MANAGED BY:
SELASA
07 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 18 Februari 2020 10:50
Mereka Belum Tahu Kapan Balik ke Tiongkok, Di Natuna Seperti Liburan
DIJEMPUT KELUARGA: Sejumlah orang tua mahasiswa Tiongkok, menjemput langsung putra-putrinya setelah sampai di PLBL Liem Hie Djung Nunukan, Minggu (16/2). FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, USAI menjalani masa observasi di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau selama 14 hari, 19 mahasiswa asal Kalimantan Utara (Kaltara) tiba di ruang VVIP Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan, sekitar pukul 11.00 WITA, dengan pesawat Batik Air.

Tangis haru para orang tua menyambut kedatangan mahasiswa, yang sudah menunggu sejak pagi di ruang VVIP Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan.

Berpelukan erat dan salam-salaman memecahkan suasana. Tidak lagi mengenakan masker, keceriaan dan kegembiraan tergores di wajah para mahasiswa ini.

Selain orang tua mahasiswa, kepala Dinas kesehatan Kaltara, dan tiga kabupaten/kota lainnya juga hadir. Mereka turut serta jajaran lainnya turut menyambut kedatangan para mahasiswa ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman mengatakan, 19 mahasiswa yang tiba di Tarakan sudah menjalani masa observasi di Natuna. Dari Kementerian Kesehatan RI dan World Health Organization (WHO), alias organisasi kesehatan dunia, menyatakan para mahasiswa ini dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

Sebenarnya total 20 mahasiswa asal Kaltara yang diberangkatkan dari Natuna usai masa observasi. Namun 1 di antaranya singgah di Jakarta, bertemu dengan keluarganya.

“Mahasiswa asal Kaltara dari Natuna itu totalnya 20 orang. Tapi informasinya, 1 orang masih di Jakarta bersama keluarganya. Nanti akan menyusul pulang, jadi yang tiba sekarang ini 19 orang. Seperti pernyataan dari Menteri Kesehatan dan perwakilan WHO, mereka sehat semua,” bebernya.

20 mahasiswa Kaltara ini berasal dari beberapa kabupaten dan kota. Dirincikannya, mahasiswa asal Nunukan sebanyak 7 orang, Malinau sebanyak 2 orang, Bulungan sebanyak 3 orang, dan Tarakan sebanyak 8 orang (lihat grafis).

Tidak ada agenda khusus setibanya mahasiswa ini di Tarakan. Pemeriksaan kesehatan pun tidak dilakukan lagi, lantaran para mahasiswa ini berhasil melewati masa observasi dan dinyatakan sehat.

Kemudian mahasiswa dari Nunukan, Malinau, dan Bulungan, akan melanjutkan perjalanan ke daerah asal.

“Mereka tidak ada pemeriksaan kesehatan lagi. Karena sudah dinyatakan sehat. Yang di Tarakan langsung pulang ke rumah. Sampai kapan mereka di Kaltara, mereka juga masih menunggu informasi mengenai kelanjutan perkuliahannya. Sebenarnya banyak mahasiswa lainnya, tapi sudah balik duluan dan kita tetap pantau,” lanjutnya.

Orang tua dari Ince Indira Sabrina Fatimah Ningsih, Ince Nelia (48) mengaku senang dengan kepulangan anaknya ini. Terakhir dia bertemu sekitar April 2019 lalu, saat Ince Indira Sabrina Fatimah Ningsih libur kuliah.

“Alhamdulillahsenang sekali. Sebagai orang tua, saya berterima kasih kepada Pak Jokowi, pemerintah Kaltara, khususnya Pak Irianto Lambrie. Sudah 2 tahun anak saya kuliah kedokteran di Huangshi. Tapi sejak berita virus itu hingga dia di Natuna, komunikasi tetap lancar,” katanya dengan haru.

Tidak sabar bertemu dengan anaknya, dia rela berangkat dari Tanjung Selor menaiki speedboat pertama, agar bisa menyambut anaknya di Tarakan. Dia mengatakan selama beredarnya kabar wabah virus corona (covid-19), hatinya tidak tenang dan hanya bisa menangis.

Meski komunikasi lancar, tetap saja merasa khawatir hingga kapan anaknya bisa bertahan dengan kondisi tersebut. Dia pun terus mengikuti pemberitaan hingga anaknya beserta rekannya dijadwalkan ke Natuna dan hingga tiba di Tarakan.

“Kami hanya bisa menangis, karena semuanya ditutup. Kami khawatir karena meskipun ada makanan, tapi bisa bertahan sampai kapan. Paling khawatir lihat video mayat berjatuhan. Tapi anak saya bilang, lihat kami, kami dalam keadaan baik-baik. Kami terus ikuti berita, sampai detik-detik dipulangkan,” bebernya.

Salah seorang mahasiswa asal Tarakan, Syahrul Al Azhari (19) mengaku sudah tidak khawatir lagi karena dapat berkumpul bersama keluarganya di Tarakan.

Mengambil jurusan kedokteran di Huangshi, jaraknya sekitar 97 kilometer dari Wuhan, asal wabah virus corona. Hanya butuh 30 menit dengan menaiki kereta cepat ke Wuhan. Atau paling lama naik bis selama 2 jam.

“Tempat saya kuliah tetanggaan dengan Wuhan, itu jaraknya sekitar 97 kilometer. Saya sempat ke Wuhan, pas mau pulang aja sih. Saya baru beberapa bulan di Huangshi, baru semester 1,” kata warga Juata Laut ini.

Sempat khawatir saat masih di Huangshi, namun pemerintah Indonesia bertindak cepat mengeluarkan warganya dari Tiongkok. Setibanya di Natuna pun dia merasa senang. Meski menjalani masa observasi, tetapi merasa seperti liburan.

“Pas masih di Huangshi, KBRI selalu memantau kami. Sampai akhirnya tiba di Natuna, alhamdulillahsemakin senang. Kami diobservasi, tapi rasa liburan karena tim kesehatan buat kami lupa dengan adanya wabah ini. Apalagi komunikasi dengan orang tua lancar,” bebernya.

Berbeda dengan Zakia Ayu Alvita Abidin Putri (20), mahasiswa asal Nunukan ini ikut terjebak di Wuhan selama 14 hari. Sebenarnya dia menimba ilmu di Huangshi, jurusan kedokteran.

Namun saat libur kuliah, dia liburan di Beijing dan singgah di Wuhan. Beberapa hari di Wuhan, virus mewabah hingga akhirnya kota tersebut di-lock down.

“Saat di-lock down, kebetulan saya sudah di Wuhan. Jadi saya tidak bisa kembali ke kota saya, di Huangshi. Saya di Wuhan selama 14 hari, dari sebelum di-lock down sampai di-lock down,” kenangnya.

Saat di Wuhan, dan suasana seperti kota mati, dia sempat ikut berteriak bersama warga Wuhan dari masing-masing apartemen untuk saling menyemangati. Video warga Wuhan saling teriak menyemangati sempat viral di media sosial (medsos). Dengan teriakan wuhan jiayou, yang berarti Wuhan semangat.

“Itu malam kedua (video viral). Malam pertama itu jelas banget, saya sampai kaget kenapa orang berteriak wuhan jiayou, ternyata warga Wuhan saling menguatkan. Saya juga ikut berteriak dari apartemen teman saya,” lanjutnya.

Sebenarnya selama Wuhan diisolasi, dia merasa biasa saja. Namun karena keluarganya di Kaltara sangat khawatir, dia pun ikut tertekan dan takut sesuatu akan menimpa dirinya.

“Saat di-lock down hari pertama pun biasa saja. Tapi mungkin karena orang tua khawatir, dan semuanya ikut panik, kita jugas merasa tekanan apakah kita nanti kenapa-kenapa. Tapi alhamdulillah dekat apartemen teman juga masih ada toko yang buka,” lanjutnya.

Selama menjalani masa observasi di Natuna, dia tidak tahu perkembangan kondisi di luar. Pemberitaan pun dijangkau melalui gadget, termasuk televisi. Meski demikian, dia merasa selama masa observasi sangat menyenangkan. Padahal sebelumnya dia sempat merasa khawatir saat cek kesehatan ulang di Natuna.

“Sempat agak takut juga pas cek kesehatan ulang. Takut suhunya tiba-tiba naik. Tapi di Natuna asyik. Kita olahraga bareng, makan bareng, kumpul sama teman-teman dari seluruh Indonesia,” katanya.

Lantas bagaimana dengan kelanjutan perkuliahannya? Dia mengatakan kembali aktif kuliah setelah keadaan kembali normal. Namun sejauh ini, perkulihan akan berlangsung secara online. Setibanya di Tarakan, dia berserta rekan lainnya akan melanjutkan perjalanan ke Nunukan dan kembali ke rumah masing-masing.

Sebelum berpisah dengan yang lainnya, para mahasiswa ini mengabadikan foto bersama dan meneriakkan yel-yel, “dari Natuna selamatkan Indonesia, dari Natuna sehat sentosa.”

 

SETIAP MALAM MENUNGGU TELEPON

Di Pos Lintas Batas Laut (PLBL) Lim Hie Djung Nunukan, sekira pukul 17.00 WITA, Minggu (16/2), sejumlah orang tua menjemput anaknya yang baru tiba dari Tarakan.

Hampir semua keluarga dari 5 mahasiswa yang tiba di Nunukan hadir menjemput.

Seperti Abidin Tajang, orang tua dari Zakia Ayu Alvita Abidin Putri, mahasiwa kedokteran Hubei Polytechnic University yang sudah lama menunggu kepulangan anaknya. Abidin mengaku lega, akhirnya anaknya sudah kembali berkumpul bersama keluarga.

“Alhamdulillah, kami senang terharu campur semuanya, karena sudah sejak lama kami menunggu. Alhamdulillah setelah mendengarkan arahan saya untuk lebih mendengarkan apa pun arahan yang disampaikan dari KBRI, anak saya akhirnya bisa kembali ke Nunukan dengan keadaan sangat sehat walafiat,” ujar Abidin terharu.

Abidin mengaku, dirinya baru bisa dihubungi anaknya saat pukul 01.00 WITA, setiap malamnya. Komunikasi yang berkurang membuat keluarga yang menunggu semakin rindu. “Terutama ibunya, terkadang tidak bisa tidur menunggu anaknya menghubungi. Alhamdulillah sekarang sudah berada pada kami, semuanya bisa lega,” tutur Abidin.

Di Natuna, mahasiswa banyak mendapatkan pelajaran, misalnya soal kerja sama tim.  Dalam hal saling menguatkan, saling mengasihi, saling menyayangi. Selama 14 hari di Natuna, menurutnya bukanlah waktu yang sangat buruk. Setidaknya hal itu menjadi pengalaman dan pembelajaran hidup untuk dirinya dan teman-temannya.

“Akhirnya kami bisa dipulangkan, suka duka banyak banget, banyak pembelajaran yang kami dapatkan. Terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini,” timpal Vita, anak Abidin.

 

IDI: TIDAK PERLU KHAWATIR

Masyarakat diimbau tidak perlu khawatir terkait kepulangan mahasiswa Kaltara setelah menjalani observasi di Natuna. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara dr. Franky Sientoro, Sp.A, memastikan bahwa 19 mahasiswa tersebut sudah terbebas dari indikasi terkena covid-19. “Anak-anak kita ini sudah menjalani observasi selama 2 minggu di Natuna, selesai dari masa obeservasi itu artinya anak-anak terbebas dari covid-19,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, bahwa covid-19 merupakan virus yang memiliki masa inkubasi selama 2 minggu, bila lewat dari masa tersebut artinya bebas dari covid-19.

“Perlu diketahui bahwa virus untuk dapat hidup juga memerlukan inang hidup yakni hewan ataupun manusia, bila tidak ada inang mereka tidak virus akan mati dengan sendirinya termasuk covid-19,” bebernya.

“Anak-anak kita ini sudah aman, kita juga tidak perlu melakukan karantina lagi karena masa inkubasi dari virus ini juga sudah lewat dari 2 minggu,” ucapnya.

Dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk dapat menerima kembali 19 mahasiswa tersebut dengan tangan tersebut, tanpa ada rasa ketakutan lagi terkait covid-19. “Jangan panik, apalagi sampai over protektif, kita pastikan aman dan tidak ada hal lagi yang perlu ditakutkan,” ucapnya.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa covid-19 yang mewabah di Tiongkok, tingkat fatalitasnya tidak sehebat dengan severe acute respiratory syndrome (SARS) dan middle east respiratory syndrome (MERS).

“Memang untuk penularannya cepat, namun untuk angka fatalitasnya rendah yakni hanya 2,4 persen, artinya tingkat kematian bila orang terkena covid-19 masih rendah,” ujarnya.

 

GUBERNUR: MARI JANGAN BERPIKIR BURUK

Sementara Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie mengimbau kepada seluruh masyarakat di provinsi termuda Indonesia ini untuk jangan berpikir buruk terhadap mahasiswa yang pulang dari Wuhan.

Irianto menegaskan, sejumlah mahasiswa Kaltara yang sudah melalui proses karantina dan observasi di Natuna itu jelas dinyatakan tidak terinfeksi virus corona. “Mereka dinyatakan sehat. Bahkan sejak kepulangan ke Indonesia, itu mereka memang sudah dalam keadaan sehat. Tidak ada gejala terjangkit virus corona,” ujar Irianto saat ditemui di Tanjung Selor, Minggu (16/2).

Kenapa dikarantina 14 hari? Irianto menjelaskan bahwa tujuannya mencegah. Sebab, memang standar protokol kesehatan dunia menganjurkan harus seperti itu. Jadi, pemerintah Indonesia juga sangat antisipatif dan berhati-hati. 

“Tentunya bekerja dengan cermat,” kata mantan sekretaris provinsi (sekprov) Kalimantan Timur (Kaltim) ini.

Adapun yang dilakukan Pemprov Kaltara sama dengan daerah lain, yakni menanggulangi biaya pemulangan para mahasiswa asal Kaltara sampai ke Tarakan. Tapi ada janji biaya itu akan diganti oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sebelumnya, ia juga sudah menugaskan pejabat Kantor Penghubung Pemprov Kaltara di Jakarta beserta Dinas Kesehatan untuk menjemput mahasiswa asal Kaltara ini. Sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing, mereka sempat diinapkan semalam di Jakarta.

“Dalam proses pemulangan ini, semua kementerian dilibatkan. Bahkan Pak Mendagri (Tito Karnavian) secara khusus membuat konferensi pers dan mengarahkan para gubernur untuk memberi perhatian kepada mahasiswa yang dipulangkan dari RRT,” jelasnya.

Mengenai mahasiswa yang masih berada di Tiongkok, kata dia, bisa saja karena berbagai alasan.

“Bisa saja dengan berbagai alasan sehingga mereka memilih untuk tidak pulang. Bisa saja ada yang sedang prosres penyelesaian S-1-nya atau sedang menyusun skripsi. Tapi sementara ini seluruh Cina diliburkan,” pungkasnya. (*/one/raw/jnr/iwk/lim)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 06 April 2020 14:44

Rapid Test Negatif, Pemkot Luluh

TARAKAN – Pasien M atau pasien pertama yang dinyatakan positif…

Senin, 06 April 2020 14:35

Tidak Ada Batas Waktu, Pembuatan Sabun Cair

TARAKAN – Hingga waktu yang tidak ditentukan, pendistribusian sabun cair…

Senin, 06 April 2020 13:48

Total 16 Pasien Positif Covid-19 di Kaltara Bertambah

TANJUNG SELOR – Senin ini (6/4) konfirmasi positif Covid-19 di…

Senin, 06 April 2020 12:27

Sasar Korban PHK dan UKM

TARAKAN - Di tengah pandemi Covid-19, dampak dirasakan signifikan oleh…

Senin, 06 April 2020 12:11

Terhitung April Ini, Enggak Ada Lagi Izin Nikah

TARAKAN – Kementerian Agama (Kemenag) tidak akan melayani perizinan nikah…

Senin, 06 April 2020 12:08

Perumda sebagai Stabilisator Stok Barang

Masyarakat cenderung melekatkan stigma pada perusahaan umum daerah (perumda).  Mappa…

Senin, 06 April 2020 12:05

Kodim Distribusi 10.000 Liter Sabun Cair

TARAKAN – Hingga hari kelima, Sabtu (4/4), Kodim 0907 telah…

Minggu, 05 April 2020 14:00

Gugus Tugas Tracing Kontak Pasien Corona yang Meninggal

JURU Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara),…

Minggu, 05 April 2020 13:58

Nestapa Usaha di Tarakan karena Corona, Kurangi Karyawan dan Pilih Tutup

Di tengah pandemi Covid-19, dampak dirasakan signifikan oleh dunia usaha.…

Minggu, 05 April 2020 13:56

Dunia Usaha Waswas, PHK Diambang Mata

Wakil Ketua Umum Bidang Ilmu Teknologi dan Industri Kreatif pada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers