MANAGED BY:
MINGGU
08 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL
Kamis, 14 November 2019 11:39
Legenda Kampung yang Berubah Menjadi Batu

Batu Balui, Destinasi Wisata Baru di Taman Nasional Kayan Mentarang

DESTINASI BARU: Staf Balai TNKM bersama masyarakat adat Desa Apau berfoto di Batu Balui yang merupakan destinasi wisata baru di TNKM.

PROKAL.CO, Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) selain memiliki berbagai satwa yang dilindungi untuk dijadikan daya tarik wisata, juga memiliki destinasi wisata baru, yakni Batu Balui yang merupakan batu besar yang bila dicermati, menyerupai sekumpulan orang dan ada juga yang menyerupai bentuk binatang. Menurut legenda Batu Balui merupakan perkampungan yang berubah menjadi batu.

 

Januriansyah

 

PERJALANAN mengunjugi destinasi wisata baru Batu Balui di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), setidaknya harus mempersiapkan fisik dan mental yang kuat sebagai seorang penjelajah. Sebab perjalanannya menuju ke destinasi itu, lumayan memakan waktu cukup lama.

“Bisa melalui Tanjung Selor dan Malinau. Jika melewati Tanjung Selor harus naik long boat menuju ke Pujungan yang memakan waktu sekitar 2 malam. Setelah itu naik ketinting melewati Long Alongo 2 jam dan Apau Ping 2 jam,” tutur Johnny Lagawurin, Kepala Balai TNKM.

Sementara untuk rute dari Malinau harus melewati Lejo terlebih dahulu menunggu long boat, setelah itu perjalanan nanti melewati Pujungan, Long Alango dan tiba di Apau Ping.

“Untuk dapat tiba di Batu Balui, kita harus berjalan kaki lagi selama 2 jam, setelah itu kita bisa melihat batu besar yang bila dicermati menyerupai sekumpulan orang dan ada juga yang menyerupai bentuk binatang,” tuturnya.

Legenda Batu Balui, sudah menjadi cerita turun-temurun masyarakat di Desa Apau Ping, di mana menceritakan tentang berubahnya suatu desa dan warganya menjadi batu pada ribuan tahun silam.

“Jadi menurut cerita yang berkembang di masyarakat Desa Apau Ping, sejarah terbentuknya Batu Balui berawal dari sekolompok orang dari desa lain yang ada di sekitar Desa Apau Ping yang pergi berburu dan mencari buah-buahan di hutan yang kini sudah menjadi TNKM,” tuturnya.

Pada saat pergi ke hutan kelompok tersebut membawa serta anjing peliharaannya sebagai petunjuk berburu dan juga menemani sepanjang perjalanan, sepanjang perjalanan kelompok tersebut mendapatkan buah cempedak (artocarpus integer) dalam jumlah banyak.

“Sangking banyaknya buah cempedak tersebut, wadah yang telah mereka siapkan tidak mampu menampung buah-buah itu,” tuturnya.

Kelompok tersebut akhirnya mengikatkan buah cempedak tersebut ke kaki dan ke badan anjing yang diajak berburu, tujuannya tidak lain agar buah cempedak yang didapatkan bisa dibawa pulang ke desa.

“Sesampai di desa, perawakan anjing yang diikat dengan buah cempedak terlihat aneh, hal ini membuat semua orang di kampung menertawakan anjing-anjing tersebut,” tuturnya.

Setelah menertawakan perawakan anjing, tiba-tiba muncul suara gemuruh angin berhembus sangat kencang yang mengakibatkan rumah beserta fasilitas yang ada di desa tersebut porak-poranda.

“Bahkan warga kampung terseret hingga terkumpul jadi satu dalam pusaran angin tersebut, disusul hujan es yang terus menerus menghujam hingga membuat apa saja yang ada dalam pusaran angin itu membeku dan seketika berubah menjadi batu dengan ukuran yang sangat besar,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, bahwa kata Balui dalam Bahasa Dayak Kenyah yang ada di Desa Apau Ping memiliki arti berubah, adapun Dayak Sa’ben menyebutnya dengan Baliu atau Baliyu.

“Jadi bila di terjemahkan dengan Bahasa Indonesia, Batu Balui memiliki arti berubah menjadi batu,” ungkapnya.

Selain bisa melihat secara langsung bentuk Batu Balui, bila beruntung bisa juga melihat Banteng Borneo (Bos javanicus-javanicus) yang habitat ada di sekitar Batu Balui.

“Bila ingin melihat keindahan TNKM bisa juga masuk lebih dalam, pada intinya kita ingin memberikan wisata yang beda dari pada wisata-wisata yang ada saat ini, di mana wisata di TNKM lebih bagaiamana memberikan tantangan dan sensasi para adventure menjelajahi alam,” pungkansya. (***/nri)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.