MANAGED BY:
KAMIS
21 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 26 September 2019 09:18
KERING KERONTANG..!! Tarakan Terancam Krisis Air Bersih

Karhutla Masih Terus Terjadi

KRISIS AIR: Ketersediaan air baku di Kota Tarakan sudah mulai berkurang. Terlihat embung Binalatung, Kampung Satu sudah mulai mengering, kemarin. Sementara petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api dari kebakaran hutan dan lahan di Juata Permai Selasa (24/9) malam lalu. (foto atas).

PROKAL.CO, TARAKAN – Belum ada hujan di Bumi Paguntaka, cukup berpengaruh pada ketersediaan air baku di Kota Tarakan. Parahnya, kawasan di Tarakan Timur terancam krisis air lantaran kondisi embung Binalatung yang kian kering.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala PDAM Kota Tarakan, Sudarto mengungkapkan, selama dua bulan embung Binalatung sudah tidak berfungsi dan tidak dapat diambil airnya. Namun dengan adanya pompa emergency dan upaya PDAM untuk mengambil sisa air dari embung dan anak sungai, sehingga selama 2 bulan pihaknya masih bisa mengatasi kekeringan air bersih.

“Sekarang ini tinggal aliran air sungai, kurang lebih tinggal 70 liter per detik di embung Binalatung Kampung Satu,” ungkapnya.

Untuk itu, hingga kini debit air baku yang berada di embung Binalatung semakin berkurang. Sudarto mengakui akan adanya hujan, hanya saja hujan tersebut hanya terjadi di kawasan Mulawarman, Sebengkok dan selalu berpindah tempat. Sehingga jika intensitas hujan hanya terjadi sekali dua kali, maka hanya dapat membasahi tanah dan tidak dapat menambah debit air di embung.

Melalui hal tersebut, Sudarto menyatakan bahwa pihaknya mengalami krisis sumber air baku saat ini. Pihaknya telah berupaya maksimal untuk mendapatkan air baku, namun ternyata curah hujan tidak mendukung. Sehingga akibat hal tersebut, kawasan Mamburungan, Skip, Kusuma Bangsa, Kampung Satu masih dapat dialiri air sampai saat ini. Namun kawasan Kampung Bugis saat ini belum dialiri air dikarenakan kapasitas air embung yang menurun. Kendati demikian, kawasan embung Persemaian, embung Bengawan dan Rawasari masih normal sehingga masih bisa mengaliri air.

“Kemarin kami bisa mengaliri air dengan kecepatan 150 liter per detik, sekarang cuma 70 liter per detik, ini diprediksi bisa terus berkurang. Mulai subuh, pelayanan kami di wilayah timur, sudah berkurang. Ada potensi wilayah timur kekurangan air, solusinya mungkin kami gilir, tapi dengan catatan wilayah gunung akan berkurang. Tapi kami selalu berdoa dan berupaya agar kami bisa dapat air,” jelasnya.

Kepada Radar Tarakan, Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan, William menyatakan, potensi hujan di Tarakan saat ini terbilang ada. Hanya saja berpotensi hujan lokal dan tidak terjadi secara menyeluruh.

Adapun durasi hujan lokal tersebut hanya mencapai 15 hingga 30 menit per hari. Hal tersebut dikarenakan pergerakan awan yang sebentar berkumpul, pecah kemudian bergerak kembali. Sebab pada dasarnya awan memang bersifat demikian.

“Awan memang begitu, tapi karena ini wilayah kecil, jadi tidak mengcover semua wilayah,” ungkapnya.

Berdasarkan perkiraan pihaknya, seminggu ke depan cuaca Tarakan akan cerah berawan saja. Sebab kelembaban udara di kawasan timur saat ini relatif kering, sehingga penguapan awan hujan masih terbilang skala lokal terjadi.

“Tarakan ini pulau kecil, jadi seluruh wilayah Tarakan berpotensi hujan lokal. Titik tumbuhnya hujan bisa berpotensi di semua tempat,” ucapnya.

Dari sisi klimatologis, William menjelaskan pengaruh angina kering dari Australia yang menyebabkan tidak adanya penguapan awan, sehingga tidak terjadi hujan. Namun hal ini memang biasa terjadi setiap tahunnya, lantaran adanya dua musim di Indonesia, yakni musim penghujan dan kemarau.

“Memang musim hujan itu nggak selalu fiks, misalnya bulan November. Tapi ada juga yang Oktober, setiap tahun musim penghujan berubah-ubah. Tapi Tarakan memiliki dua puncak curah hujan dalam setiap tahun, berbeda dengan daerah yang zona musim,” jelasnya.

Melalui hal tersebut, William mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhemat air bersih, karena cuaca Tarakan saat ini yang terbilang cukup panas dan mencapai 32 derajat celsius. Sehingga potensi kekeringan dan kebakaran mudah terjadi di Tarakan.

Sehari, Ditemukan Tiga Titik Api

Sementara itu, semenjak musim kemarau yang melanda Kota Tarakan, banyak terjadi kebakaran lahan (karhutla). PMK Kota Tarakan kemarin (24/9) kembali mendapatkan informasi dari masyarakat tentang keberadaan titik api. Kali ini terjadi tiga titik api dalam sehari.

Kepala Bidang PMK Kota Tarakan, Eko P. Santoso menjelaskan, potensi kebarakan hutan lahan di Tarakan masih terjadi dan hampir setiap hari mendapatkan laporan pembakaran lahan.

“Laporan kebakaran lahan ini masih dipelajari apakah sifatnya faktor alam atau karena ulah manusia,” bebernya.

Dengan kondisi geografis Kota Tarakan yang mempunyai kandungan batu bara bisa saja menimbulkan gesekan api, tetapi ada beberapa titik daerah yang tidak berpotensi kandungan batu bara tetapi terbakar. “Belum bisa dipastikan, bisa jadi ada gesekan sehingga menimbulkan api,” ujarnya.

Kejadian titik api yang pertama, terjadi di daerah Kampung Satu, yaitu tepatnya di Gunung Selatan, sekitar pukul 15.00 WITA. Karena lokasi yang cukup dekat, pihaknya dengan cepat sampai ke lokasi dan berhasil memadamkan api sekitar pukul 19.00 WITA, sedangkan luas lahan yang terbakar kurang lebih 2 hektare.

Sedangkan di lokasi kedua, kebakaran lahan terjadi di Gunung Pilips Kelurahan Kampung 1 yang diperkirakan terbakar sekitar 16.00 WITA dan petugas PMK berhasil memadamkan sekitar 19.00 WITA, lahan yang terbakar diperkirakan kurang lebih 1 hektare.

Lokasi ketiga bertempat di sekitar wilayah Sungai Bengawan Kelurahan Juata Permai, diperkirakan api mulai membakar lahan sekitar pukul 16.45 WITA dan berhasil dipadamkan sekitar 20.30 WITA. Sedangkan luas lahan yang terbakar kurang lebih 3 hektare.

Petugas Pmk sendiri membagi 3 regu dan dibantu dari BPBD, Tim Satgas Karhutla, terdiri  dari PT Pertamina dan PT Medco E&P 1 regu, Babinsa 1 personel dan Bhabinkamtibmas 1 personel. Sedangkan alat yang diturunkan petugas untuk memadamkan titik api 1 unit mobil pikap modifikasi Karhutla BPBD, 1 unit  mobil suplai BPBD, 1 unit mobil komando BPBD, 5 unit mobil PMK, dan 2 unit mobil PT Pertamina.

Dari tiga titik api tersebut menyulitkan petugas PMK dikarenakan titik api yang jauh dari ruas jalan sehingga membuat petugas harus menggunakan selang yang banyak untuk mencapai titik api. Sehingga memperlambat proses pemadaman serta SDM yang masih terbatas dan masih butuh alokasi anggaran yang memadai agar upaya-upaya deteksi dini dan upaya pencegahan bettul-betul jadi program prioritas utama.

PMK sendiri belum dapat memastikan dari mana asal timbulnya titik api. Sebagaian lahan masyarakat yang terbakar merambat ke hutan lindung. Sejauh ini bantuan masyarakat dalam menanggulangi kebakaran masih kurang. “Pentingnya sosialisasi karena masalah ini adalah masalah bersama bukan hanya masalah pemerintah, sehingga perlu adanya kapasitas masyarakat yang memadai terkait dengan bencana alam seperti kebakaran,” tutupnya. (shy/agg/eza)

TARAKAN – Belum ada hujan di Bumi Paguntaka, cukup berpengaruh pada ketersediaan air baku di Kota Tarakan. Parahnya, kawasan di Tarakan Timur terancam krisis air lantaran kondisi embung Binalatung yang kian kering.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala PDAM Kota Tarakan, Sudarto mengungkapkan, selama dua bulan embung Binalatung sudah tidak berfungsi dan tidak dapat diambil airnya. Namun dengan adanya pompa emergency dan upaya PDAM untuk mengambil sisa air dari embung dan anak sungai, sehingga selama 2 bulan pihaknya masih bisa mengatasi kekeringan air bersih.

“Sekarang ini tinggal aliran air sungai, kurang lebih tinggal 70 liter per detik di embung Binalatung Kampung Satu,” ungkapnya.

Untuk itu, hingga kini debit air baku yang berada di embung Binalatung semakin berkurang. Sudarto mengakui akan adanya hujan, hanya saja hujan tersebut hanya terjadi di kawasan Mulawarman, Sebengkok dan selalu berpindah tempat. Sehingga jika intensitas hujan hanya terjadi sekali dua kali, maka hanya dapat membasahi tanah dan tidak dapat menambah debit air di embung.

Melalui hal tersebut, Sudarto menyatakan bahwa pihaknya mengalami krisis sumber air baku saat ini. Pihaknya telah berupaya maksimal untuk mendapatkan air baku, namun ternyata curah hujan tidak mendukung. Sehingga akibat hal tersebut, kawasan Mamburungan, Skip, Kusuma Bangsa, Kampung Satu masih dapat dialiri air sampai saat ini. Namun kawasan Kampung Bugis saat ini belum dialiri air dikarenakan kapasitas air embung yang menurun. Kendati demikian, kawasan embung Persemaian, embung Bengawan dan Rawasari masih normal sehingga masih bisa mengaliri air.

“Kemarin kami bisa mengaliri air dengan kecepatan 150 liter per detik, sekarang cuma 70 liter per detik, ini diprediksi bisa terus berkurang. Mulai subuh, pelayanan kami di wilayah timur, sudah berkurang. Ada potensi wilayah timur kekurangan air, solusinya mungkin kami gilir, tapi dengan catatan wilayah gunung akan berkurang. Tapi kami selalu berdoa dan berupaya agar kami bisa dapat air,” jelasnya.

Kepada Radar Tarakan, Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan, William menyatakan, potensi hujan di Tarakan saat ini terbilang ada. Hanya saja berpotensi hujan lokal dan tidak terjadi secara menyeluruh.

Adapun durasi hujan lokal tersebut hanya mencapai 15 hingga 30 menit per hari. Hal tersebut dikarenakan pergerakan awan yang sebentar berkumpul, pecah kemudian bergerak kembali. Sebab pada dasarnya awan memang bersifat demikian.

“Awan memang begitu, tapi karena ini wilayah kecil, jadi tidak mengcover semua wilayah,” ungkapnya.

Berdasarkan perkiraan pihaknya, seminggu ke depan cuaca Tarakan akan cerah berawan saja. Sebab kelembaban udara di kawasan timur saat ini relatif kering, sehingga penguapan awan hujan masih terbilang skala lokal terjadi.

“Tarakan ini pulau kecil, jadi seluruh wilayah Tarakan berpotensi hujan lokal. Titik tumbuhnya hujan bisa berpotensi di semua tempat,” ucapnya.

Dari sisi klimatologis, William menjelaskan pengaruh angina kering dari Australia yang menyebabkan tidak adanya penguapan awan, sehingga tidak terjadi hujan. Namun hal ini memang biasa terjadi setiap tahunnya, lantaran adanya dua musim di Indonesia, yakni musim penghujan dan kemarau.

“Memang musim hujan itu nggak selalu fiks, misalnya bulan November. Tapi ada juga yang Oktober, setiap tahun musim penghujan berubah-ubah. Tapi Tarakan memiliki dua puncak curah hujan dalam setiap tahun, berbeda dengan daerah yang zona musim,” jelasnya.

Melalui hal tersebut, William mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhemat air bersih, karena cuaca Tarakan saat ini yang terbilang cukup panas dan mencapai 32 derajat celsius. Sehingga potensi kekeringan dan kebakaran mudah terjadi di Tarakan.

Sehari, Ditemukan Tiga Titik Api

Sementara itu, semenjak musim kemarau yang melanda Kota Tarakan, banyak terjadi kebakaran lahan (karhutla). PMK Kota Tarakan kemarin (24/9) kembali mendapatkan informasi dari masyarakat tentang keberadaan titik api. Kali ini terjadi tiga titik api dalam sehari.

Kepala Bidang PMK Kota Tarakan, Eko P. Santoso menjelaskan, potensi kebarakan hutan lahan di Tarakan masih terjadi dan hampir setiap hari mendapatkan laporan pembakaran lahan.

“Laporan kebakaran lahan ini masih dipelajari apakah sifatnya faktor alam atau karena ulah manusia,” bebernya.

Dengan kondisi geografis Kota Tarakan yang mempunyai kandungan batu bara bisa saja menimbulkan gesekan api, tetapi ada beberapa titik daerah yang tidak berpotensi kandungan batu bara tetapi terbakar. “Belum bisa dipastikan, bisa jadi ada gesekan sehingga menimbulkan api,” ujarnya.

Kejadian titik api yang pertama, terjadi di daerah Kampung Satu, yaitu tepatnya di Gunung Selatan, sekitar pukul 15.00 WITA. Karena lokasi yang cukup dekat, pihaknya dengan cepat sampai ke lokasi dan berhasil memadamkan api sekitar pukul 19.00 WITA, sedangkan luas lahan yang terbakar kurang lebih 2 hektare.

Sedangkan di lokasi kedua, kebakaran lahan terjadi di Gunung Pilips Kelurahan Kampung 1 yang diperkirakan terbakar sekitar 16.00 WITA dan petugas PMK berhasil memadamkan sekitar 19.00 WITA, lahan yang terbakar diperkirakan kurang lebih 1 hektare.

Lokasi ketiga bertempat di sekitar wilayah Sungai Bengawan Kelurahan Juata Permai, diperkirakan api mulai membakar lahan sekitar pukul 16.45 WITA dan berhasil dipadamkan sekitar 20.30 WITA. Sedangkan luas lahan yang terbakar kurang lebih 3 hektare.

Petugas Pmk sendiri membagi 3 regu dan dibantu dari BPBD, Tim Satgas Karhutla, terdiri  dari PT Pertamina dan PT Medco E&P 1 regu, Babinsa 1 personel dan Bhabinkamtibmas 1 personel. Sedangkan alat yang diturunkan petugas untuk memadamkan titik api 1 unit mobil pikap modifikasi Karhutla BPBD, 1 unit  mobil suplai BPBD, 1 unit mobil komando BPBD, 5 unit mobil PMK, dan 2 unit mobil PT Pertamina.

Dari tiga titik api tersebut menyulitkan petugas PMK dikarenakan titik api yang jauh dari ruas jalan sehingga membuat petugas harus menggunakan selang yang banyak untuk mencapai titik api. Sehingga memperlambat proses pemadaman serta SDM yang masih terbatas dan masih butuh alokasi anggaran yang memadai agar upaya-upaya deteksi dini dan upaya pencegahan bettul-betul jadi program prioritas utama.

PMK sendiri belum dapat memastikan dari mana asal timbulnya titik api. Sebagaian lahan masyarakat yang terbakar merambat ke hutan lindung. Sejauh ini bantuan masyarakat dalam menanggulangi kebakaran masih kurang. “Pentingnya sosialisasi karena masalah ini adalah masalah bersama bukan hanya masalah pemerintah, sehingga perlu adanya kapasitas masyarakat yang memadai terkait dengan bencana alam seperti kebakaran,” tutupnya. (shy/agg/eza)

TARAKAN – Belum ada hujan di Bumi Paguntaka, cukup berpengaruh pada ketersediaan air baku di Kota Tarakan. Parahnya, kawasan di Tarakan Timur terancam krisis air lantaran kondisi embung Binalatung yang kian kering.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala PDAM Kota Tarakan, Sudarto mengungkapkan, selama dua bulan embung Binalatung sudah tidak berfungsi dan tidak dapat diambil airnya. Namun dengan adanya pompa emergency dan upaya PDAM untuk mengambil sisa air dari embung dan anak sungai, sehingga selama 2 bulan pihaknya masih bisa mengatasi kekeringan air bersih.

“Sekarang ini tinggal aliran air sungai, kurang lebih tinggal 70 liter per detik di embung Binalatung Kampung Satu,” ungkapnya.

Untuk itu, hingga kini debit air baku yang berada di embung Binalatung semakin berkurang. Sudarto mengakui akan adanya hujan, hanya saja hujan tersebut hanya terjadi di kawasan Mulawarman, Sebengkok dan selalu berpindah tempat. Sehingga jika intensitas hujan hanya terjadi sekali dua kali, maka hanya dapat membasahi tanah dan tidak dapat menambah debit air di embung.

Melalui hal tersebut, Sudarto menyatakan bahwa pihaknya mengalami krisis sumber air baku saat ini. Pihaknya telah berupaya maksimal untuk mendapatkan air baku, namun ternyata curah hujan tidak mendukung. Sehingga akibat hal tersebut, kawasan Mamburungan, Skip, Kusuma Bangsa, Kampung Satu masih dapat dialiri air sampai saat ini. Namun kawasan Kampung Bugis saat ini belum dialiri air dikarenakan kapasitas air embung yang menurun. Kendati demikian, kawasan embung Persemaian, embung Bengawan dan Rawasari masih normal sehingga masih bisa mengaliri air.

“Kemarin kami bisa mengaliri air dengan kecepatan 150 liter per detik, sekarang cuma 70 liter per detik, ini diprediksi bisa terus berkurang. Mulai subuh, pelayanan kami di wilayah timur, sudah berkurang. Ada potensi wilayah timur kekurangan air, solusinya mungkin kami gilir, tapi dengan catatan wilayah gunung akan berkurang. Tapi kami selalu berdoa dan berupaya agar kami bisa dapat air,” jelasnya.

Kepada Radar Tarakan, Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan, William menyatakan, potensi hujan di Tarakan saat ini terbilang ada. Hanya saja berpotensi hujan lokal dan tidak terjadi secara menyeluruh.

Adapun durasi hujan lokal tersebut hanya mencapai 15 hingga 30 menit per hari. Hal tersebut dikarenakan pergerakan awan yang sebentar berkumpul, pecah kemudian bergerak kembali. Sebab pada dasarnya awan memang bersifat demikian.

“Awan memang begitu, tapi karena ini wilayah kecil, jadi tidak mengcover semua wilayah,” ungkapnya.

Berdasarkan perkiraan pihaknya, seminggu ke depan cuaca Tarakan akan cerah berawan saja. Sebab kelembaban udara di kawasan timur saat ini relatif kering, sehingga penguapan awan hujan masih terbilang skala lokal terjadi.

“Tarakan ini pulau kecil, jadi seluruh wilayah Tarakan berpotensi hujan lokal. Titik tumbuhnya hujan bisa berpotensi di semua tempat,” ucapnya.

Dari sisi klimatologis, William menjelaskan pengaruh angina kering dari Australia yang menyebabkan tidak adanya penguapan awan, sehingga tidak terjadi hujan. Namun hal ini memang biasa terjadi setiap tahunnya, lantaran adanya dua musim di Indonesia, yakni musim penghujan dan kemarau.

“Memang musim hujan itu nggak selalu fiks, misalnya bulan November. Tapi ada juga yang Oktober, setiap tahun musim penghujan berubah-ubah. Tapi Tarakan memiliki dua puncak curah hujan dalam setiap tahun, berbeda dengan daerah yang zona musim,” jelasnya.

Melalui hal tersebut, William mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhemat air bersih, karena cuaca Tarakan saat ini yang terbilang cukup panas dan mencapai 32 derajat celsius. Sehingga potensi kekeringan dan kebakaran mudah terjadi di Tarakan.

Sehari, Ditemukan Tiga Titik Api

Sementara itu, semenjak musim kemarau yang melanda Kota Tarakan, banyak terjadi kebakaran lahan (karhutla). PMK Kota Tarakan kemarin (24/9) kembali mendapatkan informasi dari masyarakat tentang keberadaan titik api. Kali ini terjadi tiga titik api dalam sehari.

Kepala Bidang PMK Kota Tarakan, Eko P. Santoso menjelaskan, potensi kebarakan hutan lahan di Tarakan masih terjadi dan hampir setiap hari mendapatkan laporan pembakaran lahan.

“Laporan kebakaran lahan ini masih dipelajari apakah sifatnya faktor alam atau karena ulah manusia,” bebernya.

Dengan kondisi geografis Kota Tarakan yang mempunyai kandungan batu bara bisa saja menimbulkan gesekan api, tetapi ada beberapa titik daerah yang tidak berpotensi kandungan batu bara tetapi terbakar. “Belum bisa dipastikan, bisa jadi ada gesekan sehingga menimbulkan api,” ujarnya.

Kejadian titik api yang pertama, terjadi di daerah Kampung Satu, yaitu tepatnya di Gunung Selatan, sekitar pukul 15.00 WITA. Karena lokasi yang cukup dekat, pihaknya dengan cepat sampai ke lokasi dan berhasil memadamkan api sekitar pukul 19.00 WITA, sedangkan luas lahan yang terbakar kurang lebih 2 hektare.

Sedangkan di lokasi kedua, kebakaran lahan terjadi di Gunung Pilips Kelurahan Kampung 1 yang diperkirakan terbakar sekitar 16.00 WITA dan petugas PMK berhasil memadamkan sekitar 19.00 WITA, lahan yang terbakar diperkirakan kurang lebih 1 hektare.

Lokasi ketiga bertempat di sekitar wilayah Sungai Bengawan Kelurahan Juata Permai, diperkirakan api mulai membakar lahan sekitar pukul 16.45 WITA dan berhasil dipadamkan sekitar 20.30 WITA. Sedangkan luas lahan yang terbakar kurang lebih 3 hektare.

Petugas Pmk sendiri membagi 3 regu dan dibantu dari BPBD, Tim Satgas Karhutla, terdiri

BACA JUGA

Rabu, 20 November 2019 18:17

Prihatin Harga Pupuk Naik dan Hoaks

Lulus dengan menyandang status cumlaude tentunya menjadi impian dan keinginan…

Rabu, 20 November 2019 18:05

Lapor Apa Saja di ‘Tarakan 1 Click’

TARAKAN - Polres Tarakan terus meningkatkan pelayanan untuk keamanan masyarakat.…

Selasa, 19 November 2019 13:39

Investasi Rp 37,9 Triliun, Sinosteel Masih Survei

TARAKAN – Rencana investasi Sinosteel Corporation dengan membangun membangun pabrik…

Selasa, 19 November 2019 13:36

“Jalan Rusak, Apa Harus Demo?”

TARAKAN – Warga Jalan Aki Balak, khususnya di sekitar SDN…

Selasa, 19 November 2019 10:46

Uji Petik pada Angkutan Nataru

MENJELANG perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) Kantor Syahbandar dan…

Senin, 18 November 2019 17:56

Malaysia Sokong Kegiatan Wonderful Indonesia

TAWAU – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia kian erat.…

Senin, 18 November 2019 17:54

Monitoring Akan Dilakukan dengan Kartu

TARAKAN - Monitoring yang dilakukan Tim Pengendalian Terpadu Pemprov Kaltara,…

Sabtu, 16 November 2019 14:52

Sport Center Terancam Mangkrak Lagi

TARAKAN – Lanjutan pembangunan Sport Center di Kampung Empat, Tarakan…

Jumat, 15 November 2019 15:03

Brimob Siap Amankan Pilkada 2020

TARAKAN - Suksesnya Pilpres dan Pileg serentak yang berlangsung tahun…

Jumat, 15 November 2019 15:01

Dewan Berharap Pemkot Sidak Rumah Makan

TARAKAN - Sebagian masyarakat masih kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*