MANAGED BY:
SENIN
27 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Jumat, 21 Februari 2020 09:59
Dari Huangshi ke Wuhan, Hanya Lihat Ambulans dan Polisi

Kilas Balik Cerita Mahasiswa Eks Observasi Natuna (4-habis)

SEHAT BERSAMA: Abadikan momen foto bersama sebelum berpisah dari Natuna, Kepulauan Riau.

Lima hari berkumpul bersama keluarga, setelah melewati perjalanan panjang, Alvin Xavier Wairisal (20) merasa lebih tenang di kampung halamannya. Ya, di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara). Seperti yang diketahui, dia tiba bersama rombongan Minggu (16/2) siang.

LISAWAN YOSEPH LOBO

ALVIN Xavier Wairisal, salah satu mahasiswa asal Kaltara yang menimba ilmu di Negeri Tirai Bambu. Tepatnya di Hubei Polytechnic University, Huangshi, yang mengambil jurusan kedokteran.

Setelah tiba di Malianu, dia menjalani kesehariannya seperti biasanya. Meski tidak di negara yang sama, tetapi perkuliahan secara online sudah berjalan sejak Senin (17/2) beberapa hari lalu.

Sebelumnya Covid-19 ini sempat menghambat proses perkuliahan di Tiongkok. Termasuk di Huangshi. Beberapa minggu libur secara darurat, kini dia kembali disibukkan dengan perkuliahan meski jauh dari teman-teman kelasnya.

Bingung menggambarkan suasana hatinya, namun di sisi lain dia tidak pernah menyangka pulang ke kampung halamannya secepat ini. Baru mau masuk semester 2, dan belum tahu kapan lagi berkumpul bersama keluarganya di kampung. Terakhir berjumpa, sekitar Agustus 2019 lalu.

Sejak menjalani masa observasi di Natuna, Kepulauan Riau pun dia sudah tidak sabar melewati 14 hari agar segera berkumpul bersama keluarga.

“Lebih tenang, sudah enggak jauhan sama keluarga. Karena sudah lama juga enggak ketemu. Jadi tidak pernah menduga juga bisa pulang mendadak seperti ini,” kata anak kedua dari 3 bersaudara ini.

Beruntung selama masa observasi di Natuna, dilewati dengan penuh kebahagiaan. Serba teratur. Mulai dari jam istirahat, sarapan, makan bersama, olahraga bersama, dan semua kegiatan yang dilalui bersama mahasiswa dari daerah-daerah lainnya. Masa 14 hari itu pun tidak terasa berakhir.

“Ketemu teman-teman baru, dokter-dokternya juga baik dan ramah. Yang paling saya ingat itu ada dance, kita olahraga bareng juga. Kita tetap jaga kesehatan selama di Natuna,” ceritanya singkat.

Membayangkan bisa pulang ke kampung halaman sejak dia di asrama kampus, Huangshi. Sekitar 21 Januari keganasan Covid-19 menggegerkan dunia. Mondar mandir di luar kampus pun tidak lagi diizinkan, semenjak korban Covid-19 berjatuhan.

Seketika aktivitas ‘lumpuh’. Termasuk toko-toko dan supermarket ditutup. Melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT), mereka bertukar kabar dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

“Kabar virus itu akhir Desember 2019 di Wuhan, tapi belum berdampak ke kota lain. Sekitar 21 Januari, toko-toko dan supermarket sudah mulai ditutup. Kami minta bantuan ke KBRI karena toko-toko sudah ditutup. Tapi dari kampus juga menyediakan bahan makanan dan masker,” kata pria kelahiran Malinau, 4 Januari 2000.

Perubahan yang paling dirasakannya, rutinitas di dalam daerah asrama dan di luar kampus terasa amat sepi. Suasana berubah 180 derajat. Tidak ada lagi keramaian seperti biasanya. Sejak virus itu menggegerkan dunia, yang ia lihat dari dalam area asrama hanya ambulans yang berlalu lalang, dan petugas keamanan yang tengah berpatroli.

Hingga akhir Januari, PPIT memberi kabar gembira. Pemerintah Indonesia akan mengevakuasi WNI. Tanpa berpikir panjang, sontak dia langsung mengemasi baju dan perlengkapan yang seperlunya.

“Di jalan itu yang kita lihat hanya polisi dan ambulans yang lewat. Sempat berpikir seram sih, tapi dari pihak kampus juga membantu kita. Siang dan malam suhu kita rutin dicek. Sampai akhirnya dari PPIT kabari kita akan dievakuasi, kita langsung packing,” bebernya.

Dia dan rombongan lainnya dievakuasi dari Tiongkok ke Indonesia sekitar Sabtu (1/2). Saat itu, dia beserta teman-temannya berangkat dari Huangshi menuju Wuhan, yang akan bertolak ke Kepuluan Riau, Indonesia.

Yang mencuri perhatiannya selama perjalanan dari Huangshi ke Wuhan. Naik bis, jarak tempuhnya saat itu sekitar 2 jam. Tidak ada satupun aktivitas warga Wuhan yang terlihat.

Sama seperti di Huangshi, yang terlihat hanya ambulans dan petugas keamanan yang berjaga-jaga. Pantas saja, Wuhan yang sebelumnya dihiasi aktivitas yang penuh keramaian, munculnya Covid-19 menyulap Wuhan terlihat seperti ‘kota mati’.

Terasa hening. Dia dan rekannya hanya melihat pemandangan kosong itu di balik kaca bis.

“Kita naik bis sekitar 2 jam. Selama perjalanan dari Huangshi ke Wuhan itu, benar-benar sepi. Enggak ada aktivitas, cuma ambulans dan polisi” katanya.

Ternyata keluar dari Wuhan tidak semudah yang dibayangkan. Sebelum naik pesawat pun, Pemerintah China melakukan screening. Kalau-kalau kondisi kesehatannya bermasalah. Rutin cek kesehatan di asrama, rupanya bikin dia lebih percaya diri.

Setibanya di Bandara Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau, dia dan rombongan pun harus melalui screening lagi. Bahkan petugas menyemprotkan desinfektan kepada WNI yang tiba di Batam saat itu.

“Rasa khawatir sih enggak, karena di asrama kan uda cek kesehatan sebelumnya. Kita transit di Batam, dan sampai di Natuna pun kita diperiksa lagi,” lanjutnya.

Dinyatakan sehat selama menjalani masa observasi, sebuah kartu yang membawanya pulang ke Malinau. Tidak ada aktivitas khusus selama di Malinau. Namun tetap memantau informasi melalui grup kampusnya, dan berharap dapat melanjutkan perkuliahan seperti biasanya.

“Sejauh ini kuliah online berjalan lancar. Informasi dari kampus, suasana di sana  (Huangshi) masih seperti sebelumnya. Tapi yang terinfeksi sudah menurun, dan yang sakit sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit,” tutupnya. (***/lim)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers