MANAGED BY:
JUMAT
24 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Kamis, 05 Desember 2019 12:49
Terinspirasi karena Orang Tua dan Pernah Gagal Tes Masuk Polisi

Mengenal Lebih Dekat Kapolres Tarakan, AKBP Fillol Praja Arthadira SH, S.IK

AMANAH BARU: AKBP Fillol Praja Arthadira sosok Kapolres Tarakan yang bertekad menyelesaikan masalah dengan melakukan pendekatan ke masyarakat.

PROKAL.CO, Pernah gagal saat mengikuti tes masuk kepolisian, tak membuatnya menyerah. Buah dari hasil kerja kerasnya kini dia diamanahkan jabatan baru oleh Kapolri. Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/3020/XI/Kep/2019, kepimpinan Kapolres Tarakan dari AKBP Yudhistira Midyahwan digantikan oleh AKBP Fillol Praja Arthadira. Pengalaman perdana akbpmenjabat sebagai kapolres.

 

Eliazar

LAHIR di Manokwari tanggal 10 Februari 1979. AKBP Fillol Praja Arthadira menghabiskan masa pendidikannya di Malang, Jawa Timur. Dari bangku sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) ia bersekolah di Kota Malang. Kemudian Sekolah Tingkah Menengah Atas (SMA) dia pindah ke Kota Pahlawan, Surabaya.

Lahir dari keluarga abdi negara, ayahnya berprofesi sebagai anggota Polri. Hal itu yang membuat Fillol sapaan akrabnya, ingin bercita-cita seperti sang ayah. Melihat sang ayah yang setiap harinya memakai seragam kebanggaan membuat dia, membulatkan tekad suatu hari akan memakai seragam yang sama dengan amanah yang sama.

“Dari dulu kalau ditanya cita-cita mau jadi apa, ya saya jawab mau jadi polisi. Pokoknya saya jawab jadi polisi, itu aja sudah,” kata ayah dari empat anak itu.

Tahun 1996, ia pun kali pertama mengikuti tes masuk anggota Polri melalui tes Akedemi Kepolisian (Akpol). Namun di tahun itu, keberuntungan tidak berpihak padanya. Ia gagal mengikuti tes. Bagi Fillol, kegagalan saat itu bukan hal yang membuatnya meneyerah menggapai cita-cita.

Semangat menjadi anggota Polri masih membara di hatinya. Tahun berikutnya, dia merasa memiliki banyak saingan di Kota Surabaya, dia mencoba peruntungan dengan mengikuti tes di Kota Malang. Ternyata benar. Fillol menganggap Kota Malang merupakan rezeki baginya. Di tahun 1997 itu ia berhasil masuk Akpol, saat mengikuti tes di Kota Malang.

“Tiga tahun pendidikan, saya lulus tahun 2000. Penempatan saya pertama di Kota Cirebon,” jelasnya. 

Di Kota Cirebon ia berdinas selama 4 tahun. Sejumlah jabatan pun ia emban di Kota Cirebon. Mulai dari Kanit Resintel, Kanit Buser dan Kanit Patroli Lalu Lintas. Tahun 2004, ia dipindahkan ke Bogor dan menjabat sebagai Kanit Regiden. Kegagalan kembali dirasakan oleh Fillol saat ingin tes masuk Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Namun Fillol, kembali menunjukkan kegigihannya dengan tak menyerah menggapai yang impiannya. Di tahun 2006 ia berhasi masuk PTIK dan selesai pada akhir 2007.

“Kemudian di tahun 2008, saya masuk ke Baharkam Polri. Di situ saya ditempatkan di Kakorlantas,” tuturnya.

Lebih lanjut Fillol menceritakan, saat berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) ia pun sempat menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Kabupaten Tasik dan pernah menjabat Kasat Lantas Polres Kerawang. Setelah itu, ia dipromosikan menjadi Kapolsek Andir Polrestabes Bandung. “Setelah itu saya ditarik ke Polda Jabar dan Kasi SIM,” tuturnya.

Beberapa jabatan yang pernah diamanahkan di Polres, lebih banyak menghabiskan di Satuan Lalu Lintas (Satlantas). Pada tahun 2016 ia menjalani pendidikan Sespim. Setelah pendidikan, ia ditempatkan Kasubbagrenmin Yanma Mabes Polri. “Kemudian di tahun ini saya ditunjuk sebagai Kapolres Tarakan,” sebut suami dari Jesica Permatasari. 

Hampir 20 tahun menjadi anggota Polri, segudang pengalaman sudah didapatkan Fillol. Bahkan saat menjabat di Cirebon menjadi salah satu tantangan tersendiri baginya. Ia menilai masyarakat di sana saat itu sangat berani melawan petugas. Hampir tiap pekan, ia menghadapi adanya tauran antar kampung. Bahkan ada beberapa teman dari Fillol yang bertugas saat itu, terkena peluru senapan angin.

“Saat itu perlengkapan belum selengkap sekarang. Jadi kita bismillah aja kalau sudah melakukan pengamanan,” ungkapnya.

Ia menilai, setiap daerah di mana ia tugaskan, memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Termasuk Kota Tarakan. Untuk menghadapi hal-hal seperti itu, Fillol selalu menjunjung untuk lebih melakukan pendekatan terhadap masyarakat.

Termasuk saat menjabat sebagai Kapolres Tarakan, ia memastikan akan melakukan pendekatan terhadap tokoh adat, agama dan masyarakat. Hal seperti perlu ia lakukan, guna bisa menyelesaikan suatu konfilik atau permasalahan, yang bisa saja terjadi.  “Masalah konflik sosial dan agama menjadi atensi bagi saya di sini. Semua daerah sama,” katanya.

Belum sebulan bertugas di Tarakan, ia pun sudah berkeliling melihat kondisi Bumi Paguntaka. Bahkan mengunjungi beberapa tokoh agama maupun masyarakat. Ia menilai, Tarakan merupakan kota yang sangat maju. Ia menegaskan hukum di Indonesia pastikan akan ia tegakkan di Tarakan. Apapun permasalahan itu.

“Saya mau mencoba untuk menggugah kalau kita semua mengadu hidup di kota yang sama dan hidup bersama-sama secara berdampingan. Tarakan ini unik, kalau tidak salah ada 35 payuguban di Tarakan,” harapnya. (***/nri)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers