi saya belum ikut, karena ada beberapa kendala yang masih diusahakan sama kampus. Saya jurusan medical kedokteran,” kata mahasiswi yang masuk semester 4 ini.

Kuliah online mengikuti perkuliahan seperti biasanya. Untungnya waktu Kalimantan Utara (Wita) sama dengan Tiongkok. Tidak ada perbedaan jam, lebih memudahkannya mengikuti kuliah dengan sistem online.

“Iya, kebetulan waktu Kaltara dengan Tiongkok sama. Jadi jam kuliah aman, karena waktunya enggak berbeda,” kata mahasiswi angkatan 2018 ini.

Kepulangannya ini tidak hanya disambut baik oleh orang tua dan keluarganya. Tapi para tetangga pun sempat mengunjungi setibanya di rumah kemarin.

“Tetangga biasa aja, mereka ke rumah lihat karena saya sudah pulang. Seperti biasa tanya kabar, sehat-sehat aja-kah?” tutupnya sembari meniru tanya tetangganya. (*/bersambung/lim)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers