MANAGED BY:
SENIN
17 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 17 September 2019 12:26
PARAH BAH..!! Embung Kekeringan, PDAM Hanya Bisa Berdoa
KEKERINGAN: Terlihat beberapa warga membawa jeriken dan mengantre air bersih di sumur, RT 14, Kelurahan Sebengkok, Senin (16/9) pagi.

PROKAL.CO, HUJAN yang tak kunjung membasahi Bumi Paguntaka, membuat Embung Binalatung Kampung Satu Skip harus mengalami kekeringan. Air baku pun kini tak lagi mampu menopang target produksi air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan. Imbasnya, sejumlah rumah pelanggan pun tak teraliri air.

Sebagian warga menyiasati kebutuhannya dengan membeli air yang didistribusi menggunakan tangki. Sebagian lagi tetap menggantungkan harapan pada sumber air tanah lainnya. Seperti warga RT 14 dan sekitarnya, yang harus mengantre air bersih untuk keperluan masak dan minum.

Sumur yang memiliki luas 3x4 meter, di RT 14, Kelurahan Sebengkok ini tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari, ada saja aktivitas warga di sumur itu. Tidak hanya untuk mencuci dan mandi. Tapi di sumur ini juga warga antre mengambil air bersih. Maklum, sudah berminggu-minggu langit Tarakan tidak menurunkan hujan.

Masih pagi, beberapa ember dan jeriken sudah menumpuk di sekitaran sumur. Mulai dari jeriken ukuran 5 liter, 20 liter, 35 liter seakan menunggu gilirannya diisi air.

Terlihat pula beberapa warga, yang diketahui bernama Andi (60), Wiwi (36), Sumiarse (50) dan Ani (47), asyik bercerita sembari menunggu gilirannya mengisi jeriken. Konon air ini berasal dari pegunungan. Mungkin sumber mata air. Dari sumur inilah menjadi sumber air bersih warga setempat, selama bertahun-tahun. Maklum, di daerah perbukitan RT 14 ini belum dialiri air baku dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam.

Sebenarnya, satu bulan lalu pipa PDAM sudah terpasang di daerah ini. Tapi belum juga dialiri air. “Jadi ambil air dari gunung. Kami mengantre di sini (sumur). Biar bagian depan, yang pasang air PDAM kalau tidak jalan airnya, ke sini juga ambil air,” kata wanita berkulit putih ini.

Tidak hanya warga RT 14 saja. Pelanggan yang sudah tidak dialiri air bersih dari PDAM pun rela datang mengantre di sumur ini. Entah itu dari Sebengkok Waru, daerah Bukit Cinta, hingga warga Jembatan Besi. Bagi warga setempat, sumur ini terbuka untuk umum selagi mengerti budaya antre.

Beberapa minggu tidak hujan, air dari pegunungan pun tidak begitu besar. Ya, harus bersabar menunggu hingga jeriken dan ember penuh terisi. Semakin banyak jeriken yang dibawa, menunggunya pun bisa berjam-jam. “Ini 24 jam nonstop, siapa saja bisa antre. Ini hampir 3 bulan tidak hujan, airnya juga kecil,” lanjutnya.

Wanita berusia 47 tahun ini mengaku, sudah bertahun-tahun mengantre air di sumur ini. Airnya jernih dan tidak berbau. Selain untuk mandi dan mencuci, kebanyakan dimasak untuk air minum.

“Semenjak tinggal di sini, ambil air dari sini. Dulu di sini belum banyak rumah, masih hutan kita sudah ambil air dari sini,” katanya.

Dalam sehari, biasanya dua kali ia ke sumur ini. Saat pagi dan sore hari. Atau seperlunya, bila persediaan air di rumahnya habis, ia kembali ke sumur dan ikut mengantre lagi. “Biasa sekali-kali beli air profil Rp 60 ribu, untuk mencuci. Yang pasang air PDAM juga ke sini, mereka ambil untuk air minum,” ucapnya.

Konon, mengantre air ini bisa kapan saja. Tengah malam sekalipun. Tidak perlu izin, yang penting saat itu tidak ada yang antre ambil air. Kalaupun ada yang sudah mengantre, yang baru datangpun wajib ikut mengantre hingga gilirannya.

“Tidak harus izin. Yang penting tidak ada orang mengantre, bisa langsung tadah. Kalau sudah ada yang antre, kita juga tunggu dulu. Tidak bisa baru datang, langsung tadah. Kalau tidak ada yang ambil air, dialirkan ke dalam bak penampungan,” terangnya.

Konon, saat musim penghujan bak di sumur ini terisi penuh. Bahkan tertumpah-tumpah. Lain halnya dengan musim kemarau, seperti sekarang ini. Terlihat bak kosong.

Benar adanya, tidak hanya warga RT 14 saja yang mengantre air bersih di sumur. Adapula warga dari Sebengkok AL, ikut mengantre. Seperti Andi. Pria berusia 60 tahun ini rela jauh-jauh dari Sebengkok AL, mengantre demi air bersih. “Di sini kan umum, jadi ikut antre. Di rumah memang tidak pakai air PDAM, karena tidak sanggup bayar,” katanya.

