MANAGED BY:
SELASA
18 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 12 Februari 2020 15:31
Lima Mahasiswa ‘Terkurung’ di Shandong
MULAI KHAWATIR: Mahasiswa asal Indonesia yang masih berada di Provinsi Shandong, Tiongkok merasa khawatir sejak ditemukan 14 orang terinfeksi virus corona di provinsi yang berjarak 960 km dari Kota Wuhan.

PROKAL.CO,  LIMA mahasiswa asal Kota Tarakan saat ini masih terjebak di Provinsi Shandong, Tiongkok. Meski berjarak 960 kilometer dari Kota Wuhan, sebanyak 14 orang di Kota Rizhao dinyatakan positif terkena virus corona.

“Bisa dibilang saat ini kami terkurung di sini (Shandong),” ungkap Muhammad Endy Qoriawan, mahasiswa asal Kota Tarakan yang sedang menempuh pendidikan di Shandong Water Conservancy Vocational College ini kepada Radar Tarakan, Selasa (11/2).

Lewat komunikasi WhatsApp, Endy menceritakan tentang daerah Shandong yang dulunya sangat ramai kini tiba-tiba menjadi sangat sepi akibat munculnya kasus virus corona.

Tak ingin menjadi salah satu korban virus mematikan itu, Endy bersama dengan 20 pelajar asal Indonesia lainnya, terus berupaya mengamankan diri dari rutinitas luar. Demi melindungi diri, Endy dan rekan seperjuangannya setiap hari hanya di kamar sempit di Jalan Liaocheng. “Kami dilarang keluar sama dosen, kecuali beli bahan makanan,” ujar mahasiswa yang berusia 19 tahun tersebut.

Membeli bahan makanan merupakan satu-satunya alasan bagi Endy untuk dapat keluar dari ruang sempitnya. Tidak mudah, toko-toko makanan di Shandong telah banyak yang tutup. Rerata pemilik toko khawatir akan penyebaran virus corona. Endy harus melangkah lebih jauh agar bisa mendapatkan toko yang dapat menjaga kebutuhan logistiknya.

“Toko di sini juga cuma 1 yang buka, itu pun sempat kehabisan bawang sama beberapa sayur, kami enggak bisa jalan lama-lama di luar,” tuturnya.

Demi menjaga diri agar terhindar dari penularan virus corona, Endy dan rekannya juga rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Biasanya, setiap orang dilakukan pengecekan suhu badan. Jika ditemukan adanya mahasiswa yang dalam kondisi tidak enak badan, maka akan segera dicek ke rumah sakit.

“Pengecekan suhu badan itu bukan hanya dilakukan di kamar saja. Tapi setiap masuk ke mal, kampus atau kompleks,” jelas mahasiswa jurusan e-commerceini.

20 mahasiswa asal Indonesia yang terjebak di Shandong masih dinyatakan sehat.

Virus corona yang masih mewabah di negara Tirai Bambu ini akhirnya membuat beberapa rekan Endy pulang ke Indonesia. Endy juga berencana akan pulang, tapi terkendala akses penerbangan. Bandara Singapura menolak penumpang asal China dan Jakarta transit. Penerbangan langsung pun sudah ditutup.

“Bus di sini (Rizhao) sekarang mungkin sudah tidak ada yang beroperasi. Tapi alhamdulillah, di sini taksi online masih ada, jadi masih bisa ke mana-mana, misalnya buat deposit dan lain-lain,” ujarnya.

Setiap keluar dari kamar Endy harus menggunakan masker. Persediaan masker di Rhizao saat ini terbilang cukup. Terkadang, bila masker habis, Endy harus membeli masker sendiri di luar, namun adapula masker yang dibagikan oleh pihak kampus dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing.

Semakin lama tinggal di Rizhao, Endy merasa semakin khawatir. Namun ia dan rekan-rekannya tidak punya jalan lain selain berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dihindarkan dari penyebaran virus corona yang mematikan.

Hal lain yang diungkap Endy, yakni harga tiket penerbangan melonjak drastis. “Kemarin dapat tiket harganya di atas Rp 3 jutaan, karena enggak ada yang transit ke Singapura. Tapi sekarang kami yang mau pulang juga susah cari tiket, karena kalau pas mau booking tiket biasanya hilang-hilang gitu. Ini lagi libur (kampus) sampai Maret 2020,” imbuhnya.

 

DARI KELUARGA SEDERHANA

Endy merupakan anak pasangan Parjo dan Supinem. Radar Tarakan sempat mewawancarai ayahnya Rabu (5/2) di Masjid Al-Mubaroq, Juata Permai, Tarakan Utara di mana ia bekerja sehari-hari. Pria 55 tahun itu bekerja membersihkan area masjid.

Keluarga itu masih diliputi kekhawatiran. Oktober 2019, merupakan pertemuan terakhir Parjo dan Supinem dengan anaknya Endy di Tarakan. Cita-cita untuk menempuh pendidikan di luar negeri, memang tak pernah terbayang sebelumnya. Menempuh pendidikan di luar negeri membutuhkan uang yang cukup banyak, sedang Parjo hanyalah seorang penjaga masjid. Endy terdaftar sebagai salah satu mahasiswa dalam program Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC). Ia merupakan alumni Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Tarakan.

Endy menempuh program pendidikan diploma-3,” katanya.

“Kalau sudah begitu (penyebaran virus), namanya orang tua ya khawatir,” kata Supinem kepada Radar Tarakan.

Dari pekerjaan itu memang tak banyak rupiah yang bisa diperoleh setiap bulannya. Bahkan Supinem dan Parjo rela mengonsumsi makan seadanya demi kebutuhan Endy di Shandong. Setiap bulannya, Supinem hanya dapat mengirimkan Rp 1.500.000 kepada Endy. Beruntung, kuliah di sana lebih murah.

“Semuanya saya serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kami hanya bisa berdoa. Mudah-mudahan cita-cita anak saya bisa tercapai, kami komunikasi tiap hari. Sampai sekarang anak kami baik-baik saja,” katanya.

 

WNI DI NATUNA DIPULANGKAN SABTU

WHO buka suara soal kemampuan Indonesia mendeteksi Novel Coronavirus (2019-nCoV). Organisasi Kesehatan Dunia itu menyatakan Indonesia eligible.

Seperti diketahui, banyak pihak ragu Indonesia mampu. Apalagi setelah melihat fakta bahwa hingga kini belum ada kasus positif di Tanah Air. Padahal, sejumlah negara tetangga sudah banyak terpapar virus yang telah menelan ratusan korban jiwa tersebut.

Medical Officer WHO di Indonesia Vinod Kumar Bura menegaskan, bahwa fasilitas laboratorium Balitbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mumpuni untuk mendeteksi 2019-nCoV. Alat dan prosedurnya pun telah sesuai dengan standar WHO.

”Kami sepenuhnya yakin bahwa laboratorium ini mampu untuk mendeteksi virus novel corona ini,” ujarnya ditemui di sela acara kunjugan di Balitbangkes Kemenkes di Jakarta, kemarin (11/2).

Menurut dia, Indonesia juga baru saja selesai menguji sekitar 60 spesimen dari kasus yang muncul pada beberapa minggu terakhir. Dari pengujian yang dilakukan, telah dikonfirmasi seluruhnya negative 2019-nCoV.

Lebih lanjut Vinod mengatakan, bahwa Indonesia telah menaruh perhatian penuh perihal 2019-nCoV ini. Hal itu telah dibuktikan dengan peningkatan kapasitas penanganan deteksi virus itu. Termasuk, menyiagakan 100 rumah sakit rujukan untuk penanganan kasus infeksi penyakit baru seperti 2019-nCoV.

Seluruh rumah sakit tersebut, kata dia, sudah memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Total, ada 52 ruang isolasi dengan 113 tempat tidur yang dikhususkan  untuk penanganan penyakit emerging. Seluruhnya pun telah melakukan simulasi penanganan penyakit emerging sebagai langkah kesiapsiagaan.

”Kami sudah bekerjasama lama dengan Indonesia. Dan kami terus bekerja sama erat dengan pemerintah Indonesia untuk memantau situasi sata ini,” ungkapnya.

Vinod menuturkan, WHO sendiri telah menyatakan wabah 2019-nCoV di Tiongkok sebagai darurat kesehatan internasional. Sehingga, pihaknya pun mendorong semua negara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan dan penyebaran virus tersebut. Sebab, risiko terinfeksi virus baru ini di Tiongkok dan negara-negara lainnya tergolong tinggi.

Ditemui dalam kesempatan sama, Kepala Balitbangkes Kemenkes Siswanto kembali menegaskan bahwa metode pemeriksaan 2019-nCoV sudah sesuai dengan standar WHO. Yakni, uji konfirmasi laboratorium 2019-nCoV melalui dua kali pengujian sampel.

”Ada empat tahap yang perlu dilakukan dalam mendeteksi virus corona, yaitu menemukan suspect yang benar, mengambil spesimen, mentransfer spesimen tersebut dan melakukan PCR (polymerase chain reaction, red) dengan mesin PCR yang benar,” paparnya. PCR ini, lanjut dia, mampu dilakukan oleh laboratorium Balitbangkes.

Dia mengklaim, bahwa lab milik Kemenkes ini sudah dilengkapi dengan peralatan memadai dan tenaga ahli yang terampil. Selain itu, fasilitasnya mempunyai tingkat keselamatan untuk penanganan agen biologi atau biosafety level 2 dan 3. Karenanya, menjadikan Balitbangkes sebagai rujukan nasional untuk penyakit new emerging dan reemerging. Salah satunya, 2019-nCoV.

Meski demikian, pertanyaan soal “bersihnya” Indonesia dari 2019-nCoV tetap disangsikan. Lagi-lagi, karena sudah banyak kasus positif di negara-negara lain. Terutama Singapura yang jadi tetangga dekat Indonesia. Belum lagi, fakta bahwa lalu lintas Singapura-Batam begitu tinggi.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono merespon santai. Menurutnya, bisa jadi karena memang orang Indonesia punya kekebalan tertentu pada penyakit tertentu. ”Mungkin imunitas kita berbeda pada penyakit tertentu. Ini yang sekarang para ahli ngomongnya gini. Mungkin loh ya. Karena memang virus ini pun masih dipelajari,” katanya.

Kekebalan ini dicontohkannya pada 78 orang WNI yang tengah diinkubasi di kapal Diamond Princess di perairan Jepang. Hingga hari ke delapan, mereka dalam kondisi sehat. Padahal, pekerjaan mereka banyak yang office boy, waiters, dan lainnya. Yang artinya, lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Sehingga, kemungkinan untuk kontak jelas lebih besar.

Namun sekali lagi, mereka dalam kondisi baik. Padahal, sudah 135 orang dievakuasi ke luar kapal karena positif 2019-nCoV.

”Ini ada dalam satu kapal loh. Yang di Wuhan kan masih luas banget. Ini dalam satu kapal seminggu di situ, sudah ada yang sakit di situ,” ungkapnya.

Kalau memang penularan terjadi melalui droplet, kemungkinan terpapar pun pasti tinggi. Apalagi kalau airborne. ”Tapi sekali lagi, ini masih banyak yang harus dipelajari.  Tidak mengatakan ini misteri. Bukan itu ya,” paparnya.

Terpisah, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menyampaikan recana pemulangan para WNI yang pulang dari Wuhan dan sekarang masih dikarantina di Natuna. Sesuai jadwal mereka bakal dipulangkan ke kampung halaman masing-masing pada Sabtu (15/2) depan.

Dia menjelaskan Kemenkes menggelar rapat khusus untuk menyiapkan proses pemulangan itu. Prosesnya melibatkan sejumlah kementerian dan pemerintah daerah (pemda). Setelah mereka sampai ke kediaman atau kampung halaman, akan dilakukan surveillance tracking. Kondisi mereka setelah pemulangan di daerah masing-masing akan dipantau. Menurut Terawan ini adalah wujud kewaspadaan tingkat tinggi.

Dia menegaskan ketika para WNI yang sebelumnya dievakuasi dari Tionkok itu sudah dipulangkan ke kampung halaman, berarti kesehatannya sudah baik. Mereka juga sudah bisa berkumpul dengan keluarga serta tetangga. ’’Saya juga ikut (pemulangan, Red). Saya nggak pakai masker, saya rangkul,’’ katanya.

Terawan lantas menanggapi soal adanya negara lain yang heran kenapa sampai sekarang belum ditemukan kasus positif Korona di Indonesia. Dia menjelaskan negara lain silahkan heran. Tetapi faktanya memang sampai sekarang belum ditemukan kasus positif Korona di tanah air.

Pada prinsipnya pemerintah Indonesia sangat transparan. Pemerintah terbuka jika ada pihak lain yang ingin memantau proses pemeriksaan. ’’Supaya tidak ada yang menyangsikan lagi,’’ katanya.

Presiden Joko Widodo dalam pengantar Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Bogor kemarin juga menyinggung soal virus Korona. ’’Saya sangat berterima kasih pada kerja keras yang dilakukan Kemenko, oleh seluruh K/L (kementerian dan lembaga, Red), terutama Kemenkes,’’ kata Jokowi.

Dia menuturkan upaya yang dijalankan pemerintah menunjukkan upaya kewaspadaan dan kehati-hatian. Sehingga sampai saat ini virus Korona tidak masuk ke Indonesia. Meskipun sempata da 62 orang yang dinyatakan suspect Korona, tetapi setelah diperiksa ternyata negatif. Menurutnya hasil pemeriksaan itu patut disyukuri. Jokowi mengingatkan supaya jajaran pemerintah menyampaikan perkembangan virus Korona dengan baik. Supaya masyarakat mengetahui bahwa pemerintah betul-betul serius menangani penyebaran virus Korona. (shy/mia/wan/jpg/lim)


BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 10:54

AHY Sedot Perhatian di Pembukaan CFD

TARAKAN - Launching car free day (CFD) pada Minggu (16/2)…

Selasa, 18 Februari 2020 10:50

Mereka Belum Tahu Kapan Balik ke Tiongkok, Di Natuna Seperti Liburan

USAI menjalani masa observasi di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau…

Minggu, 16 Februari 2020 11:57

BREAKING NEWS! Tangis Haru Sambut Mahasiswa Kaltara, Usai Diobservasi di Natuna

TARAKAN - 19 mahasiswa asal Kalimantan Utara (Kaltara) yang dipulangkan…

Rabu, 12 Februari 2020 15:31

Lima Mahasiswa ‘Terkurung’ di Shandong

 LIMA mahasiswa asal Kota Tarakan saat ini masih terjebak di…

Rabu, 12 Februari 2020 15:19

Penyewa Rumah Asal Api Dicari Polisi

TARAKAN - Penyebab kebakaran di Jalan Pinus RT 13, Kelurahan…

Senin, 10 Februari 2020 15:06

Kembangkan Minat dan Bakat Anak di Masa Golden Age

Pemberian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ketika anak memasuki masa…

Senin, 10 Februari 2020 15:02

Honorer Siap-Siap Menganggur

TAK ada lagi istilah honorer, tenaga kontrak, atau outsourcing di…

Jumat, 07 Februari 2020 06:05

BREAKING NEWS!! Si Jago Merah Hanguskan Rumah Warga Jembatan Besi

TARAKAN - Peristiwa kebakaran kembali terjadi di Bumi Paguntaka di…

Sabtu, 01 Februari 2020 12:25

Ibrahim Rusli Akan Taklukkan Laut Berau

Setelah 14 kali mencatatkan aksi renang di laut, kini Ibrahim…

Kamis, 30 Januari 2020 15:03

Upaya Evakuasi Masih Buntu

SEJATINYA sejumlah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Tiongkok…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers