MANAGED BY:
JUMAT
17 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 11 Januari 2020 12:46
Nelayan Tercekik Masalah BBM

PROKAL.CO,  TARAKAN – Nelayan Tarakan mengeluhkan ragam masalah menyangkut kebutuhan mereka akan bahan bakar minyak (BBM). BBM subsidi selama ini menjadi andalan mereka, menggerakkan mesin sebagai tumpuan melaut.

Namun, belakangan BBM subsidi sejenis solar dan premium semakin terbatas. Bahkan premium sudah tak lagi disubsidi, namun kuotanya semakin berkurang.

Ketua Forum Pengawas Masyarakat Nelayan Kaltara Mas’ud H. Mansyur mengatakan persoalan terbesar yang harus dituntaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara adalah menyangkut BBM. Tidak hanya berhubungan dengan nelayan, juga berbagai aktivitas warga lainnya.

“Ini persoalannya rumit. Tetapi harus diselesaikan. Seperti kami, nelayan di Tarakan, ada sekira 4.000 yang bergantung pada BBM ini. Sekarang BBM ini sulit, seperti solar dan premium itu,” ujarnya, kemarin (10/1).

Wacana pemberlakuan rekomendasi pada 13 Januari 2020 bagi nelayan untuk membeli BBM menurutnya belum menjadi solusi konkrit. “Kebijakan seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru. Sebenarnya BBM-nya ini yang enggak mencukupi, sehingga masalah itu terus muncul. Sekarang, tidak hanya nelayan yang menggunakan BBM ini, ada pengendara, transportasi laut, petambak, dan juga nelayan dari luar Kaltara,” sebutnya.

Rekomendasi itu menyangkut jadwal dan kuota yang dapat diterima nelayan. Lagi-lagi, kata dia, selama ini rekomendasi yang dikantongi nelayan justru jauh dari kuota, atau BBM yang bisa dibeli.

“Misalnya di rekomendasi 1.000 liter dalam sebulan, lebih sering di bawahnya itu. Padahal kebutuhan nelayan ini 1.000 itu. Yang ada kadang cuma 500 liter, 600 liter. Namanya saja rekomendasi,” tambahnya.

“Kami sudah menyurat, ke mana-mana suratnya. Nelayan meminta agar dapat ditetapkan kuotanya, jadwal pendistribusiannya juga. Tapi minim tanggapan, mengenai keinginan nelayan ini. Masalah utama kita kurang BBM, nelayan di Tarakan mayoritas kebutuhannya solar. Tapi, apa mau dipaksakan mereka pakai pertamax, memang cukup uang mereka untuk membeli BBM?” tukasnya.

Pihaknya sempat mempertanyakan mengenai kuota BBM jenis premium dan solar. Menurutnya, nelayan melaut dengan BBM yang terjangkau.

“Ada memang BBM jenis lain. Tapi, apakah relevan dengan kebutuhan kami, modal nelayan ini,” ujarnya.

Ia pun meminta keseriusan pemerintah melakukan penataan terhadap distribusi BBM. Jika memang harus ditambah, maka sebaiknya diusulkan dan dikawal.

“Ini juga menjadi masalah, pengawasannya. Siapa yang mengawasi sekarang? Coba turun ke APMS, sering kacau. Nelayan ini jadi korban, berselisih di bawah. Padahal yang mereka cari itu demi kesejahteraan, demi makan keluarganya,” jelas pria yang juga wakil ketua Perhimpunan Nelayan Kecil (PNK) Tarakan.

“Ada lagi soal pemerintah katanya enggak punya kewenangan melakukan pengawasan. Nah, untuk apa pemerintah kalau enggak bisa mengatur ini. Enggak bisa menjamin kesejahteraan masyarakatnya,” terangnya.

 

JERIKEN PLASTIK DIAWASI

Sementara penggunaan jeriken berbahan plastik sebagai wadah BBM saat mengantre di agen penyalur minyak dan solar (APMS) atau stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) akan diawasi. Pasalnya, Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DPPP) Tarakan telah mengimbau agar para nelayan dan petani rumput laut menggunakan jeriken berbahan logam.

Kepala DPPP Tarakan Elang Buana mengatakan bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Perikanan dan Kelautan menyebutkan bahwa nelayan dan masyarakat yang bekerja pada bidang pertanian berhak menerima BBM bersubsidi. Sementara itu, dari pihak Pertamina menyarankan agar setiap nelayan maupun petani menggunakan jeriken berbahan logam.

“Tapi di Tarakan saat ini nelayan dan petaninya rata-rata menggunakan jeriken berbahan plastik,” ujarnya.

Nah, untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang menggunakan jeriken berbahan plastik, pemerintah melalui Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, telah mengeluarkan arahan untuk membuat jeriken berbahan logam sebagai bentuk pengembangan usaha mikro kecil menengah di Kota Tarakan. “Nanti kami akan menawarkan siapa yang bisa membuat jeriken berbahan logam yang sesuai standar, ada yang 20 liter, 30 liter dan sebagainya. Tapi patokan harga dan berat jerikennya belum juga dibahas. Tapi kalau bisa yang ringan saja,” jelasnya.

Namun tak hanya bagi kaum nelayan dan petani tambak, penggunaan jeriken berbahan logam ini pun diwajibkan bagi seluruh masyarakat yang biasanya membeli BBM untuk keperluan di luar kendaraan.

Untuk itu, setiap nelayan maupun petani yang tidak memiliki jeriken berbahan logam wajib memiliki rekomendasi dari pihak pemerintah untuk mengambil BBM jenis subsidi maupun bersubsidi. Hal tersebut wajib dilakukan sebab ini merupakan aturan dari Pertamina.

Dalam pengambilan BBM, para nelayan maupun petani hanya dapat mengambil BBM di APMS dan tidak diperbolehkan di SPBU. Hal tersebut dilakukan karena untuk mengurangi antrean panjang di SPBU. Meski pelayanan penyaluran BBM hanya dapat dilakukan di APMS, namun Elang mengaku tentang adanya beberapa APMS yang kurang baik dalam melayani petani dan nelayan. Dalam hal ini, Elang menginginkan agar APMS melalui Pertamina dapat mengeluarkan surat pernyataan komitmen bagi APMS untuk dapat melayani petani maupun nelayan dengan baik.

Diakui Elang bahwa nelayan menggunakan solar bersubsidi terutama mesin 5 PK ke bawah. Pembagian solar ini bergantung pada kapasitas mesin nelayan. Namun hingga kini Elang belum menghitung rekomendasi yang telah diterbitkan pihaknya kepada nelayan. Terhitung 3.000 nelayan yang menggunakan solar bersubsidi, sedang petani tambak mencapai 9.000 jiwa. “Kenapa beda jumlahnya? Karena biasanya ada nelayan yang juga sebagai petani tambak,” ucapnya. (shy/lim)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 17 Januari 2020 11:06

2020, Potensi Karhutla di Pulau Ini Masih Ada

TARAKAN – Masih adanya musim kemarau yang terjadi pada tahun…

Kamis, 16 Januari 2020 14:40

Pajak di Tarakan Diklaim Masih Lebih Murah

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan berkeinginan mengoptimalisasi seluruh pundi-pundi…

Kamis, 16 Januari 2020 14:40

Bermodal Rp 4 juta, Mampu Raih Omzet Ratusan Juta Sebulan

Founder Project Salfa, Fatmawati (25) menggandeng Fitriani (28) berbisnis toko…

Selasa, 14 Januari 2020 09:43

Cuaca Ekstrem, Pohon Tumbang hingga Jalan Bergeser

TARAKAN- Hujan dengan intensitas tinggi yang yang mengguyur Tarakan mengakibatkan…

Selasa, 14 Januari 2020 09:41

Disemprot APAR, Api Terus Melahap Plafon

TARAKAN – Kepolisian langsung memasang garis polisi terhadap dua ruko…

Selasa, 14 Januari 2020 09:39

Lanud Anang Busra Siap Fasilitasi Olah Raga dan Seni

DANLANUD Anang Busra Kolonel Pnb HKD. Handaka mengatakan Lanud Anang…

Senin, 13 Januari 2020 14:50

Amblas, Jalan Ditutup Sementara

TARAKAN — Hujan yang mengguyur Tarakan sejak Sabtu (11/1) hingga…

Senin, 13 Januari 2020 07:12

BREAKING NEWS!! Pohon Tumbang hingga ke Badan Jalan

TARAKAN - Hujan yang terjadi sejak Senin (13/1) dini hari,…

Sabtu, 11 Januari 2020 12:46

Nelayan Tercekik Masalah BBM

 TARAKAN – Nelayan Tarakan mengeluhkan ragam masalah menyangkut kebutuhan mereka…

Sabtu, 11 Januari 2020 11:54
Satriyanti, Penulis Buku Taman Berlabuh

Awalnya Hobi, Berujung Jadi Penulis

Sambil menyelam minum air. Mungkin itu lah peribahasa yang cocok…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers