MANAGED BY:
RABU
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 14 September 2019 09:29
Berawal dari Patungan, hingga Sukses Mencapai Omzet Rp 30 Juta

Mengembangkan Usaha dengan Memanfaatkan Teknologi Digital

INSPIRASI: Rutinitas Ayu Purnamasari saat mengecek orderan. Dari usaha puding, ia berhasil mengembangkan 20 produk.

PROKAL.CO, Roda kehidupan benar adanya. Terkadang status manusia di titik terendah, adapula yang disanjung tinggi. Untuk sukses memang butuh perjuangan. Seperti yang dilalui Ayu Purnamasari, dengan modal Rp 40 ribu mengantarkan kesuksesannya.

 NAMA Ayu Purnamasari mungkin sudah tidak asing di kalangan pecinta kuliner. Ia juga tergabung di dalam Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Tarakan.

Tidak hanya fokus pada pengembangan kuliner, tapi disibukkan dengan usaha laundry (jasa pencucian) yang dirintisnya sejak 6 tahun lalu, bersama suaminya. Usahanya ini tergolong sukses.

Mencapai di puncak ini, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Atau yang dianggap kebanyakan orang. Padahal jalan berliku-liku dilaluinya. Usahanya dimulai dengan berjualan puding, tepatnya 2012 silam.

Seakan memiliki jiwa berbisnis, ia pun bereksperimen di dapur. Padahal hanya bermodalkan Rp 40 ribu, hasil patungan dengan adiknya, dibuatnya puding. “Memang pas lulus SMA itu saya sudah jualan puding, mungkin masih usia 18 tahun. Patungan sama adik, Rp 20 ribu per orang. Kalau mama tidak bolehin acak-acak dapur. Begitu mama berangkat, akhirnya kami bereksperimen di dapur. Tapi memang dari sekolah sudah punya basic jualan,” kata wanita kelahiran Tarakan, 6 November 1989.

Digelutinya hingga melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Tarakan. Promosi dari mulut ke mulut, hingga membagi-bagikan brosur. Maklum saat itu internet tidak begitu dikenal.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai mengenal Blackberry Messenger atau lebih sering disebut BBM saat zamannya. “Kalau dulu kan tidak seperti sekarang, sudah ada forum. Kemudian aku mulai down karena puding itu mudah ditiru, dan banyak saingannya. Dulu aku juga kerja sambil kuliah, jadi ada teman yang bilang kuliah komputer kok jualan puding, tapi aku enggak masukin dalam hati,” lanjut wanita berusia 29 tahun ini.

Merasa puding termasuk produk yang mudah ditiru, ia pun beralih ke olahan tapai di 2013 lalu. Konon tapai ini memang sudah digeluti orang tuanya. Ia bermaksud ingin mengembangkan.

“Orang bilang tapai banyak pantangannya, jadi coba buat tapai karena mungkin tidak semua orang mau buat tapai. Bahkan ada yang tidak percaya, kalau saya bisa bikin tapai,” katanya.

Saat itu ibunya di luar kota, dan ada pesanan tapai. Mau tidak mau, ia nekat dan mengikuti instruksi ibunya via telepon. Mendadak ia jatuh hati pada hasil produknya itu.

“Dulu saya kerja di Kodim, pas natalan bos di kantor pesan tapai. Karena mamaku tidak di Tarakan, jadi saya belajar bikin tapai via telepon. Bisa dibilang itu produk pertamaku,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, teknologi pun semakin canggih. Mengembangkan usaha termasuk memasarkan, ia lebih banyak manfaatkan teknologi digital. Mulai dari Facebook, WhatsApp dan Instagram.

“Sekarang sudah canggih, sudah banyak forum. Online juga sudah banyak, jadi enggak seperti dulu dari mulut ke mulut promosinya,” lanjutnya.

Berawal dari puding, siapa sangka usahanya kini terus berkembang. Kira-kira sudah ada 20 produk yang dihasilkannya. Baik produk basah, maupun produk kering. Mulai dari tapai, teh bawang Dayak, kopi Malinau, kopi Pagun, beras adan, garam gunung, pempek udang, pempek bandeng, rumput laut dan produk lainnya. Produk-produknya ini sudah mengisi 10 toko yang ada di Tarakan.

Usahanya terus melejit, penghasilannya pun meningkat. Sekitar Rp 30 juta per bulannya. Dari usahanya ini juga ia berhasil memperkerjakan lima orang.

“Kalau produk basah agak susah mau dikirim ke kota jauh, kecuali konsumen bawa sendiri pas mau berangkat. Yang produk kering kita pernah kirim ke Sulawesi, Jawa, Batam. Saat ada acara yang pertemuan 3 negara, ada delegasi dan orang dari Brunei Darussalam bawa teh bawang Dayak. Sampai sekarang dia masih pesan berkelanjutan,” katanya.

Dengan kisaran harga Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu, rerata produknya ini memanfaatkan bahan lokal, khas Kalimantan Utara. Mulai dari tanah Tarakan, Malinau, Nunukan dan Tanjung Selor. Baginya usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. (*/lim)


BACA JUGA

Rabu, 16 Oktober 2019 09:57

Lagi, Kaltara Mendapat Hadiah Dana Insentif

 JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali akan…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:45

Asik Ngopi, 4 PNS Terjaring Satpol PP

 TARAKAN – Razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:41

Penyelundupan Daging Kerbau Meningkat

 TARAKAN – Berbatasan dengan Malaysia, potensi penyelundupan barang dari Malaysia…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:22

Pastikan Kaltara Kondusif Jelang Pelantikan Presiden

 TARAKAN- Jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20…

Selasa, 15 Oktober 2019 20:45

Lagi, Kaltara Mendapat Hadiah Dana Insentif

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali akan…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:54

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

   TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:42

Tertinggi Kedua, IPK Kaltara di Atas DKI Jakarta

 JAKARTA - Meski baru berusia 6 tahun, Provinsi Kalimantan Utara…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:30

KUMAT..!! Gas Elpiji 3 Kilogram Langka Lagi

 TARAKAN - Kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram di Kota…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:22

Antara Prestasi dan Nama Daerah

   MOES Santoso, sangat menyayangkan keberhasilan cucunya ini tidak membawa…

Senin, 14 Oktober 2019 21:39

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu (BKIPM)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*