MANAGED BY:
SENIN
27 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

ADV

Rabu, 04 Desember 2019 09:10
Bayi Mizyan, Penderita Dermatitis Seboroik yang Kini Berjuang Bersama JKN-KIS
DITANGGUNG BPJS KESEHATAN: Pasien bayi Mizyan, penderita penyakit dermatitis seboroik saat ini sedang menjalani perawatan medis di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dengan biaya JKN-KIS. FOTO: IST

PROKAL.CO, NUNUKAN - Mizyan Haziq Abdillah, bayi berusia 6 bulan putra dari pasangan Nurul Qomar (31) dan Finki Kurnia (22) warga di perbatasan Indonesia- Malaysia, Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan ini sempat viral akibat penyakit langka yang menyebabkan kulitnya keras seperti plastik dan mengelupas. 

Berdasarkan hasil penelitian patologi anatomi di RSUD Nunukan, bayi Mizyan didiagnosis menderita dermatitis seboroik. Setelah 2 minggu dirawat di RSUD Nunukan, keadaan bayi Mizyan berangsur pulih dan kini sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 

Beruntung, bayi Mizyan telah memiliki jaminan kesehatan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

 

Qomar, ayah Mizyan menceritakan bahwa anak semata wayangnya ini sebelumnya lahir normal dan mengalami tumbuh kembang seperti bayi pada umumnya. Namun, saat berusia 3 bulan, pada ketiak bayinya terdapat benjolan sebesar kacang yang berisi cairan berupa nanah. 

“Benjolan berisi nanah tersebut sebelumnya sempat sembuh, tetapi seminggu kemudian pada lipatan kulit Mizyan tumbuh bintik-bintik merah dan ruam. Ruam merah itu lambat laun menyebar hampir ke seluruh tubuh Mizyan. Waktu itu saya bawa ke dokter spesialis kulit di Tarakan, seminggu kemudian bintik-bintik merah dan ruam merah sembuh dengan diberikan obat salep,” kata Qomar menceritakan.

Kondisi Mizyan sempat normal selama dua minggu, sebelum kemudian kulitnya mengalami kering dan kasar. Lama-kelamaan kulit bayi tersebut mengeras seperti plastik jika dipegang. “Kalau dipegang agak keras seperti lapisan plastik, tidak kenyal seperti kulit bayi biasanya,” ujar Qomar.

Kulit yang mengeras lama-kelamaan mulai mengelupas dan pada bagian tertentu mengelupasnya kulit disertai adanya darah. Selama dua bulan dengan kondisi tersebut, bayi Mizyan sempat dibawa berobat ke RSUD Tarakan dan Malinau sampai akhirnya dirujuk ke RSUD Nunukan. Qomar yang berprofesi sebagai buruh serabutan di kebun sawit ini tertolong berkat adanya Program JKN-KIS, dimana dirinya dan keluarga terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan.

“Alhamdullilah saya telah terdaftar sebagai PBI. Selama menjalani perawatan di RSUD Nunukan, pelayanan yang diberikan sangat baik. Kami betul-betul diperhatikan, bahkan selalu diingatkan setiap kali harus minum obat. Sempat masuk di kelas 3, kami akhirnya dipindahkan ke ruang VIP dikarenakan banyaknya pengunjung yang antusias melihat kondisi bayi kami. Untuk menghindari infeksi akibat kontak langsung dengan pengunjung dan supaya proses pengobatan berjalan optimal, bayi kami dirawat di ruang VIP sampai berangsur pulih dan dipulangkan,” jelasnya.

Direktur RSUD Nunukan dr. Dulman saat dihubungi menjelaskan bahwa sejak dirujuk ke RSUD Nunukan, bayi Mizyan langsung ditangani 4 dokter spesialis agar penyembuhannya lebih maksimal. Selain itu untuk mengurangi kontak langsung dengan pasien lain, bayi Mizyan dipindahkan ke ruang VIP dan pengunjung yang akan menjenguk pun saat itu dibatasi oleh pihak rumah sakit.

 

“Untuk menghindari kontak dengan pasien dan keluarga pasien lainnya, jadi kita pindahkan ke ruang VIP. Supaya kondisinya lebih tenang, lebih bersih dan penyembuhan lebih maksimal. Selain itu pengunjung juga kita batasi karena takutnya membawa kuman dari luar yang bisa menyebabkan inveski sekunder,” kata Dulman.

 

Saat ditanya apakah ada iur biaya selama dirawat di ruang VIP, Dulman dengan mantap mengatakan bahwa tidak ada iur biaya dikarenakan kondisi tersebut memang dibutuhkan oleh pasien. Pasien sendiri sudah terjaminkan seluruhnya oleh Program JKN-KIS sebagai peserta PBI.

 

“Tidak ada iur biaya, pasien juga sudah terjamin dalam program JKN-KIS dan pelayanan yang diberikan sesuai prosedur yang ada. Kondisi bayi yang memang masih rentan maka lebih baik jika ditempatkan di ruang VIP,” ungkapnya. 

 

Dulman menambahkan, tim medis yang dibentuk untuk menangani bayi Mizyan telah bekerja semaksimal mungkin merawat sambil berdiskusi dengan dokter-dokter pengalaman dari RSUD lainnya untuk penyembuhan penyakitnya. Alhamdulillah, kondisinya dapat ditangani dan bayi Mizyan berangsur pulih.

 

“Setelah 2 minggu dirawat, bayi Mizyan sudah pulih dan dapat kami pulangkan. Namun mengingat diperlukannya pemeriksaan yang lebih mendalam terkait penyebab dermatitis seboroik tersebut, bisa karena auto imun atau faktor lainnya, orang tua Mizyan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Namun tetap dengan menggunakan kepesertaan JKN-KIS nya,” tuturnya mengakhiri perbicangan. (adv/oki/har)

 

loading...

BACA JUGA

Kamis, 17 September 2015 15:41

Upaya Ciptakan Ketahanan Pangan

<p><strong>MALINAU</strong> - Rembug tani guna mewujudkan program swasembada beras…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers