MANAGED BY:
SABTU
14 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 17 Oktober 2019 10:19
Nyaris Punah, Memiliki Makna Gotong Royong

Kelupi, Alat Pemeras Tebu Tradisional

PENASARAN: Wisatawan asal Jerman mempraktikkan penggunaan kelupi untuk memeras tebu di Desa Wisata Setulang, Kecamatan Malinau Selatan Hilir.

PROKAL.CO,  MALINAU - Sebagai Desa Wisata, tentunya Setulang, Kecamatan Malinau Selatan Hilir punya produk wisata unggulan untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satunya kelupi.

Kelupi merupakan warisan leluhur berupa alat pemeras tebu tradisional. Sehingga tidak lengkap rasanya, jika jalan-jalan ke desa yang sejak 2013 silam ditetapkan sebagai Desa Wisata tak melihat lebih dekat kelupi yang keberadaanya kini nyaris punah.

Bentuknya cukup sederhana, dengan fungsi utamanya digunakan sebagai pemeras tebu. Karena itu, di batang kayu dipasang beberapa potong kayu kecil yang digunakan sebagai tuas pemutar.

Agar kelupi bertahan lama, bahan dasarnya tidak bisa sembarang, harus menggunakan kayu ulin, kayu yang cukup kuat.

Lalu bagaimana cara kerjanya? Pewarta media ini berkesempatan  melihat langsung bagaimana masyarakat menggunakan kelupi, mulai tahap pertama kali digunakan hingga proses akhir, menghasilkan  air tebu yang memiliki cita rasa istimewa.

Namun, sebelumnya jika bicara di zaman serba modern ini. Beberapa kebutuhan pangan yang dikonsumsi prosesnya melalui teknologi canggih. Sehingga cara kerjanya lebih cepat. Termasuk dalam persoalan menghasilkan air tebu. Tebu dimasukkan ke dalam mesin, secara otomatis terperas dan menghasilkan air.Tapi yang kali ini (kelupi) disaksikan pewarta berbeda 360 derajat. Butuh waktu panjang dan kekompakan masyarakat untuk menghasilkan air tebu.

Sebab, warisan leluhur yang hampir punah itu selain memiliki keunikan, juga tak ada campur tangan teknologi dalam bekerja. Kearifan lokal mendominasi. Terlebih, saat memeras tebu dengan diiringi musik dan tari tradisional.

Namun untuk menjalankan fungsinya, dibutuhkan 7 – 8 orang. Karena masing-masing punya tugas. Artinya, dibutuhkan koordinasi yang apik dalam menggunakan kelupi. Sebab, selain diwajibkan harus tarik dan dorong tuas. Ada beberapa orang yang siap menempatkan tebu di lantai dasar. Ada juga yang bertugas menadahi air tebu. Cukup rumit.

Tapi siapa sangka bahwa kelupi tebu satu-satunya di Desa Wisata Setulang ini memiliki daya tarik. Tak hanya wisatawan lokal tapi juga mancanegara yang penasaran dengan kelupi.

Bahkan, satu dari dua turis asal Jerman yang berkunjung ke Desa Wisata Setulang mencoba memeras tebu menggunakan alat tradisional tersebut bersama-sama masyarakat setempat. Kepala Desa Wisata Setulang, Hansicov mengatakan, alat pemeras tebu tradisional peninggalan leluhur diakuinya memiliki daya tarik,  sehingga wajar banyak wisatawan yang datang untuk berkunjung dan bersama-sama masyarakat mempraktikkan cara kerja kelupi.

“Ini sebagaimana amanat dari Bupati Malinau, Yansen TP bahwa kelupi itu wajib untuk terus dilestarikan. Dan selama ini kami sudah menjalankannya, karena menjadi daya tarik bagi wisatawan,’’ katanya.

Tapi kata Hansicov, kelupi tidak hanya sekadar sebagai alat pemeras air tebu melainkan memiliki makna filosopi di dalamnya. Yakni ‘pekerjaan seberat apapun akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama, apalagi dengan hati yang senang’. Artinya bergotong royong.

“Makna itu dapat dirasakan jika bersama-sama mempraktikkan penggunaan kelupi’’ ucapnya.

Sementara, Bupati Malinau Yansen TP mengatakan, kelupi merupakan alat tradisional peninggalan leluhur dan memiliki sebuah keunikan. Karena itu menurutnya perlu untuk dilestarikan kembali.

Karena itu pada 2018 lalu Pemkab Malinau melakukan peresmian alat tradisional tersebut. Tujuannya, agar di era yang serba terknologi saat ini atau era 4.0 peninggalan leluhur tidak punah.

“Kami berkomitmen untuk terus melestarikan kelupi tebu itu di Desa Wisata Setulang ini,’’ katanya.

Salah satu upaya yang akan dilakukan, menjadikan kelupi sebagai salah satu objek wisata ketika wisatawan berkunjung.

“Tak sampai di situ, Pemerintah Kabupaten Malinau memiliki inovasi lainnya, memproduksi gula pasir dengan menggunakan kelupi,’’ ujarnya.

Dengan harapan pola yang dilakukan secara tradisional dapat menghasilkan produk gula pasir yang baik dan layak konsumsi.

“Meski, gula pasir itu masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, lambat laun bisa juga digunakan untuk kebutuhan di kantor,’’ tutupnya.(omg/ana)


BACA JUGA

Jumat, 13 Desember 2019 14:31

Manusia Merencanakan, Tuhan yang Menentukan

MALINAU — Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si mengungkapkan rasa…

Kamis, 12 Desember 2019 11:53

Tema Natal Sederhana, Memiliki Makna Dalam

MALINAU – Mengawali sambutan pada perjalanan ibadah Natal Bupati Malinau…

Rabu, 11 Desember 2019 13:36

Bupati Lantik Camat Kayan Hulu Definitif

MALINAU – Bersamaan dengan rangkaian perjalanan ibadah Natal Bupati Malinau…

Jumat, 06 Desember 2019 15:13

Rombongan Harus Semangat 45

MALINAU – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si menitipkan pesan…

Kamis, 05 Desember 2019 13:11

Bupati Usulkan Ada Prajurit Pembina RT

MALINAU – Komando Distrik Militer (Kodim) 0901/Malinau (Mln) melaksanakan apel…

Rabu, 04 Desember 2019 12:42

Pelantikan untuk Mewujudkan Kehadiran Negara

MALINAU – Gerbong mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Pemerintah…

Selasa, 03 Desember 2019 13:45

Anak Berkebutuhan Khusus Duduk di Kursi Bupati

MALINAU – Mata Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si tampak…

Selasa, 03 Desember 2019 13:44

Kualitas SDM Harus Ditingkatkan

MALINAU – Dalam sebulan terakhir, Bupati Malinau Dr. Yansen TP,…

Senin, 02 Desember 2019 15:03

“Terima Kasih Guruku”

MALINAU – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si saat menjadi…

Jumat, 29 November 2019 15:02

IDI Harus Sinergi dengan Kepentingan Daerah

MALINAU – Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Malinau periode…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.