MANAGED BY:
MINGGU
26 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 26 Oktober 2019 14:08
Tujuh Hektare Lahan Gambut Terbakar

September, 901 Titik Panas Terpantau Satelit

KARHUTLA: Seluas 7 hektare lahan miliki warga Selimau I, Kelurahan Tanjung Selor Timur ludes terbakar.

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Lahan seluas 7 hektare (ha) milik warga yang berada di Selimau I, Kelurahan Tanjung Selor Timur ludes terbakar. Frengki (34), salah satu warga Selimau mengatakan, awalnya api tidak terlalu besar. Tapi karena angin kencang dan lokasi tanah gambut, sehingga api pun semakin cepat membesar dan merambat ke lahan lainnya. “Kebakaran mulai terjadi selepas salat Jumat tadi (kemarin, Red),” sebutnya.

Di sekitar area lahan itu juga ada lahan rumah warga, jadi kalau tidak segera dipadamkan dikhwatirkan akan merambat ke rumah tersebut. “Kalau sumber api saya tidak tahu juga, karena saya tidak ada lihat ada orang membakar lahan,” bebernya.

Di tempat yang sama, salah satu pemilik lahan Kardin (46) mengatakan, sebelum kebakaran terjadi dirinya masih berada di lahan untuk membuat pondok. Ia pun mengaku tidak mengetahui siapa yang membakar lahan. “Sebelum salat Jumat saya masih ada di lahan. Karena mau salat saya pulang. Pas kembali saya kaget api sudah membesar,” katanya. 

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulungan, Ali Fatokah mengatakan, api baru bisa padam setelah 2 jam petugas BPBD dan pemadam kebakaran (PMK) berjibaku memadamkan api. “Tadi kita terkendala juga, karena lahan sangat luas, dan sumber air terbatas,” bebernya.

Meski begitu, amukan si jago merah masih bisa dikendalikan. Menyoal penyebab pasti kebakaran, dirinya belum mengetahui secara pasti. “Yang pasti kita fokus dulu untuk memadamkan api,” singkatnya.

Dari pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas III Tanjung Harapan, hingga September 2019, sebanyak 901 titik panas di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) terpantau oleh satelit BMKG.

Kepala BMKG Kelas III Tanjung Harapan, Muhammad Sulam Khilmi menjelaskan, pada September peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang sangat mendominasi, kondisi ini didukung dengan jumlah hari hujan yang rendah dan suhu udara maksimum yang tinggi yang mencapai 36,3 derajat celsius.

Akibatnya, terjadi kekeringan di beberapa wilayah di Kaltara, sehingga memudahkan potensi terjadi kebakaran hutan dan lahan. “Di Kaltara, Tanjung Selor menjadi wilayah terbanyak titik panas,” ungkap Sulam.

Berdasarkan analisa dinamika atmosfer, aliran massa udara di wilayah Indonesia didominasi angin timuran yaitu massa udara berasal dari Benua Australia. Massa udara yang dibawa bersifat dingin dan kering, sehingga terasa suhu udara pada malam hari dingin sedangkan pada siang hari terasa panas dan kering terjadi di beberapa wilayah di Indonesia terutama wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

“Dampak lain yang dirasakan adalah berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk wilayah Kaltara,” sebutnya.

Angin pada lapisan 850 mb di wilayah Kaltara pada bulan September 2019 didominasi bergerak dari arah barat daya–tenggara dengan kecepatan 2 sampai 10 meter per sekon (m/s). Angin dari Benua Australia bergerak menuju Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga Kalimantan Timur (Kaltim) menuju wilayah Kaltara.

“Analisis bulan September 2019 menunjukkan Madden-Julian Oscillation (MJO) tidak aktif di fase 3, 4 dan 5. Hal ini menunjukkan tidak ada potensi pertumbuhan awan konvektif yang disebabkan oleh MJO di wilayah Indonesia, oleh sebab itu hujan sulit untuk terjadi di bulan September 2019 di wilayah Kaltara,” sebutnya.

Hingga saat ini, monsun asia tidak aktif di wilayah Indonesia dan diprediksi mendekati klimatologisnya hingga dasarian III Oktober 2019. Sementara monsun Australia aktif dan diprediksi menguat hingga dasarian III Oktober 2019. Hal ini menunjukkan potensi untuk terjadinya hujan masih kecil, biasanya pola hujan didominasi oleh hujan lokal di bulan Oktober 2019.

“Unsur-unsur cuaca di permukaan bumi menunjukkan adanya keterpaduan membentuk suatu sistem cuaca. Sistem cuaca tersebut menunjukkan fenomena yang terjadi di permukaan bumi. Kondisi karakteristik berupa kondisi geografis juga berperan dalam pembentukan kondisi cuaca. Peran kondisi lokal sangat mempengaruhi sistem cuaca. Hal ini yang menyebabkan kondisi cuaca di suatu daerah tidak sama dengan daerah lain,” jelasnya.

“Wilayah Tanjung Selor yang didominasi dengan vegetasi dan sungai memengaruhi kondisi cuaca, sehingga membentuk kondisi cuaca lokal yang berbeda dengan wilayah lain,” bebernya. (*/jai/eza)


BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 10:17

Lagi, Warga Belakang BRI Diciduk

<p><strong>&nbsp;TARAKAN &ndash;</strong> Beberapa kali lolos dari incaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers