MANAGED BY:
SELASA
07 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Senin, 27 Januari 2020 14:06
Mendampingi Korban, Nenek 80 Tahun Berikan Wejangan

Perjuangan Tim Psikolog Pembangkit Semangat Pasca Kebakaran (Bagian-1)

BENTUK PENDAMPINGAN: Tim HIMPSI Wilayah Kaltara saat melakukan pendampingan di tenda posko pengungsian, Jumat (24/1).

PROKAL.CO, Tidak hanya bantuan pakaian, sembako dan uang tunai, yang terus mengalir. Tim psikolog juga kompak berikan pemulihan trauma atau trauma healing, kepada korban pasca kebakaran Senin (20/1). Tim psikolog memberikan pendampingan kepada anak-anak maupun orang dewasa yang mengungsi di posko tanggap darurat di halaman Masjid Besar At-Taqwa, Sebengkok, Tarakan Tengah.

 

LISAWAN YOSEPH LOBO

 

SEMINGGU berlalu, peristiwa kebakaran hebat di Pasar Batu, Kelurahan Sebengkok, masih menyita perhatian masyarakat Kota Tarakan. Akibat amukan si jago merah, 136 kepala keluarga (KK) harus kehilangan tempat tinggal.

Silih berganti, keluarga, kerabat, teman, dan masyarakat berdatangan mengunjungi korban di posko. Bantuan berupa sembako terus berdatangan. Suasana di posko tanggap darurat ini pun pecah dengan keramaian, canda tawa.

Di awal hari pertama mengungsi, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) turun tangan memberikan pendampingan kepada korban kebakaran.

“Malamnya kami sudah di sini. Pertama kami survei lapangan dulu. Kemudian koordinasi dengan koordinator lapangan posko, apa yang bisa kami bantu,” terang Sulistiyowati, S.Psi. Psikolog, selaku ketua HIMPSI Wilayah Kaltara.

Peristiwa ini tentu mengguncang hati dan pikiran para penyintas atau korban kebakaran. Kehadiran tim psikolog ini membantu penyintas untuk bangkit. Baik orang dewasa, maupun anak-anak.

“Yang kami jaga itu kondisi krisis mental dari penyintas (korban kebakaran). Pertama kami bantu tahap pemenuhan kebutuhan dasar. Mulai dari sandang, pangan, kebersihan sambil kita dampingi agar krisis mentalnya reda,” kata wanita kelahiran Malang, 19 Maret 1971 ini.

Setelah melewati tahap pemenuhan kebutuhan dasar, dari tim ini melanjutkan dengan pendampingan. Seperti mengajak para penyintas lebih terbuka, bercerita. Di hari pertama, tentu korban ada yang melamun dan masih syok dengan peristiwa ini. Memikirkannya saja sudah tidak sanggup. Apalagi benar-benar merasakan kehilangan tempat tinggal, dan harta benda lainnya dalam sekejap.

“Jadi di awal kami menjadi pendengar. Kalau mereka berani menceritakan ulang, tandanya mereka menunjukkan perkembangan mental yang positif. Saat kami dampingi mereka mau bercerita. Tapi masih ada yang kepikiran rumahnya. Makanya setiap hari kami dampingi,” lanjutnya.

Kunjungan keluarga, kerabat, teman dan masyarakat cukup membantu pemulihan. Seperti kunjungan dari pasukan Praja Muda Karana (Pramuka), Forum Anak Kota Tarakan, dari sekolah-sekolah yang mengajak anak-anak di pengungsian bermain.

“Sejauh ini alhamdulillah semakin membaik. Di hari kedua kami juga berkolaborasi dengan tim psikologi Polda Kaltara dan Forum Anak Kota Tarakan. Kami ajak anak-anak bermain dan memenuhi kelengkapan menggambar dan mewarnai,” jelasnya.

Menciptakan suasana yang gembira, penuh tawa, sangat membantu anak pulih dari rasa trauma dan cepat melupakan kisah pilu ini. Sama halnya dengan penyintas dewasa dan orang tua. Membuatnya bercerita, meluapkan semua kisahnya hingga membuatnya merasa lega.

“Masyarakat juga bisa melakukan itu. Bantu meredakan kepanikan, syok dan lewati kondisi krisis mental sehingga korban lebih tenang. Dari kami tetap mendampingi, dan antisipasi untuk melakukan tindakan khusus,” tuturnya.

Bentuk empati masyarakat Kota Tarakan ini patut diacungkan jempol. Dukungan-dukungan spiritual, bentuk kepedulian, lebih cepat membuat penyintas merasa nyaman.

“Kalau kami merasa hancur, tapi dapat dukungan dari keluarga, teman dan lingkungan, lebih cepat membuat kami merasa nyaman. Di hari kelima mereka sudah membaik. Yang luar biasa itu empati dari masyarakat yang terus datang ke posko,” katanya.

Bercanda hangat, ada saja cerita dari para penyintas yang bikin terbahak-bahak. Perlahan melupakan kejadian, tetapi ada pula yang sesekali mengingat rumahnya tetapi sembari bercanda.

“Ada yang lucu. Ada ibu-ibu bertanya, kira-kira biawak di bawah kolong rumahku mati terbakar enggak ya? Jadi ada yang balas, kok malah biawak yang diingat. Dari situ, menjadi candaan saat mereka ngobrol,” katanya.

Adapula nenek berusia 80 tahun, yang justru memberikan wejangan kepada tim. Katanya, dalam kehidupan itu seperti roda berputar. Terkadang manusia merasa senang, ada kalanya merasa susah.

“Jadi saya dinasihati, kalau dikasih susah kami terima saja. Masak mau senang terus. Alhamdulillahnenek itu sehat,” katanya.

Nah, masa tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari, sejak kejadian 20 Januari lalu. Lantas, setelah pindah dari lokasi pengungsian, bagaimana mengantisipasi perubahan suasana yang akan dirasakan para penyintas?

Dari sisi psikologi, tim berencana memberikan pengenalan kepada para penyintas. Mulai dari kapan butuh bantuan orang lain, kapan pula harus mandiri.

“Butuh bantuan secara mental. Sehingga saat mereka butuh bantuan, mereka tahu minta tolong ke siapa. Jadi kami dari tim HIMPSI sedang persiapan, rencananya kami berikan panduan tentang kesehatan mental,” lanjutnya.

Sedangkan untuk anak-anak, dimotivasi dengan suasana yang nyaman dan didukung penuh untuk kembali melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Perlahan mengenalkan dengan lingkungan yang baru.

“Kalau anak-anak, pola asuhnya dari orang tua. Bagaimana ketika mereka sudah pindah ke tempat baru, orang tua tetap menjaga bahwa lingkungannya tidak berubah drastis. Jadi anak-anak tidak kaget,” kata wanita berhijab ini.

Untuk diketahui, HIMPSI Wilayah Kaltara dideklrasikan pada April 2019, yang sebelumnya berstatus cabang Tarakan. Dengan anggota sekitar 64 psikolog, yang tersebar di Tarakan, Malinau, Tana Tidung, Bulungan, dan Nunukan. Ada 12 psikolog yang siap menjadi tim relawan di posko pengungsian ini. Sembari melakukan pekerjaan lainnya, bergantian stand by di posko. (bersambung/lim)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers