MANAGED BY:
SABTU
04 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Jumat, 31 Januari 2020 11:23
Mulai Cemas, Orang Tua Minta Anaknya Dievakuasi
Abidin Tajang, orang tua dari Zakia Ayu Alvita Abidin Putri

PROKAL.CO, NUNUKAN – Dengan terus terjadinya pencemaran virus corona di Tiongkok, khsusunya di sejumlah kota Provinsi Hubei, menjadi kekhawatiran sejumlah orang tua mahasiswa yang menuntut ilmu di negeri tirai bambu tersebut untuk meminta segera dievakuasi dan dipulangkan kembali ke Indonesia.

Seperti yang diharapkan Abidin Tajang, orang tua dari Zakia Ayu Alvita Abidin Putri, mahasiwa kedokteran Hubei Polytechnic University, Provinsi Hubei, Tiongkok yang mengharapkan evakuasi sesegera mungkin dilakukan.

“Ya, harapan kita hanya sesegera mungkinlah dievakuasi, karena bagaimana pun juga, kalau mereka terlalu lama di sana (Hubei, Red), namanya virus bisa saja menular. Makanya mengharapkan sekali bantuan evakuasi tersebut, walaupun harus di karantina tidak ada masalah,” ujar Abidin Tajang saat diwawancarai di rumahnya, Kamis (30/1).

Kendati begitu, Abidin sendiri mengakui, permasalahan mengharuskan dilakukannya proses karantina selama 14 hari, masih menjadi kendala Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) melakukan evakuasi. Namun juga diketahui, KBRI masih terus mencari solusi lain agar bisa secepat mungkin dilakukan evakuasi.

Selama anaknya masih di Hubei, Abidin hanya meminta persediaan logistik di Hubei juga diperhatikan pihak KBRI untuk berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar tetap bisa dijangkau. Sebab, meskipun mahasiswa Indonesia di Hubei punya uang untuk berbelanja, jika toko tidak buka, akan menjadi kendala juga.

Abidin juga mengharapkan perhatian dari pemerintah daerah, sebab Abidin mengaku belum melihat perhatian maksimal dari pemerintah provinsi.

“Anak-anak ini sudah pada iri, karena informasi yang saya dapatkan, sejumlah mahasiswa dari kota lain sudah ada yang dapat bantuan dari provinsinya masing-masing, di sini (Kaltara, Red) kita belum melihat itu, sebenarnya kita itu bukan melihat nilainya, tapi perhatian pemerintah ini kepada warganya, ada tidak?,” kata Abidin.

“Saya yakin semua orang tua pasti mengharapkan hal yang sama untuk kepulangan anaknya. Kemana pun arahnya dievakuasi, yang penting keluar dululah dari Hubei, seandainya saya punya pesawat dan bisa evakuasi sendiri, saya pasti lakukan sendiri. Terakhir saya hanya meminta doa kepada seluruh warga Indonesia, semoga semua WNI kita di sana (Hubei, Red) baik-baik saja,” tambah Abidin mengakhiri.

Terpisah, Koordinator Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Kaltara dan Kaltim, M. Gozali mengatakan, pemerintah Indonesia melalui KBRI sudah intens mencoba mencarikan solusinya dan melakukan pendekatan ke pihak pemerintah Tiongkok. Meski memang diakui belum ada jalan keluarnya. Gozali hanya menerka kemungkinan ada pertimbangan lain kenapa pemerintah Tiongkok belum memberikan akses.

“Tapi upaya lain kepada WNI di sana sangat baik dilakukan oleh KBRI dan Kemenlu serta pihak kampus kepada anak-anak mahasiswa international. Karena sampai dengan saat ini, alhamdulillah belum ada yang terkena virus,” ungkap Gozali.

Gozali pun berharap, sampai selesai permasalahan tersebut, bantuan dan dukungan serta pengawasan selalu intensif dilakukan. Gozali pun meminta warga yang punya keluarga di Tiongkok, untuk tidak panik, supaya tidak berdampak negatif terhadap WNI yang ada di Tiongkok.

Sementara itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara, H. Sanusi mengatakan, sejauh ini pihaknya masih terus melakukan komunikasi dengan putra dan putri Kaltara yang ada di Tiongkok.

"Bahkan sampai saat ini pemerintah dan kampus di sana sudah membuka akses untuk kesediaan makanan di sana," ujarnya kepada Radar Kaltara saat dikonfirmasi, Kamis (30/1).

Hanya saja, untuk evakuasi, sampai saat ini belum bisa dilakukan. Pemprov Kaltara, bahkan Pemerintah Indonesia sampai saat ini belum bisa melakukan evakuasi. Sebab memang sedang dibatasi segala aktivitas masyarakat guna menghindari menyebarnya virus corona itu.

"Masih ada larangan keluar terhadap masyarakat di sana, jadi langkah yang dilakukan saat ini hanya terus memonitor secara intens dengan melakukan komunikasi ke para mahasiswa di sana. Kita mempertanyakan sejauh mana perkembangannya," kata Sanusi.

Dalam hal ini, pihaknya berharap agar persoalan ini dapat segera teratasi. Intinya, pemantauan masih terus dilakukan oleh pihaknya melalui sejumlah jalur komunikasi yang ada.

"Tapi kalau untuk evakuasi kita belum bisa. Jangankan kita, Pemerintah Indonesia saja, bahkan TNI Angkatan Udara sudah menyiapkan tiga pesawat Hercules jika memang dibolehkan. Tapikan sementara belum boleh," jelasnya. "Bahkan ada beberapa even dunia di sana yang dibatalkan guna mengantisipasi terjadinya hal yang tak diinginkan," sambungnya.

Tapi, jika hal ini bisa ditangani, pihaknya akan segera melakukan penanganan terhadap mahasiswa asal Kaltara. Tapi untuk evakuasi, masih belum dapat dilakukan. "Ini tidak seperti kasus gempa Sulteng (Sulawesi Tengah) lalu, kita bisa langsung mengambil alih ke sana. Ini ada ketentuan yang harus dipatuhi, karena kasusnya berbeda," sebutnya.

Pastinya, pada persoalan ini, Pemprov Kaltara tidak tinggal diam. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada keluarga para mahasiswa yang ada di sana untuk tetap tenang dan percaya saja bahwa mereka di sana tetap dalam keadaan baik.

 

Tiongkok Masih Larang Lakukan Evakuasi

Ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini berada di Wuhan, Tiongkok meminta untuk segera dievakuasi. Mereka merasa terancam karena wabah virus corona.

Juru Bicara Kepresidenan Fadjroel Rachman mengatakan, alasan kenapa sampai saat ini belum adanya evakuasi terhadap WNI yang ada di Wuhan karena Tiongkok masih melarang negara-negara yang akan melakukan evakuasi terhadap warganya yang berada di Wuhan.

“Jadi berdasarkan surat yang kami terima dari Persatuan Pelajar Indonesia ?(PPI) tertulis bahwa mereka tidak boleh keluar dan orang lain tidak boleh masuk,” ujar Fadjroel di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Menurut Fadjroel, pemerintah sudah melakukan pencegahan supaya virus corona tidak menyebar di Indonesia. Seperti melakukan penjagaan di pintu masuk bandara dan juga pelabuhan. “Jadi memang sudah membuat sikap yang sudah tampak saat ini (pemerintah melakukan pencegahan),” katanya.

Fadjroel menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk melakukan evakuasi terhadap WNI yang berada di Kota Wuhan, Tiongkok. Sehingga dapat kembali ke tanah air. “Ini menjadi perhatian dari presiden, karena kami tidak ingin meninggalkan seorang pun di mana pun,” ungkapnya.

Sementara itu, pandangan berbeda diungkapkan oleh Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) yang mengapresiasi sejumlah negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan Jerman sudah memperoleh izin dari Tiongkok untuk mengevakuasi warganya dari kota Wuhan.

Ada 240 warga Amerika Serikat sudah dievakuasi, 206 warga Jepang juga sudah tiba di Tokyo dari Wuhan, serta Jerman juga akan mengevakuasi warganya. Diplomasi tingkat tinggi perlu dilakukan untuk memperoleh izin evakuasi tersebut. Bahkan, di Maroko, rajanya memimpin secara langsung rapat proses evakuasi.

“Kalau Raja Maroko yang di ujung barat Afrika Utara saja memimpin langsung rapat untuk pemulangan warganya dari Wuhan, saya membayangkan Presiden Jokowi juga memimpin rapat serupa untuk lakukan lobby tingkat tinggi, agar Pemerintah Indonesia diizinkan oleh Tiongkok untuk evakuasi WNI,” ujar HNW.

Diketahui, dilansir dari situs resmi World Health Organization? (WHO), virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti MERS dan SARS.

Berdasarkan informasi, virus corona biasa ditemukan pada banyak spesies hewan seperti unta dan kelelawar. Namun virus corona yang menginfeksi hewan dapat berevolusi untuk menyerang manusia dan membuat orang sakit.

 

Jika Dipulangkan, WNI Dikarantina 28 Hari

TNI Angkatan Udara (AU) bersiap mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Namun, rencana itu dibayangi kekhawatiran tersendiri, mengingat virus corona mudah menular kepada manusia. Sehingga ditakutkan petugas yang mengevakuasi juga ikut tertular.

Terkait itu, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto mengatakan, upaya pencegahan sudah disiapkan agar proses evakuasi ini berjalan aman. Baik itu untuk petugas evakuasi, WNI yang dievakuasi dan bagi masyarakat yang ada di Indonesia.

“Semua itu sudah menyiapkan anti penularan untuk crew yang menjemput. Itu mungkin dengan masker dan segala macam,” kata Fajar saat dihubungi Jawa Pos (induk Radar Tarakan), Rabu (29/1).

Aspek makanan bagi crew yang ditugaskan juga akan sangat diperhatikan. Selain itu, petugas yang telah kembali ke Tanah Air akan dikarantina sementara waktu, untuk diobservasi. “Jadi tidak langsung turun, langsung bebas, dikarantina dulu. Yang kita siapkan itu, briefing-nya demikian,” jelas Fajar.

Karantina juga berlaku bagi WNI yang dievakuasi. Mereka akan dibawa terlebih dahulu ke RSPI Dr Sulianti Saroso untuk dipastikan tidak terjangkit virus corona sebelum dipulangkan ke keluarga. “Oh iya (WNI juga, Red) dikarantina. Standarnya 28 hari,” tegasnya.

Atas dasar itu, Fajar meminta kepada masyarakat agar tidak khawatir tertular corona dari WNI yang baru kembali dari Tiongkok. Pasalnya, proses evakuasi sudah direncanakan secara matang. Dari awal keberangkatan sampai pendaratan kembali di Tanah Air.

Sebelumnya, Fajar Adriyanto mengatakan, keputusan evakuasi ini dihasilkan setelah rapat bersama dengan kementerian terkait pada Senin (27/1). Total ada dua pesawat yang disiagakan untuk mengangkut para WNI.

“Iya hasil rapat kemarin, dua hari yang lalu kita rapat dengan Kementerian Polhukam dan Kemenkes, Kemenlu juga, kita sudah siapkan pesawat Boeing 737 dan 1 C130 Hercules,” kata Fajar.

Selain pesawat, TNI AU juga akan menerjunkan personel dari batalion kesehatan apabila evakuasi dilakukan. Namun, terkait jumlah personelnya masih menunggu pembagian yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. “Ini kan sementara terdaftar WNI di sana (Wuhan) 240-an yah, sekitar itu. Itu harus butuh berapa tenaga medis,” ucap Fajar.

Dia menyebut, jumlah pasti WNI yang berada di Wuhan masih kerap berubah-ubah. Itu pula yang menyebabkan pemerintah belum menentukan jumlah medis yang diberangkatkan. Sedangkan dari aspek pesawat terbang, dua unit dianggap sudah cukup apabila hanya untuk mengangkut sekitar 200 orang.

Warga Negara Indonesia (WNI) masih menunggu kepastian adanya proses evakuasi dari Wuhan, Tiongkok, untuk mengantisipasi penularan virus corona. Mengingat masa inkubasi virus adalah selama 14 hari, maka mekanisme evakuasi juga harus dilakukan dengan cara yang tepat.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr.dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menjelaskan, WNI yang dievakuasi nanti harus mengikuti proses screening di bandara Tiongkok dan Indonesia. Namun yang ditangani tentunya adalah mereka yang terdeteksi mengalami flu dan demam.

“Prinsipnya ikuti Amerika dan Jepang. Lakukan screening dengan ketat. Ada thermal scanner di bandara untuk mendeteksi seseorang terkena apa nggak. Kalau ada batuk pilek dan suspect maka harus dilakukan pemeriksaan virus,” kata Ari kepada wartawan di Kampus UI Salemba, Kamis (30/1).

Kemudian, jika memang terbukti, barulah dilakukan pemeriksaan virus seperti swap tenggorokan dan lainnya. “Nggak perlu diisolasi semua (WNI yang dievakuasi dari Tiongkok, Red). Kasihan,” jelasnya.

Para WNI yang dievakuasi nanti juga harus dibekali health alert card. Sehingga nantinya selama masa inkubasi 14 hari bisa terdeteksi jika memang tertular. “Tinggal tunggu 2 minggu masa inkubasi,” katanya.

Mengingat wabah virus corona terus menyebar, menurut Ari, rasanya pemerintah sudah perlu memberikan travel warning dari dan ke Tiongkok.

“Kalau sedang demam tinggi jangan keluar negeri dulu. Sejatinya virus ini memang pengobatannya tergantung sistem imun tubuh kita sendiri. Obat-obat yang diberikan hanya supporting sifatnya. Penurun demam dan flu. Dikasih antibiotik jika memang ada infeksi sekundernya. Gunakan masker N95 untuk tenaga kesehatan, untuk masyarakat cukup masker biasa saja,” katanya.

 

Kepiting Hanya Diekspor ke Malaysia

Pengiriman kepiting awal tahun ini lebih banyak memenuhi kebutuhan konsumsi di Tawau, Kuala Lumpur dan Johor Baru di Malaysia. Sementara untuk Tiongkok yang menjadi pembeli utama kepiting di setiap open season, tahun ini terhenti pasca mewabahnya virus corona di negeri tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara, Amir Bakry mengatakan, untuk kepiting tahun ini hanya diekspor ke beberapa daerah di Malaysia saja. Karena pembeli utama kepiting di setiap open season yakni Tiongkok saat ini tidak bisa dilakukan ekspor karena menutup pintu internasional, pasca mewabahnya virus corona.

“Memang tahun ini ada penurunan yang cukup drastis karena efek wabah virus corona ini, di sana (Tiongkok, Red) kegiatan perekonomiannya lumpuh. Sehingga berefek pada kegiatan ekspor dan impor semua komoditi termasuk di dalam komoditi perikanan dalam hal ini kepiting,” ujarnya, Kamis (30/1).

Dirinya menjelaskan, biasanya ekspor kepiting yang dilakukan melewati Tawau. Tiba di Tawau nantinya akan dikirim lagi ke Kuala Lumpur, Johor Baru dan beberapa daerah di Malaysia. Di Tawau ini juga dilakukan pengiriman langsung ke Tiongkok, namun sejak mewabahnya virus corona, pengiriman hanya dilakukan untuk beberapa wilayah di Malaysia saja.

“Jadi kepiting ini dikirim untuk memenuhi kebutuhan di beberapa daerah di Malaysia saja, sehingga terjadi penurunan jumlah pengiriman. Saya mencontohkan bila biasanya 5 ton, kini hanya 2 ton saja dalam sehari di mana jumlah tersebut untuk dikirim di beberapa daerah Malaysia saja,” ucapnya.

Terkait mengapa hingga saat ini pengiriman kepiting masih melewati Tawau, Malaysia, dikarenakan di Kaltara hingga saat ini tidak ada maskapai yang mau mengangkut kepiting hidup. “Kalau menggunakan kapal, otomatis butuh waktu lama dan risiko kematiannya juga tinggi karena kepiting yang dibawa merupakan kepiting hidup,” bebernya.

Sebelumnya, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kaltara, Nurhasan mengatakan, penurunan ekspor kepiting disebabkan mewabahnya virus corona berdampak pada penutupan seluruh pintu internasional untuk ekspor ke Tiongkok.

“Penutupan seluruh pintu internasional ekspor ke Tiongkok tidak lain disebabkan lumpuhnya perekonomian di negara tersebut akibat wabah virus corona,” bebernya.

Dirinya menjelaskan bahwa Tiongkok merupakan negara yang paling banyak permintaan kepiting yakni sekitar 70 persen dibandingkan negara lain. Terlebih harga yang ditawarkan juga cukup menguntungkan pengusaha.

“Biasanya pada open season di hari biasa kita ekspor ke Tiongkok bisa Rp 300 ribu per kg, angka tersebut akan meningkat ketika memasuki weekend yakni Sabtu dan Minggu bisa mencapai Rp 400 ribu per kg,” ungkapnya.

Namun sejak mewabahnya virus corona, pengusaha kepiting terpaksa menjualnya secara lokal dengan harga yang cukup merugikan pengusaha yakni Rp 40 ribu perkg. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya meminimalisir kerugian dampak dari tidak bisanya kegiatan ekspor kepiting ke Tiongkok.

“Pasti rugi, selain harganya yang turun drastis, kepiting juga banyak yang mati karena terlalu lama di-packing menunggu kepastian ekspor ke Tiongkok,” tuturnya.

Sejauh ini, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan buyer yang ada di Tiongkok. Dirinya menawarkan kepiting beku yang akan diekspor ketika pintu internasional ekspor ke Tiongkok dibuka kembali. “Jadi kita bekukan dulu kepiting, baru nanti kita kirim ke sana (Tiongkok, Red) dengan harga Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu per kg, hal ini setidaknya bisa mengurangi kerugian yang dialami pengusaha,” ucapnya.

Selain sudah berkomunikasi dengan buyer, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan instansi terkait termasuk di dalamnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun hal tersebut juga belum membuahkan hasil mengingat yang terjadi saat ini merupakan dampak dari wabah virus corona. “Ini bukan karena pemerintah ataupun karena peraturan, tapi ini karena wabah virus corona, kita juga tidak bisa berbuat apa-apa terkait hal ini,” jelasnya. (raw/iwk/jnr/eza)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 03 April 2020 14:47

Puluhan Warga Malaysia Tertahan di Nunukan

NUNUKAN-Puluhan Warga Negara (WN) Malaysia harus tertahan di Nunukan akibat…

Jumat, 03 April 2020 13:32

Ratusan Eks Penumpang KM Lambelu Dilacak

NUNUKAN – Ratusan eks penumpang Kapal Motor (KM) Lambelu akan…

Kamis, 02 April 2020 14:08

20 Koli Kepiting Bakau Nyaris Lolos ke Malaysia

NUNUKAN – Di tengah polemik Covid-19 di perbatasan dengan masih…

Selasa, 31 Maret 2020 11:44

Nunukan Kaji Rencana Isolasi

NUNUKAN- Melalui surat edaran (SE) Kemendagri, kepala daerah akhirnya bisa…

Selasa, 31 Maret 2020 11:39

TKI dari Malaysia Dikarantina di Nunukan, Ini Kata Laura

NUNUKAN- Bupati Nunukan Asmin Laura menyebutkan, seusai arahan Gubernur Kaltara…

Minggu, 22 Maret 2020 15:22

Lockdown Dibuka Dua Hari, Malaysia Terus Pulangkan WNI

Sebanyak 297 Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Malaysia…

Jumat, 20 Maret 2020 14:51

30 Calon PMI Batal ke Malaysia

NUNUKAN – Setidaknya ada 30 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI)…

Kamis, 19 Maret 2020 15:21

8 WNI Positif Corona di Sabah, Penyeberangan Internasional Lumpuh

TAWAU- Kepala Konsulat RI Tawau Sulistijo Djati Ismojo mengatakan, di…

Kamis, 19 Maret 2020 10:24

Keluarga PDP Covid-19 Dipantau

NUNUKAN- Sejumlah keluarga PDP yang tengah dirawat di RSUD Tarakan…

Selasa, 17 Maret 2020 13:35

Gubernur Usulkan RS Rujukan Covid-19 di Nunukan

Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Irianto Lambrie mengatakan, dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers