MANAGED BY:
MINGGU
17 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Rabu, 12 Februari 2020 15:13
Antar Jemput Anak Didik Setiap Hari

Lebih Dekat dengan Nursyamsi Abu Sarif, Honorer yang Penuh Kepedulian

BERINTERAKSI: Suasana di kelas IX, saat Nursyamsi Abu Sarif mengajar mata pelajaran IPA. Muridnya tampak senang dan berinteraksi, Senin (10/2).

Selain menjadi tenaga pendidik, ada saja cara guru melakukan pendekatan terhadap muridnya. Memberikan perhatian lebih. Mengantar muridnya, yang tidak dijemput. Seperti yang dilakukan Nursyamsi Abu Sarif, guru honorer di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 11 Tarakan.

 

LISAWAN YOSEPH LOBO

 

SEJAK dahulu, hingga kini nasib guru honorer selalu ramai diperbincangkan. “Guru bantu”, yang pendapatannya tidak seberapa. Hanya di beberapa daerah, pendapatan guru honorer yang bisa dikatakan ‘lumayan’. Belum lagi, yang gajinya dirapel per tiga bulan.

Kendati demikian, nampaknya tidak menjadi cambuk bagi guru honorer untuk setia mengabdi. Menjadi guru harus semangat. Menebarkan ilmu. Mengajari dari nol, hingga berhasil meraih cita-cita anak muridnya.

Mencerdaskan. Sudah menjadi kewajiban seorang guru. Tapi sekaligus menjadi teman si murid, mungkin jarang ditemukan. Sosok ini dapat dilihat dalam diri Nursyamsi Abu Sarif.

Masuk dalam dunia murid-muridnya, cara dia melakukan pendekatan terhadap anak didiknya ini. Tidak hanya melalui proses belajar mengajar. Atau duduk bersama saat jam istirahat. Rupanya guru-guru di lingkup SMP Negeri 11 Tarakan, punya cara tersendiri.

Misalnya mengantar siswanya pulang ke rumah. Bukan sekali atau dua kali. Tapi rutin, setiap hari. Ada seorang siswa kelas VII, yang tinggal di Jalan Ppabri, Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah. Menjadi langganannya untuk diantar pulang ke rumah.

Merasa prihatin. Siswanya itu selalu menunggu orang tuanya menjemput, hingga senja menghilang. Bisa jadi orang tuanya tidak sempat menjemput. Atau menunggu hingga pekerjaannya selesai. Maklum, orang tua murid tersebut kerja serabutan.

“Kalau kita tidak antar, dia menunggu jemputan sampai magrib, sampai isya. Jadi kita gantian antar anak itu. Karena biasa ada kesibukan, nanti teman lainnya yang antar. Tapi itu rutin kita antar anak itu pulang,” ujar pria kelahiran Tarakan, 9 Agustus 1992 ini.

Tinggal di daerah Karang Rejo, tidak menjadi alasan jauh dekatnya tempat tinggal siswa yang diantar pulang. Dia pernah mengantar muridnya yang tinggal di Tanjung Pasir, Tarakan Timur di Pasir Putih atau Jalan Bhayangkara dan daerah STM di Jalan Aki Balak. Juga tidak menjadi beban, bila dilakukan setiap hari.

Pernah merasakan menjadi seorang murid, menjadi alasan mendasar melakukan itu. Rasanya senang bila guru memberikan perhatian yang lebih. Tidak sebatas mengajar di dalam kelas. Dengan begitu, pendekatan ke anak didik lebih baik.

“Kita pasti rasanya senang kalau guru perhatian sama kita. Kita pasti menilai, guru itu baik. Kita biasa antar, ajak cerita. Jadi ada pendekatan. Kalau mereka ada masalah, lebih enak kita dekati dan arahkan,” lanjut pria lulusan UBT angkatan 2011 ini.

Tradisi mengantar siswa entah dimulai sejak kapan. Yang pasti, setiap jam pelejaran selesai, ada saja siswa yang masih duduk di halte menunggu jemputan.

“Biasa kami keluar sekolah, ada saja siswa yang belum dijemput. Jadi kami antar. Kami juga tidak tahu kondisi perekonomian siswa itu seperti apa. Atau mungkin ada masalah dalam keluarganya, karena latar belakang siswa ini berbeda-beda. Ada yang orang tuanya sibuk kerja, tidak sempat jemput,” ujarnya.

Sebenarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan sudah memfasilitasi pelajar dengan bis sekolah. Titik perhentiannya di Pasar Tenguyun. Tapi ada saja orang tua yang tidak sempat menjemput. Suatu ketika, dia menemukan siswanya berjalan kaki. Dari Pasar Tenguyun, ke arah Kampung Bugis. Rupanya siswanya ini tidak dijemput orang tuanya.

“Jadi menunggu di Pasar Tenguyun, dan orang tuanya tidak jemput. Akhirnya dia jalan kaki, rumahnya di Kampung Bugis. Dari ceritanya, sudah tiga kali dia jalan kaki dari Tenguyun ke rumahnya,” tuturnya.

Ada lagi yang unik dalam diri Nursyamsi Abu Sarif. Dari informasi yang didapatkan. Konon sosok Nursyamsi Abu Sarif, bak malaikat tanpa sayap. Setiap muridnya mendapatkan masalah, dia selalu ada dengan segudang solusinya. Misalnya saja siswanya kehilangan uang. Mengetahui hal tersebut, lantas dia mengganti uang tersebut secara diam-diam. Lewat keramahannya ini, tidak heran dia banyak disukai anak muridnya.

“Itulah peran guru, dan mereka yang menilai kita seperti apa. Tapi menurut saya, itu salah satu pendekatan guru ke siswanya. Kita yang masuk ke dalam dunianya, bukan mereka yang mengikuti kita,” tambahnya.

Dengan gaji yang pas-pasan, apa yang membuatnya tertarik menjadi seorang guru? Konon mendapatkan inspirasi dari orang tuanya, yang memang latar belakang keluarganya dari tenaga pendidik.

Dua tahun menjadi tenaga honorer di SMPN 11 Tarakan, tidak membuatnya menyerah. Menikmati proses, selalu menjadi obat penawarnya.

“Gaji guru honorer sekitaran Rp 2 juta. Sebenarnya tugas dan tanggung jawab guru honorer dan PNS itu sama. Bedanya hanya status. Tapi saya selalu berpikir, mungkin mereka yang PNS, sudah merasakan lebih dahulu apa yang saya lewati. Mungkin nantinya, saya juga merasakan seperti mereka. Jadi nikmati proses saja,” katanya.

Di tengah harapan mereka, dia berharap guru honorer bisa mendapatkan perhatian yang lebih oleh pemerintah. (***/lim)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers