MANAGED BY:
SENIN
16 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 24 Agustus 2019 10:36
Bagaimana Posisi Tarakan Ketika Ibu Kota di Kaltim..?

Wajib Merefleksi Kepulauan Seribu

Kota Tarakan tampak dari udara. RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Meski akhirnya dianulir, pernyataan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil, Kamis (22/8) yang menyebut Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi provinsi yang terpilih sebagai ibu kota negara yang baru, mendapat tanggapan beragam. Kalimantan Utara (Kaltara) diperkirakan akan merasakan banyak keuntungan dari pemindahan tersebut.

Pengamat ekonomi sekaligus akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT) Margiyono mengungkapkan, kebijakan pemindahan ibu kota salah satunya dilandasi semangat pemerataan pembangunan.

Menurutnya, selama ini segala aktivitas hanya berpusat dan berkutat di wilayah Pulau Jawa saja. Sehingga dengan kondisi tersebut menimbulkan berbagai masalah baru, baik internal maupun eksternal. Seperti ledakan penduduk di Pulau Jawa, tidak meratanya pembangunan, dan munculnya kecemburuan sosial.

“Jadi prinsip dari pembangunan wilayah bagaimana itu menciptakan aktivitas. Di Jawa itu semua aktivitas berkumpul menjadi satu dari aktivitas administrasi, pemerintahan, bisnis, pendidikan, industri dan sosial. Semua terpusat pada satu tempat, berkumpulnya semua pusat aktivitas pada satu daerah, itu secara langsung menimbulkan tidak meratanya perputaran ekonomi. Sehingga, akan menimbulkan kesenjangan pada kesejahteraan penduduk,” ujarnya, kemarin (23/8).

Pemerintah sejak lama memikirkan pemindahan tersebut. Hal tersebut terbukti, saat presiden pertama Ir. Soekarno pernah melirik Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai calon ibu kota. Lanjutnya, dengan ditunjuknya Kaltim sebagai kawasan ibu kota nantinya, tentu akan berdampak positif bagi pembangunan di Pulau Kalimantan.

“Penentuan di Kaltim ini tentunya bisa menciptakan aktivitas baru yang berdampak kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Karena secara geografis, Kalimantan berada di tengah atau di titik sentral. Andaikan Tarakan ini tergabung dalam daratan Kalimantan, tentu ini akan lebih baik lagi,” tukasnya.

“Jadi kalau misalnya 1 kota ada aktivitas baru, maka ia akan berkembang dari desa ke kabupaten dan kabupaten bisa berkembang menjadi kota. Seperti halnya Jabodetabek, itu kan awalnya masing-masing ada kabupaten dan kota. Tapi setelah melebarnya aktivitas, sehingga memunculkan kesetaraan di daerah berdekatan. Sekarang tidak ada perbedaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Semua rata karena adanya perluasan aktivitas. Jadi hanya batas-batas wilayah yang secara administratif ada, tapi kondisi antara kota satu dan kota lainnya itu tidak jauh berbeda,” jelasnya.

Lanjutnya, dengan pemindahan ibu kota juga tidak akan berdampak signifikan pada perekonomian di Pulau Jawa. Mengingat Pulau Jawa saat ini sudah menjadi pusat ekonomi yang mampu menjaga roda perekonomian pada sektor yang sudah ada.

“Jadi kemungkinan besar, penempatan Kaltim sebagai ibu kota tentu tujuannya adalah bagaimana nanti, efesiensi tidak hanya bertumpuk pada satu titik. Karena walaupun Jakarta sudah tidak menjadi ibu kota lagi, namun Jakarta tetap menjadi pusat perekonomian di Jawa,” ulasnya.

Meski demikian, di balik euforia dan harapan positif penduduk Kalimantan pada umumnya, ia menjelaskan jika Tarakan memiliki tantangan dengan perpindahan ibu kota. Menurutnya tantangan tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis Tarakan yang terpisah dari daratan Kalimantan tidak seperti wilayah lainnya.

Seperti halnya yang terjadi pada Kepulauan Seribu yang masih menjadi bagian dari DKI Jakarta. “Tapi yang saya amati, sedikit sikap kurang optimistis dengan perpindahan ibu kota ini, memang Jabodetabek begitu maju, tapi bagaimana nasib Pulau Seribu. Secara geografis pulau seribu serupa dengan Tarakan, yaitu daerah kepulauan yang letaknya tidak jauh dari pusat pemerintahan,” imbuhnya.

“Nyatanya meskipun Kepulauan Seribu bagian dari Jakarta kondisinya tidak mengalami kemajuan. Refleksi itu harus kita bawa ke Kalimantan bagaimana nasib Tarakan setelah berpindahnya ibu kota nanti? Artinya gambaran geografis Pulau Seribu, kemungkinan bisa dialami Tarakan. Sekalipun, dampaknya sangat kecil,” ungkapnya.

Dijelaskannya, perluasan aktivitas secara alamiah, melahirkan adanya kawasan prioritas yang tentunya mudah diakses kendaraan apa saja. Sehingga kondisi tersebut tidak menguntungkan Tarakan yang notabene merupakan kawasan yang terpisah dari daratan Pulau Kalimantan.

“Kondisi yang berbentuk kepulauan, tentu menimbulkan tantangan bagi Kota Tarakan menghadapi persaingan pembangunan dari daerah sekitar ibu kota lainnya,” sambungnya.

“Perkembangan yang cepat tentu terjadi pada aktivitas di daratan Borneo, sekalipun Tarakan menjadi parameter perekonomian Kaltara. Misalnya, padatnya aktivitas kendaaran yang meluas di daratan Kalimantan akan menimbulkan perluasan aktivitas baru di daratan itu, seperti titik pemukiman baru, usaha baru, atau prasarana baru. Jadi sepanjang daratan akan ada aktivitas baru dan meluas dalam prosesnya,” ujarnya.

Jika Kota Tarakan tidak dapat memberikan jaminan kesejahteraan dan kenyamanan bagi penduduknya, tidak menutup kemungkinan akan terjadi perpindahan penduduk dalam jumlah besar dari daerah ke daerah lainnya.

Nada agak pesimis itu beralasan. Tarakan dibatasi dengan laut. “Jika ada aktivitas keberangkatan melalui laut misalnya, hal itu tidak akan berpengaruh  di laut, tidak ada permukiman baru, tidak ada bengkel baru, tidak ada warung baru, semua tidak ada. Sehingga, perluasan alami hanya terjadi pada daerah yang tersambung,” ulasnya.

Perluasan aktivitas di daratan Kalimantan, kata dia, jika tidak diimbangi dengan kemajuan di Tarakan dapat berdampak perpindahan penduduk satu ke daerah lainnya termasuk investor. Sehingga bisa saja penduduk berbondong-bondong pindah dari Tarakan ke Tana Tidung, Bulungan, Nunukan atau Malinau yang memiliki daratan bersambung. Kira-kira itu yang bisa menjadi dampak negatif perpindahan ibu kota Ini,” imbuhnya.

 

INGATKAN KAJIAN MATANG

Meski dianggap akan menaikkan perekonomian di Kalimantan, rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta menuju Kaltim harus melalui perencanaan yang matang.

Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, mengatakan, bahwa jika dinyatakan pindah ke Kaltim, maka pemindahan ibu kota negara akan berdampak pula di Tarakan.

“Kalau lihat Jakarta, daerah sekitarnya pun mengalami perkembangan yang cukup besar, pertambahan penduduk meningkat, penambahan penduduk juga menjadi lebih cepat karena ibu kota merupakan bentuk cerminan dunia luar. Oleh karena itu kita bersyukur kalau Kalimantan ditunjuk sebagai ibu kota,” ucapnya.

Merupakan sebuah berita yang menggembirakan apalagi jika memberikan dampak yang besar bagi Kaltara.

Salah seorang tokoh masyarakat Kota Tarakan, Amir Hamzah mengatakan bahwa pada prinsipnya seluruh masyarakat Indonesia wajib mendukung keputusan pemerintah pusat, termasuk rencana pemindahan ibu kota itu. “Jakarta sudah selayaknya harus dievaluasi untuk dicarikan solusi, sehingga sistem pemerintahan di pusat terasa nyaman, aman dan mudah,” bebernya.

Jika melihat kondisi Jakarta saat ini, menurut Amir sudah tidak nyaman lantaran kepadatan penduduknya. Tingkat polusi pun tinggi.

“Sudah selayaknya kita berpikir. Ini juga adalah cita-cita Presiden Soekarno yakni memindahkan ibu kota negara di Kalimantan,” ujarnya.

Meski begitu, pemindahan ibu kota negara tidak dapat dilakukan serta merta, sebab harus memiliki kajian komprehensif. “Tapi pada prinsipnya saya mendukung memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan, tapi ini bukan solusi terbaik,” katanya.

Penetapan secara regulasi bahwa ibu kota negara akan dipindahkan ke Kalimantan Timur tentu akan berdampak di seluruh Kalimantan. Salah satu contoh strategi pembangunan bersama yang harus dilakukan pemerintah pusat ialah dengan melihat potensi masing-masing daerah, misalnya Kalimantan Selatan (Kalsel) yang memiliki potensi tambang emas sehingga Kementerian ESDM wajib berada di Kalsel. Sedang Kaltara memiliki potensi perikanan yang besar seharusnya memiliki pembangunan Kementerian Kelautan dan Perikanan, begitu pula kondisi Kalimantan yang lain.

“Jadi pembangunan yang dilakukan secara bersamaan, akan dirasakan. Itulah multiefek ketika ibu kota berpindah, bukan hanya memutuskan atau mempermudah urusan ke pusat, tapi ada secara infrastruktur yang dirasakan langsung,” jelasnya.

Secara akademis, dirinya memilih kawasan Jawa Barat yang menurutnya lebih dekat dan lebih murah.

Pasalnya, jika memindahkan ibu kota negara dengan kondisi utang negara saat ini menurutnya kecil kemungkinan akan terwujud. Untuk itu, sepanjang utang negara masih besar, dirinya pesimis jika ibu kota negara dipindahkan ke Kaltim.

“Tapi kalau utang negara sudah terhapus atau sudah berkurang banyak, maka satu atau dua tahun ini bisa berpindah. Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, dengan kondisi Jakarta seperti itu bukannya memindahkan, tetapi bagaimana menyelesaikan permasalahan seperti menangani tingkat kemacetan. Inilah kelemahan kita, karena Jakarta seluruhnya di sana, ibu kota iya, industri iya, wisata, pendidikan semua di Jakarta, ini yang membuat semrawut. Ke depannya kalau memang pindah, seharusnya tidak seperti itu,” tegasnya. (*/zac/shy/lim)

 

 

loading...

BACA JUGA

Minggu, 15 September 2019 01:06

Maklumat Kapolda, Bakar Lahan Terancam Pasal Berlapis

KEPALA Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Utara (Kaltara) telah mengeluarkan maklumat…

Minggu, 15 September 2019 01:00

APA MAKSUD INI...?? Beredar Spanduk Mantan Bupati Enrekang, Mau Maju Pilgub Kaltara?

 TOKOH lain yang juga menjadi pembicaraan di tengah masyarakat adalah…

Sabtu, 14 September 2019 09:58

Kaltara Juga Diselimuti Kabut Asap, Titik Api Terbanyak di Bulungan

DAMPAK kebakaran lahan yang terjadi di beberapa wilayah hingga ke…

Sabtu, 14 September 2019 09:29

Berawal dari Patungan, hingga Sukses Mencapai Omzet Rp 30 Juta

Roda kehidupan benar adanya. Terkadang status manusia di titik terendah,…

Sabtu, 14 September 2019 09:05

Bagan Roboh, Yunus Ditemukan Selamat, Satu Orang Hilang

TARAKAN - Salah satu warga Pantai Amal yaitu Irhandayani (33)…

Sabtu, 14 September 2019 08:23

Fokus Peningkatan Kebutuhan Dasar Masyarakat

Partai Besutan Megawati Soekarno Putri Presiden ke-5 Repulik Indonesia mencatatkan…

Jumat, 13 September 2019 14:29

Pesan Wakil Ketua BPK, Fasilitas Baru Dipelihara

TARAKAN - Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara) …

Jumat, 13 September 2019 12:05

Warga Amal Butuh Bak Sampah

TARAKAN - Belum tersentuhnya program Sampah Semesta di RT 14…

Jumat, 13 September 2019 11:34

Kantor BPK Diresmikan, Bupati Ucapkan Selamat

TARAKAN – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si turut hadir…

Jumat, 13 September 2019 11:11

Undunsyah Optimistis Maju di Pilgub

TARAKAN – Bupati Tana Tidung Dr. H. Undunsyah, M.Si, memastikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*