Membawa jeriken 20 liter, ia ikut peraturan yang berlaku. Ya, mengantre. Lumayan jauh, dalam sehari ia mengantre hanya satu kali, yang penting bisa mengisi dua ember di rumahnya. “Sekali saja datang antre. Tidak tentu jam berapa, kalau sempat datang mengantre,” katanya.

Bila warga RT 14 ini beruntung memiliki air dari pegunungan, lain halnya dengan Wati, warga RT 08, Pamusian. Belakangan ini aliran air bersih dari PDAM kembali tersendat, bahkan hingga berhari-hari.

Tersendatnya aliran air bersih PDAM pun membuat pelanggannya “galau” tidak karuan. Wanita berusia 33 tahun ini mengaku, belakangan ini air PDAM hanya mengalir saat malam hari. Tepatnya sekitar pukul 22.00 Wita.

Itupun aliran airnya sangat kecil. Kondisi ini membuatnya harus terjaga tengah malam untuk menampung air. “Malam saja mengalirnya, enggak tahu sampai jam berapa. Tapi setelah bak terisi, saya langsung tinggal tidur. Tapi pas bangun subuh, itu sudah enggak mengalir lagi,” katanya.

Untuk mandi dan masak, ia mengandalkan air galon. Sedangkan untuk mencuci, terpaksa ia menggunakan jasa laundry, bahkan nebeng ke rumah rekannya yang berlimpah air. “Pakai galon aja. Karena kan ini juga masih rumah sewa, tidak ada profil penampungan juga. Masak pakai air galon, mencuci juga kadang ke rumah teman yang airnya mengalir,” tutupnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perusahaan Daerah Air minum (PDAM) Kota Tarakan, Sudarto mengatakan bahwa pihaknya memiliki kendala pada kawasan Kampung Bugis (Karang Anyar) karena disebabkan kondisi Embung Kampung Satu yang kering.

“Kalau wilayah Kampung Satu masih bisa diupayakan dengan baik. Embung persemaian dan Bengawan masih baik, yang tinggal 50 persen itu di Karang Anyar. Tapi yang lain masih kami layani dengan baik,” ucapnya.

Karang Anyar selalu mengandalkan air baku yang berasal dari Embung Kampung Satu,.

“Jadi kuncinya cuma faktor air baku dari Embung Kampung Satu ke Kampung Bugis,” jelasnya.

Untuk itu, penurunan jumlah aliran air dari Embung Kampung Satu ke Kampung Bugis saat ini mencapai 50 persen. Namun lokasi Embung Persemaian dan Embung Bengawan masih terbilang aman. Melalui hal tersebut, Sudarto mengatakan bahwa pihaknya hanya dapat berdoa dan berharap turunnya hujan. Namun, kawasan Embung Kampung Satu saat ini masih diupayakan pihaknya, yakni dengan mengumpulkan air anak-anak sungai sehingga masih dapat memberikan aliran air ke kawasan sekitar Kampung Satu Skip.

“Intinya, kekeringan di Embung Binalatung, berdampak di Karang Anyar. Tapi yang lain, produksinya masih maksimal,” jelasnya. (shy/*/one/lim)


BACA JUGA

Minggu, 16 Februari 2020 11:57

BREAKING NEWS! Tangis Haru Sambut Mahasiswa Kaltara, Usai Diobservasi di Natuna

TARAKAN - 19 mahasiswa asal Kalimantan Utara (Kaltara) yang dipulangkan…

Rabu, 12 Februari 2020 15:31

Lima Mahasiswa ‘Terkurung’ di Shandong

 LIMA mahasiswa asal Kota Tarakan saat ini masih terjebak di…

Rabu, 12 Februari 2020 15:19

Penyewa Rumah Asal Api Dicari Polisi

TARAKAN - Penyebab kebakaran di Jalan Pinus RT 13, Kelurahan…

Senin, 10 Februari 2020 15:06

Kembangkan Minat dan Bakat Anak di Masa Golden Age

Pemberian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ketika anak memasuki masa…

Senin, 10 Februari 2020 15:02

Honorer Siap-Siap Menganggur

TAK ada lagi istilah honorer, tenaga kontrak, atau outsourcing di…

Jumat, 07 Februari 2020 06:05

BREAKING NEWS!! Si Jago Merah Hanguskan Rumah Warga Jembatan Besi

TARAKAN - Peristiwa kebakaran kembali terjadi di Bumi Paguntaka di…

Sabtu, 01 Februari 2020 12:25

Ibrahim Rusli Akan Taklukkan Laut Berau

Setelah 14 kali mencatatkan aksi renang di laut, kini Ibrahim…

Kamis, 30 Januari 2020 15:03

Upaya Evakuasi Masih Buntu

SEJATINYA sejumlah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Tiongkok…

Kamis, 30 Januari 2020 14:54

Sudah 16 Pasien Dirujuk

TARAKAN – Palang Merah Indonesia (PMI) Tarakan terus memantau kesehatan…

Rabu, 29 Januari 2020 14:21

RSUD Sebut Bukan Pasien Corona

PENYEBARAN dokumen medis seorang pasien di Rumah Sakit Umum Daerah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers