MANAGED BY:
JUMAT
24 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Jumat, 29 November 2019 14:34
Api Biru Harapan Emak-Emak Agar Dapur Tetap Mengepul

Melihat Manfaat Jargas bagi Masyarakat Bumi Paguntaka

API BIRU: Keberadaan jaringan gas rumah tangga PGN memudahkan ibu rumah tangga (IRT) dalam memasak makanan di dapur.

PROKAL.CO, Sebelum 2015 masyarakat Bumi Paguntaka, sebutan Kota Tarakan merasakan sulitnya mendapatkan sumber energi untuk keperluan dapur rumah. Masyarakat masih bergantung pada liquified petroleum gas (LPG) 3 kg yang terbatas dan sering mengalami kelangkaan. Harapan bisa memasak menggunakan si api biru dengan nyaman terwujud ketika Perusahaan Gas Negara (PGN) membangun jaringan gas (jargas) rumah tangga.

 

JANURIANSYAH

 

TAHUN 2015 menjadi awal harapan kaum emak-emak yang ada di Tarakan untuk dapat menggunakan api biru dengan nyaman. PGN mendapatkan penugasan melalui Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 3337 K/12/MEM/2015, pengoperasian jargas rumah tangga yang dibangun oleh pemerintah di 11 wilayah yang ada di Indonesia, salah satunya Tarakan.

Tahun-tahun sebelumnya pemanfaatan sumber energi untuk memenuhi kebutuhan memasak di masing-masing dapur rumah yang ada di Tarakan masih bergantung pada LPG.

Salah satu ibu rumah tangga (IRT) yang tinggal di Kelurahan Selumit Pantai, Tini Suryanti menceritakan, sebelum LPG, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari memasak makanan di dapur dirinya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak tanah.

“Tidak menggunakan minyak tanah lagi setelah ada kebijakan dari pemerintah di mana minyak tanah diganti menjadi LPG 3 kg,” tuturnya.

Kebijakan untuk mengganti minyak tanah ke LPG 3 kg pada saat itu, dinilai tidak memudahkan masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan kegiatan di dapur setiap harinya. Stoknya yang terbatas membuat kelangkaan.

“Belum lagi ada permainan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang membuat kami sebagai ibu rumah tangga harus mengeluarkan uang lebih di atas harga eceran tertinggi (HET). Permainan ini masih ada sampai saat ini,” ungkapnya.

Hadir pada tahun jargas tahap kedua sebanyak 21 ribu sambungan, membuat masyarakat terbantu. “Alhamdulillahsekarang tidak pusing-pusing lagi, tinggal menyalakan kompor yang sudah tersambung jargas, sudah bisa memasak dengan api birunya, kalau dulu kalau tidak ada LPG 3 kg, terpaksa membeli LPG Malaysia yang harganya lumayan mahal,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan IRT lainnya yang tinggal di Kelurahan Karang Rejo, Fauziah yang sangat terbantu adanya jargas rumah tangga. Sebelumnya harus bersusah payah mencari sumber energi yang bisa digunakan untuk memasak. “Pernah dulu sempat tidak sempat mendapatkan LPG 3 kg, terpaksa kami mamasak menggunakan kayu, tapi sekarang kami tidak khawatir lagi karena sudah ada jargas rumah tangga yang dibangun PGN yang bisa kami gunakan untuk memasak,” ungkapnya.

PGN di Tarakan sudah membangun 29.061 sambungan. “Intinya kami sangat terbantu, tidak lagi harus keliling-keliling lagi nyari LPG 3 kg. Pemanfaatan gas alam sebagai sumber energi juga merupakan ciri-ciri kota maju,” ujarnya.

Sales Representative PGN Area Tarakan Bramantya Saputra mengatakan, kehadiran PGN di Tarakan selain menjalankan tugas sesuai dengan Kepmen ESDM Nomor 3337 K/12/MEM/2015, juga sebagai peran strategisnya sebagai subholding gas.

“Kami juga memiliki tujuan untuk mempercepat pengembangan infrastruktur dan memperluas manfaat gas bumi ke seluruh wilayah Indonesia,” tuturnya.

Dirinya mengungkapkan tidak semua wilayah bisa dilakukan pembangunan jargas rumah tangga. Syarat mutlaknya adalah wilayah tersebut harus memiliki sumber energi yakni gas alam.

“Syarat lainnya adanya support(dukungan) dari pemerintah daerah dalam hal perizinannya hingga membantu dalam menyosialisasikan hal ini. Bila hal ini dipenuhi pasti Kementerian ESDM akan menjadikannya prioritas dalam hal pembangunan jargas rumah tangga,” ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan, sebelum PGN masuk ke Tarakan, pembangunan jargas rumah tangga di Tarakan dimulai pada tahun 2010 oleh perusahaan daerah (perusda), tahap pertama ada 3.366 sambungan yang dibangun dan beroperasi pada tahun 2011.

“Baru pada 8 Januari 2016 diserahkan ke kami, dimana pada saat itu ada 3.356 sambungan, 10 sambungan pada saat masih di tangan perusda dicabut karena tidak membayar,” bebernya.

Pada tahun yang sama, dilakukan pembangunan tahap kedua jargas rumah tangga sebanyak 21 ribu sambungan. Dilanjut pembangunan tahap ketiga pada tahun 2018 sebanyak 4.696. Hingga November tahun 2019 sudah ada 4.237 sambungan.

“Jadi untuk tahap ketiga masih ada 459 sambungan lagi yang masih akan dikejar targetnya,” tuturnya.

Sambungan 29.061 mencakup 75 persen rumah tangga di Tarakan. “Tahun depan akan dilakukan pembangunan tahap keempat jargas rumah tangga dengan total 5.084 sambungan, hal ini menandakan Tarakan menjadi salah satu kota yang memiliki sumber energi gas yang baik,” tuturnya.

Dirinya mengungkapkan saat ini untuk untuk memenuhi kebutuhan gas yang didistribusikan melalui jargas rumah tangga, gas disuplai oleh Medco E&P Tarakan dan Pertamina EP Bunyu Field.

“Pada dasarnya kehadiran PGN di Tarakan untuk memberikan kemudahan masyarakat dalam pemanfaatan energi untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya. (***/lim)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers