MANAGED BY:
KAMIS
28 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 16 September 2019 09:16
Sejumlah benda bersejarah dan situs bangunan yang ada di Tarakan, sebagai bukti jejak sejarah perang dunia II di Tarakan. Jejak sejarah inipun diabadikan di dua museum yang ada di daerah Kelurahan Kampung Empat. Yakni Museum Perang Dunia II dan Muse
NV Tarakan Mij, Perusahaan Pertama Eksplorasi Minyak

Mengulik Sejarah Perminyakan dan Pengeboran Pertama di Tarakan

MENGULIK: Arkeologi, Abdul Salam menjelaskan sejarah perminyakan di Tarakan.

PROKAL.CO, PULAU Tarakan sangat terkenal dengan perminyakannya. Lantas dari catatan sejarah yang ada, siapa sebenarnya yang pertama kali menemukan dan melakukan pengeboran di tanah Kota Tarakan ini?

Sejarah perminyakan ini masih terekam jelas diingatan Arkeologi, Abdul Salam. Pria lulusan Program Magister Arkeologi di Universitas Indonesia, ini mengatakan sebenarnya pengeboran pertama di Tarakan dilakukan oleh NV Tarakan Mij.

Diceritakannya, sekitar 1870-an, dilakukan survei kandungan minyak di Tarakan. Dari hasil survei, Tarakan termasuk pulau yang strategis. Selain tempat pertahanan Belanda, Tarakan juga sebagai tempat depo batu bara.

Konon, sebelum adanya pertambangan di Kalimantan Timur saat itu, yang terkenal di seluruh wilayah Indonesia adalah batu bara. Termasuk di Tarakan.

“Belanda semakin mengintensifkan Tarakan, karena ada kebijakan Pemerintah Hindia Belanda melakukan survei eksplorasi, yang sehubungan dengan adanya rencana eksploitasi minyak bumi,” terang pria yang juga pernah menimba ilmu S-1 Arkeologi di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sebenarnya tenaga ahli Pemerintah Hindia Belanda melakukan survei di seluruh Kalimantan Timur, termasuk Tarakan pada 1980. Sejak saat itu, pengusaha batu bara mulai melirik untuk mendapatkan konsesi atau izin pertambangan minyak.

“Tapi upaya pengusaha ini tidak berlangsung mulus, karena banyak hal yang menjadi penghambat seperti faktor keamanan lingkungan, struktur penguasaan kerjaan-kerajaan yang harus difasilitiasi Pemerintah Belanda,” jelasnya.

Pemerintah Hindia Belanda pun ingin membentuk perusahaan-perusahaan swasta. Tak lain untuk melakukan eksploitasi. Adanya informasi tersebut, muncullah ahli geologi Belanda yang bernama H.J Menten, yang ikut dalam program Hindia Belanda itu.

“Ahli geologinya ikut ke Tarakan, dan mendata para budak. Sebetulnya Belanda mempunyai misi untuk menghapus perbudakan. Kemudian dijadikan pekerja padat modal, termasuk pertambangan,” katanya.

Namun H. J Menten ini justru tertarik untuk melakukan eksploitasi pertambangan minyak di Tarakan. Sehingga atas nama H.J Menten ini, muncul pula Fabious seorang pengusaha batu bara. Membentuk konsorsium, kemudian mendirikan perusahaan yang bernama NV Tarakan Mij, yang dibentuk di Surabaya.

Januari 1897, NV Tarakan Mij ini mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, untuk mendapatkan konsesi eksploitasi perminyakan di Tarakan.

6 Desember 1899, barulah NV Tarakan Mij mendapatkan izin pengeboran. NV Tarakan Mij juga sudah melakukan percobaan pengeboran pertama di sebelah utara delta sungai Bulungan.

“Awalnya Pemerintah Hindia Belanda tidak setuju, karena mereka juga mau eksploitasi. Tapi karena modalnya tidak cukup, akhirnya Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin kepada NV Tarakan Mij untuk melakukan eksploitasi di Tarakan,”

Pada 1904 NV Tarakan Mij berhasil memproduksi minyak di Tarakan, termasuk ekspor minyak. Pada zamannya, dapat dikatakan NV Tarakan ini cukup sukses menyedot minyak di Tarakan. Sehingga kembali mengajukan permohonan konsesi.

Melihat pertambangan yang dilakukan NV Tarakan Mij ini berkembang, Pemerintah Hindia Belanda pun membentuk perusahaan yang diberi nama NV Koninklijke, dan disetujui pada 24 Desember 1906.

Konon, NV Koninklijke ini mendapatkan izin pengeboran di dua blok di wilayah Tarakan. Blok pertama seluas 4.951 hektare, dan belok kedua seluas 4.930 hektare. Izin pengeboran ini selama 75 tahun, nama kedua blok ini pun dikenal dengan sebutan Tarakan 1 dan Tarakan 2. Atau orang tua sekarang lebih mengenal dengan nama Patok 1 dan Patok 2.

Pertengahan 1900-an, NV Tarakan Mij dan NV Koninklijke ini mampu memproduksi minyak sebanyak 800 ton per hari. Produksi minyak ini terjadi lonjakan hingga 300 persen.

Pada akhir Mei 1920, tercatat produksi minyak mencapai 1.480 ton per hari. Bulan berikutnya naik menjadi 2.800 ton per hari. Kejayaan produksi minyak ini terjadi pada 1921, yakni berhasil mencapai 4.000 ton per hari yang bersamaan dengan penambahan sumur-sumur baru. “Memasuki tahun 1930-an ke atas, karena kondisi politik dan ekonomi yang dihadapi Belanda sehingga terjadi krisis. Sempat mengalami penurunan produksi dan kembali stabil pada tahun 1936 ke atas,” lanjutnya.

Pada 1922, NV Tarakan Mij melakukan survei dan memperluas konsesi. Percobaan pengeboran di Pulau Bunyu, ditemukan kandungan minyak yang sangat bagus. Konon, minyak di Pulau Bunyu ini termasuk minyak murni, sehingga tidak perlu disuling lagi.

“Cukup bersihkan air dan lumpurnya. Tapi tidak diizinkan oleh Belanda, karena ada permohonan dari Kolonial Belanda untuk melakukan eksploitasi sendiri melalui NV Koninklijke,” katanya.

Namun karena permasalahan modal besar yang tidak dimiliki Belanda, akhirnya NV Tarakan Mij mendapatkan izin eksploitasi minyak di Pulau Bunyu pada 1922.

Ternyata, keberhasilan NV Tarakan Mij ini dilirik oleh pemerintah Jepang. Konon pada saat itu, Jepang pun sangat membutuhkan pasokan minyak untuk kebutuhan industri.

Akhirnya pemerintah Jepang mendorong orang Jepang, termasuk mengirim siswanya dari Hiroshima ke Tarakan pada 26 Maret 1922.

“Siswa Jepang dari Hiroshima ikut dengan kapal tanker Jepang yang bernama Sata, untuk melihat cara eksploitasi minyak di Tarakan,” ucapnya.

Lalu bagaimana pula dengan Batavia Petroleum Maatchaapij atau yang lebih sering disebut BPM? Abdul Salam menjelaskan, sebelum BPM terbentuk, sebenarnya NV Tarakan Mij perusahaan pertama yang melakukan pengeboran minyak di Tarakan.

“Banyak informasi yang berkembang tentang BPM. Kalau melihat catatan izin konsesi, itu NV Tarakan Mij yang pertama. Karena di 1897 mereka sudah mengajukan konsesi, sedangkan BPM yang banyak dikenal masyarakat Tarakan baru dibentuk pada 1907,” jelasnya.

BPM ini terbentuk pada 1907. Terbentuknya BPM ini, dari konsorsium perusahaan yang memiliki modal besar. Bergabungnya NV Koninklijke dan Shell dari pemodal Belanda dan Amerika Serikat.

“Ada perusahaan Shell beroperasi di Indonesia pada saat itu di Indonesia, dan masuk di Tarakan. Tapi tidak ada catatan resmi yang saya dapat tentang Shell ini. NV Koninklijke dan Shell yang digabung menjadi satu, maka terbentuklah BPM,” katanya.

Pada masa itu, BPM ini penguasa eksplorasi dan eksploitasi minyak di Kalimantan. Baik dari skala regional maupun nasional. Melalui kekuasaannya ini, BPM mencoba monopoli beberapa perusahaan untuk mendapatkan konsesi. Sehingga perusahaan-perusahaan tidak dapat masuk, karena eksplorasi dan pelayaran sudah dikuasi oleh BPM.

“Mungkin karena itu, sehingga yang lebih banyak diberitakan itu BPM. Padahal ada perusahaan yang mungkin peran kecil, seperti NV Tarakan Mij juga penting karena perusahaan ini yang mengawali pertambangan minyak di Tarakan,” jelasnya.

Pada Mei 1910, BPM membangun pemancar radio di Tarakan. Tepatnya di daerah telaga air. Tower pemancar ini untuk alat komunikasi dalam kepentingan pelayaran. Sementara NV Tarakan Mij saat itu fokus pada produksi dan ekspor minyak mentah, dari minyak yang dihasilkan.

“Dulu ada namanya perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). 1908, KPM membuka pelayaran untuk Kalimantan Timur, rute Tarakan-Berau-Samarinda-Balikpapan. Tapi BPM ada kapalnya sendiri, jadi tidak pakai KPM,” katanya.

1912, BPM membenahi Pelabuhan Malundung, dan membangun gudang penampung minyak. Saat itu, minyak mentah dimasukkan di dalam drum, kemudian diekspor melalui pelayaran atau kapal. Ada kemungkinan di 1915, BMP yang membangun pelabuhan minyak Pertamina. “Memang kalau melihat peninggalan sejarah, lebih dominan BPM dibandingkan NV Tarakan Mij,” katanya.

Di 1922, BPM mulau merancang perumahaan untuk tenaga kasar di Pulau Bunyu. Di tahun itu pula, BPM pertama kali masuk di Pulau Bunyu. “Tapi sebelumnya NV Tarakan Mij sudah masuk. BPM hanya mengambil bagian konsesi NV Tarakan Mij, karena sudah dibatasi,” tutupnya. (***/lim)


BACA JUGA

Rabu, 27 Mei 2020 13:43

Usai Lebaran, Razia PSBB Tetap Lakukan

Tarakan –  Dengan adanya perpanjangan waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar…

Rabu, 27 Mei 2020 13:38

Udin Tetap Optimistis Berpasangan dengan Yansen

TARAKAN - Bursa pilgub Kaltara nampaknya akan memasuki babak baru…

Rabu, 27 Mei 2020 13:33

Rencana Ingin Silaturahmi, Sampan Justru Terbalik

TARAKAN – Kecelakaan kapal jenis sampan dengan muatan 2 orang…

Selasa, 26 Mei 2020 10:06

66 Narapidana Menunggu Remisi Susulan

TARAKAN - Tidak semua warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas…

Selasa, 26 Mei 2020 09:40

Lebaran, Nihil Laka Lantas

TARAKAN - Angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) selama malam…

Selasa, 26 Mei 2020 09:34

Imbauan Pemerintah Masih Tak Diindahkan

TARAKAN – Selama Ramadan 1441 Hijiriah, terlihat masih banyak masyarakat…

Selasa, 26 Mei 2020 09:30

H+2 Lebaran, Pasar Gusher Masih Sepi Pengunjung

TARAKAN -Bulan Ramadan memang menjadi momen di mana pasar menjadi…

Selasa, 26 Mei 2020 09:21

Tiga Hari Pantai Amal Tutup

HARI kedua Lebaran, objek Wisata Pantai Amal sepi. Biasanya, masyarakat…

Selasa, 26 Mei 2020 09:14

Moda Laut Dibuka 8 Juni

MESKI angka kasus positif covid-19 terus melandai di Tarakan, namun…

Minggu, 24 Mei 2020 11:49

Satu Bayi Lahir di Hari yang Fitri di RSUD

TARAKAN - Seorang bayi laki-laki lahir di Hari Raya Idulfitri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers