MANAGED BY:
SELASA
21 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 24 Agustus 2019 10:33
Mendapatkan Hidayah, Memperdalam Ilmu Agama

Kisah Joko Wibowo yang Insaf dari Naluri Perempuan

DAPAT HIDAYAH: Joko Wibowo yang insaf dari berpenampilan seorang perempuan. Saat ini fokus sembuh dari sakitnya, dan mempermantap ilmu agama dengan dukungan ibunda, Rusnawati. LISAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Joko Wibowo menjadi perbincangan hangat setelah viral melalui channel Youtube Radar Tarakan Official, baru-baru ini. Belasan tahun menjalani hidup bak wanita seutuhnya. Namun ia mendapatkan hidayah kembali ke jati dirinya, sebagai seorang laki-laki.

 

LISAWAN YOSEPH LOBO

 

TIDAK lagi berdandan dan berpenampilan seperti perempuan, inilah keputusan tepat yang diambil oleh Joko Wibowo. Maret 2019 ini ia hijrah ke jalan yang benar. Naluri perempuan dihempaskannya dengan mantap. Rambut sebahu dicukurnya dengan potongan laki-laki. Tidak lagi sulam alis, tetapi kumis tipis mulai tumbuh.

Insafnya ini tidak hanya terlihat dari penampilan fisiknya saja. Tapi hingga memperdalam ilmu agama. Sudah 3 bulan ini ia bergabung di Pondok Pesantren Nurul Islam, di Selumit Pantai atau yang lebih dikenal dengan sebutan daerah Belakang BRI.

Bertahun-tahun hidup dengan status wanita pria alias waria. Yang sebelumnya berlenggak lenggok dengan dandanan perempuan, kini ia berkopiah lengkap dengan tasbih yang selalu dipegangnya. Kegiatan di pesantren kerap diikutinya. Setiap malam Jumat ia pengajian dan zikir.

“Setiap tanggal 11, 20 dan 25 juga ada kegiatan zikir bersama teman-teman, ibu-ibu, bapak-bapak dan keluarga di pesantren,” kata pria kelahiran Tarakan, 19 Juli 1991.

Setiap zikir, selalu pula ia menjatuhkan air matanya. Ia merasa terlalu banyak kesalahan yang sudah diperbuatnya. Tidak hanya berpenampilan perempuan, tapi salat pun jarang dijalankannya. Namun tidak ada kata terlambat untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Seperti pepatah mengatakan, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Ia diuji dengan kesehatannya yang terganggu. Berawal dari mag, vertigo hingga penyakit paru-paru yang dideritanya. Namun baginya ini bukan teguran, melainkan hidayah.

Sebenarnya ada kerinduan ingin kembali ke jalan yang benar sejak tahun lalu. Alasan sibuk bekerja, ia pun melupakan niatnya itu. Jatuh sakit, dianggapnya kesempatan emas untuk meninggalkan segala kesibukan dan kehidupan kelam. “Saya merasa ini bukan teguran, tapi hidayah. Karena tahun lalu mau hijrah, tapi selalu sibuk kerja. Akhirnya sakit, dan saya tidak pikir panjang lagi, saya langsung tobat karena ini waktu yang sudah lama saya nantikan. Baju-bajuku sudah saya sumbangkan, ada juga yang dijual karena biaya untuk berobat,” katanya.

Dahulu ia dikenal degan nama Feby Cleopatra. Ia terkenal wanita cantik, putih, mulus dan lembut. Tetapi dengan jati diri sesungguhnya, ia ingin menjadi teladan dan contoh yang baik bagi umat muslim. Melihat ia giat ke pesantren, adapula kerabat dekatnya yang ikut ke pesantren.

“Baru-baru ada keluarga, sepupu yang ikut ke pesantren. Saya mau menjadi contoh dan teladan bagi umat muslim,” lanjutnya.

Lalu apa saja kegiatannya selama insaf? Selain aktif di pesantren, ia masih kerja di salah satu salon yang ada di Tarakan, tepatnya di Jalan Yos Sudarso. Namun 5 bulan ini ia off sementara, fokus pada kesembuhan dan hijrahnya. Ia mengaku sekarang ini hatinya jauh lebih tenang dan damai.

“Saya masih kerja sih di Salon Ria, tapi karena masih lemah jadi off dulu. Biasa kalau di rumah saja, dengar ceramah di youtube, lantunan ayat suci Alquran,” bebernya.

Ya, inilah proses hidup yang dilalui Joko Wibowo. Bertahun-tahun hidup dengan naluri perempuan, mendapatkan hidayah di awal tahun ini. Sebelumnya ia bercerita, jiwa perempuan tumbuh sejak ia masih kecil. Salah satu faktor utamanya, pengaruh lingkungan. Ia lebih banyak berteman dengan anak perempuan, dibandingkan laki-laki.

“Dulu kalau main masak-masakan, harus saya yang jadi mamanya. Saya tidak mau kalau tidak jadi mama. Dulu juga sering main karet, bepean. Anak laki-laki malah tidak mau berteman sama saya, karena sering main karet,” kenangnya.

Ia terpaksa putus sekolah, dan tidak lanjut ke bangku SMP. Faktor ekonomi salah satu penyebabnya. Kisaran usia 14 tahun, ia berpenampilan seperti perempuan. Lekukan dan gayanya seperti remaja perempuan pada umumnya saat itu. Singkat cerita, 2017 ia diajak kerja salon di Tanjung Selor. Kepergiannya itu pun tidak diketahui oleh ibunya. Belajar smoothing dan merasa senang dengan pekerjaan perempuan. Tak heran, jiwa perempuan di dalam dirinya semakin bergejolak.

Komunikasi dengan orang tuanya hanya melalui telepon seluler. 2 tahun ia di Tanjung Selor. Akhirnya kembali ke Tarakan. Bukannya disambut dengan bahagia. Ibunya justru tidak mengenali anaknya ini. Maklum ia mendadak menjelma seperti perempuan sesungguhnya.

“Awalnya sambung rambut. Dipuji sama orang, katanya kamu cantik jadi saya malah bangga. Bapak meninggal 2016 karena sakit strok. Jadi saya merantau ke Tanjung Selor 2017, dan mama enggak tahu saya ke luar kota. Akhirnya saya pulang ke Tarakan, mama sudah enggak kenal karena rambutku panjang dan berdandan seperti perempuan,” bebernya.

Saudara-saudaranya pun tidak mengakui keberadaannya. Dihajar habis-habisan. Bahkan diusir dari rumah. Tapi inilah cara yang dipilihnya untuk membahagiakan ibunya.

“Saat itu saya minta maaf sama mama. Saudara tidak akui saya, diusir tapi saya bilang, saya mau banggakan orang tua dengan caraku. Orang juga mengira aku perempuan tulen. Satu bulan mama diamin saya, mungkin dia kecewa,” kata anak ketujuh dari delapan bersaudara ini.

Dari hasil kerja kerasnya di salon, ia pun berhasil memberi hadiah kepada ibunya dengan emas seberat 15 gram. Tapi apa dikata, karena sakit yang dideritanya, ibunya rela menggadaikan emas itu untuk biaya obatnya.

“Saya sempat belikan mama emas dari hasil kerja halal. Emas 15 gram, tapi akhirnya mama rela gadaikan demi anaknya berobat. Mama mau lihat saya sehat lagi,” ucapnya dengan nada terbata-bata.

Di belakang sosok seorang Joko Wibowo, ia selalu didukung oleh ibunya, yang bernama Rusnawati. Usia ibunya pun sudah tidak muda lagi, ya ibu berusia 59 tahun yang kesehariannya menerima jasa pijat tradisional.

“Alhamdulillah anakku sudah hijrah. Dulu memang dia suka main sama perempuan, selalu saya nasihati. Kakaknya juga bilang nasihati Bowo supaya jadi laki-laki lagi. Tapi Bowo bilang, nanti ada saatnya,” kata ibunya sembari menyeka air mata.

Melihat anak lelakinya berdandan seperti perempuan, siapa yang tak sakit hati melihatnya. Inilah yang dirasakan Rusnawati selama bertahun-tahun. Belum lagi anaknya ini kerap ke bar, mabuk-mabukan tidak karuan. “Dulu memang dia cantik, putih dan bersih. Apalagi kalau berdandan. Tapi saya selalu nasihati dan doakan dari belakang,” katanya.

Para tetangga pun tak tinggal diam melihatnya. Ia sempat menjadi bahan bualan mulut tetangga. Yang paling diingatnya, karena anaknya benar-benar berpenampilan seperti layaknya wanita pada umumnya, ada lelaki yang datang ke rumahnya yang beralamatkan di Sebengkok, niat melamarnya.

“Pernah ada yang mau melamar dia. Sudah ke rumah dan ngomong ke saya, ternyata dia tidak tahu kalau yang disukanya ini juga laki-laki. Jadi saya merasa ikut berdosa, karena menutupi kebenaran anakku ini,” katanya.

Tapi semuanya sudah menjadi cerita masa lalu. Ia fokus merawat dan membantu anaknya ini sembuh dari penyakitnya. Yang terpenting, Joko Wibowo sudah kembali ke jalan yang benar.

“Saya senang dan bangga karena dia sekarang rajin salat dan menyadari keadaannya. Ada tetangga pernah kasih tahu saya, Bowo sakit mungkin karma atas kesalahan yang diperbuatnya. Tapi saya serahkan saja sama Allah,” tutupnya. (***/lim)

 

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 21 Januari 2020 11:34

RT 24 Ludes, Pasar Tertua Rata

API membumbung tinggi di bangunan berlantai dua, tepat di pinggir…

Selasa, 21 Januari 2020 11:29

Pasar Pertama yang Mengkhususkan Pisang

Pasar Batu Tarakan, belakangan identik sebagai pusat oleh-oleh. Sebagian pedagang…

Senin, 20 Januari 2020 12:59

BREAKING NEWS! Ditinggal Penghuni, Rumah kosong Terbakar

TARAKAN - Kebakaran terjadi di RT 24 Kelurahan Sebengkok tepatnya…

Senin, 20 Januari 2020 11:02

Dapat Sehatnya, Raih Doorprize Menarik

TARAKAN – Akrab dan ceria. Begitulah suasana yang terlihat di…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:56

Pencabutan Subsidi Elpiji 3 Kg, Perlu Dipikir Diantisipasinya

TARAKAN – Rencana pemerintah mencabut subsidi pada elpiji 3 kilogram…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:52

Semarak Tahun Baru Imlek Identik Warna Merah

SERBA MERAH: Pernak-pernik Tahun Baru Imlek terpampang di salah satu…

Jumat, 17 Januari 2020 11:10

Curah Hujan Tinggi, Waspada Banjir dan Longsor

TARAKAN – Hujan yang mengguyur Kota Tarakan sejak Kamis (16/20)…

Jumat, 17 Januari 2020 11:06

2020, Potensi Karhutla di Pulau Ini Masih Ada

TARAKAN – Masih adanya musim kemarau yang terjadi pada tahun…

Kamis, 16 Januari 2020 14:40

Pajak di Tarakan Diklaim Masih Lebih Murah

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan berkeinginan mengoptimalisasi seluruh pundi-pundi…

Kamis, 16 Januari 2020 14:40

Bermodal Rp 4 juta, Mampu Raih Omzet Ratusan Juta Sebulan

Founder Project Salfa, Fatmawati (25) menggandeng Fitriani (28) berbisnis toko…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers