MANAGED BY:
KAMIS
21 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 06 November 2019 09:47
Populasi Banteng Borneo di TNKM Meningkat
Banteng Borneo hidup di sejumlah daerah di Kalimantan. Di Taman Nasional Kayan Mentarang, populasinya baik.

PROKAL.CO, TARAKAN - Dari pengamatan yang dilakukan Tim Monitoring SPTN II Long Alango pada bulan Oktober, terjadi peningkatan populasi banteng Borneo (Bos javanicus-javanicus atau Bos javanicus lowi) yang hidup bebas di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau.

Kepala Balai TNKM Johnny Lagawurin mengatakan, bila tahun sebelumnya pengamatan yang dilakukan Tim Monitoring SPTN II Long Alango terlihat ada 13 ekor banteng Borneo yang muncul di padang rumput yang ada di Long Tua, tahun ini ditemukan ada 15 ekor.

“Lokasi kemunculannya memang merupakan habitat dari banteng Borneo di TNKM, di mana grazing (lokasi merumput) yang memiliki 188,1 hektere tersebut sebagai sumber makanan banteng Borneo,” tuturnya.

Dari pengamatan terbagi menjadi 7 blok yakni blok A sampai dengan blok G ditemukan 15 ekor, di 3 blok yakni blok G terdapat 2 ekor jantan dewasa dan 4 ekor betina dewasa, blok F terdapat 1 ekor betina dewasa dan blok D terdapat 2 ekor jantan dewasa dan 6 ekor betina dewasa.

“Keseluruhan banteng Borneo ini terdokumentasi cukup detail melalui metode pengamatan langsung maupun camera trap (kamera jebakan),” ungkapnya. Dirinya mengungkapkan banteng Borneo merupakan salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. “Berdasarkan data status konservasi International Union for Conservation of Nature Red List (IUCN-Red List), banteng Borneo dikategorikan sebagai satwa yang terancam punah,” tuturnya.

Sebagai upaya meningkatkan populasi banteng Borneo, TNKM bersama masyarakat setempat melakukan pengelolaan habitat, terutama pakan yang layak untuk dimakan. “Dengan adanya dukungan pengelolaan habitat dan pakan, kami harapkan adanya peningkatan populasi,” ujarnya.

 

BEDA SUB SPESIES DENGAN DI JAWA

Dikutip dari laman yang diterbitkan Januari lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), banteng merupakan salah satu hewan asli Asia Tenggara, dan salah satu mamalia besar Indonesia yang memiliki status dilindungi. Bahkan oleh IUCN Redlist mengkategorikan banteng sebagai satwa yang terancam punah atau endagered.

Terdapat 2 sub spesies banteng yang ada di Indonesia, yakni Bos javanicus javanicus dengan sebaran di Pulau Jawa dan Bos javanicus lowi yang sebarannya ada di Kalimantan, tepatnya di Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Kayan Mentarang serta di Blantikan, Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah.

Titik sebaran banteng di Taman Nasional Kayan Mentarang berada di padang penggembalaan Long Tua SPTN II Long Alango. Di kawasan tersebut banteng menjadi objek konservasi dengan target peningkatan populasi sebesar 2 persen setiap tahunnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, Apakah benar banteng di padang Long Tua murni banteng Borneo (Bos javanicus lowi) atau jenis banteng baru?

Berikut ulasan hasil analisis genetik banteng di padang rumput Long Tua.

Pada Tahun 1979, Padang Long Tua masih menjadi pemukiman masyarakat Dayak, dan banteng dinyatakan hidup secara bersama dengan sapi peliharaan pada masa itu. Bahkan tumpang tindih habitat masih terlihat hingga tahun 1990-an, di mana Taman Nasional Kayan Mentarang kala itu masih berstatus cagar alam.

Tidak hanya di Long Tua, fenomena tumpang tindih habitat antara banteng dan sapi juga terjadi di wilayah lain. Seperti yang terjadi di Kamboja, antara banteng (Bos javanicus) dengan zebu (Bos taurus) yang telah menurunkan jenis hybrid yang di kenal sebagai kouprey (Bos sauveli).

Melihat pengalaman tersebut, terdapat kekhawatiran terjadinya introgressi sapi peliharaan yang dialami oleh banteng di Long Tua. Oleh karena itu Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melakukan analisis genetik terhadap banteng yang ada di padang penggembalaan Long Tua, yang bekerja sama dengan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta.

Dalam pelaksanaannya menggunakan 4 metode, yakni pengumpulan sampel, ekstraksi DNA, amplifikasi DNA dan terakhir analisis data. Pengumpulan sampel materi genetik selain diambil di alam, juga diambil dari permukiman untuk mewakili krakteristik genetik sapi peliharaan. Yang kemudian dikelola oleh BBPBPTH guna penelitian di laboratorium genetika molekuler.

Berdasarkan hasil ekstrak DNA dari feses hanya ada 16 sampel yang dapat diukur konsentrasi kemurniannya dengan rasio kemurnian yang bervariasi, yakni berkisar antara 1,973–2,575. Sementara kisaran rasio optimal untuk kemurnian DNA adalah 1,8-2 (Sambrook & Russel, 2001).

Dari keseluruhan hasil ektraksi DNA, hanya 3 sampel yang memiliki kemurnian DNA yang masuk dalam rasio optimal. Sementara sampel lainnya memiliki rasio lebih dari 2,0 meskipun tidak terlalu banyak selisihnya. Namun demikian, seluruh DNA tetap dianalisis lanjut sampai ketahap amplifikasi.

Kemurnian DNA yang rendah diduga terkait ekstraksi DNA menggunakan qiaamp stool minikit QIAGEN dengan protokol yang telah dimodifikasi oleh Sekiguchi (2013). Dalam penelitian ini yang digunakan adalah sampel feses, sehingga jenis pakan, tingkat kebaruan sampel, cara preservasi dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas DNA.

Sementara itu, pada proses amplifikasi DNA yang menggunakan penanda DNA mitokondria yang dilakukan di daerah cytocrome B pada DNA mitokondria tersebut menunjukkan hasil dari seluruh sampel yang terukur kuantitas dan kualitasnya, dapat teramplifikasi dengan cukup baik.

Selain itu, terdapat 190 titik pembeda antara banteng yang terdapat di padang Long Tua dengan jenis lain pada kelompok bos (familia). Baik banteng dari Jawa dan Birma maupun kerbau. Namun titik polimorfik berkurang menjadi 62 titik jika banteng dari Long Tua dibandingkan dengan banteng Jawa maupun B.j lowi yang berasal dari Sabah, Malaysia.

berdasarkan karakter genetik (haplotipe), banteng di padang penggembalaan Long Tua memiliki 5 (lima) karakter genetik yang berbeda berdasarkan pada DNA mitokondria bagian cytochrome B. Demikian pula dengan jumlah haplotipe banteng Jawa. Sementara banteng lowi yang dijumpai di Sabah, Malaysia memiliki haplotipe lebih tinggi, yaitu 6 (enam) haplotipe.

Hasil yang telah dicapai pada tahap ini masih cukup bagus, kendati memiliki jumlah haplotipe yang sama dengan banteng Jawa, mengingat sampel yang terkumpul pada kegiatan analisis genetik banteng ini hanya terbatas pada padang penggembalaan Long Tua, SPTN II Long Alango di Taman Nasional Kayan Mentarang.

Di sisi yang sama juga tampak hasil analisis filogenetik yang menunjukkan bahwa banteng di Long Tua berada dalam kelompok terpisah dengan banteng Jawa dan banteng Birma. Namun lebih dekat dengan gaur atau Gayal (B. gaurus). Dan tanda-tanda menunjukkan bahwa banteng di Long Tua adalah banteng Kalimantan. (jnr/lim)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 21 November 2019 12:23

PLTA Sungai Mentarang Jadi Bendungan Tertinggi di Indonesia

MALINAU – Dukungan pemerintah daerah (pemda) dan pemerintah pusat terhadap…

Selasa, 19 November 2019 13:57

MANTAP..!! PLTA 1.375 MW Akan Dibangun di Malinau

MALINAU – PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN) akan membangun pembangkit…

Selasa, 19 November 2019 10:34

Menteri Utilitas Sarawak Kunjungi Malinau

MALINAU – Menteri Utilitas Sarawak, Malaysia Y.B. Dato Sri Dr.…

Jumat, 15 November 2019 15:18

Hidup Harmonis Tidak Ada Ruginya

MALINAU – Hidup aman, nyaman dan damai serta sejahtera menjadi…

Rabu, 13 November 2019 14:43

Cegah Konflik, Kodim Gelar Komsos Kebinekaan

MALINAU – Untuk mengantisipasi dan mencegah adanya konflik sosial di…

Rabu, 13 November 2019 14:24

Tangani Masalah Harus Gerak Cepat

MALINAU – Konflik suku, agama, ras dan antar golongan (sara)…

Selasa, 12 November 2019 15:01

Kita Dilahirkan untuk Mengisi Kemerdekaan!

MALINAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau, Senin (11/11) menggelar upacara…

Senin, 11 November 2019 12:15

ASN Tabu Membagikan Berita yang Tidak Baik

MALINAU – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si kembali mengingatkan…

Jumat, 08 November 2019 14:22

Melalui LKBB, Kepribadian Aparatur Desa Dibentuk

MALINAU – Setelah tahun 2018 lalu Lomba Kreasi Baris Berbaris…

Rabu, 06 November 2019 09:47

Populasi Banteng Borneo di TNKM Meningkat

TARAKAN - Dari pengamatan yang dilakukan Tim Monitoring SPTN II…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*