MANAGED BY:
RABU
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 14 September 2019 09:58
Kaltara Juga Diselimuti Kabut Asap, Titik Api Terbanyak di Bulungan

Bakar Lahan Terancam Pasal Berlapis

TERGANGGU: Kabut asap yang menyelimuti Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor mengakibarkan sebuah penerbangan dengan rute Balikpapan-Tanjung Selor dibatalkan, Jumat (13/9).

PROKAL.CO, DAMPAK kebakaran lahan yang terjadi di beberapa wilayah hingga ke Tarakan. Jumat (13/9) pagi, kabut asap terlihat di langit Tarakan. Kabut asap ini pula sempat memancing perhatian masyarakat, terutama aktivitas pelayaran.

Tapi tidak dengan jadwal penerbangan. Aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan, masih berjalan normal. Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan Budi Prayitno, mengatakan sebenarnya beberapa hari ini Tarakan sudah mulai berkabut. Tapi kabut asap Jumat lebih pekat. Namun tidak serta merta mengganggu aktivitas penerbangan.

“Memang lebih parah hari ini (kemarin), jelas kelihatan. Tapi pesawat tetap (terbang), katanya saat ditemui di kantornya, Jumat (13/9) pagi.

Biasanya kondisi langit berkabut asap, lebih berdampak pada penerbangan pesawat kecil. Dikatakannya, jarak pandang penerbangan sebenarnya pihaknya berkoordinasi dengan Air Navigation (Airnav) Tarakan. Saat dikonfirmasi Manager Keselamatan Airnav Tarakan, Dedy Sudaryono menjelaskan, sementara ini kabut asap tidak mengganggu jadwal penerbangan. “Terkait operasionalnya tidak ada yang cancel, normal saja,” kata Dedy.

Namun tidak menutupkemungkinan, semakin tebalnya kabut asap tentu dapat mengganggu aktivitas penerbangan. Sesuai dengan aturan penerbangan, ada jarak pandang minimum untuk pesawat yang sedang beroperasi.

Lebih lanjut dijelaskannya, pesawat yang melakukan pendekatan secara visual atau berorientasi pada pandangan mata, ground visibility minimal 3 statute miles atau 4,8 kilometer. “Kalau memang sudah mencapai kondisi minimum, nanti akan kita klaim bahwa Tarakan kondisi berasap dan jarak pandang minimum berkurang, jadi tidak memenuhi syarat untuk penerbangan yang visual,” tuturnya.

Sama halnya dengan pesawat yang menggunakan peralatan atau instrumen. Jarak pandang penerbangan, dengan ground vibility minimal 2.300 meter. “Itu pengukuran dari bawah, akan berbeda dengan pandangan pilot. Misalnya jarak pandang 1.500 pilot masih bisa melihat, kita serahkan ke pilotnya,” ujarnya.

Lantas dari mana asal kabut asap yang menyelimuti langit Tarakan ini? Dari pantaun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan melalui satelit, terdeteksi beberapa titik panas.

Dari peta sebaran titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Utara hingga pukul 07.00 WITA pada Jumat pagi, terpantau beberapa titik api yang tersebar di Bulungan, Malinau dan Tana Tidung. Terbanyak di Kabupaten Bulungan dengan 11 titik. Malinau 6 titik dan Tana Tidung 4 titik.

Tarakan semakin terdampak setelah pola angin bertiup dari arah selatan-barat daya. Sehingga kiriman asap mengarah ke Tarakan. “Jadi asapnya mengarah ke kita,” kata William Sinaga selaku Prakirawan BMKG Tarakan.

Tidak hanya pada Jumat, William mengaku kondisi kabut asap juga menyelimuti Tarakan beberapa hari sebelumnya. Namun hanya terlihat pada pagi hari, siang hari sudah hilang karena terpecah oleh angin. 

Sementara untuk tinggi gelombang pada Jumat, BMKG memprediksi masih dalam kondisi aman yakni 0,25 hingga 1 meter dengan kecepatan angin antara 10 knot hingga 25 knot. Namun, William mengingatkan agar tetap berhati-hati dalam berlayar. “Masih tergolong aman, tapi aktivitas perairan harus tetap waspada,” imbaunya.

 Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, mengatakan ,bahwa asap biasanya terjadi karena kebakaran hutan yang dipicu ulah manusia. Dirinya juga mengungkapkan, adanya kabut yang terjadi di Tarakan merupakan kabut kiriman. “Ini mulai lagi se-Indonesia. Yang terjadi ini hanya kabut kiriman saja,” ucapnya.

Melalui hal tersebut, Khairul mengimbau kepada masyarakat agar bertindak lebih hati-hati terutama saat hendak membakar sampah sehingga tidak menyebabkan adanya kebakaran lahan yang dapat mengakibatkan asap. “Kalau sudah pada level parah, saya pikir masyarakat harus pakai masker. Harapan kami kalau ada inisiatif pakai masker, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan hujan cepat turun. Kalau asap itu gangguan kesehatannya ke paru-paru, sehingga menyebabkan asma,” imbuhnya.

Kepala BMKG Kelas III Tanjung Harapan Muhammad Sulam Khilmi menjelaskan, kabut asap di Kaltara tak hanya kiriman dari daerah Kalimantan lainnya. “Ya ada dari Kaltara dan dari sekitarnya. Bukan brarti tidak (dari Kaltara). Karena selain dari daerah lain, (Kaltara) di sini juga produksi asap,” ucap Muhammad Sulam Khilmi, Jumat (13/9).

Daerah yang berkontribusi membuat kabut asap semakin menebal di wilayah Kaltara yakni Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Karena adanya angin Selatan yang berhembus menuju Tenggara.

Alhasil, jarak pandang atau visibility hanya 3 kilometer (km) sedangkan untuk jarak pandang minimal yakni 5 km untuk aktivitas penerbangan. Selain itu, kondisi yang terjadi adanya tekanan rendah di utara Indonesia. Alhasil, menyebabkan beberapa titik di perairan Kaltara meningkat dan pertumbuhan awan konvektif.

“Kondisi ini menyebabkan angin dan gelombang tinggi. Dan saat ini terpantau kecepatan angin 4 knot sempat berada di kecepatan 15 knot. Sedangkan normanya kecepatan angin yakni 5 hingga 7 knot,” tambahnya.

Kasubsi Teknik, Operasi, Keamanan dan Pelayanan Darurat pada Bandara Tanjung Harapan Robby Fajar Suryanegara menyampaikan kondisi yang terjadi tentunya memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan. Diketahui, satu maskapai cancel (membatalkan) rute Balikpapan-Tanjung Selor.

“Jumat sesuai jadwal ada satu maskapai yang masuk. Tetapi hari ini cancel. Kondisi ini tiap hari kita monitor terus,” bebernya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulungan Ali Patokah menyampaikan pada Kamis (12/9) sekira pukul 14.00 WITA pihaknya berupaya memadamkan karhutla yang terjadi di Desa Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur. Lahan yang terbakar sekira 2 hektare (ha) ludes terbakar. Melibatkan sejumlah personel dan dapat dipadamkan hingga pukul 24.00 WITA.

“Kemungkinan dari pengunjung pantai yang bakar-bakar ikan. Karena lokasi yang terbakar berada di pinggir pantai kemudian melebar ke lahan,” imbuhnya.

 

KETEBALAN ASAP MENCAPAI 5 KM

Sementara BMKG Nunukan, telah melakukan analisa sebaran asap wilayah Kabupaten Nunukan, berdasarkan data hotspot pada Kamis (12/9). Memiliki peningkatan di sebagian besar di wilayah Kalimantan.

Meteorologi dan Geofisika (PMG) Pertama Forecaster BMKG NunukanTaufik Rahman mengatakan, untuk wilayah yang mengalami peningkatan titik hotspot yakni  Kaltim, Kalteng, Kalsel dan Kaltara. “Tingkat akurasi kepercayaan di atas 50 persen  ada 14 titik dan tersebar di beberapa wilayah,” kata Taufik Rahman.

Untuk wilayah Kaltara seperti Tana Tidung, Malinau, Bulungan dan Nunukan hingga ke negara tentangga yang  berbatasan langsung dengan wilayah Nunukan, juga terdeteksi hotspot dan ada indikasi  karhutla  di  wilayah  tetangga.  Serta  arah  angin  yang  cukup  dominan  dari tenggara  dan  selatan  ke  barat  laut  dan  utara.

Dari arah angin tersebut membuat Kabupaten Nunukan terkena dampak  dan diselimuti  asap  yang  cukup  jelas  terlihat.  Artinya  asap  yang  menyelimuti  wilayah Nunukan merupakan  dampak  kiriman  dari  wilayah  lainya.

“Selain itu cuaca  di Nunukan yang dominan dipengaruhi faktor lokal dan hujan yang terjadi sebaran tidak merata, sehingga meskipun di guyur hujan dalam beberapa hari terakhir potensi asap masih terus meningkat hingga 3 hari kedepan,” ujarnya.

Untuk itu, BMKG Nunukan telah mengimbau agar tetap waspada dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar. Untuk jalur  transportasi khusus laut dan udara, agar selalu  memperbarui  info  terkini  BMKG,  karena  dampak  sebaran  asap  saat  ini  cukup memengaruhi  jarak  pandang  visual  di  lapangan  sehingga  berbahaya  bagi transportasi  laut  dan  udara.

Hingga  kini  terpantau  jarak  pandang  akibat  sebaran asap  yang  menyelimuti Nunukan berkisar  5  kilometer (km)  yang  merupakan  jarak  minimum untuk  standar  penerbangan.  dan  ini  bisa  cenderung  menurun  jika  arah  angin  dominan  masih  sama  berasal  dari  domain  yang  terdeteksi  hotspot.

Selain itu, ia menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak  memanfaatkan  situasi  dalam  membuka lahan, apalagi dengan cara membakar.

Diharapkan  peran  serta  dan  kesadaran  masyarakat  dalam menjaga  lingkungan  karena  dampak  dari  membuka  lahan  dengan  cara  dibakar, sangat merugikan bukan hanya dari segi kesehatan, kondisi kingkungan yang rusak. Selain itu, mempengaruhi perubahan cuaca dan iklim di wilayah sekitar.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Utara (Kaltara) telah mengeluarkan maklumat sejak Agustus lalu melalui maklumat Nomor: MAK/01/VIII/2019. Maklumat tersebut menerangkan tentang larangan pembakaran hutan dan lahan.

“Setiap warga masyarakat dan para pelaku usaha di bidang kehutanan, perkebunan dan pertanian dilarang melakukan pembukaan hutan dan lahan atau land clearing dengan cara melakukan pembakaran. Kedua, bagi setiap warga masyarakat yang mengetahui, melihat dan menemukan adanya titik api di lokasi hutan maupun lahan milik sendiri/orang lain maupun pelaku usaha agar segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian maupun TNI serta pemerintah setempat/instansi terkait lainnya untuk dilakukan penanganan atau pemadaman,” terang Kapolda melalui Kabid Humas Polda Kaltara AKBP Berliando, Jumat (13/9).

Selain itu, terhadap para pelaku pembakaran hutan dan lahan akan dikenakan pasal berlapis karena telah melakukan tindak pidana sesuai Pasal 187 KUHP apabila dengan sengaja menimbulkan kebakaran, diancam pidana penjara 12 (dua belas) tahun. Pada Pasal 188 KUHP apabila karena kealpaannya (kesalahan menyebabkan kebakaran), diancam sanksi pidana kurungan 5 (lima) tahun.

Pada Pasal 78 ayat 3 Undang-Undang RI Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, barang siapa dengan sengaja membakar hutan diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar. Masih di UU yang sama, Pasal 78 ayat 4, Barang siapa karena kelalaiannya menyebabkan kebakaran hutan” diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.

“Aturan lainnya yakni Pasal 108 Undang-Undang RI Nomor 32 tahun 2004 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang berbunyi, melakukan pembakaran lahan dengan cara membakar dipidana  dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp 3 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar. Pada Pasal 108 Undang-Undang RI Nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan, setiap pelaku usaha perkebunan yang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat 1 dipidana dengan pidana penjara lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar,” tukas Berliando. (shy/*/one/akz/*/jai/nal/lim)

 


BACA JUGA

Rabu, 16 Oktober 2019 09:57

Lagi, Kaltara Mendapat Hadiah Dana Insentif

 JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali akan…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:45

Asik Ngopi, 4 PNS Terjaring Satpol PP

 TARAKAN – Razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:41

Penyelundupan Daging Kerbau Meningkat

 TARAKAN – Berbatasan dengan Malaysia, potensi penyelundupan barang dari Malaysia…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:22

Pastikan Kaltara Kondusif Jelang Pelantikan Presiden

 TARAKAN- Jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20…

Selasa, 15 Oktober 2019 20:45

Lagi, Kaltara Mendapat Hadiah Dana Insentif

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali akan…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:54

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

   TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:42

Tertinggi Kedua, IPK Kaltara di Atas DKI Jakarta

 JAKARTA - Meski baru berusia 6 tahun, Provinsi Kalimantan Utara…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:30

KUMAT..!! Gas Elpiji 3 Kilogram Langka Lagi

 TARAKAN - Kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram di Kota…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:22

Antara Prestasi dan Nama Daerah

   MOES Santoso, sangat menyayangkan keberhasilan cucunya ini tidak membawa…

Senin, 14 Oktober 2019 21:39

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu (BKIPM)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*