MANAGED BY:
KAMIS
02 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 30 Januari 2020 15:03
Upaya Evakuasi Masih Buntu

Perlu Crisis Centre di Kaltara

BELI KEPERLUAN LOGISTIK: Sejumlah mahasiswa Indonesia termasuk Kaltara saat membeli bahan-bahan keperluan yang diperlukan, menggunakan dana yang diberikan oleh KBRI di sekitar area kampus Hubei Polytechnic University, Provinsi Hubei, Tiongkok, Rabu (29/1).

PROKAL.CO, SEJATINYA sejumlah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Tiongkok menginginkan pulang. Namun, belum ada akses transportasi yang terbuka hingga Rabu (29/1). Hal itu menyulitkan evakuasi oleh pemerintah Indonesia.

TNI AU diketahui telah menyiagakan 2 unit Boeing B-737 dan juga 1 unit Hercules C-130 untuk proses evakuasi warga negara Indonesia (WNI), termasuk seluruh mahasiswa yang ada di Tiongkok.

Informasi tersebut juga diterima Zakia Ayu Alvita Abidin Putri, mahasiswa kedokteran Hubei Polytechnic University yang saat ini masih berada di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, Tiongkok.

“Terkait kabar TNI AU menyiagakan 3 unit pesawat memang benar. Hanya belum ada waktu pastinya kapan. Saat ini, kami hanya masih menunggu perkembangan lebih lanjut untuk proses evakuasi tersebut. Namun prinsipnya TNI AU sangat siap siaga jika diperlukan,” ujar Vita, sapaan akrab mahasiswa asal Nunukan tersebut, kemarin (29/1).

Menurut Vita, evakuasi memang bakal sangat sulit dilakukan. Pemerintah Indonesia harus tetap mengikuti aturan pemerintah Tiongkok. Belum lagi proses karantina warga yang akan keluar dari Tiongkok sekira 14 hari. “Kalau sesuai prosedurnya memang harus ada karantina dan butuh proses panjang. Nah, sekarang pihak KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) ingin mencari jalan keluarnya biar prosesnya tidak ribet,” tambah Vita.

Genap 7 hari sudah Kota Wuhan di-lock (dikunci alias diisolasi).

Mahasiswa Indonesia yang berada di Tiongkok, telah diberikan bantuan dari KBRI berupa uang tunai sebesar 280 yuan, atau sekitar Rp 560 ribu. Uang tersebut diberikan untuk keperluan logistik seperti makanan, masker dan vitamin.

“Ya, alhamdulillah kami sudah membeli bahan-bahan makanan untuk keperluan hidup sehari-hari,” beber Vita.

Wendy, mahasiswa kedokteran di universitas yang sama tengah berada di Huangshi, di mana kampus tersebut berdiri. Ia juga mengakui telah menerima bantuan dana dari KBRI.

Berada di kampus, semua mahasiswa masih tidak diperbolehkan keluar area kampus. Untuk keperluan logistik, toko-toko di dalam kampus dibuka.

“Sebelumnya memang pihak universitas meminta pedagang setempat untuk membuka toko di dalam universitas, jadi kami tidak perlu belanja keluar dari wilayah kampus. Dana yang sudah diberikan dari KBRI kami manfaatkan untuk keperluan logistik,” singkat Wendy.

 

TAKUT KELUAR RUMAH

Dampak ancaman penyebaran virus corona yang mendunia, rupanya membuat sebagian warga Tarakan mengantisipasi. Mulai dengan membeli masker, vitamin, bahkan takut keluar rumah.

Seperti yang dilakukan Elfin Edelweis. Warga Kelurahan Karang Harapan, Tarakan Barat ini mengaku langsung membeli masker dan vitamin di apotek, usai mendengar kabar virus corona ini.

“Senin malam, saya langsung beli vitamin 20 bungkus. Saya juga beli masker,” katanya kepada Radar Tarakan, Rabu (29/1).

Rupanya isu yang sempat tersebar Senin (27/1) malam, juga membuatnya semakin takut. Yang mana dari media sosial, tersebar kabar adanya pasien yang tertular virus mematikan ini di Tarakan, dan tengah dirawat di RSUD Tarakan. Kendati belakangan diketahui, kabar tersebut tidak benar.

“Sempat dapat berita ada salah satu mahasiswa dari China, katanya terjangkit virus dan sudah ada di RSUD Tarakan. Apalagi perawatnya menggunakan APD (alat pelindung diri), jadi kami beranggapan virus sudah menyebar dan ini mematikan. Makanya saya langsung beli vitamin,” bebernya.

Virus corona ini termasuk terus menghangatdiperbincangkan masyarakat Tarakan belakangan ini. Berbagai artikel muncul di media sosial. Termasuk informasi pencegahan virus ini.

“Saya dapat informasi dari teman-teman, salah satu pencegahannya itu menjaga kekebalan tubuh, perbanyak minum air putih, makan sayur, buah-buahan. Minum vitamin, dan pakai masker kalau keluar rumah. Karena booming, keluar rumah aja saya takut. Makanya beli masker dan vitamin juga,” lanjutnya.

Banyaknya pembeli masker pun berdampak di salah satu apotek, yang berada di Jalan Aki Balak. Salah seorang petugas apotek yang enggan disebutkan namanya ini, mengatakan semenjak tersebarnya isu virus corona ini, banyak warga yang mencari masker dan vitamin di apotek.

“Semenjak saya jaga malam (Senin), banyak sekali yang datang beli masker dan vitamin. Tapi mungkin karena pasien ada yang flu. Tapi dibandingkan hari biasanya, belakangan ini memang lebih banyak,” akunya.

Peningkatan ini terlihat dari stok masker yang tersisa sebiji di apoteknya. Maklum kebanyakan warga memborong langsung 1 pak. “Meningkat pesat. Bahkan sisa 1 biji di apotek kami, karena ada yang langsung 1 box mereka beli. Karena kalau infeksi saluran pernafasan cepat menular. Seperti batuk, flu. Kalau vitamin memang mereka beli untuk menjaga daya tahan tubuh,” tutupnya.

 

EKSPOR KEPITING MENURUN

Dampak menyebarnya virus corona di Tiongkok juga memengaruhi ekspor pada sektor perikanan Kaltara, khususnya kepiting. Penurunan terjadi signifikan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kaltara Nurhasan mengatakan, penurunan ekspor kepiting disebabkan mewabahnya virus corona berdampak pada penutupan seluruh pintu internasional untuk ekspor ke Tiongkok.

“Penutupan seluruh pintu internasional ekspor ke Tiongkok tidak lain disebabkan kebijakan di negara tersebut akibat wabah virus corona,” bebernya, Rabu (29/1).

Tiongkok merupakan negara dengan permintaan kepiting tertinggi. Sekira 70 persen ekspor dari Indonesia masuk ke Tiongkok, kata dia. “Ekspor ke Tiongkok bisa Rp 300 ribu per kilogram. Angka tersebut akan meningkat ketika memasuki weekend yakni Sabtu dan Minggu bisa mencapai Rp 400 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Menyikapi penurunan itu, para pengusaha lantas berjualan di Kaltara dengan harga Rp 40 ribu per kilogram.

“Pasti rugi, selain harganya yang turun drastis, kepiting juga banyak yang mati karena terlalu lama di-packing (kemasan) menunggu kepastian ekspor ke Tiongkok,” tuturnya.

Sejauh ini pihaknya telah berkomunikasi dengan pembeli yang ada di Tiongkok. Kepiting beku akan diekspor ketika pintu internasional ekspor dibuka kembali.

“Jadi kami bekukan dulu kepiting, baru nanti kami kirim ke sana (Tiongkok) dengan harga Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram. Setidaknya bisa mengurangi kerugian yang dialami pengusaha,” ucapnya.

Selain sudah berkomunikasi dengan pembeli, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan instansi terkait termasuk di dalamnya Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Ini bukan karena pemerintah atau karena peraturan, tapi ini karena wabah virus corona, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa terkait hal ini,” ujarnya.

Ketua Tim Penindakan Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Tarakan M. Zainul Arifin mengungkapkan bahwa pengiriman kepiting tetap dilakukan. Hanya, tonase menurun dari biasanya.  “Sebagian di Johor Baru, Kuala Lumpur, Serawak dan Singapura, sementara untuk ke Tiongkok lebih spesifik hanya kepiting bertelur dan jumlahnya tidak sebanyak yang jantan,” ungkapnya.

Bila diperkirakan dalam 5 ton pengiriman kepiting, dari data resmi yang ada dalam proses perizinan ekspor, estimasi hanya sekitar 1 sampai 2 ton yang merupakan kepiting bertelur.

“Khusus kepiting jantan kisaran harga di Rp 250 ribu per kilogram, sedangkan untuk kepiting betina bertelur harganya mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu,” bebernya.

Berdasarkan data pada pengiriman via Jakarta, juga mengalami penurunan. Kondisi ekspor di tahun lalu, bersamaan mendekati perayaan Imlek, pengiriman kepiting sehari sekitar 4 sampai 5 ton sehari. Jumlah tersebut tidak hanya dari Tarakan, melainkan dari beberapa daerah.

Untuk Malaysia dan Singapura masih menerima ekspor dari Indonesia. Hanya pengiriman ke Tiongkok, dialihkan untuk mencari pembeli di Kuala Lumpur atau Singapura.

“Adanya wabah virus corona memengaruhi kondisi saat ini. Pengiriman ke Tiongkok mengalami kesulitan, biasa di open season tahun satu hari bisa mencapai 2 ton kepiting bertelur yang dikirim seperti tahun lalu,” ujarnya.

Di open season tahun ini menurun 50 persen lebih bila dibandingkan tahun lalu. Saat ini, yang terdata di BKIPM untuk pengiriman rutin setiap malam sekitar 4 hingga 5 ton dengan tujuan Tawau, Kuala Lumpur dan Johor Bahru. 

“Kalau kepiting bertelur yang berkurang, tapi untuk kepiting jantan masih lancar,” pungkasnya.

 

PERLU PUSAT INFORMASI KRISIS

DiIndonesia, diklaim sejauh ini tidak ada satu pun warga yang terjangkit virus corona. Hanya, belakangan ini pasca viralnya virus yang salah satu sumbernya dari kelelawar itu, cukup banyak pemberitaan yang justru menyesatkan atau hoaks.

Hal itu membuat masyarakat menjadi resah akan wabah dari virus yang dapat menyebabkan korban hingga meninggal dunia itu. Tak terkecuali di Kaltara. Yaitu dengan beredarnya informasi yang terkadang belum sepenuhnya teruji. Namun dengan cepat beredar di media sosial.

Termasuk, kejadian yang baru-baru ini mengenai adanya penanganan salah seorang pasien diduga terjangkit virus corona. Padahal, itu masih belum teruji dan konon hanya masih dalam penanganan rumah sakit.

Ombudsman RI Perwakilan Kaltara menyikapi agar kejadian serupa tak terulang lagi. “Saran kami, sekiranya perlu adanya pusat informasi krisis mengenai virus corona ini,” ungkap Kepala Ombudsman RI Kaltara Ibramsyah Amirudin kepada Radar Tarakan, Rabu (29/1).

Lanjutnya, alasan pembentukan pusat informasi krisis itu sebagai bentuk atau upaya dalam mempersempit ruang berkembanganya informasi sesat atau hoaks mengenai virus corona. “Publik penting mendapatkan informasi akurat dan terkini. Itulah perlu adanya pusat informasi krisis virus corona. Dan dengan syarat informasi publik itu pun harus dikelola oleh sumber tunggal,” sarannya.

Di sisi lain, pihaknya menyarankan agar sekiranya para pejabat agar menahan diri dalam memberikan pernyataan mengenai virus corona ini.

Dikhawatirkan dalam pernyataan itu sendiri justru menimbulkan keresahan lantaran mengenai virus corona sejauh ini belum satu pun dinyatakan positif.

“Tapi, mengenai pemutakhiran berkala serta mempublikasikan perkembangan keadaan berdasarkan tingkat kedaruratan. Terutama di area rawan agar bisa waspada, itu tak masalah. Ya, karena ini berdampak positif dalam hal ketenangan publik,” bebernya.

“Di samping, mengenai adanya pusat informasi krisis itu bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui ke mana mereka harus menghubungi pihak terkait, atau call center. Ini, jika wabah tersebut benar mulai meluas serta upaya dalam menanggulanginya,” sambungnya.

Tak sampai di situ, mengenai kesepakatan-kesepakatan investasi pun menurutnya perlu dikaji ulang. Apalagi, yang berkaitan pada penggunaan tenaga kerja asing asal China.

Ini penting untuk mengantisipasi risiko meluasnya wabah virus corona di area-area proyek investasi. Sekaligus mengurangi dampak ekonomis akibat terganggunya aktivitas investasi.

“Mengidentifikasi dan menyiapkan skema perlindungan bagi penduduk yang bekerja dan berasal dari China. Baik pekerja migran, pelajar dan lainnya maupun dari negara lain yang terindikasi pun sangat perlu. Termasuk, dalam menyesuaikan standar pelayanan BPJS agar pasien terjangkit dapat tertangani,” jelasnya.

Namun, tak lupa, Ombudsman memberikan apresiasi atas upaya pemeriksaan lebih ketat di pintu-pintu masuk kedatangan yang telah dilakukan pemerintah. Ini sebagai bentuk pencegahan dini.

“Mudah-mudahan sinergitas antar OPD di pemerintah pun dapat terus terjalin maksimal. Sehingga virus corona itu tak sampai masuk ke daerah yang dicintai ini,” ujarnya. (raw/*/one/omg/jnr/lim


BACA JUGA

Rabu, 01 April 2020 14:09

KJRI: Perbatasan Sebatik Bocor

TARAKAN – Di tengah upaya menekan penyebaran virus Covid-19, di…

Rabu, 01 April 2020 13:59

Petambak Ditemukan Mengapung

TARAKAN - Sempat dilaporkan menghilang pada Senin (30/3) sekitar pukul…

Rabu, 01 April 2020 13:57

Puluhan Ribu Disinfektan Disemprotkan

Seluruh jajaran Polri di seluruh Indonesia melakukan penyemprotan disinfektan. Hal…

Rabu, 01 April 2020 13:56

1.113 Liter Sabun Cuci Tangan Terdistribusi

TARAKAN -  Setalah menerima sumbangan dari disributor sabun batang pada…

Rabu, 01 April 2020 13:53

Harga Cabai Rp 90 Ribu Sekilo

TARAKAN – Di tengah kegelisahan akan pandemi Covid-19, sejumlah kebutuhan…

Rabu, 01 April 2020 12:59

Pembelian Gula Mulai Dibatasi

TARAKAN- Stok gula mulai terasa langka di pasaran. Ini disebabkan…

Selasa, 31 Maret 2020 13:39

Satu Kontak Pasien 02 Positif

TARAKAN – Sebanyak 132 orang yang kontak erat dengan pasien…

Selasa, 31 Maret 2020 13:31

Jangan Panik, Stok Cukup dan Semua Toko Tetap Buka

PANDEMI Covid-19 di Kota Tarakan juga menimbulkan kepanikan setelah adanya…

Selasa, 31 Maret 2020 13:29

Lockdown, Gubernur: Itu Ditetapkan Pusat

GUBERNUR Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Irianto Lambrie menegaskan, kebijakan…

Selasa, 31 Maret 2020 13:26

Fasilitas Jemaah Eks Ijtima Gowa Diutamakan

TARAKAN - Sejumlah jemaah eks ijtima Pakatto, Gowa, Sulsel masih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers