MANAGED BY:
KAMIS
17 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 18 September 2019 09:03
Di Balik Kabut Asap, Diduga Ulah Perusahaan

Penerbangan Sudah Normal

PATUT DIUSUT: Kabut asap di Kaltara sejak beberapa hari terakhir diduga bersumber dari pembakaran lahan untuk keperluan tertentu.

PROKAL.CO, MASYARAKAT Nunukan, mulai tidak tenang dengan kabut asap yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Mulai bertanya siapa yang akan bertanggung jawab dengan kondisi saat ini. Kiriman asap ke wilayah Nunukan tak ada hentinya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Nunukan, Gat mengkritisi bahwa kabut asap dari kebakaran lahan telah menjadi isu nasional dan internasional selama sebulan terakhir. “Persoalan ini harus ada yang bertanggungjawaban, jangan sampai ada dituduh sembarangan melakukan pembakaran hutan,” kata Gat, kemarin (17/9).

Dia menjelaskan, dalam KHUP Pasal 187 hingga 188 dan Undang-Undang (UU) Nomor 41/1999 tentang Kehutanan, tidak ada perbedaan nomenklatur atau objek hukum antara petani yang mencari makan kebutuhan sehari atau  sebulan. Untuk pembakaran hutan, maka perlu dicari pelaku apakah petani atau ada pengusaha yang ingin membuka lahan.

Ia juga sebagai warga Kecamatan Krayan yang hidup di sekitar hutan mengaku bahwa membakar ladang atau kebun merupakan pola hidup keseharian atau budaya serta kearifan lokal masyarakat pedalaman. Telah berlangsung ribuan tahun. Pertanyaan kemudian kalau sudah berlangsung ratusan tahun, apakah ada bencana asap 20 tahun hingga 50 tahun yang lalu?

“Kalaupun ada asap akibat orang membakar ladang atau kebun, tetapi tidak signifikan karena umumnya dibakar paling besar 1 hektare atau setengah hektare, cukup untuk mendapatkan padi, kebutuhan makan setahun,” ujarnya.

Untuk itu, ia pertanyakan dari mana asap di Nunukan dan oleh siapa? Tentu ini ada pembukaan lahan kebun yang luas dan dilakukan oleh oknum tertentu. Memiliki niat membuka kebun kelapa sawit mencapai ratusan hektar. Bahwa para oknum pengusaha memiliki ratusan hektare kebun kelapa sawit di Kalimantan.

Untuk itu, ia menolak keras bahwa bencana asap yang terjadi saat ini dilakukan oleh petani. Mulai bermunculan stigmma bahwa penyebab kebakaran dilakukan oleh petani. Secara logika ini tidak masuk akal, gagal paham dan sesat pikir, kata dia.

“Saya meminta kepada aparat penegak hukum, agar segera mencari para pelaku yang tak bertanggung jawab, sehingga menyebabkan kebakaran hutan dalam jumlah skala besar,” tuturnya.

Sebelumnya telah ada maklumat Kepolisian Daerah (Polda) Kaltara, bahwa jika ditemukan pelaku pembakaran hutan atau lahan akan dikenakan pasal berlapis. Sesuai dengan Pasal 187 KUHP yang berbunyi apabila dengan sengaja menimbulkan kebakaran maka akan diancam pidana penjara selama 12 tahun.

Selanjutnya, Pasal 188 KUHP apabila karena keapiannya, kesalahannya yang menyebabkan terjadinya kebakaran maka akan diancam dengan pidana kurungan 5 tahun. Dan Pasal 78 ayat 3 (UU) Undang–Undang RI Nomor 41/1999 tentang Kehutanan, barang siapa dengan sengaja membakar hutan akan diancam dengan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda Rp 5 miliar.

 

SISTEM PENERBANGAN MULAI NORMAL

Hari Perhubungan Nasional tahun ini, masih disambut kabut asap. Namun, hingga Selasa (17/9), penerbangan mulai berangsur normal. Pada Minggu (15/9), Bandara Juwata sempat ditutup karena tebalnya kabut asap yang merupakan kiriman dari sejumlah daerah di Kaltara.

Kepada Radar Tarakan, Kepala Bandara Internasional Juwata Tarakan, Dr. Ir. Fadrinsyah Anwar, M.B.A, mengatakan, dalam penerbangan, keselamatan menjadi utama dan penting. Apa yang dilakukan pada Minggu (15/9), kata dia, merupakan prosedur yang harus dijalankan pihak perhubungan.

“Kami tidak berani mengambil risiko, apabila dari sisi keselamatan itu tidak memungkinkan bagi kami untuk memberikan pelayanan,” tegasnya usai upacara Hari Perhubungan Nasional, kemarin (17/9).

Berdasarkan pengamatan Fadrinsyah, pagi kemarin masih terlihat kabut. Namun beberapa pesawat telah mendarat di Tarakan, sebab pada dasarnya asap selalu mengikuti angin. “Kami tidak tutup. Bandara tetap buka. Kalau jarak pandang memungkinkan, ya dibuka lagi. Artinya kami stand by, kalau AirNav memberi informasi bahwa cuaca baik, maka akan langsung take off (lepas landas),” tuturnya.

Fadrinsyah mengakui bahwa pada hari-hari sebelumnya, pihaknya sempat menemukan adanya pesawat yang terpaksa tidak dapat mendarat di Tarakan dan ada pula yang harus tertunda akibat cuaca buruk. Nah, jika melihat cuaca pada 17 September, jarak pandang telah berada di titik 3.200 meter sehingga memungkinkan untuk mendarat dan lepas landas.

Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan Muhammad Auriadin menambahkan bahwa operasional penerbangan di Bandara Juwata Tarakan telah mencapai jarak pandang 5 kilometer. Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, pesawat Lion JT 626 jurusan Jakarta-Tarakan telah mendarat pada pukul 00.50 WITA, pesawat Avia Star PK BRQ jurusan Tarakan-Nunukan lepas landas pada pukul 01.20 WITA, Lion JT 267 Surabaya Tarakan mendarat pada pukul 10.38 WITA, Batik Air JT 7271 Balikpapan-Tarakan mendarat pada pukul 03.07 WITA, Susi Air SI 332 Tarakan-Nunukan lepas landas pada pukul 03.07 WITA, dan Sriwijaya Air SJ 160 Balikpapan-Tarakan mendarat pada pukul 03.50 WITA. “Jadi penerbangan sudah berjalan normal kembali,” jelasnya.

Kepala Distrik Navigasi Kelas III Tarakan Faisal mengimbau agar setiap unit kerja perhubungan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas.

Pihaknya membutuhkan peran aktif masyarakat untuk memberikan informasi jika menemukan rambu suar yang mati kepada pihaknya. Sebab jika rambu suar menjadi mati, maka pelayaran kapal-kapal akan terganggu. “Kalau di darat ada lampu merah, jadi di laut itu juga sama. Ada rambu suar, bui, dan sebagainya. Ini tanda bagi pelaut untuk aman bertransportasi di laut,” pungkasnya. (nal/shy/lim)


BACA JUGA

Rabu, 16 Oktober 2019 09:45

Asik Ngopi, 4 PNS Terjaring Satpol PP

 TARAKAN – Razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:41

Penyelundupan Daging Kerbau Meningkat

 TARAKAN – Berbatasan dengan Malaysia, potensi penyelundupan barang dari Malaysia…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:22

Pastikan Kaltara Kondusif Jelang Pelantikan Presiden

 TARAKAN- Jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20…

Selasa, 15 Oktober 2019 20:45

Lagi, Kaltara Mendapat Hadiah Dana Insentif

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali akan…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:54

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

   TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:42

Tertinggi Kedua, IPK Kaltara di Atas DKI Jakarta

 JAKARTA - Meski baru berusia 6 tahun, Provinsi Kalimantan Utara…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:30

KUMAT..!! Gas Elpiji 3 Kilogram Langka Lagi

 TARAKAN - Kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram di Kota…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:22

Antara Prestasi dan Nama Daerah

   MOES Santoso, sangat menyayangkan keberhasilan cucunya ini tidak membawa…

Senin, 14 Oktober 2019 21:39

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu (BKIPM)…

Senin, 14 Oktober 2019 08:37

Kelas VIP Bertanding hingga Dini Hari

 TARAKAN – Sabtu (12/10) malam hingga Minggu (13/10) dini hari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*