MANAGED BY:
JUMAT
28 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 21 Januari 2020 11:48
Kelompok Bersenjata Makin Ganas, Nelayan Diminta Tak Dekati Perbatasan

Lima WNI Kembali Jadi Korban Penculikan

Kapolda Kaltara, Brigjen Pol Indrajit

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Kepolisian Daerah Kalimantan Utara (Polda Kaltara) begerak cepat pasca terjadinya penculikan lima Warga Negara Indonesia (WNI) di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Dikarenakan, lima WNI yang menjadi korban dibawa ke perairan Filipina.

Kapolda Kaltara Brigjen Pol Indrajit menyampaikan, Kaltara merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia dan Filipina baik laut maupun darat. Sehingga, langkah antisipasi dan koordinasi dengan Lantamal XIII Tarakan. Kemudian memberikan peringatan kepada nelayan agar lebih berhati-hati. Dan meminta nelayan agar saat beraktivitas tidak mendekati wilayah perbatasan.

“Kita kerja sama dengan TNI AL, tetap menjaga perairan kita dan juga mengingatkan nelayan untuk hati-hati. Kita tetap waspada dan mendukung langkah yang dilakukan Lantamal,” ucap Brigjen Pol Indrajit kepada Radar Kaltara.

Sementara Direktur Polisi Air (Ditpolair) Polda Kaltara Kombes Pol Heri Sasangka menjelaskan, peringatan dini sudah dilakukan. Dengan melakukan patroli perbatasan dan meminta nelayan tidak mendekati wilayah perbatasan. “Nelayan kita minta jangan terlalu mendekati wilayah perbatasan saat melaut,” bebernya.

Kemudian, aktivitas kapal dari Indonesia yang melintas menuju Malaysia diminta tidak dilakukan. Sebab, pengalaman sebelumnya kapal tugboat dari Kaltim pernah menjadi korban. Sehingga, ia menegaskan jika tidak ada jaminan pelayaran melalui jalur tersebut, agar tidak dilakukan. Pengamanan wilayah perairan armada Polda Kaltara setiap saat melakukan penjagaan. Sedangkan komunikasi dengan aparat Malaysia terus dilakukan.

“Pernah terjadi tugboat waktu saya masih di Polda Kaltim. Makanya saya imbau jangan lagi jika dari negara tetangga tidak menjamin wilayah perairan mereka. Komunikasi saat ini sangat intens dengan PDRM, setiap ada penculikan kita diberikan informasi untuk ikut waspada juga,” tuturnya.

Sementara Kepala Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu Krisna Djaelani pasca penculikan yang terjadi Kamis (16/1) lalu kini menerbitkan maklumat dengan empat poin tertanggal 20 Januari 2020 atas kejadian tersebut.

Di antaranya, Pemerintah Indonesia sangat menyayangkan atas terjadi kembali penculikan yang dilakukan kelompok bersenjata di perairan Sabah Timur yang melibatkan nelayan dan merupakan WNI menjadi korban. “Terus mendorong pihak terkait meningkatkan kewaspadaan dan mencegah agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” harapnya.

Selanjutnya, agar WNI yang berada di Sabah, Malaysia bekerja sebagai nelayan dan anak buah kapal (ABK) agar tetap waspada dan mematuhi peringatan yang telah diberikan saat berlayar di perairan Sabah.

Kemudian, dapat menghindari, menghentikan atau tidak beraktivitas pelayaran saat ini untuk menghindari insiden penculikan. Lantaran masih ada potensi ancaman keselamatan di sekitar perairan Sabah, Malaysia. “Kami berharap perhatian atas peringatan sebagai upaya perlindungan WNI, khususnya para nelayan dan ABK di wilayah Sabah, Malaysia,” ujarnya.

Berdasar informasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), lima di antara delapan awak kapal disandera. Lima WNI yang menjadi korban adalah Arsyad bin Dahlan (42) selaku juragan, Arizal Kastamiran (29), La Baa (32), Riswanto bin Hayono (27) dan Edi bin Lawalopo (53). Mereka langsung dibawa bersama kapalnya ke wilayah perairan Filipina. Lokasi penculikan lima WNI ini tidak jauh dari kasus penculikan sebelumnya.

”Sudah konfirmasi dari Konsul RI di Tawau bahwa benar terdapat lima awak kapal WNI yang bekerja di kapal ikan Malaysia hilang di perairan Tambisan, Lahad Datu,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) Judha Nugraha Judha melalui pesan singkat kemarin.

Informasi penculikan berawal dari laporan hilangnya kapal ikan dengan nomor registrasi SSK 00543/F. Di dalam kapal tersebut terdapat delapan WNI. Kapal itu semula terlihat memasuki perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia, dari arah Filipina pada Jumat (17/1) pukul 21.10 waktu setempat. Namun, informasi terakhir, ada tiga awak kapal WNI yang akhirnya dilepaskan penculik. ”Lima awak kapal WNI lainnya dibawa kelompok penculik,” terangnya.

Juru Bicara Kemenlu Faizasyah menuturkan, perwakilan Indonesia di Sabah (Malaysia) dan Manila (Filipina) sudah bergerak untuk membebaskan lima WNI tersebut. KJRI di Kota Kinabalu, Konsulat RI di Tawau, dan Kedutaan Besar RI di Manila sedang berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk mengumpulkan informasi.

Faiza menyesalkan penculikan WNI di perairan Sabah kembali terulang. Pihaknya mengimbau para nelayan yang biasa mencari ikan di perairan tersebut untuk tidak melaut demi keamanan.

Pada bagian lain, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Sisriadi menyampaikan bahwa pihaknya baru mengetahui kabar tersebut dari media di Malaysia. Institusi militer tanah air, kata dia, belum mendapat informasi resmi dari pemerintah.

Sementara itu, menurut pakar militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, pemerintah bukan hanya kali ini berhadapan dengan persoalan serupa. Insiden itu mirip dengan korban penculikan kelompok Abu Sayyaf yang belum lama berhasil dibebaskan otoritas Filipina.

Walau belum disebut secara pasti kelompok mana yang menculik lima WNI tersebut, Fahmi yakin para penculik adalah kelompok Abu Sayyaf. Sebab, perairan Sabah memang wilayah operasi mereka. Yang jadi masalah, kata dia, pemerintah seperti tidak punya solusi. Itu tampak lantaran penculikan dengan modus serupa berulang terjadi. Bahkan di daerah yang berdekatan dengan lokasi penculikan dalam kasus-kasus sebelumnya.

”Aksi berulang di area dan dengan modus operandi yang kurang lebih sama ini tentu harus menjadi pijakan dalam pembicaraan trilateral,” tutur Fahmi. Pembicaraan trilateral itu melibatkan Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Dia tahu betul, sudah ada pembicaraan, bahkan kerja sama di antara tiga negara tersebut. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih ada masalah. ”Apakah semua kesepakatan dan komitmen trilateral sudah on the right track,” ujarnya.

Fahmi menilai hal itu patut jadi pertanyaan. Sebab, sudah banyak wacana dan rencana yang digagas. Namun, masih belum berjalan efektif. Melihat kondisi tersebut, dia menilai, mestinya pemerintah memastikan lagi apakah program kerja sama berjalan efektif atau tidak, terkendala atau tidak, serta berhasil atau sebaliknya.

Dia menyampaikan, kelompok Abu Sayyaf tidak bisa dilihat hanya sebagai gerombolan pengganggu keamanan di Filipina. Sebab, operasi yang mereka lakukan dalam menculik WNI bersentuhan dengan tiga negara sekaligus.

”Filipina sebagai basis, Malaysia sebagai area operasi, dan Indonesia sebagai negara yang warganya menjadi target,” terangnya. Karena itu, Fahmi menekankan, pemerintah harus melihat kondisi tersebut sebagai persoalan serius. ”Satu orang saja warga negara terancam keselamatannya, itu sudah menjadi persoalan besar,” tegasnya.

Karena itu, Fahmi menambahkan, pemerintah harus lebih serius. Kerja sama yang sudah ada harus dipastikan benar-benar berjalan efektif. Saat ini, lanjut dia, tantangan yang perlu jadi perhatian adalah mempersempit ruang gerak kelompok Abu Sayyaf. ”Dan bagaimana menekan pemerintah Malaysia untuk lebih serius menjaga perairannya. Percuma saja patroli-patroli digelar jika salah satu pihak kendur,” paparnya. (akz/jpg/eza)


BACA JUGA

Kamis, 27 Februari 2020 14:19

Potensi Capai 21.580 MW, Apa Kabar Proyek PLTA di Kaltara..??

TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan salah satu provinsi…

Kamis, 27 Februari 2020 14:15

Kantor DPRD Disegel Mahasiswa

TANJUNG SELOR – Aksi yang dilakukan sejumlah mahasiswa Universitas Kaltara…

Kamis, 27 Februari 2020 13:59

Lebih Murah, Udang Vaname Jadi Pilihan

TANJUNG SELOR – Kehadiran udang vaname disebut-sebut sebagai penyebab terjadi…

Kamis, 27 Februari 2020 13:50

Australia Tertarik Investasi di PLTA dan KIPI

TANJUNG SELOR - Sekretaris II Bidang Ekonomi, Perdagangan dan Investasi…

Rabu, 26 Februari 2020 10:34

Memperkecil Angka Kecelakan dengan Road Safety

TANJUNG SELOR - Keselamatan berkendara atau road safety menjadi salah…

Senin, 24 Februari 2020 15:49

Udin-Yansen Siap-Siap Deklarasi

DR. Yansen TP, M.Si, bupati Malinau yang tengah menjabat periode…

Senin, 24 Februari 2020 15:22

Puluhan Blank Spot Akan Tersentuh Internet

TANJUNG SELOR – Sebanyak 24 blank spot atau tidak ada…

Senin, 24 Februari 2020 15:08

Zona Merah, BMKG Bilang Kaltara Rawan Karhutla

TANJUNG SELOR – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas…

Senin, 24 Februari 2020 15:02

Pemprov Godok Rapergub LP2B

TANJUNG SELOR - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) menggodok…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:11

Tidak Sinkron, Syarat Dukungan Dikembalikan

TANJUNG SELOR - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bulungan mengembalikan syarat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers