MANAGED BY:
SENIN
27 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Kamis, 23 Januari 2020 13:47
Batal Prawedding di Tanggal Cantik demi Tugas

Cerita para Pahlawan Kobaran Api, Pertaruhkan Nyawa

SANG PEJUANG: Sujiwo Taruna Bangsa (baju biru) dan Muhammad Fadlani (baju oranye) saat berbagi pengalaman dalam menjalankan tugas kepada Radar Tarakan, Rabu (22/1).

Kabar kebakaran hebat di Pasar Batu, Kelurahan Sebengkok yang terjadi pada Senin (20/1) siang, masih terngiang-ngiang di telinga. Amukan si jago merah, akhirnya benar-benar berhasilnya dijinakkan setelah 6 jam menghanguskan sekitar 178 rumah dan toko di Pasar Batu. Lantas apakah sempat terpikirkan oleh Anda, kisah di balik perjuangan memadamkan api tersebut? Berikut kisahnya.

 

LISAWAN YOSPEH LOBO

 

DI tanggal cantik, 20-01-2020, menjadi duka mendalam bagi masyarakat Kota Tarakan. Secepat kilat, si jago merah melenyapkan pasar tradisional, yang dibangun sektiar 1967 silam. Namun berkat upaya petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bersama warga Tarakan dan beberapa instansi yang turut andil memadamkan api.

Rupanya, di balik perjuangan itu, ada kisah mendalam dari beberapa petugas petugas pemadam. Ya, Muhammad Fadlani (28) dan Sujiwo Taruna Bangsa (28).

Secara ekslusif, kedua pria ini berbagi kisah pengalaman selama mengemban tugas mulia ini.

Pira yang akrab disapa Fadlan, pertama kali bergabung saat 2010 lalu. Konon jiwa sosialnya ini sudah tumbuh sejak dia masih kecil. Suka dengan tantangan dan berpetualang, nampaknya menjadi modal untuk menjadi personel pemadam. Saat di lapangan pun, ada rasa kepuasan saat membantu warga.

“Masuk pemadam bukan hal yang mudah, karena dituntut untuk evakuasi korban, makhluk hidup lainnya, dan benda-benda yang bisa diselamatkan. Saya suka tantangan dan membantu, karena dari kecil sudah ada jiwa sosial,” katanya mengawali cerita, Rabu (22/1).

Dahulu, dia ingin bekerja di kantoran. Ya, sesuai dengan latar pendidikannya di bidang informatika.

“Karena saya lulusan STMIK PPKIA, jadi mau kerja sesuai dengan skill yang saya miliki berkenan dengan komputer. Tapi saya lebih suka tantangan dan petualang, jadi mau kerja di pemadam,” lanjutnya.

Menikah di 2016, saat ini dia sudah dikarunai seorang anak berusia 2 tahun. Konon, sang istri sudah paham betul dengan risiko pekerjaannya. Sebelum mengikat janji suci pernikahan pun, dia sudah membeberkan segala kondisi dan risiko pekerjaannya ini.

“Dengan kondisi kerja saya, dia sering khawatir. Biasa menelfon, tapi saya tidak angkat kalau pas lagi kerja di lapangan. Sebelum jadi istri juga saya sudah beri tahu segalanya,” katanya.

Sangat dramatis saat dia bertugas memadamkan kobaran api di Pasar Batu, Senin (20/1) kemarin. Serpihan kaca dan balok, melukai sekujur tubuhnya. Dilakukan pertolongan pertama, dia pun diobati di PMI Tarakan.

Rupanya, kejadian ini terdengar oleh sang istri di rumah. Tanpa berpikir panjang, istrinya justru menyusul di tempat kejadian kebakaran. Namun sayangnya, terpisah dengan kerumunan warga, juga fokus membantu, dia tidak sempat menghampiri sang istri.

“Dikabari sama temannya, bahasanya seperti ini. Kamu tidak lihat suamimu kerja kah, saya lihat tadi dia kena luka robek di tangannya. Dengar itu, dia langsung datakng ke TKP. Setelah diobati, saya kembali ke lokasi, tapi tidak bisa bertemu dengan istri,” tuturnya.

Ya, ada saja kendala selama di lapangan. Memadamkan api di tengah padatnya permukiman warga, yang retata berbahan kayu. Itu pun sudah tua, dan mudah terbakar. Diperparah dengan angin kencang dan cuaca yang sangat panas.

Belum lagi warga yang justru menonton peristiwa itu. Kendaraan berlalu lalang, juga menghambat proses memadamkan amukan si jago merah ini.

“Kita minim di kondisi air, suplai kita terhambat karena macet di beberapa titik. Jadi itu salah kesulitan kita saat bekerja. Kabut asap, kita juga kurang tabung oksigen, sehingga akses kita mau maju ke depan terhambat. Jadi ke depan, mohon kerja samanya untuk warga agar tidak menonton di lokasi,” imbaunya.

Lain lagi dengan kisah yang dialami Sujiwo Taruna Bangsa. Pria asal Bone, Sulawesi Selatan ini harus reschedule sesi foto untuk prawedding.

Ya, merencanakan prawedding di tanggal cantik, 20-01-2020 harus gagal. Dia lebih mengutamakan pekerjaannya, demi memberikan perlindungan dan keselematan kepada warga. Sesuai dengan sumpah janji yang sudah diucapkan sekitar 10 tahun silam, harus dituntaskannya.

Padahal, di hari yang sama, calonnya sudah berdandan di salon, dan lengkap dengan gaunnya. Dia pun sudah gagah, rapi dengan pakaian jasnya. Namun, belum melangkahkan kaki ke lokasi tempat pemotretan, dia harus membatalkan rencananya yang sudah dirancang jauh hari sebelumnya.

“Semuanya sudah siap. Calonku sudah make up di salon, sudah pakai gaun. Saya di rumah menunggu, tinggal berangkat ke lokasi yang rencananya di kantor kampung 1. Tapi saya dapat informasi ada kebakaran, jadi saya batalkan sesi pemotretan,” katanya dengan legowo.

Mau tidak mau, sesi pemotretan ini harus ditunda. Untungnya, calonnya yang diketahui bernama Citra, mengerti dengan pekerjaan sang dambaan hatinya ini.

“Meskipun ada kepentingan pribadi, tapi kepentingan masyarakat lebih utama. Saya bilang ke calonku, saya tidak hanya milikmu seorang, tapi milik masyarakat Tarakan juga. Alhamdulillah, karena sudah tahu pekerjaan saya, dia berbesar hati. Karena kerugian kami, tidak seberapa dengan harta benda korban,” ucapnya dengan penuh haru.

Saat di lokasi kebakaran pun dia kebanyakan menghirup kabut asap. Alhasil, dia diboyong ke markas PMI dan diberi oksigen. Setelah membaik, dia pun bergegas kembali ke lokasi kejadian. Lagi-lagi ditimpa kemalangan. Dia justru tertimpa kayu balok, tepat di dadanya.

Suara tangis dan teriakan korban, justru menjadi penyemangat untuk memadamkan api. Jiwa pemadamnya ini, konon sudah melekat sedari dia kecil. Maklum, paman dan ayahnya pun bekerja di pemadam.

Di saat orang berlarian menyelematkan diri, petugas pemadam justru maju untuk menyelematkan warga. Saat melangkahkan kaki dari rumah pun, dia tidak tahu pasti apakah masih bisa kembali ke rumah.

Yang dia tahu, tugasnya ini sungguh mulia. Mempertaruhkan hidup dan mati, demi keselematan warga.

“Ada kebanggan tersendiri saat menolong orang, ada rasa kepuasan dan kebanggan. Karena nyawa kami yang jadi taruhannya. Apalagi api tidak bisa ditebak, arahnya ke mana,” tutupnya. (***/lim)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers