MANAGED BY:
KAMIS
23 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 28 Oktober 2019 14:26
Sempat Tidak Berniat Kuliah karena Terbentur Biaya

Kisah Dekan Hukum Universitas Borneo Tarakan, Yahya Ahmad Zein

MILENIAL: Yahya Ahmad Zein bersama bingkai cover buku karyanya

PROKAL.CO, Pendidikan merupakan bekal manusia dalam membangun peradaban kehidupan. Dengan pendidikan manusia dapat membangun sebuah wilayah. Pun hal-hal besar yang ada di dalamnya. Mungkin hal itulah yang memotivasi Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H, M.H, dalam berjuang menempuh pendidikan hingga akhirnya mengabdikan diri di Kota Tarakan.

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

YAHYA Ahmad Zein lahir di Kota Tarakan pada 14 Agustus 1979. Yahya panggilan akrabnya merupakan salah satu dosen terbaik di Universitas Borneo Tarakan (UBT). Ia juga masih menjabat sebagai dekan di Fakultas Hukum UBT.

Menjadi seorang tenaga pendidik sebenarnya bukanlah cita-cita awal. Namun perjalanan waktu membawanya sadar jika pendidikan merupakan hal terpenting dalam membangun peradaban kehidupan manusia.

Di era 90-an tidaklah mudah bagi seorang Yahya muda. Fasilitas yang minim, dan sulitnya akses informasi merupakan masalah yang dihadapi untuk menempuh pendidikan formal di Tarakan yang kala itu masih berstatus kecamatan, dalam wilayah Kabupaten Bulungan. Meski tidak bercita-cita memiliki pendidikan tinggi, namun ia memiliki tekad untuk membanggakan keluarganya.

“SD saya di SD Negeri 011, lanjut SMP Negeri 1 Tarakan dan SMA Negeri 1 Tarakan. Memang proses hidup saya tidak mudah. Waktu itu Kota Tarakan masih kecamatan. Sebagai anak yang lahir dan besar di Kota Tarakan, tentu saja waktu itu punya mimpi untuk paling tidak memajukan Tarakan. Saya termasuk salah satu dari sebagian warga Tarakan yang harus kuliah di luar karena waktu itu perguruan tinggi di sini masih seadanya,” ujar Yahya, kemarin (27/10).

Keterbatasan ekonomi keluarga, membuat ia tidak berkeinginan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Namun, atas kabar adanya beasiswa pemerintah bagi siswa berprestasi di Tarakan, ia punya harapan.

“Saya waktu itu terpaksa harus kuliah di luar daerah yaitu Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Waktu itu sebenarnya memang tidak ada niat untuk kuliah, karena kemampuan ekonomi orang tua juga terbatas. Waktu itu saya hanya berharap bisa ikut kursus saja, untuk bekal mencari kerja. Walaupun tidak ambisius untuk kuliah, tapi dulu ada namanya PMDK (penelusuran minat dan kemampuan). Itu semacam beasiswa yang menjamin calon mahasiswa masuk perguruan tinggi tanpa tes sesuai persyaratan,” tutur Zein.

Meski tidak terlalu menonjol dalam bidang akademik, namun ia selalu mendapat nilai sekolah yang memuaskan. Dengan bekal itulah ia memberanikan diri untuk mencoba peruntungan untuk mengubah nasibnya. Tak lupa ia juga mempersiapkan berkas lamaran kerja yang simpan sebagai bekal untuk mencari kerja sembari menempuh pendidikannya.

“Saya hampir tidak pernah keluar dari peringkat 10 besar setiap caturwulan. Kemudian, sebelum mendaftar kuliah saya juga sempat mengurus berkas syarat mencari kerja seperti kartu kuning, dan SKCK yang saya bisa gunakan nanti untuk mencari kerja sambil kuliah di Banjarmasin. Dengan adanya PMDK dan berbekal nilai sekolah yang lumayan, saya mencoba memberanikan diri mendaftar jalur itu berharap bisa kuliah dibiayai pemerintah. Akhirnya saya lolos dan diterima di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin,” kisahnya.

Salah satu universitas terbesar di Kalimantan itu membuka harapan dan mimpinya untuk melihat dunia yang lebih luas dari sebelumnya. “Diterimanya saya masuk universitas itu akhirnya membuat saya semakin bersemangat. Karena terus terang waktu itu, kami anak Tarakan jangankan sekolah di luar daerah, berangkat keluar Tarakan saja saya tidak pernah,” tukasnya.

Meski telah mendapatkan beasiswa, namun masalah baru hadir ketika hendak berangkat menempuh kuliah. Lagi-lagi biaya keberangkatan. Meski demikian, dengan tekad yang kuat para keluarga saling membantu mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk masa depan Yahya. Alhasil, dengan bersusah payah ia akhirnya dapat mengumpulkan biaya tersebut.

“Saya melihat kesempatan besar, karena tidak semua orang mampu lolos mendapatkan beasiswa ini. Setelah berdiskusi dengan orang tua akhirnya keluarga saya bahu-membahu membantu membiayai tiket saya ke sana,” kenangnya haru.

Setelah menempuh pendidikan 1 tahun, akhirnya ia mencari pekerjaan untuk mencukupi biaya hidupnya di Kalimantan Selatan. Dengan gaji yang ia terima dari bekerja, ia bisa bertahan dalam membeli beberapa peralatan kuliah.

“Semester 2, saya akhirnya memutuskan untuk sambil bekerja. Di samping kesibukan saya kuliah waktu itu, saya bekerja sebagai penyiar radio. Dari uang gaji saya itu akhirnya saya bisa memenuhi kebutuhan hidup saya di sana. Karena beasiswa hanya menanggung biaya perkuliahan saja, tidak menanggung biaya kebutuhan sehari-hari. Yahya menamatkan pendidikan S-1 di Unlam dengan predikat cumlaude.

“Saya sejak dulu memang senang membaca. Bahkan saya menghabiskan 1 buku dalam 1 sampai 2 hari. Jadi setiap minggu sekali saya datang ke perpustakaan untuk meminjam 3 buku. Saya habiskan untuk beberapa hari. Bahkan sampai sekarang saya masih menyimpan kartu perpustakaannya. Waktu itu saya menamatkan S-1 dengan waktu 3 tahun 6 bulan. Begitu juga saat mengambil S-2 dan S-3 saya juga lulus dengan predikat cumlaude. Kenapa saya memilih menjadi dosen, karena waktu itu menurut saya untuk memajukan daerah, maka kita harus membangun pendidikannya. Sehingga waktu itu, berniat membangun daerah mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar. Saya sendiri merasakan kuliah di luar sangat berat,” ucapnya.

Setelah lulus dan akhirnya memutuskan diri menjadi dosen, prestasi demi prestasi ia peroleh dari ketekunannya. Bahkan sembari mengabdikan diri sebagai pengajar, ia juga menulis beberapa buku dan di antaranya menjadi best seller.

“Untuk prestasi akademis saya sudah menulis 8 buku 3 di antaranya menjadi best seller di Gramedia dan mendapatkan penghargaan juara 1 dosen berprestasi tahun 2010 wilayah Kalimantan dan pernah masuk nominasi dosen terbaik tingkat nasional. Kemudian mendapatkan satya lencana dari Presiden RI tahun ini sebagai tenaga pengajar berprestasi dan masih banyak lagi yang saya tidak dapat sebutkan,” tukasnya.

Di peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, ia berpesan kepada generasi milenial agar tetap semangat dalam menempuh pendidikan dan bekerja. Menurutnya, semangat merupakan modal utama pemuda untuk mencapai cita-cita besar yang dimiliki pada setiap pemuda.

“Memaknai sumpah pemuda, menurut saya pemuda harus kembali membangun semangat kepemudaan di mana kalau kita melihat sejarah perjuangan bangsa, bagaimana pemuda memiliki peranan penting dalam mendobrak kemerdekaan. Tanpa semangat dan kekuatan dari pemuda, mungkin kita tidak akan merdeka hingga sampai saat ini. Sekarang kita sudah merdeka, dan saat ini saya kira tidak ada cara lain selain melalui karya dan prestasi,” ujarnya. (***/lim)


BACA JUGA

Selasa, 21 Januari 2020 11:43

HOROR..!! Speed ini Bocor Setelah Tabrak Kayu, Bagaimana Nasib Puluhan Penumpangnya...??

TARAKAN - Speedboat Malinau Express IX yang membawa 35 penumpang…

Selasa, 21 Januari 2020 11:34

INNALILLAHI...!! Terbakar..!! Pasar Tertua di Tarakan Rata dengan Tanah

API membumbung tinggi di bangunan berlantai dua, tepat di pinggir…

Selasa, 21 Januari 2020 11:29

Pasar Pertama yang Mengkhususkan Pisang

Pasar Batu Tarakan, belakangan identik sebagai pusat oleh-oleh. Sebagian pedagang…

Senin, 20 Januari 2020 12:59

BREAKING NEWS! Ditinggal Penghuni, Rumah kosong Terbakar

TARAKAN - Kebakaran terjadi di RT 24 Kelurahan Sebengkok tepatnya…

Senin, 20 Januari 2020 11:02

Dapat Sehatnya, Raih Doorprize Menarik

TARAKAN – Akrab dan ceria. Begitulah suasana yang terlihat di…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:56

Pencabutan Subsidi Elpiji 3 Kg, Perlu Dipikir Diantisipasinya

TARAKAN – Rencana pemerintah mencabut subsidi pada elpiji 3 kilogram…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:52

Semarak Tahun Baru Imlek Identik Warna Merah

SERBA MERAH: Pernak-pernik Tahun Baru Imlek terpampang di salah satu…

Jumat, 17 Januari 2020 11:10

Curah Hujan Tinggi, Waspada Banjir dan Longsor

TARAKAN – Hujan yang mengguyur Kota Tarakan sejak Kamis (16/20)…

Jumat, 17 Januari 2020 11:06

2020, Potensi Karhutla di Pulau Ini Masih Ada

TARAKAN – Masih adanya musim kemarau yang terjadi pada tahun…

Kamis, 16 Januari 2020 14:40

Pajak di Tarakan Diklaim Masih Lebih Murah

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan berkeinginan mengoptimalisasi seluruh pundi-pundi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers