MANAGED BY:
SABTU
30 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Jumat, 13 September 2019 11:03
Tiga Daerah Ditetapkan Penyangga Pangan IKN

2019, Food Estate Surplus 13 Ton

SURPLUS PANGAN: Inspektur Jenderal Kementan, Justan Riduan Siahaan (kanan) menyerahkan gabah padi unggulan bersertifikat kepada salah satu petani Bulungan.

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR - Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) menetapkan tiga daerah di Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai penyangga pangan di ibu kota negara (IKN ) Kalimantan Timur (Kaltim). Tiga daerah itu adalah Kabupaten Bulungan, Malinau dan Nunukan.

Inspektur Jenderal Kementan, Justan Riduan Siahaan, M.Ak, Caa, Ac mengatakan, ketiga daerah itu nantinya akan menjadi penyangga pangan komoditas padi, bawang merah dan cabai. Untuk Kabupaten Malinau, selain padi, bawang merah dan cabai diharapkan juga dapat mengembangkan komoditas jagung.

"Jadi ketiga daerah itulah yang nantinya akan menyangga pangan di IKN baru," kata Riduan kepada Radar Kaltara usai menutup kegiatan Pekan Daerah (Peda) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ke II tingkat Provinsi Kaltara.

Dalam hal ini, Kementan berharap kepada setiap daerah yang telah ditetapkan sebagai penyangga pangan agar segera mencari lokasi yang cocok untuk ditanam komoditas bawang merah, cabai, padi dan jagung.

"Sebagai penyangga pangan, Pemerintah Daerah (Pemda) dituntut untuk selalu aktif berkoordinasi, jangan berjalan sendiri-sendiri. Ayo kita lakukan bersama-sama,” bebernya.

Sementara untuk daerah yang belum terpilih sebagai penyangga pangan, Kota Tarakan dan Kabupaten Tanah Tidung (KTT) jangan berkecil hati, dan diharapkan mengembangkan komoditas unggul lainnya. “Sesuai nasihat dari Bapak Menteri Pertanian, pejuang besar itu akan lahir dari ombak besar. Jadi karena tidak terpilih jadi penyangga bukan berarti Tarakan dan KTT tidak diperlukan, tetap diperlukan,” bebernya.

Indonesia, jelas Riduan, merupakan negara agraris sehingga sangat cukup untuk menjadi lumbung pangan dunia. Yang kurang saat ini hanya jumlah petani. “Tapi saya sangat berterima kasih dengan para petani, karena tanpa bantuan dari bapak ibu petani capaian investasi Indonesia tidak akan dapat naik,” ujarnya.

Dikatakan, 43 perusahan baru saja hengkang dari Cina, tidak satupun yang beralih ke Indonesia, bahkan 47 perusahaan yang hengkang dari Jepang hanya 10 yang masuk ke Indonesia. Padahal lahan pertanian tersedia, dan potensinya juga besar. “Kajian dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan bahwa 1 persen kenaikan anggaran pertanian petanian itu berkontribusi kepada 0,33 persen kenaikan pendapatan daerah,” bebernya.

Untuk diketahui, bahwa selama tiga tahun terakhir Kementan juga selalu memperoleh Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), WTP itu ditambah lagi dengan predikat pengelolaan anti gravitasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Maka tidak heran jika inflasi pun paling bagus pada sektor pertanian, turun dari 10 persen pada 2014 menjadi 1,26 persen pada tahun 2017. Posisi investasi naik, pengelolaan negara naik. Kemudian kita semua juga turun ke lapangan, sehingga kita tahu semua apa yang menjadi permasalahan di lapangan,” bebernya.

Oleh karena itu Kementan berharap kepada Gubernur Kaltara, DPRD Kaltara, dan Bupati/Wali Kota untuk selalu bersinergi membangun pertanian yang ada di Kaltara.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Bulungan, Achmad Yani mengatakan, untuk lokasi penyangga pangan tersebar di 10 kecamatan yang ada di Bulungan. “Khusus untuk padi ladang ada di wilayah hulu, kalau di wilayah Tanjung Selor lebih kepada padi sawah,” bebernya.

Untuk produktivitas di kawasan food estate, sejauh ini per hektare (ha) masih 4,2 ton masih perlu ditingkatkan lagi. Kemudian indeks penanaman di Bulungan juga masih 100. Artinya, saat ini di Bulungan baru sekai panen.

“Ada yang sudah dua kali panen tapi tidak banyak. Tapi kalau kita sudah tingkatkan, saya rasa Bulungan akan surplus, sekarang ini juga sedang surplus sekitar 13 ton di tahun 2019, dari 4,2 ton kita bercita-cita bisa mencapai 5,7 ton,” bebernya.

Untuk bawang, juga sudah dicoba di daerah Sepunggur. Namun, saat ini Dispertan terus berupaya meningkatkan produktivitas. “Di Sepungur itu bukan hanya bawang saja, bahkan ada juga sayur-sayuran,” tuturnya.

Beras Luar Tak Pengaruhi Keberadaan Beras Lokal

Sementara itu, terkait keberadaan beras lokal hingga kini masih diminati masyarakat. Meski beras dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi, diketahui masih saja ‘membanjiri’ pasar–pasar tradisional di Bumi Tenguyun ini. Secara tak langsung hal itu membuat persaingan tersendiri dari beras hasil petani lokal.

Pasalnya, dengan membludaknya beras yang didatangkan dari luar daerah. Maka, potensi beras lokal yang akan ‘tergerus’ bisa saja terjadi di pasar tradisional tersebut.

Namun, di lapangan beras lokal diklaim tetap menjadi primadona oleh masyarakat selaku konsumen. Sebab, sejauh ini permintaan tetap tinggi setiap harinya. Tak lain, dikarenakan saat ini sekalipun beras lokal mengenai kualitas juga cukup baik.

Misal seperti diungkapkan Yohana, salah seorang pedagang beras lokal di Pasar Induk, Tanjung Selor. Dirinya mengaku bahwa penjualan beras lokal sejauh ini mengalami peningkatan setiap harinya. Yakni dari 100 kilogram (kg)–150 kg menjadi 200–300 kg per harinya.

“Kalau dibandingkan dengan beras yang didatangkan dari luar. Beras lokal ini memang ada yang lebih mahal. Tapi, itu tak mempengaruhi dari daya beli konsumen. Penjualan tetap meningkat,” ungkapnya yang saat itu sembari melayani pembeli.

Lanjutnya, jika dikalkulasikan setiap pekannya. Diketahui, hasil dari penjualan beras lokal yang biasa didatangkan dari petani asal Sajau, Long Pari dan Teras itu bisa mencapai lebih dari 1 ton. Tergantung dari jumlah beras lokal yang didapatkannya dari para petaninya secara langsung.

“Menurut kami soal peningkatan penjualan ini menandakan masyarakat lokal mulai mempercayai hasil dari panen petani lokal. Dan kami berharap dengan kualitas yang sudah terbilang baik dapat terus dipertahankan. Karena ini berdampak pada penjualannya itu sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, dalam penjualan beras lokal yang memiliki kualitas bagus. Dirinya menyebutkan bahwa bisa menyentuh harga Rp 20 ribu per kg. Dan jika kualitas sedang antara Rp 16 ribu sampai Rp 18 ribu per kg. “Harga itu memang sudah masuk dalam akomadasi dan lainnya. Apalagi, memang beras lokal itu memiliki kualitas,” ucapnya.

Sementara, di tempat yang sama, Darma salah seorang pembeli beras lokal di Pasar Induk itu mengatakan, dipilihnya beras lokal karena menurutnya jauh lebih aman untuk dikonsumsi. “Dulu memang saya suka membeli beras yang didatangkan dari luar daerah. Tapi, setelah tahu ada beras lokal yang kualitasnya tak kalah. Ya, jadi saya lebih memilih beras lokal hingga saat ini,” katanya yang mengaku telah mengonsumsi beras lokal dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Dirinya berharap, dengan semakin seringnya dirinya mengonsumsi beras lokal. Maka, kualitas dari beras lokal itu sendiri ke depannya dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Sehingga cakupan masyarakat di daerah ini untuk mengonsumsi beras lokal semakin meluas.

“Kualitas yang baik itu menentukan daya beli dan tingkat konsumsi. Nah, kami sebagai konsumen berharap kualitasnya terus dijaga dan ditingkatkan,” tutupnya.

Terpisah, saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertanian Bulungan, Ahmad Yani dalam hal ini membenarkannya. Di mana sekalipun beras lokal acap kali dibanjiri dari beras yang didatangkan dari luar, persaingan tetap ada dan ‘menggigit’. Beras lokal yang ibarat baru mulai melebarkan sayapnya mulai menunjukkan kualitasnya yang luar biasa.

“Dari kami (Dinas Pertanian) berupaya untuk terus meningkatkan kualitas beras lokal itu sendiri. Yaitu dengan memilah varietes unggul dan lainnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, mengenai harganya yang diturunkan dari para petani. Menurut Yani sapaan akrabnya bahwa tak cukup mahal sejatinya. Hanya, memang itu tergantung dari kualitas dari bibit padinya. Dan harga yang ada saat ini terbilang wajar. “Petani tentu tak ingin rugi bila penjualan terlalu murah. Tapi, di lapangan sejauh ini aman terkendali,” ujarnya.

Ditanya mengenai konsep ke depannya yang akan dilakukannya, pihaknya mengatakan bahwa akan terus memperbaiki dari segi kemasan agar dapat jauh lebih menarik laiknya beras dari luar. “Ini akan terus kami pola dengan tujuan masyarakat semakin mencintai beras lokal,” ungkapnya. (*/jai/omg/eza)


BACA JUGA

Sabtu, 30 Mei 2020 11:50

Ke Jakarta Wajib Tes Swab, Rapid Test Berharga Rp 1 Juta Dihentikan

TANJUNG SELOR – Penerapan tarif biaya keterangan sehat disertai hasil…

Jumat, 29 Mei 2020 10:38

Masa Pandemi, Nihil PAD di Sektor Objek Wisata

TANJUNG SELOR – Jika selama ini sektor objek wisata diandalkan…

Jumat, 29 Mei 2020 10:32

15 Jabatan Akan Dilelang

TANJUNG SELOR - Beberapa kursi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama…

Jumat, 29 Mei 2020 10:28

MANTAP..!! Ruas Jalan Krayan-Malinau Selesai Sebelum 2024

TANJUNG SELOR – Berdasarkan paparan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan…

Jumat, 29 Mei 2020 10:14

New Normal, Pengunjung Wajib Pakai Masker

TANJUNG SELOR – Di masa pandemi CoronaVirus Disease 2019 (Covid-19), Kementarian…

Kamis, 28 Mei 2020 14:35

Ombudsman Anggap Penting Siagakan APD di Posko

TANJUNG SELOR - OmbudsmanRI Perwakilan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menilai…

Kamis, 28 Mei 2020 14:33

Fenomena Matahari Tepat di Atas Kakbah

TANJUNG SELOR – Fenomena matahari berada tepat di atas Kakbah…

Kamis, 28 Mei 2020 14:30

Puluhan Desa Mulai Salurkan BLT-DD

TANJUNG SELOR – DinasPemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bulungan…

Kamis, 28 Mei 2020 14:27

Rapid Test Satu Keluarga Reaktif

TANJUNG SELOR – Satu keluarga di Kelurahan Tanjung Selor Hulu,…

Kamis, 28 Mei 2020 14:07

Tes PCR Paling Lambat Awal Juni

JIKA tak ada aral, akhir Mei atau paling lambat awal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers